
Jantung Radit seolah berhenti menatap perempuan seksi itu. Namun ia tetap berusaha untuk terlihat tenang.
"Apa maumu?" Tanya Radit dingin.
"Apa mauku? Aku mau kamu!" Ucapnya seraya mendekati Radit.
Radit masih bergeming, matanya mengawasi setiap gerak gerik Frea.
Ia sadar, jika perempuan itu kembali lagi, pasti akan membuat ulah kembali.
"Maaf, hari sudah malam. Aku mau pulang. Aku rasa kamu tau arah pintu keluar." Radit berlalu dari hadapan Frea.
"Radit! Apakah sama sekalian tak ada kesempatan untukku? Setelah semua yang telah kita lalui, setelah semua pengorbanan yang kulakukan padamu. Inikah balasannya? Aku mencintaimu Radit." Pekik Frea memecah kesunyian.
Ucapan keras Frea membuat beberapa security menoleh memperhatikan mereka, menunggu instruksi Radit, seandainya meminta tolong.
"Aku tidak memintamu untuk melakukan apa apa."
"Aku mencintaimu Radit! Aku pergi dari Papaku, hanya untuk mencarimu. Aku tak pernah terlibat apapun. Papaku yang melakukan semuanya. Dia membuatku jadi seperti ini. Aku kehilangan semua kesenanganku, hanya untuk datang kemari menemuimu. Sadarkah kamu?"
"Maaf aku tak ada waktu denganmu. Aku lelah." Sahut Radit.
"Apa karena perempuan itu?"
Sejenak Radit berhenti dan menatap tajam ke arah Frea, lalu ia pergi tanpa sepatah katapun meninggalkan Frea.
"Brengsek! Lihat, nanti aku akan buat kamu memperhatikan aku!" Ancamnya sambil mendengus kesal menatap kepergian Radit.
****
Sekitar pukul sebelas lebih, Laura baru tiba di rumah. Ia memarkir mobilnya, lalu masuk ke rumah.
Selesai membersihkan tubuhnya, ia menuju dapur untuk membuat minuman hangat sambil membalas beberapa email yang masuk mengenai pekerjaan.
Lisa mendengar deru mobil Laura datang, dan ia terbangun.
Saat mendengar suara Laura di dapur, ia beranjak dari tempat tidurnya dan menemani Laura di dapur.
"Mau kopi, teh, atau susu?"
"Kopi dengan krimer." Jawab Lisa. Ia mengambil kotak makan di kulkas pemberian Ben tadi, dan menaruh di atas meja.
"Tadi Ben kemari." Ucap Lisa.
"Untuk apa?"
"Menjelaskan semua hal yang kamu lihat pagi itu."
Laura hanya diam saja. Ia mengaduk kopi dan krimer dalam cangkir. Menaruh satu di depan Lisa.
"Kamu benar. Dia bercinta dengan perempuan itu. Dia bilang akan bertanggung jawab pada Nova. Namanya Nova." Terang Lisa.
"Aku sudah bisa menebaknya." Sahut Laura dengan getir.
"Bukankah kamu telah bersama Radit? Mengapa masih ingin menemui Ben?" Tanya Lisa.
"Ya. Aku tak bisa menjelaskan detail perasaanku. Di sisi lain, dengan logika aku memilih Radit, namun, di sisi lain, aku masih mengharap Ben. Aku belum rela melihat Ben dengan wanita lain, Lis." Laura menelungkupkan kepalanya ke atas meja.
"Gwen. Dengar, kamu jangan egois. Pilihlah salah satu. Kamu selalu mengingatkan aku untuk memilih Dirga atau Dewa. Lalu aku memikirkan kembali dan melihat realita bahwa, jika bersama Dirga mungkin aku akan mendapat banyak kesenangan dan semua kebutuhanku tercukupi, tapi, keluarganya akan sulit untuk menerima kehadiranku. Dan aku juga pasti cukup sulit dengan peraturan keluarga mereka.
Lalu aku memikirkan Dewa, yang tiba-tiba mencoba berkomunikasi denganku kembali kemarin sebelum aku ke Yogya."
__ADS_1
"Jadi kamu dan Dewa?"
"Ya, kami sudah jadian, tapi tolong rahasiakan dulu ya. Aku belum siap dikejar kejar dan dikorek oleh netizen dan wartawan infotainment." Pinta Lisa dengan wajah memohon.
"Kapan? Kok Dewa ga pernah cerita ke aku."
"Satu Minggu setelah aku kembali ke Jakarta. Kami sering mengobrol hampir setiap hari menjelang tidur. Lalu malam itu dia menembak ku kembali. Aku juga menyukainya, jujur La. Aku ga ingin menyakitinya. Dia pria yang baik dan pengertian. Kami sepakat untuk tidak menceritakan ke orang orang supaya tidak heboh. Dia pun setuju. Apalagi mengingat karirku juga sedang naik, dia juga ga mau dikejar oleh wartawan. Hei... Kok jadi aku yang cerita ini. Kamu harus memilih satu. Ikhlaskan Ben, biar dia jalani hidupnya sendiri." Nasihat Lisa pada Laura.
****
"Permisi, Pak. Ini ada paket buat Pak Radit." Ucap OB sambil membawa paper bag.
"Dari siapa?" Radit mengerutkan keningnya.
