
“Saya bersama…..” Satya celingukan kanan kiri mencari keberadaan Nia yang tiba – tiba saja menghilang dari pandangannya.
“Saya temani belanja ya pak?? Masa’ cowok ganteng seperti bapak belanja sendirian…” kata Bu Mega tanpa basa – basi.
Satya hanya tersenyum kikuk.
Ia pun mendorong troli sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok istrinya.
Satya pun mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada istrinya.
Kamu dimana sayang??
Di foodcourt depan kasir mas, aku disini aja deh..!! ada Bu Mega, gawat kalau dia sampai tahu mas belanja sama aku.
Ya sudah kamu tunggu di situ sebentar, jangan kemana – kemana.
Satya pun menaruh kembali ponselnya di saku.
“Pak Satya sering belanja di sini ya??” tanya Bu Mega genit.
“Tidak, hanya kebetulan dekat dengan apartemen saya.” Jawab Satya seadanya.
Memang benar adanya, ini kali pertama ia pergi berbelanja ke supermarket itu. Selama ini bundanya atau asisten rumah tangga bundanya yang selalu mengisi persediaan makanan di kulkasnya.
Selebihnya Satya lebih sering berbelanja online.
“Wah, kalau dekat dengan apartemen Pak Satya, saya harus lebih sering – sering belanja disini deh! Biar bisa lebih
banyak ketemu Pak Satya.” Ucap Bu Mega.
Satya hanya tersenyum kikuk tanpa menganggapi perkataan rekan dosennya itu.
“Saya permisi duluan ya Bu Mega.” Kata Satya.
“Lho….?? Udahan pak belanjanya??” tanya Bu Mega.
“Iya bu, saya permisi ke kasir duluan.” Kata Satya yang segera berlalu dari hadapan Bu Mega.
Bu Mega hanya bisa tersenyum kecut melihat kepergian Satya. Gagal lagi usahanya untuk mendapatkan hati dosen
pujaan itu, pikirnya.
Setelah selesai membayar belanjaannya, Satya segera menuju foodcourt yang di maksud Nia.
Dengan mudah Satya langsung menemukan dan mengenali sosok istrinya.
“Lho mas, kok cepet..??” tanya Nia yang kaget saat Satya sudah berada di depan matanya.
“Ngapain juga mas lama – lama sama Bu Mega.” Celetuk Satya.
“Terus belanjanya gimana, mas??” tanya Nia.
“Besok – besok saja lah… gampang..”
“Oke, ya sudah ayo cepetan pergi dari sini yuk mas, sebelum ketemu Bu Mega lagi…” ajak Nia.
Keduanya pun segera beranjak pergi meninggalkan supermarket. Menuju ke parkiran mobil.
“Terus sekarang kita mau kemana sayang…??” tanya Satya saat mereka sudah berada di dalam mobil.
“Bagaimana kalau jalan – jalan di taman..?? tapi kita cari taman yang jauh dari sini mas… takutnya kepergok anak kampus atau dosen lain mas…” kata Nia.
__ADS_1
“Kepergok..?? kayak kita pasangan apa aja yank… kan kita suami istri…” kata Satya.
“Iya mas… tapi kan…”
“Iya sayang… mas ngerti… kita berangkat sekarang??” ajak Satya.
Nia mengangguk seraya mengecup kilat pipi Satya.
Satya terdiam beberapa saat. Lalu mendekatkan tubuhnya tiba – tiba dan langsung menyambar bibirr ranum Nia.
Menciumnya tanpa aba – aba membuat Nia terkesiap.
Kecupan yang singkat perlahan berubah menjadi lumatann dan sesapan yang semakin menuntut.
Satya mengajarkan Nia cara apik bermain lidahh, memutari setiap rongga hingga Nia tersengal – sengal kehabisan nafas.
“Mas… ini… di … mobil.. jangan.. aneh – aneh deh…” ucap Nia yang masih mengatur nafasnya setelah Satya melepaskan pagutannya.
“Kamu duluan kan yang menggodaku, aku hanya melanjutkannya saja…” ucap Satya tak mau disalahkan.
“Apa sih mas…. Jadi berangkat gak nih??”
“Siap sayang… kita berangkat sekarang…” ucap Satya tersenyum girang karena sudah merasakan bibirrr ranum kesukaannya.
Satya pun akhirnya melajukan mobilnya, benar – benar meninggalkan area supermarket.
Satya mengemudikan mobilnya menuju salah satu taman kota yang menjadi tempat favorit Nia.
“Disini tempatnya…?” tanya Satya yang menepikan mobilnya di tepi taman.
“Iya, ayo mas… kita turun.”
