
Tak butuh waktu lama Satya sudah kembali berada di parkiran mobil. Sepertinya ia sedikit berlari, dan itu terlihat dari dahinya yang sedikit berkeringat.
“Cepat sekali pak?” tanya Nia.
“Saya tidak ingin membuatmu menunggu terlalu lama. Kamu sudah cukup lama menunggu.” Ucap Satya penuh arti.
Nia mengerutkan kedua alisnya.
“Ayo masuk! Saya akan mengantarmu pulang.” Ajak Satya seraya memapah Nia memasuki mobilnya.
Dalam perjalanan suasana kembali merasa canggung. Tidak ada yang mengeluarkan suara, keduanya hanya terdiam seribu bahasa.
Satya sendri pun bingung harus mengobrol tentang apa.
“Kamu mau saya antar pulang atau langsung ke rumah sakit, Nia?” tanya Satya memulai perbincangan.
“tolong antar saya pulang dulu,Pak. Baru nanti saya periksa ke dokter.” Pinta Nia.
“Oke. Tapi setelah sampai di rumah, kamu harus segera periksakan kakkimu itu ya?”
“Tentu saja, Pak!” ujar Nia dengan senyum manisnya.
Mobil Satya sampai di rumah Nia. setelah pintu gerbang dibuka, Satya memapah Nia masuk ke dalam rumah.
“Assalamu’alaikum ma...” sapa Nia pada Mama Dessy yang sedang duduk menonton drama favoritnya di ruang tengah.
“Walaikumsalam... Lho Nia, kamu kenapa sayang?” tanya Mama Dessy dengan raut wajah yang tampak khawatir.
“Tidak kenapa – kenapa ma.. Cuma terkilir aja.” Jawab Nia dengan jalan yang masih terpincang – pincang meskipun Satya sudah memapahnya.
“Tapi kok sampai bengkak begini?”
“Maaf tante, saya sebagai penanggung jawab acara sudah lalai sehingga kecelakaan ini tidak dapat dihindari.” Ucap Satya yang masih menumpu berat tubuh Nia.
Seketika Mama Dessy mengalihkan pandangannya pada pemuda yang berdiri di samping Nia.
Mama Dessy cukup terkejut karena ternyata pemuda itu bukan Niko.
“Lho.... nak Satya?? Saya kira tadi... maaf, maaf, tante tidak menyadari kehadiran kamu. Tante terlalu fokus pada Nia.” ujar Mama Dessy jujur.
“Tidak apa – apa tante.” Kata Satya tulus.
Mama Dessy mengangguk, lalu perhatiannya beralih kepada Nia.
“Ayo kita langsung ke rumah sakit. Sekarang!” perintah Mama Dessy.
“Nia capek ma, istirahat dulu aja ya??” ucap Nia memela.
“Tidak bisa Nia. Mama khawatir kaki kamu kenapa – kenapa kalau telat penanganannya.” Ucap Mama Dessy tidak mau kalah.
“Mamaaaa...” rengek Nia.
“Tunggu disini sebentar, Mama ambil kunci mobil dulu.” Ucap Mama Dessy seraya berjalan menuju nakas di sudut ruangan.
“Boleh saya antar sekalian tante??” ijin Satya.
Seketika Mama Dessy menghentikan langkah kaki dan memutar balik tubuhnya.
__ADS_1
“Benarkah? Apakah tidak merepotkan? Nak Satya pasti lelah karena juga ikut dalam acara kemarin kan??”
“Tidak apa – apa tante, mari saya antar!”
Mama Dessy pun akhirnya memilih untuk diantar oleh Satya.
Dengan sigap Satya membukakan pintu mobilnya dan membantu Mama Dessy yang memapah Nia untuk naik ke dalam mobilnya.
Tanpa membuang banyak waktu, Satya segera mengantar mereka menuju rumah sakit.
Setelah mendaftar dan menunggu beberapa saat, nama Nia pun di panggil oleh perawat yang bertugas.
Mama Dessy memapah Nia masuk kedalam ruang pemeriksaan.
Sedangkan Satya lebih memilih untuk menunggu di luar.
Hari sudah menjelang malam saat Nia selesai dengan seluruh pemeriksaannya. Setelah melihat hasil pemeriksaan, Nia pun diperbolehkan pulang dan hanya rawat jalan saja.
“Kamu dengar apa kata dokter tadi Nia? kamu harus benar – benar istirahat dulu. Masih beruntung tendonmu tidak ada yang robek. Mama tidak mau tahu, pokoknya selama satu minggu ini kamu harus istiharat total, biarkan pergelangan kakimu itu mendapatkan haknya..” Ucap Mama Dessy saat perjalanan pulang.
“Ma...” rengek Nia seraya memberi kode bahwa mereka masih berada di dalam mobil Satya.
Satya yang melihat interaksi ibu dan anaknya itu hanya tersenyum simpul dan melirik dari kaca depan.
