
Sesuai dengan janji sebelumnya, kini Satya sedang berada di rumah Nia. Makan malam bersama di rumah Nia, sekaligus mendengar jawaban dari Nia atas lamaran darinya.
Semuanya sudah berkumpul di meja makan. Pak Wijaya, Mama Dessy, Nia, Tiara dan juga Satya tentu saja.
“Kita makan dulu Satya!” ajak Pak Wijaya.
Mereka pun makan malam dengan damai dan tenang. Sesekali Pak Wijaya bertanya tentang hal – hal kecil terkait perusahaan atau proyek mereka.
Mama Dessy pun turut memperhatikan percakapan antara suaminya dan calon menantunya itu dengan senyum yang mengembang.
Setelah selesai makan malam bersama, mereka beralih ke ruang tengah. Pak Wijaya duduk berdampingan dengan istrinya.
Sedangkan Nia dan Tiara duduk di sofa terpisah berhadapan dengan Satya.
“Jadi begini Satya, tentang lamaran mu kepada Nia kemarin, saya menyerahkan semua keputusannya kepada Nia. Dia sendiri yang akan memberimu jawabannya. Bukan begitu Nia?” ucap Pak Wijaya.
Nia mengangguk.
“Jadi Nia,bagaimana keputusanmu? Apakah kamu bersedia menjadi pendamping hidup saya?” Tanya Satya.
Nia menggelengkan kepalanya.
Semua orang pun kaget. Tak terkecuali Tiara yang duduk di sampingnya. Ia tahu benar bahwa kakaknya begitu mencintai dosennya itu dan tidak ada alasan untuk menolaknya.
“Kakak?” Tiara menyenggol lengan Nia yang duduk di sebelahnya.
Nia yang masih terdiam dan menundukkan kepalanya akhirnya menghela nafas dan mengangkat wajahnya.
“Maafkan saya Pak Satya...” ucap Nia
Satya menatap Nia dengan tatapan yang masih menyimpan beribu tanda tanya.
“...saya masih belum bisa memberikan jawaban, sebelum saya menanyakan satu hal kepada Bapak.” Imbuhnya.
Satya menghela nafasnya, lega. Setidaknya ia masih ada harapan, pikirnya.
“Silakan.” Ucap Satya.
Nia menatap lurus ke depan, menusuk ke dalam netra Satya.
“Mengapa Bapak melamar saya jika bapak sudah mempunyai tunangan?” tanya Nia.
“Ha?” Satya hanya melongo terkejut mendengar pertanyaan Nia.
“Apa maksudmu Nia?” tanyanya kembali.
“Wanita yang waktu itu makan bersama bapak di restoran, dengan kotak cincin di depannya. Bukankah itu tunangan bapak?”
“Nia pernah bilang pada tante, jika nak Satya sebenarnya sudah mempunyai kekasih. Apa itu betul nak Satya?” tanya Mama Dessy serius.
Satya serta merta menoleh menatap Mama Dessy, lalu kembali menatap Nia. keduanya memperlihatkan raut wajah yang sama, serius dan bersungguh – sungguh.
Satya terdiam sejenak,mencoba mencerna yang sebenarnya terjadi.
Satya pun menyunggingkan senyumnya setelah memahami maksud pertanyaan Nia.
“Maaf tante, sepertinya ada kesalahpahaman disini.” Ucapnya pada Mama Dessy.
“Saya tidak mempunyai tunangan atau kekasih atau apapun itu namanya. Saya masih lajang, belum dan tidak memiliki keterikatan dengan siapapun.” Ucap Satya menatap Nia intens.
“Lalu siapa wanita itu?” tanya Nia.
“Saya tidak mempunyai hubungan khusus dengan dia.” Jawab Satya.
“Kenapa bapak tidak pernah bilang jika bapak tidak mempunyai kekasih?”
“Kamu tidak pernah tanya?”
__ADS_1
“Kenapa waktu itu bapak diam saja saat saya bilang tentang tunangan bapak? Kenapa bapak tidak menyangkalnya?” tanya Nia dengan menggebu–gebu.
