Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Mengantar Dewa


__ADS_3

"Dewa, kasih kabar ke Ibu besok saja ya. Mbak, ga mau Ibu khawatir." Pinta Laura pada adiknya.


"Iya Mbak." Jawab Dewa.


"Sebaiknya kamu istirahat dahulu. Aku lega, kamu sudah datang. Mbakmu ini ada yang menjaga." Ucap Radit.


"Terima kasih Mas eh Pak." Jawab Dewa.


"Pak?" Tanya Laura sambil mengerutkan keningnya.


"Iya Mbak, ini Pak Radit, pemilik perusahaan digital tempatku bekerja. Aku dikirim ke sini untuk proyek pembuatan aplikasi perusahaan retail." Terang Dewa.


"Jangan bilang itu proyek dari Dirga." Cecar Laura.


"Ya, bener banget La." Jawab Radit.


"Astaga Dewa. Kamu yang handle aplikasi untuk Persada." Teriak Laura dengan girang.


"Ehh... Hanya sesuai permintaan ya, tidak boleh ada modifikasi yang lain." Ucap Radit sambil menggerakkan telunjuknya.


Laura memutar bola matanya sambil tertawa ke arah Radit.


"Lalu mobilmu gimana, La?" Tanya Lisa.


"Aku sudah pasrah. Sepertinya aku harus mencari mobil baru lagi." Keluh Laura.


"Ya sudah, aku pulang dulu. Sampai ketemu besok di kantor ya Dewa." Radit berpamitan.


Laura mengantar Radit hingga mobilnya.


"Terima kasih Dit." Ucap Laura.


"Iya, istirahatlah."


Laura menganguk, detik itu juga Laura mengecup pipi Radit, lalu buru buru balik badan masuk rumah.


Radit masih terdiam syok, tapi dalam hatinya bersorak gembira dengan kejadian barusan.


Ia memegang pipi, tepat tempat bibir Laura mendarat. Rasanya ia tidak ingin mencuci wajahnya, supaya bekas ciumannya tidak hilang.


Radit masuk mobilnya, dan melajukan pulang ke rumah dengan perasaan bahagia.


****


Selesai membersihkan diri, Laura mengambil bantal dan selimut untuk pindah ke kamar Lisa, tapi ia melihat Dewa telah terbaring, tidur dengan nyenyak di sofa. Laura menaruh selimut di tubuh adiknya, lalu menatap wajahnya yang tengah pulas terbuai alam mimpi.


Laura kembali masuk ke kamarnya dan tidur, ia merebahkan tubuhnya yang terasa remuk.


Matanya benar-benar belum ingin terpejam, ia mengambil ponselnya di nakas, berselancar di dunia maya. Lalu ia membuka whatsapp, melihat story teman temannya. Mata Laura tertuju pada story yang dibuat oleh Radit. Ia memajang foto sebuah buket bunga, entah apa maksudnya. Laura tersenyum melihatnya.


Lalu matanya mulai terasa berat dan lama lama ia terbuai ke alam mimpi.


****


Cahaya matahari masuk dari celah jendela, menyentuh wajah Laura, ia terbangun, mengerjapkan matanya. Ia melihat jam dinding di kamarnya, telah menunjukkan pukul 9 pagi.

__ADS_1


"Astaga..!" Laura buru buru bangun karena telah terlambat.


Ia membuka pintu kamarnya, ternyata Dirga telah di sana sedang mengobrol dengan Lisa dan Dewa.


"Ya Tuhan, Laura. Apa yang terjadi? Kenapa tidak mengabari aku?" Tanya Dirga dengan cemas.


"Aku harus bilang apa sama Mama jika seperti ini?" Keluh Dirga.


"Sudah, nanti aku sendiri yang akan cerita ke Bu Sisil." Jawab Laura.


"Lalu mobilmu?"


"Di bengkel, semalam dibawa mobil derek ke bengkel."


"Ya sudah, nanti aku suruh orang untuk mengurusnya." Janji Dirga.


"Oya, Minggu depan aku sudah bisa membawa mobil Mbak Niken. Besok kamu bisa bawa mobilku saja La." Lisa menawari.


"Terima kasih semuanya. Aku sangat bahagia kalian semua support aku."


Sambil menunggu Laura bersiap siap, Lisa memesan sarapan untuk mereka semua.


Selesai sarapan mereka segera berangkat ke tempat kerja masing-masing.


Kebetulan hari itu Lisa ada job bersama artis agensi, jadi ia turun di rumah Madam. Saat itu, Dewa baru sadar, jika itu ada Lisa, artis sinetron favorit Ibu dan orang orang di rumah sana.


Sinetron yang dibintangi oleh Lisa sangat digemari satu RT di desa sana. Hampir setiap hari Dewa sering mendengar para karyawan dan Ibunya saling mengobrol tentang sinetron itu.


"Kenapa Dewa?" Tanya Laura seolah tau keterkejutan Dewa.


"Ya, kenapa memangnya?" Tanya Laura sambil menoleh ke bangku belakang.