"Dari Laura." Jawab OB itu.
"Terima kasih."
Radit mengambil paper bag berisi kotak makan dengan kertas di atasnya.
'Semoga suka sarapannya'
Ia tersenyum membaca pesan yang ditulis oleh Laura.
Ia membuka kotak bekal itu dan aroma harum tercium. Mi goreng seafood buatan Laura. Sungguh sangat menggoda sekali.
Radit yang belum sempat sarapan, segera mengambil sendok dan menyuap ke dalam mulutnya.
Ia sangat menikmati makanan yang dikirim oleh Laura. Lalu ia menghubungi kekasihnya itu.
"Terima kasih." Ucapnya saat tersambung.
"Kamu suka?"
Keduanya tertawa.
"Nanti malam aku akan membalasnya. Aku akan menjemputmu untuk makan malam." Ajak Radit.
"Oke. Kebetulan hari ini aku tidak lembur. Aku tunggu di rumah ya."
****
Malam itu Radit membawa Laura ke sebuah restoran yang dapat melihat pemandangan kota Jakarta dari atas.
Radit mengenakan kemeja formal, dan Laura mengenakan dress hitam dengan motif batik, namun terlihat anggun, dipadukan dengan flatshoes andalannya.
Setelah memesan menu, seorang pelayan menuangkan wine di gelas keduanya untuk pembuka.
"Terima kasih untuk makan malam ini." Laura memulai pembicaraan.
"Aku juga terima kasih. Tadi pagi sarapannya sangat lezat."
"Aku mau membuatkannya sarapan setiap hari." Jawab Laura dengan cepat seolah bergurau, namun Radit tau itu bukan sekedar gurauan.
"Apa waktuku tepat?"
"Ya. Waktumu selalu tepat, Radit. Terima kasih atas kesabaran menungguku. Apa pertanyaannya kemarin kasih berlaku?" Tanya Laura.
Pertanyaan Radit tentang keinginannya untuk meminta Laura menjadi pendamping hidupnya.
"Aku selalu menunggu."
__ADS_1
"Ya, aku mau Radit." Jawab Laura.
"La, ini bukan mimpi? Apa kamu mau menikah denganku?" Tanya Radit kembali dengan lebih keras dan pelan.
"Ya, aku mau Radit." Jawab Laura.
Tepat saat itu terdengar suara tepuk tangan dari beberapa pengunjung dan pelayan yang melihat aksi mereka.
Radit yang selalu mengantongi kotak cincin untuk Laura itu, langsung mengambil dari sakunya, lalu memasang ke jari manis Laura.
Mereka berpelukan, dan menikmati makan malam mereka dengan suasana romantis.
***
Sampai di rumah, Lisa menyambut keduanya dengan hangat.
"Mau mampir Dit?" Tanya Lisa.
Belum Radit menjawab, Laura menunjukkan cincin di jari manisnya.
"Hua... Kamu melamarnya Radit? Selamat!" Lisa memeluk Laura dengan perasaan bahagia.
Radit hanya tersenyum melihat kelakuan dua sahabat itu.
"Kamu akan cerita ke ibu?" Tanya Lisa pada Laura.
"Pastinya, sebelum kamu yang cerita sama Dewa." Sahut Laura.
"Kok, jadi marah?"
"Aku ga marah Lisa, tapi terkadang kamu terlalu banyak bercerita dengan Dewa." Ucap Laura dengan kesal.
"Ada apa ini, kenapa kamu malah sewot ke Lisa?" Tanya Radit bingung.
"Ya dia sama Dewa."
"Hah?" Radit terkejut dan terdengar gelak tawa dari mulutnya.
"Bisa bisanya sahabat, bisa jadi calon saudara."
"Welcome to my family!" Sahut Laura.
****
Hari itu Laura sedang menuju panti asuhan untuk kunjungan rutin dan melihat sekolah gratis yang dibangun oleh yayasan Madam.
Saat sedang membeli bahan yang akan dibawa ke panti, sepasang mata memperhatikan Laura dari kejauhan.
"Aku ingin kamu membereskan perempuan gemuk itu!" Tunjuk Frea pada dua orang laki laki bertato suruhannya.
Dua orang itu mengangguk dan segera masuk dalam mobil, mengikuti mobil yang dikendarai oleh Laura.
Saat itu sedang hujan, Laura melewati jalan yang berliku dan sepi, dan ada jurang di sampingnya. Laura fokus menatap jalanan saat menyetir, sehingga tak menyadari jika ia sedang dibuntuti.
Seorang lelaki tadi mendekati mobil Laura dan menembak ban mobilnya dengan pistol peredam. Lalu mobil laki laki itu melambat, membiarkan mobil Laura melaju dengan kencang.
Tak lama mobil Laura meliuk-liuk tidak stabil dan selip, yang mengakibatkan menabrak pembatas jalan dan akhirnya jatuh ke jurang.
Dua lelaki tadi, menatap mobil Laura yang terjatuh ke jurang.
"Bagaimana sekarang? Apa kita perlu menghabisinya?"
__ADS_1
Belum di jawab oleh temannya, terdengar bunyi ledakan keras di mobil Laura, dan mobilnya terbakar.
Setelah melihat itu, mereka segera bergegas meninggalkan tempat itu.