Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 61


__ADS_3

“KTA gue gak ada, guys…!! KTA gue jatuh…!! Aduuh, gimana dong… mampus gue mana bentar lagi ujian dimulai…” ucap Nia lemas tak berdaya.


“Loe cari dulu gih, mumpung masih ada waktu.. mungkin jatuh pas loe lari – lari tadi.” Ujar Ayu.


Nia pun segera berdiri dan membalikkan badannya, bergegas mencari KTA nya yang kemungkinan terjatuh, entah dimana.


Dengan setengah berlari, Nia kembali menyusuri koridor kampus yang dilewatinya tadi. Celingukan ke kiri dan ke kanan, mata Nia awas mencari barang yang sangat penting itu.


“Masak iya ketinggalan di apartemen..??” ucap Nia yang masih panik mencari KTA nya.


Nia semakin putus asa mencari KTA nya, tubuhnya seakan lemah tak berdaya karena tak kunjung menemukan barang yang ia cari itu.


Nia yang pasrah pun terduduk lemas di lantai koridor sambil menundukkan kepalanya.


Tiba – tiba saja entah datang darimana, seseorang berdiri di hadapannya dan menyodorkan barang yang selama ini ia cari tepat di depan matanya.


Nia yang terkejut  langsung menengadahkan kepalanya melihat sosok yang berdiri di hadapannya.


“Mas….??!!” Ucap Nia.


“Tadi terjatuh di mobil…” ucap Satya menyodorkan KTA milik Nia.


Wajah Nia langsung berbinar – binar.


“Terimakasih mas…” ucap Nia yang hendak memeluk suaminya itu.


Dengan sigap Satya langsung mundur satu langkah.


“Sudah siap go publik, nih…??” ucap Satya.


Nia yang tersadar bahwa ia sekarang berada di lingkungan kampus segera membungkuk hormat kepada dosennya itu.


“Terimakasih pak…” ucapnya.


Satya tesenyum simpul.


“Cepat kembali ke kelasmu, ujian akan segera dimulai.” Kata Satya.


Nia mengangguk dan segera berlari menuju ke kelasnya.


“Jangan berla….” Ucapan Satya mengambang di udara karena Nia sudah terlanjur berlari menjauh darinya.


Satya hanya tersenyum dan menggeleng kecil melihat tingkah istrinya itu.


Nia datang tepat pada waktunya, saat teman – temannya sedang baris satu – persatu memasuki kelas untuk mengikuti ujian. Akhirnya ujian hari pertama Nia pun berjalan dengan lancar walau ada sedikit insiden awalnya.


Nia dan Satya sedang berada di perjalanan sepulang dari kampus.


“Alhamdulillah akhirnya ujian semester selesai juga. Mas Satya, kira – kira nilaiku bagaimana…?? Bagus, kan…???” tanya Nia pada Satya yang sedang fokus menyetir.


“Kamu sudah berusaha sebaik mungkin selama seminggu ini, Mas yakin hasilnya akan memuaskan..”


“Semoga saja mas..”


“Kamu mau mampir ke rumah Mama dulu…?? Semenjak menikah kita belum pernah berkunjung…” ucap Satya.


“ Mau mas.. mau… ayo kita kesana… aku sudah kangen mama, ingin tidur sama mama…” ucap Nia antusias.


“Eiits… tidur sama mama gimana…?? Enggak sayang, enggak… terus aku tidur sama siapa…?? Kita gak usah nginep deh sayang, nanti langsung pulang aja…”


“Lho mas…?? Kok langsung pulang…??”


“Gimana aku bisa tidur kalau guling kesayanganku gak ada… kita nginep lain kali aja yank, lagian kamu gak kasian sama aku yang udah puasa seminggu ini yank..???” ucap Satya memelas.


Nia tertawa kecil melihat Pak Dosennya yang killer itu berubah menjadi suami yang sangat manja kepadanya.


“Apa sih mas…. Ya udah deh iya, kita gak nginep di rumah mama… tapi lain kali kita harus nginep ya…??!!”


“Siap sayang… nanti lain waktu ya…??” ucap Satya antusias.


