Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Bersama Keluarga Radit


__ADS_3

"Ayo sini kita makan sama sama!" Ajak Oma.


Tak perlu ajakan kedua kali, Rendy dan Alina sudah duduk mengapit Oma memilih makanan yang ada di meja makan.


Jane duduk di samping Laura yang memilih diam, sesekali tersenyum ketika melihat tingkah dua bocah yang beranjak remaja itu.


Laura mengamati anak anak Jane yang tengah sibuk makan sambil bersenda gurau bersama Oma.


"Sayurnya enak sekali!" Puji Rendy.


"Ini yang bawa, Tante Laura." Kata Radit.


"Pacar Om Radit ya?" Tembak Rendy.


"Iya, sudah kenalan belum?" Tanya Radit.


"Belom!" Jawab mereka kompak.


"Hai... Namaku Laura." Ucap Laura mengenalkan dirinya.


"Aku Rendy." Sambung anak yang mulai beranjak remaja itu.


"Aku Alina." Lanjut adiknya.


"Lalu itu, Mama kami." Ucap Alina sambil cekikikan, disusul tawa oleh yang lainnya.


Jane tersenyum pada Laura. Ia masih ingat, perempuan itu yang datang dalam acara reuni dengan Ben. Lalu, mungkin dia telah merusak hubungan yang telah terjalin antara Ben dan Laura.


Saat makan, wajah Rendy agak mengganggu Laura, karena tepat di hadapannya. Wajah anak itu seolah mirip dengan Ben kala remaja. Ibunya pernah memamerkan album foto Ben mulai dari bayi hingga remaja, sampai saat ia lulus sekolah. Rendy tampak mirip dengan wajah Ben.


Selesai makan, Laura membantu membereskan meja makan, lalu teringat dengan pohon apel dan jeruk yang ada di halaman depan rumah Radit. Oma mengijinkannya untuk memetik.


Anak anak sangat gembira, mereka mengambil sebuah baskom yang besar untuk menampung hasil panennya nanti.


Mereka berhamburan ke halaman depan untuk memetik buah segar, sementara Laura membantu merapikan meja makan, dibantu oleh Jane. Lalu mereka menyusul anak anak yang telah lebih dulu memanen buah itu bersama Radit.

__ADS_1


"Aku mau petik yang besar itu!" Seru Alina. Tanpa ijin lagi, ia telah memetik buah apel yang menarik hatinya, lalu menggigitnya.


"Alina, dicuci dulu!" Pekik Jane sambil melotot ke Alina.


"Ma, inikan dari pohonnya langsung, lagian sama Om Radit kan ga semprot pake pestisida." Jawab Alina.


"Emang kamu tau?" Tanya Radit.


"Iya lah. Kan pas menanamnya dulu, Alina yang bantu. Waktu itu kita pas liburan, nginep di sini, ya kan Ma?" Ucap Alina.


"Iya. Tapi, sebaiknya dicuci dulu." Ulang Jane.


Alina hanya mengendurkan bahunya.


"Lihat, aku petik jeruk yang menguning segar ini!" Seru Rendy. Ia menggunakan kayu berkait untuk mengambil buah jeruk yang tinggi.


Suara mereka bersorak saat mendapat buah yang matang dan segar. Laura memetik apel itu lalu memakannya langsung, ia melirik pada Alina sambil mengedipkan sebelah matanya. Namun, sebelumnya Laura mengusap usap buah apel itu terlebih dahulu dengan tangannya.


"Ma, tuh lihat, Tante Laura makan langsung buah apelnya!" Tunjuk Alina ke arah Laura. Jane hanya tertawa kecil mendengarnya.


Laura membawa keranjang yang penuh berisi apel dan jeruk. Sedangkan Rendy membawa baskomnya. Mereka membawanya masuk ke dalam rumah.


"Wah, terima kasih Oma, telah diijinkan memanennya." Ucap Laura berbinar.


"Ya, memang untuk dipetik, lalu siapa yang akan memakannya, jika Oma sendiri ya tidak mampu." Jawabnya, di sambut tawa dari anak anak itu.


"Aku saja sampai kekenyangan makan apelnya tadi." Ucap Alina.


