
Mobil yang d kendarai Satya melaju memecah jalanan kota. Ditemani Nia yang duduk di samping kemudi, Satya menatap lurus jalan di depannya dengan perasaan yang bahagia.
Tangan kanan Satya memegang kemudi, sedangkan tangan kirinya menggenggam erat tangan Nia layaknya pasangan yang sedang kasmaran. Ya, kini mereka memang tengah di mabuk cinta. Cinta suci yang sudah menjadi hak mereka.
Senyuman terus merekah di wajah keduanya. Memancarkan kebahagiaan tiada tara. Bisa bersanding dengan pujaan hatinya, menjadi pendamping hidupnya dan bahkan kini menata rumah tanggabersama.
“Oh… apartemen bapak di sini??” Kata Nia saat mobil mereka memasuki sebuah basement apartemen.
“Iya, jaraknya cukup dekat dengan kampus bukan?”
“Iya pak.. enak nih kalau disini, gak terlambat masuk kelas lagi.” Celetuk Nia.
“Aku baru membelinya beberapa bulan lalu, sengaja karena memang jaraknya dekat dengan kampus dan juga dengan kantor.” Kata Satya.
“Ah iya, kita memang sedang satu proyek bersama, tapi sampai saat ini aku bahkan belum tahu dimana kantor bapak lho…” kata Nia.
“Kau benar juga, nanti akan aku ajak ke kantor.” Kata Satya.
Setelah sampai di depan pintu apartemen Satya memencet tombol kunci apartemen.
“Kodenya apa pak?” tanya Nia ingin tahu.
“Sudah kuganti, tanggal pernikahan kita.” Jawab Satya sambil mencuri kecup pipi Nia.
Nia tersipu malu mendapat serangan tiba – tiba dari Satya.
Nia dibuat terkesima saat memasuki apartemen milik Satya yang juga akan menjadi tempat tinggalnya itu. Walaupun bukan apartemen yang megah dan mewah, namun apartemen Satya sangatlah bersih dan elegan.
“Ayo masuk..! tenang saja, apartemenku bersih jadi kita tidak akan terlalu bekerja keras. Aku tidak ada waktu untuk membuatnya berantakan.” Kata Satya.
Nia memasuki kemudian mengitari seluruh apartemen. Latar belakang tembok yang berwarna putih serta perabotan yang serba putih dan minimalis memang membuat apartemen Satya terlihat lebih bersih.
Nia mengitari area dapur. Peralatan dapur pun tertata sedemikian rapinya walaupun tidak selengkap peralatan tempur mamanya. Namun kesan bersih dan elegan tetap tercermin di dapur minimalisnya itu.
Nia pun berganti masuk ke dalam kamar utama. Ruangan yang cukup luas dengan kamar mandi dan jacuzzi di dalamnya. Lemari yang cukup besar terletak di ruangan sendiri di sebelah kamar. Walk in closet yang juga berjejer rapi koleksi jam tangan serta beberapa sepatu dan jas formal milik Satya.
“Taruhlah barang – barangmu disitu. Baju – bajuku tidak banyak, seharusnya masih muat untuk barang – barangmu. Atau kalau tidak cukup kita bisa mengganti lemarinya saja.” Kata Satya.
“ Mungkin masih muat pak.. masih ada cukup ruang disini.” Kata Nia.
Nia pun mulai meletakkan dan menata baju – bajunya di lemari. Sedangkan Satya mengangkat kardus yang berisi
buku - buku Nia dan membawanya ke ruang kerja miliknya.
“Pak… bapak dimana??” kata Nia saat keluar dari kamar dan tidak menemukan suaminya itu.
“Aku disini sayang…” seru Satya dari ruang kerjanya.
Nia kembali tersipu malu saat Satya kembali memanggilnya sayang.
Mereka berdua kembali disibukkan menata buku – buku Nia. Membagi ruangan menjadi ruang belajar bagi Nia dan juga tetap menjadi ruang kerja Satya.
Kegiatan yang cukup melelahkan namun terasa sangat membahagiakan bagi mereka berdua. Diiringi dengan canda tawa, Satya pun tak henti – hentinya menggoda Nia.
__ADS_1
Sesekali kecupan mesra mendarat di pipi dan dahi Nia. Membuat hati Nia benar – benar berbunga saat ini.
Matahari sudah berada di puncaknya saat mereka berdua akhirnya selesai berbenah apartemen mereka.
“Akhirnya… selesai juga.” Ucap Satya merebahkan dirinya di sofa ruang tengah.
