
Mentari di ufuk timur sudah menggeliat, bersinar cerah secerah raut wajah Satya yang penuh dengan senyuman pagi ini.
Sambil menyesap kopi panasnya, Satya bersantai di balkon villa resort sambil menikmati hembusan angin pagi yang begitu menyejukkan.
Sedangkan Nia yang telah mengguyur tubuhnya berjalan dengan perlahan dan sedikit tertatih keluar dari kamar mandi.
Masih menggunakan bathrobe, Nia berjalan selangkah demi selangkah karena ngilu dan perih yang masih ia rasakan di area sensitifnya.
“ Bener kata Nindya, bisa – bisa gue ngesot beneran nih kalau gak di pending dulu. Terancam gak bisa ikut ujian gue…” ucap Nia lirih.
“Tapi nagihin sih…” imbuhnya sembari tersipu malu.
Satya yang samar – samar mendengar suara Nia yang sudah selesai mandi pun kembali masuk ke dalam kamar.
“Kamu sudah selesai sayang..?? sini mas bantuin…” ucap Satya yang langsung memapah Nia.
“Kita sarapan dulu ya…?? Tadi mas sudah pesan makanan untuk kita sarapan.” Ujar Satya.
“Iya mas..”
Satya menarik kursi dan mendudukkan Nia diatasnya.
“Masih sakit ya sayang…?? Maaf ya.. mas terlalu bersemangat… habis kamu juga pinter godain…!!! Mana habis ini mas harus puasa lagi, jadi ya sekalian di puas - puasin dulu…”
“Mas Satya ihh…” ucap Nia yang tersipu malu karena mengingat kejadian sepanjang malam kemarin.
Entah berapa kali ronde pertempuran yang mereka lakukan. Sesekali gencatan senjata namun pada akhirnya tetap terjadi berkali – kali pertempuran.
Nia pun sebenarnya masih merasa malu mengingat tingkah lakunya sendiri yang di luar kendali. Entah kekuatan dari mana kadang ia yang memimpin dengan beringas walau seringnya Satya yang berkuasa.
“Setelah sarapan ini, mau jalan – jalan sebentar…?? Cuacanya lagi bagus banget..” kata Satya.
“Ih.. mas Satya ngledek nih..??” ucap Nia.
“Kok ngeledek sih, ya enggak donk…” kata Satya.
“Mas kan sudah lihat sendiri, Nia susah jalan… masak malah mau diajak jalan – jalan…??” kata Nia yang berpura - pura cemberut.
“Oh iya.. maaf.. maaf sayang..” ucap Satya yang menahan ketawanya.
“Terus kita harus ngapain…?? Mas tergoda kalau kita berduaan terus di kamar…”
Nia sejenak berpikir….
“Bantuin Nia belajar aja mas… atau Mas Satya kasih bocoran soal ujian buat besok… ya.. ya.. ya..???” kata Nia yang berusaha menggoda suaminya itu.
“Enggak bisa gitu donk sayang….”
“Gak asyik ah..!! Mas Satya gak mau bantuin istrinya sendiri ih… padahal kalau mau ngasih bocoran soal kan, Nia belajarnya bisa lebih terarah gitu lho mas.. belajar yang pasti – pasti aja.. gak capek.. jadi kalau tiba – tiba nanti malam mas Satya mau ngajakin lagi, aku ya langsung ayo..!!” ujar Nia berusaha bernegosiasi…
Satya tertawa kecil melihat betapa menggemaskannya Nia.
“Tawaranmu begitu menggiurkan, tapi itu namanya cuuuuraaaang…!!!” kata Satya seraya menyentil halus kening Nia.
“Sudah, ayo mas temani kamu belajar saja…!!! Jangan berpikiran aneh – aneh lagi, apalagi tentang bocoran soal…” kata Satya.
“Idih… padahal mas Satya tuh yang suka berpikiran aneh – aneh kalau dekat – dekat aku…” cibir Nia.
“Iya, betul.. kamu benar kalau itu..” aku Satya setengah tertawa.
Satya pun melewatkan pagi yang cerah dengan menemani dan membantu Nia belajar untuk ujiannya esok hari. Tidak sia – sia Nia membawa beberapa modulnya kemarin.
Sesekali ia bertanya tentang sesuatu yang belum dipahaminya. Ataupun Satya akan membantunya dengan memberi contoh soal yang harus diselesaikan oleh Nia.
Satya dengan sabar dan telaten menemani Nia belajar. Bukan sebagai Pak Satya sang dosen killer, melainkan sebagai mas Satya yang sabar dan pengertian.
Nia adalah salah satu mahasiswinya yang berprestasi, sehingga tidak terlalu susah baginya untuk mengajari dan menerangkan beberapa materi untuk istri tercintanya itu.
__ADS_1
Hingga tidak terasa waktu sudah beranjak siang dan mereka pun harus berkemas – kemas untuk kembali ke Jakarta.
“Mas, nanti kita mampir makan siang dulu ya…” ujar Nia saat berada dalam perjalanan pulang.
“Oke. Kamu mau makan apa sayang…??”
“Apa aja deh mas… sepanjang perjalanan nanti kan pasti banyak yang jual makanan kan…”
“Oke, kalau begitu.” Kata Satya.
Setelah berhenti sejenak untuk makan siang di salah satu restoran, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan pulang ke apartemen.
“Alhamdulillah… akhirnya sampai juga…” ucap Satya saat mereka tiba di apartemen.
Setelah membersihkan diri dan berganti baju santai khas rumahan, Satya menuju ke ruang kerjanya untuk mengecek beberapa email dari kantor maupun dari kampusnya.
