
Hujan turun dengan deras. Ben menatap jalanan dari jendela tempat kliennya. Ia sedang mengurus hak paten nama dan logo perusahaan ini yang di klaim perusahaan lain. Namun, ternyata perusahaan yang dibela Ben telah lebih dahulu mendaftarkan dan mempatenkan namanya.
Beberapa minggu ini Ben, harus bolak balik, perusahan klien, pengadilan, kantor, pengadilan, klien, pengadilan. Hampir sampai di rumah tengah malam.
Tadi siang menjelang sore, pengadilan telah ketok palu, jika, klien Ben yang memenangkan kasus tersebut, dan perusahaan terlapor harus memberikan ganti rugi.
Namun, saat mereka di luar pengadilan, perusahaan itu mendatangi pemilik dan minta negosiasi supaya nominal tidak sebanyak yang disebutkan dalam sidang, karena mereka adalah perusahaan baru dan masih merintis, belum banyak tau soal nama atau logo, dan hak cipta atau pun hal paten.
Setelah berdiskusi, akhirnya mereka telah sepakat dengan nominal ganti rugi. Meski besar, perusahan itu akhirnya setuju, karena tidak sebesar saat getok palu. Namun, imbasnya ia harus kembali lagi ke pengadilan untuk mengurus semuanya.
Kini ia telah sampai di kantor klien untuk menyerahkan surat perjanjian hasil revisi.
Namun ternyata saat keluar dari ruang meeting perusaahan itu, dan melihat ke jendela ternyata hujan lebat.
Ben turun menuju lantai bawah, untuk pulang.
Saat di lobi, ia melihat Nova sedang terduduk manyun.
"Hai!" Sapa Ben.
"Eh, Aa Ben. Kita ketemu lagi." Sahut Nova.
"Kenapa?"
"Ponselku mati. Low bat. Dan aku hendak memesan taksi online." Keluhnya memonyongkan bibirnya.
"Mau aku antar?" Ben menawari Nova.
"Tapi hujan lebat begini?" Nova tak yakin.
"Tak apa. Kan ada payung di mobil." Jawab Ben.
Nova mengangguk, lalu mereka berlari kecil menuju ke mobil Ben.
Ben dan Nova tertawa kecil setelah mereka masuk mobil.
"Jadi basah A." Nova sambil mengeringkan joknya dengan tisu.
"Sudah lah, tak apa!" Sahut Ben sambil menyalakan mobil, dan melajukan menuju kediaman Madam Lulu.
Hujan sangat deras, hingga pandangannya tak jelas. Di ujung sana terlihat ramai.
Ben menebak itu banjir, jadi banyak kendaraan yang berputar arah .
"Kenapa A?" Tanya Nova dengan raut wajah cemas, sambil menatap orang orang di luar sana ada yang berhenti dan berputar arah.
"Banjir." Jawab Ben sambil tetap fokus mengendalikan mobilnya untuk putar balik melalui jalan lain untuk menuju rumahnya.
__ADS_1
"Nova, sepertinya jalan menuju rumah Madam terkepung banjir." Ucap Ben.
"Jadi, rumah Madam Lulu kebanjiran ya A?" Tanya Nova dengan bingung.
"Rumah Madam dan komplek nya aman. Namun jalan ke sananya ketutup banjir, Moga saja hujan segera reda, supaya cepat surut airnya. Kamu nginep di tempatku saja. Ada dua kamar di rumahku." Ben menawari Nova.
Nova terdiam sejenak untuk berpikir.
"Atau kamu mau menginap di rumah temanmu, atau hotel. Jika kamu ragu."
"Baiklah A, aku numpang di rumah Aa saja, jika tidak merepotkan." Jawab Nova.
Ben tetap fokus mengendarai mobil karena jalan mulai tergenang air. Nova menatap ke luar dan melihat air di mana mana. Dia mulai merasa cemas. Ini kali pertama mengalami banjir, yang selama ini hanya ia lihat di berita saja.
Nova dapat bernapas dengan lega, setelah Ben berhenti di garasi sebuah rumah yang tidak terlalu besar, namun juga tidak kecil sekali. Rumah bergaya minimalis, bercat putih, dengan model cluster, tak berpagar.
Ben dan Nova turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam rumah. Ben bergegas masuk ke dalam kamarnya, lalu kembali lagi ke ruang tamu, menyodorkan handuk pada Nova, dan daster plus dalaman untuk pakaian ganti Nova yang basah terkena hujan.
"Mandilah dengan air hangat supaya tidak sakit. Ini pakaian Gwen dulu, semoga pas. Sepertinya ukurannya sama dengan tubuhmu."
Nova menerima handuk dan pakaian ganti yang diberi oleh Ben, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Ben memanaskan air di teko elektrik. Menyeduh teh untuk Nova dan dirinya.
Nova keluar dari kamar mandi, dan sejenak Ben tertegun menatapnya. Nova dengan mengenakan pakaian Gwen, terlihat pas dikenakannya.