“Ini minum dulu, mas…” ucap Nia menyodorkan segelas air putih kepada suaminya.
Satya mengangkat wajahya, menatap dalam raut wajah istrinya. Senyumnya mengembang lebar saat menerima air
minum dari Nia.
Satya tidak mengalihkan pandangannya dari Nia bahkan saat menegak habis isi dalam gelasnya.
“Kenapa melihatku seperti itu..??” tanya Nia duduk di sebelah Satya.
“Aku mencintaimu, Nia.” Ucap Satya lalu mengecup singkat bibirr manis istrinya.
“Entah sudah berapa kali mas Satya mengucapkan kata itu hari ini.” Kata Nia tersipu malu.
Satya merangkul mesra Nia yang duduk di sampingnya. Merengkuhnya masuk dalam pelukannya.
“Aku sangat bersyukur sayang, terimakasih sudah mau menjadi istriku. Terimakasih sudah mengetuk pintu hatiku.
Terimakasih untuk selalu setia dengan perasaanmu padaku. Kini giliran aku yang akan mengungkapkan cintaku padamu, setiap hari, sepanjang waktu.” Kata Satya.
Nia merasa sangat terharu mendengar pengakuan Satya. Bahkan sampai saat ini semuanya masih terasa seperti
mimpi.
Satya semakin merangkulnya erat. Namun tiba – tiba…
Krucuk… krucuk… krucuk…
Satya menoleh melihat perut Nia.
“Sudah waktunya makan siang kan , mas??” kata Nia.
Satya tertawa lepas melihat kepolosan Nia yang sangat menggemaskan.
“Bersiap – siaplah, kita makan siang di luar.” Kata Satya.
Nia menggeleng lembut.
“Mama tadi kan sudah bawain makanan buat kita, mas… aku siapin bentar ya…!”
Satya mengangguk.
Nia segera menuju ke dapur dan mulai menyiapkan makanan yang disiapkan Mama Dessy tadi.
Setelah makan siang, Satya dan Nia kembali duduk santai di sofa ruang tengah.
“Mas, setelah ini Nia masih boleh ikut papa kerja gak??” tanya Nia.
__ADS_1
“Boleh, asal kamu bisa membagi waktu untuk kuliah, kerja dan juga untukku, selama kegiatan kamu positif, mas akan memperbolehkannya.”
“Terimakasih mas..”
“Iya sayang. Oh iya, kamu masih ingin merahasiakan status kita di kampus?”
“Iya mas, setidaknya sampai kita resepsi nanti. Nia males berurusan sama orang – orang kepo mas…”
“Oke, mas ngikut kamu aja.”
“Sore ini kita gak ada acara kan mas??” tanya Nia
Satya menggeleng,” kamu mau jalan – jalan..??”
“Kita ke supermarket yuk..!! kulkas kamu kosong. Gak ada bahan makanan. Banyak keperluan yang harus dibeli mas.”
“Oke, nanti sore kan?? Kalau begitu sekarang kita tidur siang dulu. Mas bawaannya ngantuk kalau deket – deket kamu.” Kata Satya.
“Ayo mas…!”
“Tidur disini aja, bisa lebih erat meluk kamu.” Kata Satya langsung merebahkan dirinya diatas sofa.
Alhasil, mereka pun tidur siang di sofa yang cukup untuk menampung dua orang itu. Walaupun benar – benar sangat berdempetan. Namun justru itulah yang dicari Satya. Memeluk erat tubuh istrinya.
Sore menjelang, sesuai dengan rencana, mereka berdua kini tengah berbelanja di salah satu supermarket di dekat apartemen mereka.
Nia sibuk memilih dan mencari bahan makanan yang akan di beli sedangkan Satya dengan setia mendorong troli disampingnya.
“Mas gak punya alergi sama makanan tertentu kan, Mas??” tanya Nia.
“ Gak ada sayang… mas bisa makan semuanya.”
Nia kembali memasukkan sejumlah sayuran dan protein ke dalam troli belanjaannya.
“Lho, itu ada bu Mega.” Kata Satya menunjuk wanita yang juga sedang berbelanja di depannya.
“Hah?? Bu Mega…??!!!”
Rekan kerja Satya itu pun menoleh dan langsung menghampiri Satya yang sedang mendorong troli.
“Hai Pak Satya… wah, sedang berbelanja juga ya??!! Sendirian pak…???” sapa Bu Mega.
“Saya bersama…..” Satya celingukan kanan kiri mencari keberadaan Nia yang tiba – tiba saja menghilang dari pandangannya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.