“Mas….. ini minumnya..” kata Nia yang membawakna secangkir kopi untuk suaminya.
“Terimakasih… sayang, mas ngecek beberapa email dulu dari kantor tidak apa – apa kan…??” kata Satya.
Nia tersenyum,
“Ya gak apa – apa donk mas… aku juga mau belajar lagi.”
Satya mengangguk,
“Semangat belajarnya sayang..”
Nia kembali ke dapur untuk membuat minuman untuk dirinya sendiri kemudian bergabung di ruang kerja suaminya, menempati meja pribadinya untuk melanjutkan belajarnya yang tadi.
Niat awal Satya yang hanya ingin mengecek email saja, berakhir dengan menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor yang belum selesai.
Keduanya begitu fokus pada kesibukannya masing – masing. Satya berkutat dengan laptopnya sedangkan Nia sibuk dengan lebaran - lembaran kertas dan buku - bukunya.
Hingga waktu beranjak malam dan Satya menyudahi pekerjaannya, ia baru tersadar jika Nia pun sudah tertidur di meja belajarnya.
“Bagaimana caranya ia bisa menjadi mahasiswa berprestasi, padahal sering tertidur saat belajar. Gadis yang aneh…” gumam Satya melihat istrinya yang benar – benar sudah terlelap.
Setelah selesai membeersihkan dirinya di kamar mandi, Satya pun menyusul istrinya yang sudah terlelap.
“Tidur yang nyenyak sayang, I love you…” ucap Satya kemudian mencium kening Nia lalu ikut merebahkan diri di samping tubuh Nia.
Malam berlalu dengan damai seperti malam – malam yang telah lalu. Hingga pagi menjelang keduanya tertidur dengan saling berpelukan.
Nia memulai paginya dengan tergesa – gesa. Entah karena saking capek atau bagaimana, ia dan bahkan Satya bangun kesiangan.
Nia bahkan hanya sempat membuatkan sarapan roti selai dan segelas susu untuk dirinya dan suaminya.
“Oke, sudah siap berangkat..??gak ada yang tertinggal..??”tanya Satya.
“Sudah mas, siap..!! Ayo…!!”
“KTA sudah dibawa kan..??” imbuhnya memastikan.
“Ah, iya KTA…!!”
Nia kembali membuka tas nya untuk mengecek kembali semua peralatan tempurnya untuk ujian hari ini.
“Sudah Pak Dosen… beres..!!!”
Keduaya pun berangkat bersama ke kampus. Nia akan menghadapi ujian semesternya, sedangkan Satya bertugas menjadi pengawas hari ini.
Tidak sampai 20 menit mobil Satya sudah berada di parkiran kampus.
“Mas, jangan turun dulu… Nia duluan.” Ucap Nia mengingatkan.
“Iya sayang….”
__ADS_1
Setelah mencium punggung tangan suaminya, Nia turun dari mobil.
“Semangat ujiannya ya sayang…” ucap Satya menurunkan sedikit kaca mobilnya.
Nia mengangguk dan mengedipkan matanya. Kemudian berlari menuju ke kelasnya.
Selang beberapa saat baru Satya turun dari mobilnya, menyusul Nia menyusuri koridor kampus.
Nia berlari dengan kekuatan penuh, menuju kelasnya karena 15 menit lagi ujian akan di mulai. Ia tidak ingin terlambat di hari pertamanya ujian.
Nia berlari sambil menahan sakit dan perih karena area sensitifnya belum sepenuhnya sembuh.
“Hari pertama udah lari – larian gini gue… untung kemarin Mas Satya mau diajak kompromi. Kalau gak beneran ngesot gue..!!” batin Nia sambil terus memacu larinya.
Nia berhenti dengan terengah – engah tepat di depan kelasnya, dan disambut oleh kedua sahabatnya.
“Tumben loe datangnya mepet banget..??” tanya Ayu.
Nia hanya mengangguk dengan nafas yang masih terengah – engah.
“Habis olahraga malam loe kemarin ya…??” goda Nindy.
“Hush…!!” sergah Nia.
“Udah… siapin dulu peralatan loe Nia… bentar lagi dimulai tuh..” kata Ayu.
Nia mengangguk seraya mengambil ransel yang yang berada di punggungnya.
“Loh…!! Tas gue…!”
Deg!!! Jantung Nia serasa berhenti.
“Kenapa, Nia..??” tanya Ayu.
“Resleting tas gue kebuka…” ucap Nia.
Dengan cepat Nia mengecek isi tasnya. Serasa mendapat firasat bahwa ada sesuatu yang terjatuh dari tasnya. Batin Nia terus berdoa bahwa bukan peralatan tempurnya yang terjatuh.
Nia yang panik bahkan sampai memuntahkan semua isi tasnya ke lantai.
“Nah kan….!!” Ucap Nia yang langsung lemas.
“Ada yang hilang, Nia…??”
“KTA gue gak ada, guys… KTA gue jatuh… mampus gue mana bentar lagi ujian dimulai…” ucap Nia lemas tak berdaya.
.
.
.
.
.
Hai Reader setiaku... Author ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H bagi Reader setiaku yang merayakannya. Mohon maaf maaf lahir dan batin.
Selamat berkumpul dan berlibur bersama keluarga.... Jangan lupa untuk selalu mengikuti kisah cinta Nia dan Satya ya... Like dan komentar kalian adalah penyemangat terbesar bagi Author.
Apalah arti Author tanpa Reader setiaku yang hebat.
Terimakasih
.
.
__ADS_1