"Serumah suka nonton filmnya. Bakal gempar jika tau aku duduk semobil, bahkan tinggal satu rumah sama dia."


"Heh... Dia itu pacarnya Dirga loh!"


"Hah...? Serius Mas Dirga?" Tanya Dewa pada Dirga.


"Ya, setahun terakhir." Jawab Dirga tanpa menoleh.


"Lalu perjodohan kalian?"


"Ya, jalani saja dulu lah. Lagian aku juga bingung apa salahku pada Dina dan Pras. Sepertinya aku bakal ganti mobil baru saja, itung-itung buang sial." Laura menghela napas panjang.


"Sabarlah Mbak."


"Nah itu tempat kerjamu." Tunjuk Dirga.


Dirga berhenti di halaman sebuah rumah besar bertingkat, yang ternyata sebuah perusahaan digital milik Radit.


Seseorang menyambut mereka.


"Halo selamat datang!" Sapanya.


"Loh, Mas Joe, kok di sini?" Tanya Laura heran, saat tau yang menyambut mereka adalah Mas Joe, suami Mbak Dian sepupunya.

__ADS_1


"Iya Mbak, Mas Joe kerja di sini. Aku masuk juga dapat info darinya, aku coba daftar cabang Yogya, dan keterima. Namun, jika ada tugas ke luar kota, ya harus siap." Terang Dewa.


"Ohh... Nitip Dewa ya Mas." Ucap Laura dengan sopan.


"Loh, kenapa kepalamu dik?" Tanya Mas Joe.


"Ga apa apa Mas. Semalam kecelakaan, tapi tidak parah." Jawab Laura.


"Duh.. kamu itu ya. Sudah pernah ketembak penjahat. Lalu sekarang kecelakaan. Kamu itu hanya perlu yang jagain! Nah, ini Dirga kan? Loh, pas banget ini!" Ucap Mas Joe sambil menyalami Dirga.


Dirga hanya nyengir kuda ga enak.


"Kalian itu, jangan lama lama masa penjajakannya! Wis to, manut! Segera diresmikan saja." Ucap Mas Joe menunjuk Dirga dan Laura bergantian.


"Ya sudah Mas, kami pergi dulu. Nitip Dewa ya. Maturnuwun!" Ucap Laura mengalihkan pembicaraan sambil berpamitan.


"Kabari kalo ada apa apa ya!" Pesan Laura pada Dewa.


"Oke Mbak!" Dewa memberi kode jempol pada Laura.


Lalu Dirga menuju ke kantor bersama Laura.


"Aku ga ngerti harus jawab apa soal perjodohan kita ini." Gumam Laura.


"Apalagi aku." Balas Dirga tersenyum kecut.


"Pras itu seperti mimpi buruk saja bagiku. Entahlah aku telah melupakannya, tapi tiba-tiba dia muncul kembali di kehidupanku setelah bertahun-tahun menghilang." Cerita Laura.


"Kehidupan cinta mu rumit juga ya?"


"Ya begitulah."


"Lalu Ben?" Dirga melirik Laura.


"Sepertinya kemarin aku hanya pelariannya saja. Aku pun tidak masalah, selama ia jujur padaku dari awal. Ya belajar dari banyak masalah membuatku mudah mengatasi hal seperti Ben." Ucap Laura.


"Lalu Radit?" Tanya Dirga.


"Semalam saat terjadi kecelakaan, hanya nama Radit yang ada di kepalaku, dan aku menghubunginya. Dewa dan Lisa kuminta menunggu saja, jadi semalam Radit yang menolongku dan menemaniku." Lanjut Laura.


"Baiklah, mari kita bekerja lanjut bekerja. Untuk urusan kendaraan, selama ini akan kusiapkan mobil dan sopir untuk mengantar jemputmu ya." Dirga menawari dengan tegas pada Laura.


Berita kecelakaan Laura menjadi buah bibir sekantor.


Laura juga menceritakan semua pada Ibunya sambil makan siang. Ibu terdengar sangat khawatir, tapi Laura dapat meyakinkan Ibunya, bahwa dia tidak apa apa. ia juga menceritakan yang menabraknya adalah Pras, namun dia tidak menceritakan tentang Dina pada Ibunya.


Betapa geram dan marah Ibu saat mendengar itu, namun anak anaknya tidak di rumah, jadinya Ibu hanya mengomeli para pegawainya.


"Ibu, sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Ada Dewa di sini juga. Aku malah yang khawatir ada apa dengan Ibu di sana. Jangan capek capek ya Bu." Pesan Laura.


"Iya Nduk. Kamu juga. Adikmu diajari ya selama di sana. Suruh kerja yang bener, ga boleh dugem ya!" Pesan Ibu tentang Dewa.


"Iya Bu. Lagian dia sekantor sama Mas Joe. Lalu proyek yang dikerjakan, juga dari perusahaanku. Jadi Ibu tenang saja." Laura berusaha memberi penjelasan yang tidak membuat Ibu khawatir.


"Ibu percaya padamu!" Tutup Ibunya.

__ADS_1


__ADS_2