
Aurel memandang Kania dengan tersenyum sinis, apalagi ia menyalahkan Kania dan Gavin adalah penyebab kekacauan dalam dirinya.
Melihat lirikan Aurel yang nampak tidak suka dengan wanitanya membuat Gavin menggenggam lebih erat tangan Kania.
"Tenang ada aku sayang, jangan jauh dari aku supaya ia tidak memanfaatkan keadaan ini untuk membuat gosip yang menguntungkan bagi popularitas dirinya," bisik Gavin di telinga Kania.
Gavin yakin Kania tidak nyaman dengan situasi sekarang ini.
Setelah selesai sesi acara Aurel dan Jimmy mengisi acara, mereka kembali duduk bersebelahan.
"Terima kasih sudah menjadi partner kerja yang baik," ucap Jimmy.
"Masih ada satu sesi lagi menjawab pertanyaan teman-teman wartawan seputar pemilihan kita menjadi bintang iklan, bersikaplah profesional," kata Aurel.
"Baiklah, aku selalu profesional dalam bekerja tapi aku minta buka kembali blokir nomor telepon aku supaya kita bisa berkomunikasi kembali." Sahut Jimmy sambil menatap Aurel.
"Tidak usah membahas persoalan itu lagi di sini Jim, kamu membuat aku merasa mual setiap kali mengatakan tentang hal itu," balas Aurel.
Setelah semua berjalan lancar mereka ada di penghujung dari acara hari ini semua tamu bisa beramah tamah satu dengan yang lain sambil mengambil makanan yang sudah di sediakan.
Gavin tampak menggandeng tangan Kania berjalan sambil menyalami para relasi bisnisnya, banyak dari mereka yang bertanya siapa sosok Kania.
Gavin menjelaskan bahwa Kania adalah calon istrinya dan putri dari Rio yang selama ini mereka kenal sebagai salah satu orang penting dalam perusahaan yang di pimpin olehnya.
Ia tidak membiarkan Kania jauh sedikitpun dari padanya dan sengaja Gavin menempatkan wanita itu selalu di sisinya.
Aurel mendekati Gavin dan Kania yang sedang mengambil makanan.
"Hi, senang bisa bertemu dengan kalian di sini." Sapa Aurel yang pura-pura ramah dan memberikan senyum terbaiknya.
"Sayang, kamu mendekat kesini jangan jauh-jauh dari aku. Kamu ingin makan sesuatu? Biar aku membantu kamu untuk mengambilnya." Kata Gavin sambil menarik tangan Kania lebih dekat lagi dengannya, sengaja ia memperlakukan Kania dengan mesra supaya Aurel cepat menjauh.
Bahkan Gavin tidak membalas sapaan Aurel, ia benar-benar tidak menghiraukan sapaan gadis itu.
Hanya Kania yang memberikan senyumnya untuk membalas sapaan Aurel sedangkan Gavin hanya menampakkan wajah datarnya.
Aurel sebenarnya tidak menyukai senyuman Kania kepadanya, karena di depan Gavin ia berpura-pura ramah dengan tersenyum sinis yang sulit untuk di artikan.
__ADS_1
"Sayang? Bukankah sebutan yang sama kamu memanggilku waktu kita pacaran? Kamu memanggilku dengan honey." Ledek Aurel sambil memandang Kania, ia puas jika wanita itu sakit hati ketika mendengar perkataannya.
"Aurel ! Kenapa kamu suka sekali membicarakan masa lalu! Apa memang kamu tidak punya masa depan?" Bentak Gavin dengan amarah yang sudah memuncak melihat sikap Aurel yang menurutnya sangat kampungan.
Kania memang gadis yang sedikit cengeng, mukanya sudah terlihat sedih mendengar perkataan Aurel yang senang untuk memanas-manasi keadaan.
"Masa depanku itu adalah kamu honey," jawab Aurel sambil tersenyum.
Sepertinya hari ini ia puas bisa membuat suasana hati Kania menjadi sedih, Aurel berpikir apa yang ia perbuat belum seberapa di banding apa yang sudah terima hanya karena ulah Gavin dan Kania.
Gavin hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Aurel yang menurutnya sudah di luar batas kesabaran.
Ia menarik Kania menjauh dari wanita itu, Gavin sadar seperti apa suasana hati Kania saat ini.