Nia dan Satya berjalan berdua bergandengan tangan menikmati angin sore di bawah rindang pepohonan yang berjajar rapi sepanjang taman.
“Kamu sering kesini..??” tanya Satya.
“Lumayan, saat suasana hatiku memburuk, saat penat karena tugas kampus yang setumpuk, aku selalu memilih menyendiri di sini.” Kata Nia.
“Dan itu semua karena aku…??”
Nia tersenyum kecut,” Iya mas, betul sekali!” jawab Nia lugas.
“Dulu kamu pasti begitu menderita….karena aku…” ujar Satya.
“Maksud mas..??”
“Cinta sepihak, bukankah begitu melelahkan…?? Apalagi cukup lama kamu mempertahankannya…”
Nia terdiam beberapa saat,
“Bohong jika aku mengatakan itu tidak melelahkan… selama 3 tahun, aku seperti bayang – bayang.. bersuara namun tidak terlihat. Ada namun tak tampak… Tapi meskipun begitu, selama 3 tahun itu pun aku bahagia. Aku bahagia karena bisa mencintai seseorang seperti dirimu… aku bahagia menjalani hidupku dengan bayangan dirimu.” Kata Nia.
“Dan kini aku akan membuatmu bahagia berkali – kali lipat dengan kehadiran dan cintaku yang nyata bersamamu…” lanjut Satya.
Nia kembali melengkungkan senyum kebahagiaannya.
“Sini mas… aku tunjukkan tempat kesukaanku di taman ini.” Ajak Nia.
Nia mempercepat langkahnya diikuti dengan Satya yang tidak melepaskan genggaman tangannya.
“Wah… aku tidak tahu kalau disini ada danau buatan.” Kata Satya.
__ADS_1
“Indah kan, mas..??” tanya Nia.
Satya mengangguk setuju.
“Duduk sini, mas…!”
Mereka berdua pun duduk di bangku taman yang menghadap ke danau. Pemandangan danau yang indah berlatar belakang cahaya mentari terbenam, membuat suasana semakin romantis.
Nia menyandarkan kepala di bahu Satya.
“Cantik….” Kata Satya.
“Siapa..??”
“Cahaya matahari itu, dan orang yang duduk disampingku ini….”lanjut Satya.
“Hei danau… ini dia orangnya…yang sering kukeluhkan kepadamu. Menghabiskan waktu berjam – jam untuk bercerita tentang dia kepadamu. Dia tampan bukan…?? Akhirnya aku bisa membawanya kesini.. sebagai suamiku. Terdengar mustahil, kan..?? benar, dia sekarang suamiku…!! Dia ternyata juga mencintaiku…. Dan kau tahu danau, aku sangaaaaat bahagia…”
Satya memandangi istrinya itu dengan tatapan yang dalam penuh makna.
“Aku mencintaimu, Nia….”
“Kau dengar itu danau, dia bilang bahwa dia mencintaiku.. aku tidak berbohong kan…?”
“Aku mencintaimu, Nia…” ucap Satya kembali.
Nia pun mengalihkan pandangannya beralih menatap wajah suaminya.
“Aku tahu, dan aku juga masih mencintaimu, mas… selalu..” ucap Nia.
Satya pun mendekatkan wajahnya hendak mendaratkan ciumannya di bibiir Nia.
“Stop!!!” ucap Nia menutup bibirnya dengan tangan saat wajah Satya hanya berjarak 1cm dari wajahnya.
“Jangan aneh – aneh mas… ini tempat umum..!!”
“Kalau begitu ayo kita segera pulang…!! Aku ingin bermesraan denganmu..” ajak Satya tanpa basa – basi.
“Apa sih mas, ngomongnya gituan terus…” Nia tersipu malu jika Satya membicarakan sesuatu hal seperti itu.
“Memangnya kenapa..?? kamu kan istri ku..” Goda Satya.
“Ayo.. ayo… kita cepat pulang.” Ucap Satya yang mengajak Nia segera beranjak dari tempat duduknya.
Satya pun segera melajukan mobilnya menuju kembali ke apartemennya. Sepanjang perjalanan tangan kiri Satya terus menggenggam tangan Nia dan menciuminya. Sesuatu hal yang sudah menjadi kebiasaannya kini.
.
.
.
.
.
.
.
Hai reader setiaku, Author ucapkan terimakasih banyak ya, selama ini sudah setia dan selalu support author yang masih amatiran ini. Like dan koment dari reader setiaku adalah penyemangat yang sangat berarti untuk Author.
__ADS_1
Tunggu terus kelanjutan kisah cinta Satya dan Nia ya...
.