Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Ben Mampir


__ADS_3

Laura melajukan kendaraannya menuju rumah dengan rasa bahagia, saat mengetahui Madam Lulu kembali lagi dengan mantan suaminya. Artinya Mama dan Papa akhirnya bersatu kembali.


Ponsel berdering membuyarkan lamunan Laura. Ia memasang headset bluetooth dan menjawab panggilan dari Radit.


"Ya."


"Laura, kamu ada di mana?" Tanya Radit.


"Aku dalam perjalanan pulang. Ada apa?"


"Besok ada acara?"


"Sepertinya tidak ada. Mungkin aku hanya akan di rumah saja."


"Bagus. Besok aku jemput kamu. Kita makan siang di rumahku. Kakakku dan keluarganya datang ke Indonesia. Aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku."


"Baiklah. Sampai ketemu besok. Bye!"


Laura menutup panggilan Radit dan fokus menyetir hingga sampai di rumah.


Lisa belum kembali. Laura segera membersihkan dirinya menghilangkan rasa penat dan lelahnya.


Ia menyaksikan sendiri tadi saat Papanya melamar kembali Mamanya, begitu romantis. Seandainya tubuhnya lebih kuat, dan dapat bertahan hingga sekarang, pasti semua akan bahagia. Seandainya dapat bertemu Nora dengan tubuh Gwen, pasti ia akan bahagia juga. Seandainya mengetahui Ben memiliki anak dengan perempuan lain?


Laura memejamkan matanya, seolah ingin menghilangkan rasa cinta Gwen pada Ben. Tubuhnya memang Laura, namun jiwa, roh yang tinggal dan hidup adalah Gwen.


Sekeras apapun ia berusaha menerima cinta Radit dan mencoba untuk menerima Radit, namun masih ada sudut hatinya untuk Ben.


Laura menangis, ia meluapkan segala emosinya, ia ingin melupakan rasa cintanya untuk Ben.


Setelah puas menangis ia mencuci wajahnya, mengeringkan dengan handuk, lalu keluar dari kamar mandi. Setelah berganti pakaian, Laura ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Ia mengeluarkan stok daging dan aneka sayur. Ia mengiris iris daging dan sayuran. Mengupas bawang, lalu mengirisnya juga. Setelah menumis aneka bawang, potongan daging dimasukkan, aroma tumisan bawang harum semerbak sekeliling rumah. Sayur kemudian dimasukkan, air ditambah. Laura menambah garam, gula, saos tiram, sedikit kecap, dan bumbu penyedap, membuat masakan terasa menggugah selera.


Laura menaruh dalam mangkok sayur yang telah matang itu.


Tiba tiba, terdengar suara pintu diketuk.


Laura menuju ruang tamu untuk membuka pintu, sebelumnya ia mengintip dari balik tirai jendela. Ben? Mau apa dia datang? Pikir Laura.


Laura membukakan pintu.


"Maaf mengganggu malam malam datang." Ucap Ben.


"Ada apa?" Tanya Laura.


"Aku hanya ingin mampir, tadi kebetulan lewat sini."


"Kamu sudah makan?" Tanya Laura.

__ADS_1


"Belum."


"Mau makan bersamaku? Aku rasa Lisa sudah makan di luar. Ayo masuk!" Tawar Laura. Ben mengikuti Laura masuk dalam rumah.


Laura mengambil nasi dari magic com, lalu menaruh di meja. Telur dadar yang selesai di goreng masih di tirisan, segera diletakan pada piring. Laura menata makanan di meja dengan cekatan, Ben menatap Laura penuh makna.


Laura memberikan piring dan sendok garpu pada Ben.


"Silahkan."


Ben mengambil nasi, sayur orak arik, dan telur dadar.


"Tunggu, kayanya aku masih ada kerupuk." Laura mengambil sebungkus kerupuk dari kulkas.


Laura pun mengambil nasi dan sayur, tak lupa lauknya. Ia memakan dan dengan cuek menggigit kerupuk.


Ben tersenyum melihat Laura yang makan dengan lahap.


"Beberapa Minggu aku tak makan masakanku sendiri, kali ini terasa sangat nikmat." Laura memuji masakannya sendiri.


"Masakanmu memang enak. Dari awal, aku sudah bilang, kamu pandai memasak. Seandainya Gwen masih ada, aku akan minta ia belajar masak secara privat denganmu. Ya, seandainya ia masih ada.." Ben menerawang, raut wajahnya menyiratkan kerinduan akan Gwen.


