Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Malam Bersama Ben


__ADS_3

"Kamu lapar?" Tanya Ben saat dalam perjalanan.


"Lumayan." Jawab Laura.


"Kita cari makan dulu. Aku sangat lapar." Ucap Ben sambil mengelus perutnya.


Laura tertawa saat melihat Ben mengelus perutnya. Dulu saat Ben melakukan itu, ia akan membantu mengelus perut Ben, sambil tertawa. Lalu Ben akan memeluk dan mencium rambutnya dengan lembut. Ya kenangan saat menjadi Gwen. Laura kini hanya bisa tersenyum saja mengenang semuanya.


Ben menuju warung gultik yang dulu pernah mereka datangi. Ben memesan dua porsi, lalu mereka mengambil tempat yang telah di sediakan.


"Apa ini makanan favorit kamu?" Tanya Laura sambil menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.


"Karena dekat dengan kantor, lalu, aku lelaki bujang yang jika sampai di rumah tak ada yang menyediakan makanan. Jadi sebelum pulang, aku mampir ke mari." Jawab Ben.


Jawaban Ben, membuat Laura tertegun. Lelaki bujang? Tak ada yang menyediakan makanan saat di rumah? Sebegitu menyedihkan kah Ben? Tanya Laura dalam hatinya.


"Kamu dan Jane?" Tanya Laura.


Ben hanya tertawa mendengar pertanyaan Laura.


"Dia hanya sebatas mantan kekasihku. Dan dia tidak menuntut tanggung jawabku juga. Kami dekat, hanya karena aku memiliki seorang anak dengannya."


"Lalu orang tuamu tau hal ini?"


Ben menggeleng. "Tidak. Aku juga tidak akan menceritakan, sebelum Jane menceritakan pada Rendy. Aku tak mau banyak kekecewaan." Ucap Ben sambil mengambil sebatang rokok dari sakunya, lalu menyulutnya.


"Kamu masih memikirkan Gwen?" Tanya Laura hati hati.


"Setiap hari. Aku pernah berjanji akan melindunginya selalu, menjaganya, dan tak akan membuatnya menangis. Tapi, kenyataannya. Ia lebih dahulu meninggalkan aku. Lalu aku mempunyai anak dengan Jane. Aku telah mengecewakannya." Ucap Ben dengan getir.


Laura terdiam. Lalu ia menepuk pundak Ben dengan lembut.

__ADS_1


"Sudahlah, Gwen pasti memaafkanmu. Yang pasti kamu harus bisa move on. Jangan terjebak dengan rasa bersalah itu. Jalani saja hidupmu. Nikmati semuanya. Aku rasa saat kamu mendapatkan kebahagiaan lagi, Gwen juga bahagia di surga." Hibur Laura.


Ben mengambil tangan Laura yang menepuk pundaknya, lalu menggenggamnya. Ia hanya menatap Laura, namun tak mengatakan sepatah katapun. Ada kehangatan, damai, dan nyaman. Itu yang Laura rasakan saat Ben menggenggam tangannya.


Genggaman Ben, masih sama rasanya. Rasa sayang dan cintanya pada Ben masih ada. Rasanya Laura ingin sekali mengatakan bahwa ia adalah Gwen. Namun, kata kata itu seakan tak dapat terucap oleh mulutnya. Ia hanya diam menikmati setiap kebersamaan bersama Ben.


Tiba tiba ia teringat akan fotonya bersama sama saat berlibur di Amerika. Laura menarik tangannya dari genggaman Ben, lalu ia meminum air mineral dalam botolnya.


"Oya, dulu kita pernah ke Amerika rame rame ya, itu dalam rangka apa ya?" Tanya Laura berpura pura lupa.


"Oh, ya. Itu bonus kita. Kita rame rame waktu itu. Dirga juga ikut, tapi ia datang duluan ke sana mengurus tempat tinggal kita selama di sana." Jawab Ben.


