Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 62


__ADS_3

Nia terbangun tepat pukul 3 dini hari. Ia mengerjapkan matanya dan tampak sedikit asing dengan kamar yang ditidurinya.


Nia melirik sosok yang tidur di sebelahnya, dan akhirnya ia tersadar bahwa ia tertidur di kamar Tiara.


Perlahan ingatannya kembali, ia dan Tiara mengobrol sepanjang malam. Saling bertukar cerita, meluapkan rasa rindu diantara mereka, bahkan Tiara tak henti - hentinya berkeluh kesah tentang apapun itu.


"Mas Satya...!!" pekik Nia dalam hati.


Nia tersadar bahwa ia sudah berjanji hanya sebentar saja mengobrol dengan Tiara. Tapi kini ia bahkan tertidur di kamar Tiara dan meninggalkan Satya sendiri di kamarnya.


Dengan mengendap - endap Nia keluar dari kamar Tiara. sepelan mungkin ia membuka pintu kamar agar tidak menimbulkan suara yang membangunkan adiknya itu.


Hal yang sama ia lakukan saat memasuki kamarnya. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar. Karena ia yakin Satya pasti sudah tertidur.


Dan dengan langkah yang perlahan pula, Nia berjalan mendekati ranjangnya dan merebahkan dirinya di samping suaminya.


Nia tidur membelakangi Satya. Mata yang masih mengantuk membuatnya terlelap dengan segera.


Namun nyaris saja Nia terlelap, tiba - tiba saja Satya memeluknya dari belakang. Mengendus aroma tubuh Nia, menciumi tengkuknya.


"Mas Satya...?? mas belum tidur...??" Nia yang terkejut berusaha membalikkan badan.


"Jangan bergerak, biarkan seperti ini dulu... aku baru saja tertidur karena terlalu mengantuk menunggumu. Tapi aroma tubuhmu membangunkan aku... dan juga membangunkan si dia..." ucap Satya yang masih saja menciumi tengkuk Nia.


"Maaf sudah membuatmu menunggu mas... tadi aku ketiduran karena cerita Tiara.."


"Kamu memang sudah membuatku menunggu, sudah seminggu ini kamu membuatku menunggu..." ucap Satya yang sudah setengah serak.


"Mas....." suara Nia pun sudah berubah menjadi serak karena ulah Satya yang tiada henti di tengkuknya.


Secepat kilat Satya membalikkan tubuh Nia lalu menindihnya tepat di bawah kungkungannya.


"Ssssst.. jangan keras-keras... aku takut Tiara bahkan mama dan papa akan mendengarnya... Kali ini kita harus sedikit meredamnya..." ucap Satya.


Nia mengangguk patuh dengan mata yang sudah berkabut.


Selama seminggu ini pun sebenarnya Nia juga menahan hasraatnya demi kelancaran ujiannya. Fokusnya kadang terpecah jika ia harus terus - menerus berduaan dengan suaminya di dalam satu kamar.


Dan kini adalah saatnya untuk sedikit balas dendam karena penantiannya.


Kecupan yang lembut berubah menjadi ******* yang panas dan ganas. Keduanya sudah hilang kendali karena sama - sama menginginkannya.


Tak ada bagian tubuuh Nia yang luput dari kecupan - kecupan manis Satya.


"Mas... jangan membuatnya terlalu merah... papa dan mama akan melihatnya.."


"Aku akan membuatnya di tempat yang tertutup dan hanya aku saja yang bisa melihatnya...."


Satya masih menandai kepemilikannya di tempat - tempat yang semakin membuat Nia terbang ke nirwana.


Perlahan Satya mengikis jarak dan merapatkan dirinya. Seraya mengecup leher Nia, Satya menyatukan dirinya dengan lembut.

__ADS_1


"Mas....."


"Ssssstt...."


Satya membekap mulut Nia dengan mulutnya. Membuat Nia semakin menggelinjang tidak karuan.


Setelah pertarungan dini hari yang lumayan singkat itu, keduanya pun tertidur lelap. Walaupun hanya 1 ronde, setidaknya sudah cukup mereka tertidur dengan pulas.


Rasanya baru saja mereka memejamkan matanya, mentari pagi sudah menyambutnya. Setelah sarapan bersama - sama dan sedikit berbincang-bincang dengan keluarga Nia, mereka berdua pun pamit untuk pulang kembali ke apartemen mereka.


"Aku masih mengantuk mas... rasanya baru saja merem, tiba - tiba sudah pagi..." ucap Nia sesampainya di apartemen mereka.


"Kalau begitu hari ini kita tidak usah kemana - mana... kita istirahat saja... ayo tidur lagi sayang..!!" ajak Satya yang sudah bergelayut manja memeluk Nia dari belakang.


"Tapi beneran tidur ya mas... aku ngantuk banget..."


"Iyaaaaaa.... tapi setelah aku mencicipi yang manis - manis dulu..." ujar Satya yang sudah membasahi tengkuk Nia.