Satya pun membelokkan kemudi mobilnya menuju kerumah mertuanya. Meskipun belum di perbolehkan menginap disana, tapi sudah sangat antusias bertemu dengan mamanya.


“Assalamualaikum…” Ucap Satya dan Nia saat mereka tiba di kediaman Pak Wijaya, orangtua Nia.


“Walaikumsalam…. Eh, Non Nia.. Mas Satya..“ balas Bik Tini yang kebetulan sedang membersihkan halaman depan.

__ADS_1


“Bik Tini, apa kabar bik…?” sapa Nia.


“Alhamdulillah baik Non… duh.. Non Nia makin cantik saja setelah menikah..”


Nia tersenyum mendengar sanjungan bik Tini.


“Mama ada bik..?”


“Ada Non, tadi sih lagi merawat bunga – bunganya di taman belakang, Non…”


“Ya sudah, saya masuk dulu ya bik..”


“Iya Non, silakan..”


“Permisi ya bik…” ucap Satya.


“Silakan Mas Satya…” ucap Bik tini.


Nia segera menuju taman belakang, tempat favorit mamanya menghabiskan waktu luangnya.


“Assalamualaikum ma…” ucap Nia.


Mama Dessy langsung menoleh ke sumber suara.


“Walaikumsalam.. Nia…!! Satya….!!”


Mama Dessy pun mengajak anak dan menantunya itu untuk mengobrol di ruang tengah.


“Maaf ya ma, kita berdua baru sempat berkunjung ke rumah..” ucap Satya.


“Gak apa – apa Satya… kalian pasti masih sibuk menata ini itu, belum lagi Nia juga harus mempersiapkan ujiannya bukan…???”


“Iya ma…”


Tanpa terasa mereka berbincang – bincang hingga sore hari.


“Kalian istirahat dulu sebentar, mama mau bantuin bik tini menyiapkan makan malam.”


“Iya ma…” ucap Nia.


“Nanti kalian menginap disini, kan…??” tanya Mama Dessy.


“It’s oke gak apa – apa, setidaknya kalian ikut makan malam bersama nanti.”


“Itu pasti ma, Nia sudah kangen masakan mama dan bik tini.” Jawab ia.


Nia dan Satya pun pamit untuk beristirahat sejenak di kamar Nia.


“Hmmm… aroma kamarnya masih sama….bik tini emang the best…!!” ucap Nia seraya merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Niat awal hanya sejenak ingin melepas lelah, keduanya justru tertidur pulas hingga jam makan malam.


“Kak… kak Nia…!! Bangun kak…!!” pekik Tiara membangunkan kakaknya dari luar kamar.


Nia tersentak kaget mendengar panggilan adiknya itu. Ia merasa seperti de javu.


Nia pun melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya.


“Ya ampun…. Ini sih bukan istirahat sebentar… tapi tidur nyenyak…”


Nia pun melihat suaminya yang masih tertidur sama pulasnya dengan dirinya.


“Mas… Mas Satya.. bangun mas… ini sudah malam…”


Satya menggeliat lalu mengerjapkan matanya.


“Ayo bangun mas, papa sama mama pasti sudah nungguin dibawah…” ujar Nia masi membangunkan suaminya.


Setelah membasuh wajah mereka, keduanya pun segera turun untuk makan malam bersama.


“Kalian gak nginep disini aja…?? Keliatannya kalian berdua lelah sekali…” kata Mama Dessy di akhir makan malam mereka.


“Lain kali aja ya ma… Nia emang lagi lelah banget, selama ujian kemarin rasanya Nia gak bisa tidur dengan nyenyak…” kata Nia.


“Lho, papa kira kalian mau nginep disini. Padahal papa ingin berbincang sedikit dengan Satya soal proyek hotel itu. ..”ujar Pak Wijaya.

__ADS_1


“Nah kan… mama juga ingin berdiskusi denganmu soal acara resepsi pernikahan kalian… jadinya bagaimana..” imbuh Mama Dessy.


Satya tersenyum sembari menggenggam tangan Nia di bawah meja.