"Dan kamu dekat dengan Katrin waktu itu?" Ucap Laura sambil tersenyum.


Ben terkekeh mendengar ucapan Laura.


"Katrin memang seperti itu. Dia selalu ramah pada semua orang."


"Tapi sepertinya berbeda saat bersamamu."


"Saat di Amerika dulu gimana?" Selidik Laura, namun seolah ia hanya sekedar bertanya.


Ben terdiam sejenak sambil mencoba mengingat waktu itu.


"Entahlah, saat itu kita masih masa senang senang. Oh ya, aku ingat. Waktu itu, kamu ijin, mencari tempat tinggal Radit. Astaga..! Kamu memang sedari dulu bersama dia." Teriak Ben sambil menepuk keningnya.


"Lalu?"


"Sepertinya kamu hanya sebentar. Katanya kamu bertemu, namun, Radit sedang sibuk, jadi kita menghabiskan waktu buat jalan jalan hari itu. Lalu Dirga mengajak kita ke klub di sana. Aku juga sudah tak ingat lagi, yang aku ingat aku telah kembali ke kamar bersama Katrin." Ucap Ben, suaranya melemah, seakan mengingat kejadian itu.


Laura tertawa. "Kena! Kamu pernah bersama Katrin!"

__ADS_1


"Astaga tolong jangan ingatkan aku kejadian itu ya! Aku sungguh tak enak saat bertemu dengannya lagi, apalagi kini tampaknya ia telah punya kekasih." Ujar Ben memelas, dengan mimik wajah memohon.


"Kamu tau, Kekasih Katrin adalah Kakaknya Lisa." Ucap Laura sambil menatap Ben.


"Astaga, sepertinya aku harus menutup mulut tentang masa laluku bersama Katrin." Canda Ben sambil menutup mulutnya dengan tangan.


Laura tertawa melihat tingkah Ben. Mereka tertawa bersama.


Mereka menghabiskan waktu di warung itu, makin malam semakin ramai. Ben akhirnya membayar makanan mereka, dan menuju mobilnya.


Ia mengajak Laura berjalan jalan berkeliling kota Jakarta sambil mendengarkan lagu di radio.


Laura mendengarkan lagu sambil bersenandung. Suaranya yang merdu membuat Ben terkejut dan tersenyum melirik ke arah Laura yang masih sibuk bernyanyi.


"La, kapan kapan mau main ke rumahku? Aku ingin mengenalkan dirimu pada keluargaku." Tanya Ben.


Laura menatap Ben sesaat. Ia ingin mengatakan ya, namun ia memikirkan Radit.


Ben menggenggam jemari Laura. Jantung Laura berdetak cepat, dan perasaan campur aduk seketika.


Ben menatap Laura penuh makna.


"Ben, aku rasa ini salah." Tolak Laura sambil menarik tangannya dari genggaman Ben.


"Apakah aku sama sekali tidak ada kesempatan untuk mengenalmu?" Tanya Ben. Membuat Laura terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa.


Hati kecilnya ingin mengatakan, " Ya kamu ada kesempatan!" Namun, di sisi lain, Laura memikirkan perasaan Radit. Dan tiba tiba slide bayangan foto foto bersama Dirga bermain di kepalanya.


"Maaf Ben. Sepertinya aku harus pulang. Aku merasa sangat lelah." Ucap Laura, tanpa menjawab pertanyaan Ben.


Ben hanya mengangguk. Ia mengerti Laura butuh waktu untuk itu. Namun, entah mengapa ketika bersama Laura ia merasa nyaman.

__ADS_1


Ben merasa ia berhak untuk mendapatkan cinta dan perhatian dari Laura juga, sebelum Laura benar benar resmi menikah.


Ben, menghentikan mobilnya di depan rumah Laura. Laura mengucapkan terima kasih, lalu membuka pintu mobil dan keluar. Laura melambaikan tangan pada Ben dan Ben segera meninggalkan rumah Laura menuju kediamannya.


__ADS_2