"Kamu merindukannya?"


"Setiap saat. Aku merindukan Gwen selalu, bahkan saat dia masih ada dulu, setiap hari selalu menyempatkan diri untuk menyapanya. Kadang dia sibuk pun, aku sempatkan untuk bertemu di lokasi syuting." Cerita Ben.


Laura menganguk. Dulu, Ben selalu tak pernah absen menghubunginya. Tak jarang ia nongol di lokasi syuting, meski pun lokasinya, terkadang di daerah pedesaan.


"Maksudmu?" Tanya Ben kaget.


"Gwen bukan anak kandung Madam Lulu dan suaminya." Ucap Laura pelan. Ben terkejut dan menatap Laura tajam.


"Dari mana kamu tau?"


"Madam Lulu yang mengatakan padaku. Gwen adalah seorang bayi mungil yang diletakkan di depan Panti asuhan yang sering dikunjungi mereka." Laura menatap Ben, yang masih tak percaya.


"Madam Lulu, sangat menyayangi bayi itu, lalu ia mengambilnya dan mengurus semuanya dibantu bidan di sana." Lanjut Laura.


"Aku tak percaya semua ini. Tapi Gwen sangat mirip dengan Madam Lulu."


"Ya, karena mungkin Ibu kandungnya cantik." Ucap Laura sambil tertawa kecil.


Mereka mengobrol banyak hal malam itu. Ben menceritakan kesibukannya, tentang pekerjaan, dan kasus kasusnya yang terkadang membuatnya harus lembur dan pergi ke luar kota. Kadang kesibukan dengan pekerjaan membuatnya melupakan kesedihannya.


Ben juga menceritakan keadaan Ayah dan Ibunya. Terutama Ibunya yang sering menanyakan Laura.


"Hah... Aku? Kenapa?" Tanya Laura penasaran.


"Saat pertama ketemu dulu di swalayan, Ibu terkesan denganmu. Ia menyuruhku mengajakmu mampir ke rumah kapan kapan." Ujar Ben.

__ADS_1


"Ada apa denganku ya?"


"Ibuku hanya ingin mengenalmu saja sepertinya."


"Kalo Jane? Apakah Ibu mengenalnya?" Tanya Laura.


Ben menghela napas panjang, sebelum menjawabnya.


"Kami dulu bertetangga. Sejak kecil kami berteman. Ibu sangat kenal Jane. Namun sejak dia menikah, dan tinggal di Surabaya, kami kehilangan kontak dengan Jane. Terakhir Ibu bertemu Mamanya di acara nikahan. Jane tampak sibuk dengan anak anaknya."


"Anak anaknya lucu. Rendy sangat mirip denganmu." Ucap Laura sambil menatap Ben dan meneliti kemiripannya dengan Rendy, putra Jane bersama Ben.


"Kamu sudah pernah bertemu dengannya?"


"Sudah." Laura menganguk.


Mereka terdiam sesaat, tenggelam dalam pikiran masing masing.


Terdengar suara mobil Lisa masuk garasi. Lalu langkah kaki masuk.


"Oh, ternyata ada tamu. Hai Ben." Sapa Lisa.


"Baik. Apa kabarmu?"


"Baik. Sudah lama?" Tanya Lisa.


"Ya lumayan, cukup untuk menikmati makan malam yang sangat lezat ini."


Lisa menuju meja makan, lalu ia mengambil piring, hendak makan juga. Tetapi, Laura langsung memukul tangan Lisa.


"Cuci tangan dulu sana! Jorok!" Laura mengingatkan.


Lisa tertawa, namun, menurut perkataan Laura untuk cuci tangan.


Tak lama, Lisa kembali, dan mengambil makanan yang ada di meja.


Ia duduk di antara Laura dan Ben.


"Gue kangen masakan Lo La!" Ucapnya.


"Gila... Enak banget!" Puji Lisa.


Lisa mengacungkan jempolnya tepat di depan wajah Laura.


Mereka bertiga mengobrol banyak hal kemudian.


Setelah itu, Ben pamit untuk pulang karena sudah malam.


Ben mengucapkan banyak terima kasih pada Laura yang telah mau menerimanya, dan mengajaknya menikmati hidangan yang lezat buatannya.

__ADS_1


Lalu Ben, mengingatkan kembali untuk mengajaknya berkenalan dengan Ibunya.


Laura hanya mengangguk, namun tidak janji, karena ia telah bersama Radit.


__ADS_2