Setelah selesai acara petik buah itu, mereka bersantai di ruang tengah. Anak anak sedang bermain game di sana, Laura dan Radit duduk di teras halaman belakang sambil menatap bunga bunga yang sedang mekar di sana.


"Boleh ikut mengobrol?" Tanya Jane sambil mengambil tempat, lalu duduk di dekat Laura.


Laura dan Radit menganguk.


"Bagaimana keadaanmu saat ini?" Tanya Radit.

__ADS_1


"Aku mendapat hak asuh anak anak, dan harta bagian selama menjadi istrinya. Ruko di Surabaya, mobil, dan biaya pendidikan anak anak. Dia memilih tetep bersama perempuan itu Dit. Sakit sekali rasanya." Curhat Jane.


"Maksudmu, suamimu berselingkuh?" Tanya Laura hati hati.


"Ya." Jane menganguk.


"Aku turut sedih." Ucap Laura penuh simpati.


"Terima kasih. Maaf telah merusak hubunganmu dengan Ben. Bagaimana bisa kamu dengannya?" Tanya Jane penasaran.


"Ya mungkin hanya sebagai pelarian saja saat itu. Kini aku sudah tidak pernah pernah berhubungan dengannya." Jawab Laura getir, namun Radit merasa ada nada sedih saat Laura mengatakan itu.


"Kamu menyukainya?" Tanya Jane.


"Kami hanya bertemu untuk urusan bisnis. Dia yang mengurus surat pembelian rumah. Saat itu kebetulan Gwen meninggal. Lalu kami beberapa kali bertemu, ya mengalir begitu saja." Jawab Laura sambil menerawang.


"Ben, adalah lelaki yang setia. Setelah kami berpisah, dia lama mendapat gandengan lagi. Lalu hanya beberapa bulan saja. Lalu aku mendengar dia dekat dengan Gwen, artis muda itu. Awalnya aku tak percaya. Namun, ternyata hubungan mereka sampai tahap pertunangan, hingga prewedding yang beritanya menghias headline majalah dan acara infotainment. Itu pertama kali aku cemburu pada Ben." Ucap Jane jujur.


"Maksudmu?" Tanya Laura kaget.


"Aku sangat mengenal Ben. Namun mengetahui kenyataan dia telah menemukan kebahagiaan dengan perempuan lain, rasanya aku ga rela." Jane menggeleng kepalanya.


"Kamu egois!" Laura menatap tajam Jane. Tatapan Laura menusuk dalam dada Jane.


"Kenapa kamu pergi meninggalkan Ben, dulu? Lalu kamu bilang cemburu melihat Ben bahagia bersama Gwen? Terus jika seandainya Gwen masih hidup, menikah dengan Ben, dan bahagia, apakah dirimu akan datang mengganggu kehidupan mereka?" Laura bertanya dengan penuh emosi, Jane terkejut dengan pertanyaan Laura, begitu pula dengan Radit. Ia tak menyangka Laura akan bertanya itu, terlebih mengurusi urusan pribadi Ben dan Gwen.


Jane terdiam sesaat, ia mengambil napas dalam dalam sebelum menjawabnya.


"Seandainya Ben menikah dengan Gwen, dan hidup bahagia. Aku tetap tak bisa merubah keadaan rumah tanggaku. Suamiku berselingkuh, dan ia memiliki perempuan lain dan keluarga lain, aku tetap akan berpisah." Ucap Jane.


"Lalu apakah dirimu akan melakukan hal itu, dalam acara reuni sekolah, saat Ben membawa Gwen ?" Tanya Laura.


"Tidak. Aku perempuan baik. Jika Ben membawa Gwen, aku akan tetap menjaga jarak dengannya. Tapi, aku yakin Ben pasti masih mengingatku." Ucapnya dengan yakin.


"Mengapa kamu seyakin itu?"

__ADS_1


"Entahlah mengapa aku seyakin ini. Atau karena cinta pertama selalu akan dikenang sepanjang masa. Kamu tau, Ben dan aku sama sama kehilangan keperawanan untuk pertama kalinya." Cerita Jane sambil tersenyum mengenang masa lalunya bersama Ben. Laura menatapnya dengan tatapan cemburu dan tak suka. Radit yakin, ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Laura selama ini.


__ADS_2