“Hari ini kita menginap dulu disini, sayang… sepertinya kamu juga terlalu lelah untuk pulang ke apartemen.” Ucap Satya kemudian.


Sejurus kemudian tatapan mata Nia berbinar melihat suaminya. Raut wajah  bahagianya tampak jelas walau sengaja ia tutupi di depan suami dan orang tuanya.


“Jadi bagaimana, kapan kalian mau melaksanakan acara resepsi kalian…??” tanya Mama Dessy.


“Untuk sekarang Nia dan saya sudah banyak waktu luang sih ma… terserah mama saja enaknya kapan…” ucap Satya.


“Kalau 3 bulan dari sekarang, bagaimana…?? Mama butuh waktu untuk menyiapkan semua keperluannya.” Kata Mama Dessy.


“Silakan ma, saya ikut mama saja… mama juga bisa membicarakannya dengan bunda. Bunda pasti senang menyiapkan acara ini.” Kata Satya.


“Kamu benar, mama akan membicarakannya dengan bundamu, nanti kapan tanggal pastinya, mama akan segera memberitahu kalian..” kata Mama Dessy.


“Satya, bagaimana progress hotel kita yang di surabaya..??”  tanya Pak Wijaya kemudian.


Tanpa terasa mereka berempat pun mengobrol hingga larut malam. Sampai akhirnya Satya dan Nia pun pamit untuk beristirahat di kamar mereka.


Satya dan Nia pun naik ke lantai 2, ke kamar mereka. Namun belum juga mereka masuk ke dalam kamar, Tiara sudah menunggu Nia di depan pintu kamar Nia.


“Kakak…. Sudah mau tidur ya….??” Kata Tiara.


“Iya Tiara… kenapa…??”


“Yah… padahal Tiara kangen sama kak Nia… pengen curhat – curhat sama kakak..” ucap Tiara memelas.


Satya yang berdiri di samping Nia, langsung menggenggam erat jemari istrinya itu.


“Kamu masuk dulu ke kamarmu, nanti kakak menyusul..” ucap Nia menenangkan hati adik sekaligus suaminya.


“Beneran ya kak…?? Tiara tunggu… mas Satya, Tiara pinjam kak Nia semalam aja ya..?? kan Mas Satya udah tiap malam sama kak Nia…” kata Tiara tanpa rasa salah.


“Iya… hehehe..” ucap Satya tersenyum kikuk.


Tiara pun kembali ke kamarnya sedangkan Nia dan Satya pun masuk ke dalam kamar mereka.


Selesai bersih – bersih, Satya pun merebahkan diri di atas ranjang, di susul dengan Nia.


“Kamu gak tidur,sayang…??” ucap Satya yang mulai curiga karena tidak juga berbaring di sebelahnya.


“Mas Satya tidur duluan dulu ya..?? aku mau ke kamarnya Tiara… bentar aja kok mas… kasihan dia mungkin butuh tempat curhat…” kata Nia.


“Lho…. Jadi ya..?? kirain gak jadi…”


“Bentar aja kok mas… ya…??”


“Tapi beneran jangan lama – lama ya Nia…”


“Iya mas…”


“Beneran… jangan bohong… aku bakalan susah tidur kalau gak meluk kamu..” ucap Satya memelas.


“Kan dulu juga biasanya tidur sendiri mas…??”


“Kan dulu… sekarang kalau gak meluk kamu, jadi susah tidur…!!”


“Iya.. iya… bentar doank mas..”


Akhirnya Nia pun beranjak pergi ke kamar Tiara, meninggalkan Satya sendirian di kamarnya.


30 menit, 1jam, 2 jam… hingga tengah malam Nia belum juga kembali ke kamarnya. Satya gelisah karena ia sendiri tidak kunjung juga memejamkan matanya.


Ditelponnya Nia berkali – kali tapi tidak di jawabnya. Satya terlalu sungkan jika harus sampai mengetuk kamar Tiara.


Satya kembali merebahkan diri ke atas ranjang dan menggerutu sepanjang malam.


Dan akhirnya baru tertidur saat dini hari.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2