"Mas......"


"Hmmm..?? kamu boleh bernyanyi sesukamu sekarang... hanya aku yang akan mendengarnya..."


Akhirnya pergulatan pun kembali terjadi. Kali ini Nia bahkan sudah tidak malu untuk bernyanyi dengan lebih keras dan lepas. Meluapkan gejolak - gejolak yang membuatnya membumbung tinggi ke nirwana.


Tidak sekali dua kali Nia yang memimpin permainan, lalu kemudian Satya akan menuntaskannya dengan apik.


Begitulah mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Bertukar cerita, tertawa, bercanda lalu kembali bermain dengan panas.


Satya pun juga masih sibuk dengan berbagai kerjaan kantornya, dan Nia juga masih sering membantu papanya di perusahaan keluarganya, walau bukan lagi sebagai pemagang.


Apalagi mereka berdua memiliki proyek bersama. sehingga waktu mereka juga sering tersita untuk mengurus itu semua.


Seperti hari ini, Satya sibuk di kantornya, sedangkan Nia juga sibuk sendiri di perusahaan papanya.


"Sayang, kamu ada waktu senggang siang ini...?? kita makan siang bersama ya...??!!" ujar Nia dari ujung ponselnya.


"Boleh sayang... senggang atau tidak, aku selalu ada waktu untukmu.." kata Satya.


"Kalau begitu aku akan menjemputmu..." imbuh Satya.


"Tidak usah mas... Clara akan mengantarku... kebetulan dia juga ada janji di luar." ucap Nia.


"Baiklah kalau begitu... aku menunggu di restoran biasanya ya ..?!!" kata Satya.


"Oke mas...oh ya, jangan lupa pesankan aku dulu jus strawberry..."


"Oke sayang..." Satya pun menutup teleponnya lalu segera merapikan berkas - berkas di mejanya dan bersiap meluncur ke restoran favorit Nia.


Sesampainya di restoran, Satya langsung memesan jus strawberry sesuai pesanan Nia.


"Tiada hari tanpa jus Strawberry... padahal dulu jarang sekali dia meminum jus itu... aneh.." gumam Satya.

__ADS_1


Selang beberapa menit kemudian Nia pun datang dan langsung menemui Satya.


"Katanya tadi bersama Clara..??" tanya Satya yang melihat Nia berjalan sendiri.


"Dia menurunkanku di depan, Clara ada janji di restoran dekat sini. Kenapa menanyakan Clara...??"balas Nia sengit.


Satya pun merasa aneh dengan perubahan sikap Nia. Bukan kali ini saja, Nia tiba-tiba menjadi badmood, lalu tiba-tiba menangis dan mudah baper. Dan jika sudah begitu, Satya selalu dengan lembut merayu Nia agar tenang kembali.


"Bukan begitu sayang, mas hanya khawatir... kukira kamu tadi sendirian kesini... kalau begitu kan mas bisa jemput kamu..." kata Satya.


"Sini... duduk..minumlah dulu, Jus strawberry kesukaanmu..." imbuh Satya.


Nia pun mematuhi perintah Satya dan langsung meminum jus strawberry yang sudah dipesankan untuknya itu.


"Hmmmm.. nikmatnya... terimakasih mas" seketika itu pula raut wajah dan mood Nia kembali ceria lagi.


"Oh iya... ini..!!" Nia menyodorkan berkas - berkas yang dibawanya dari kantor tadi.


Satya menerimanya lalu meletakkannya lagi di sampingnya.


"Nanti saja, sekarang kita makan dulu.. Kamu paling tidak suka jika diganggu waktu makan, bukan...??"


Nia mengangguk dan tersenyum dengan manis. Ia bersyukur Satya sangat memahaminya.


Mereka pun segera memesan makanan. Sembari menunggu pesanan mereka datang, Nia terus saja bercerita tentang kehidupan kantornya. Papa yang selalu menyuruhnya ini dan itu, Clara yang selalu setia membantunya, tidak ada yang terlewatkan dari cerita Nia.


Saat sedang asyik bercengkerama, tiba - tiba saja suara perempuan memanggil nama suaminya.


"Satya...!!!" pekik perempuan itu.


Satya dan Nia sontak menoleh kearah sumber suara.


Perempuan itu mendekat lalu serta merta mencium pipi kiri dan kanan Satya.


Satya yang begitu terkejut bahkan tidak dapat membantah ataupun mengeluarkan suaranya.


Nia pun sama terkejutnya dan langsung menatap sinis perempuan itu. Dan lebih terkejut lagi saat melihat dengan jelas wajah perempuan itu.


"Oh..maaf... kamu sedang meeting ya..?? maaf saya sudah menganggu meeting kalian." ujar perempuan itu yang akhirnya menyadari keberadaan Nia.


" Perkenalkan.. saya Marsya..." ucapnya seraya menyodorkan tangannya pada Nia.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2