Tentu Kania sangat sedih mendengar perkataan Aurel yang dengan sengaja merusak suasana hatinya.
"Jangan tampakkan muka sedih kamu di hadapan wanita itu, selamanya dia akan membuat kamu tertekan.
Setiap perkataannya adalah racun untuk membuat suasana hatimu rusak," ucap Gavin sambil memegang tangan Kania.
Sedangkan Tina sedari tadi mencari Aurel untuk menyampaikan pesan dari sang pengusaha yang bernama Tuan Kevin ingin bertemu dengannya setelah acara ini selesai.
Tuan Kevin dari tadi menatap Aurel dan ia sangat mengagumi gadis itu, pria ini sering sekali di kelilingi oleh gadis-gadis cantik yang menginginkan hartanya.
Tuan Kevin adalah pria yang sering menghabiskan malam bersama dengan wanita-wanita cantik, tidak sedikit mereka yang berasal dari dunia infotainment.
Ia punya hobi menghamburkan uangnya yang sudah berkelimpahan bersama wanita penghibur setiap malamnya.
Entah mengapa ia tertarik ketika melihat Aurel berdiri di depan bersama Jimmy, bagi Kevin semua yang ia inginkan bisa ia peroleh dengan uang yang di milikinya.
"Ada apa Tina, kamu jalan udah seperti kereta cepat?" tanya Aurel kepada sang manager.
"Ada pesan dari Tuan Kevin ia ingin bertemu kamu setelah acara ini usai?" jawab Tina.
"Bertemu dengan aku? Aku merasa tidak ada urusan dengan tuan Kevin." Jawab Aurel dengan muka bingung dan kening sedikit berkerut.
"Tuan Kevin meminta untuk bertemu kamu," kata Tina lagi.
__ADS_1
"Baiklah kamu yang urus semua pertemuannya," sahut Aurel.
"Banyak orang yang ingin bertemu dengan tuan Kevin tetapi tidak punya kesempatan, satu kehormatan kalau beliau ingin bertemu dengan kamu Aurel," balas Tina.
"Kamu atur aja Tina nanti kabari aku," ucap Aurel.
Aurel sebenarnya mengerti siapa sebenarnya Tuan Kevin termasuk berita yang selama ini tersiar tentang lelaki konglomerat itu.
Sekarang mungkin saatnya ia juga bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk sebuah misi.
Sedang Jimmy hanya mengawasi tindak tanduk Aurel dari kejauhan, ia ingin mendekat tetapi wanita itu seperti memasang jarak aman terhadap Jimmy.
"Kania kamu sudah selesai? Kalau kamu tidak nyaman kita sudah bisa meninggalkan tempat ini," tanya Gavin.
"Aku ingin pulang," kata Kania.
"Baiklah kita pulang tapi janji tidak boleh marah karena ucapan Aurel tadi," ucap Gavin.
"Kenapa aku tidak boleh marah? Apakah setiap kamu pacaran kamu akan memanggil wanita itu dengan sebutan sayang?" tanya Kania.
"Kan, jangan memikirkan hal yang tidak berguna membuang tenaga dan menguras pikiran.
Kamu adalah masa depan aku, satu-satunya wanita yang akan menjadi ibu bagi anak-anakku. Itu saja yang kamu pegang saat ini," jawab Gavin.
Kania hanya mengangguk walaupun hatinya masih sedih mendengar perkataan Aurel tadi, pikirnya jangan-jangan Gavin hanya seorang pria playboy yang selalu obral janji.
Setelah berpamitan Gavin dan Kania meninggalkan acara itu dengan jalan saling bergandengan, sedang Aurel masih fokus menatap kepergian dua orang tersebut dengan senyuman yang sulit di artikan.
"Tunggu saja permainanku nanti," pikirnya sambil tersenyum.
Aurel yang asik dengan pikirannya dan sedang merencanakan sesuatu karena rasa sakit hatinya harus di kagetkan oleh Tina yang menyampaikan pesan bahwa Tuan Kevin sudah menunggu dirinya.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Jangan lupa berikan dukunganmu dengan cara like dan komen buatlah para author tersenyum dengan komen yang kamu berikan.
Dan kalau suka bantu vote ya ... Happy reading.
__ADS_1