"Nggak, sempit kah?"
"Nggak, pas semuanya." Jawabnya tersenyum lebar.
Nova berjalan menuju dapur, membuka kulkas dan memeriksa isinya. Ada telur dan mi instan.
"Sudah, Aa gantian mandi sana! Biar Nova yang siapin makanannya." Cerocos Nova, sambil mendorong tubuh Ben untuk menjauh dari ruang dapur.
Ben terkekeh, dan berlalu dari dapur untuk mandi juga.
Nova dengan lincah membuat makanan dan minuman hangat untuk makan malam mereka.
Ben mencium aroma harum dari dapurnya saat membuka kamarnya.
Ia menatap Nova yang masih sibuk mencuci piring di dapur dari ambang pintu kamarnya. Terselip kerinduan akan Gwen dalam dadanya. Terlebih saat melihat Nova memakai pakaian Gwen.
Ben mengusap usap wajahnya untuk menyadarkan lamunannya itu.
Ia menuju ke dapur dan duduk di kursi. Di meja telah tersedia semangkuk mie, lengkap dengan sayur dan telur. Penampakan bukan seperti mi instan yang biasa Ben buat sendiri.
"Wow... Ini seperti mi yang di jual jual di rumah makan, bukan mi instan." Puji Ben.
__ADS_1
"Ah, Aa bisa saja. Mi biasa, cuma ditambah sayuran dan telur." Sahut Nova.
"Aku mau makan dulu ah, lapar!" Tanpa menunggu jawaban Nova, Ben telah menyantap semangkuk mi buatan Nova.
Hanya sekitar kurang dari lima menit, Ben telah menaruh mangkuk nya setelah menyeruput kuahnya sampai habis.
"Aahhh..!" Ben sambil mengusap mulutnya. Ia mengacungkan dua jempolnya pada Nova.
Nova tergelak menyaksikan Ben.
"Sudah lama sekali aku tak memakan makanan seperti ini di rumah ini. Terakhir, saat ada Ibu dan Agnes, tapi itu sudah sekitar berbulan-bulan yang lalu. Dan aku pun telah lupa rasanya menikmati makan malam di rumah sendiri." Curhat Ben. Nova mengangguk dan menatap simpati pada Ben, sambil menikmati makanannya.
"Lalu setelah Gwen meninggal, Aa sama siapa?" Tanya Nova.
"Dekat dengan seseorang, namun sepertinya dia lebih memilih pria lain daripada aku. Lalu kenyataan, bahwa aku memiliki seorang putra dari mantan kekasihku semasa SMA. Setelah itu, aku lebih fokus untuk karirku saja."
"Putra? Aa punya anak, gitu maksudnya?" Tanya Nova sambil melotot tak percaya.
"Ya." Jawab Ben.
Mereka mengobrol hingga larut malam, ditemani suara hujan yang masih menyirami bumi.
"Sudah malam A, istirahatlah! Biar Nova bereskan dapur." Nova berdiri membereskan sisa makan mereka dan mencucinya di wastafel.
Ben menatap Nova dari belakang. Sungguh, dada Ben berdesir.
Entah karena suasana yang dingin dan syahdu, menambah kerinduan akan mendamba kasih sayang belaian wanita, atau karena Ben memang telah lama tak mengeluarkan hasrat lelakinya karena terlalu sibuk bekerja.
Ia berdiri menghampiri Nova. Membantunya mengeringkan piring yang selesai di cuci.
Hingga satu momen, tangan mereka saling bersentuhan, dan mereka saling beradu pandang.
Mereka saling terdiam, lalu Ben menaruh piring di tempatnya.
Ben mendekati tubuh Nova dan merapikan rambut Nova yang sedikit berantakan, menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. Nova hanya terdiam menatap Ben, jantungnya berdegup kencang. Ia pun tak kuasa menolak pesona Ben.
Sejujurnya sejak pertama bertemu Ben di kantor Bandung, dia menyukai Ben. Namun, tak berani terang-terangan, karena ia tau, Kekasih Ben dulu adalah Gwen, artis terkenal itu.
Kini, dengan suasana yang mendukung itu, Nova hanya bisa menikmati semua perlakuan lembut dari Ben.
Saat bibir mereka saling bertautan, dan napas saling memburu. Dua insan yang saling mendamba nikmat duniawi, telah melupakan norma dan etika.
Entah bagaimana, Ben telah membawa Nova masuk dalam kamarnya, dan mereka telah berguling di ranjang, dengan seru napas memburu satu sama lain. Batas antara napsu dan cinta itu sangat tipis.
Pakaian mereka telah terlepas satu persatu, Ben memompa tubuhnya di atas Nova, membuat gadis itu berteriak yang menyatu dengan suara hujan.
Cuaca dingin, dan AC yang menyala, tetap membuat tubuh mereka basah akan peluh akibat aktivitas fisik yang telah mereka lakukan.
__ADS_1