“Maafkan tante ya nak Satya, kamu jadi melihat keributan ini. Tante juga berterimakasih karena kamu sudah menunggu hingga pemeriksaan selesai.”
“Satya senang bisa membantu tante dan Nia.” ucap Satya tulus.
Mobil yang dikemudikan Satya pun akhirnya sampai di rumah Nia. Satya membantu Mama Dessy memapah Nia masuk kedalam rumah.
“Untuk sementara kamu istirahat di kamar bawah dulu. Tadi mama sudah minta tolong bik Tini untuk menyiapkannya. Jadi kamu bisa langsung istirahat.” Kata Mama Dessy.
Nia memang masih kesulitan dan nyeri jika harus berjalan lama. Apalagi jika harus naik ke kamarnya di lantai atas. Sudah pasti Nia akan kesulitan.
Satya turut memapah hingga masuk kedalam kamar baru Nia di dekat ruang keluarga.
“Terimakasih Pak. Saya merasa tidak enak karena selalu merepotkan bapak.” Ucap Nia seraya membenarkan posisi duduknya diatas ranjang.
“Kamu tidak perlu merasa seperti itu. Saya senang membantu kamu.” Ucap Satya tersenyum simpul.
Hati Nia kembali menghangat. Ia bisa merasakan kehangatan dan kelembutan sikap Satya kepadanya. seulas senyum manis terukir di wajah cantiknya.
Mama Dessy yang melihat raut wajah Nia bisa memastikan bahwa kepada pemuda inilah anaknya menambatkan hatinya. Rona – rona bahagia dan kenyamanan yang selama ini tak pernah ia tunjukan jika berada bersama Niko.
“Kalau begitu saya pamit undur diri,tante.” Ucap Satya.
“Iya nak Satya. Mari tante antar ke depan!”
Mama Dessy mengantar Satya keluar dari kamar Nia hingga ke pelataran tempat mobil Satya terparkir.
“Sekali terimakasih nak Satya. Main – mainlah kesini jika ada waktu senggang.” Ucap Mama Dessy.
“Baik tante. Saya permisi tante, Assalamu’alaikum.”
“Walaikumsalam.”
Setelah mobil Satya keluar gerbang dan jauh melesat pergi, Mama Dessy kembali masuk dalam rumah dan menuju kamar baru Nia.
__ADS_1
Mama Dessy ingin menginterogasi anaknya, apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan hingga Satya yang mengantarkannya pulang.
Namun niat Mama Dessy harus tertunda karena saat ia membuka pintu kamar Nia, ia mendapati anak gadisnya sudah tertidur pulas.
“Ia pasti sangat lelah. Bahkan ia tidak mengganti bajunya dulu.”
Mama Dessy perlahan mengambil baju tidur Nia dan memakaikannya pada Nia. Nia dengan setengah tertidur hanya menurut seadanya dengan instruksi Mama Dessy.
Setelah mengganti baju Nia, dengan perlahan Mama Dessy keluar kamar. Baru saja ia menutup pintu kamar Nia, Pak Wijaya menepuk pelan bahu istrinya.
“Ada siapa disitu,Ma?” tanya Pak Wijaya.
“Astaga papa!! Mengagetkan saja. Papa baru saja pulang??”
“Papa sudah pulang dari tadi. Rumah sepi sekali saat papa pulang tadi.”
“Oh, itu mungkin waktu mama masih di rumah sakit.” Jawab Mama Dessy datar.
Pak Wijaya kaget,”Rumah sakit? Siapa yang sakit,Ma?” tanya Pak Wijaya khawatir.
“Nia pa. Nia terpeleset hingga kakinya membengkak. Dan sekarang dia baru saja tidur.” Ucap Mama Dessy menunjuk kamar di belakangnya.
“Nia??!!” Pak Wijaya yang terkejut mendengar kabar dari istrinya itu serta merta masuk ke dalam kamar Nia.
Namun sebelum tangannya memegang gagang pintu, Mama Dessy mencegahnya.
“Biarkan Nia istirahat dulu, pa.” pinta Mama Dessy.
“Justru mama ingin membicarakan sesuatu dengan papa. Ikut mama sebentar, pa.” ajak Mama Dessy
Pak Wijaya menurut perintah istrinya, berjalan mengekori Mama Dessy.
“Ada apa ma?” tanya Pak Wijaya yang sudah duduk di tepi ranjangnya.
“Ini soal Nia, pa.” jawab Mama Dessy hati – hati.
“Nia? ada apa dengan Nia, ma?” tanyanya khawatir.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai Readers tercinta, maafkan Author yang baru sempat upload lagi. Terimakasih untuk readers tercinta yang sudah selalu setia bersama ' kesempatan kedua."
Jangan lupa like dan koment ya, supaya Author lebih semangat nge halu.
__ADS_1
Terimakasih.