Satya tersenyum simpul,” Kamu.. dengan kesimpulan mu sendiri. Saya bahkan tidak berkata apa – apa.”
Nia terdiam lalu tertunduk malu. Sekali lagi Satya harus melihat kecerobohannya bahkan di depan orangtuanya sendiri.
Satya semakin menyunggingkan senyumnya saat melihat raut wajah Nia yang merona merah karena malu.
Pak Wijaya, Mama Dessy bahkan Tiara ikut tertawa kecil melihat Nia yang tertunduk malu.
“Kebanyakan ngehalu sih loe, kak! Daya imajinasi kakak sungguh luar biasa!” goda Tiara.
“Hush!!! Resek loe.” Ucap Nia lirih.
“Jadi semuanya sudah jelas ya Nia? masih ada yang ingin kamu tanyakan lagi?” tanya Pak Wijaya.
Nia menggeleng.
“Jadi bagaimana? Apakah kamu bersedia menjadi istri saya?” Satya mengulangi lamarannya.
Nia mengangguk masih tertunduk malu.
“Apa sih kak, angguk - angguk gitu. Gak denger suaranya!” ledek Tiara.
Nia menyenggol lengan Tiara.
Nia mengangkat wajahnya. Menatap wajah Satya,
“Iya pak, saya bersedia.” Jawab Nia tanpa ragu.
“Yeeeeeeee!!!!!” Tiara bersorak girang.
“Tiara!” Pak Wijaya menatap Tiara tajam.
“Maaf pa... Tiara Cuma bahagia aja, akhirnya Kak Nia...” ucap Tiara setelah berhasil mengendalikan dirinya.
Satya tersenyum bahagia mendengar jawaban Nia. kebahagiaan terpancar dari paras tampannya.
“Untuk membuktikan keseriusan saya, besok lusa saya akan membawa orangtua saya kesini untuk meminta Nia secara resmi. Dan seminggu kemudian saya berencana untuk langsung mempersunting Nia.” ucap Satya tanpa basi – basi.
Sontak semua orang apalagi Nia terkejut mendengar perkataan Satya.
“Tunggu dulu nak Satya, untuk acara besok lusa tante bisa memahaminya. Itu masih bisa kita siapkan. Tapi untuk mempersunting, maksud nak Satya akad nikahnya begitu?” tanya Mama Dessy.
Satya mengangguk mantap.
“Iya tante, benar.”
“Seminggu setelah lamaran, berarti minggu depan donk?!” ujar Nia setengah berteriak.
“Apa itu tidak terlalu terburu – buru Satya?” tanya Pak Wijaya.
“Itu maksud tante, nak Satya. Tante belum menyiapkan apa – apa. Kita perlu menyewa gedung, mencari WO yang baik, catering dan sebagainya. Mana bisa semuanya dalam waktu 1 minggu.” Ujar Mama Dessy.
Satya tersenyum tenang.
“Saya hanya tidak ingin menunda niat baik tante. Maksud saya, untuk akad nikah nanti biarlah hanya kerabat dekat saja yang hadir. Boleh bertempat di rumah keluarga saya atau disini. Sedangkan untuk resepsinya kita bisa atur lain waktu saat semuanya sudah siap.” Kata Satya.
“Karena kalau boleh jujur, belakangan ini saya memang sedang sibuk untuk urusan kampus dan kantor. Sedangkan Nia pun 2 minggu lagi sudah ujian semester. itupun kalau Pak Wijaya dan Tante setuju.” Imbuhnya.
Pak Wijaya diam dan tampak berpikir.
“Baiklah. Ucapan Satya juga ada benarnya. Kita tidak boleh menunda niat baik. Kalau begitu besok lusa silakan datang kemari bersama dengan keluargamu. Dan seminggu kemudian kalian akan akad nikah disini juga. Bagaimana Nia, kamu tidak keberatan bukan?” ucap Pak Wijaya.
Nia menggeleng,” Tidak pa.”
Setelah berbincang cukup lama, Satya pun berpamitan untuk pulang. Dan Nia mengantarkan Satya hingga ke pelataran depan.
__ADS_1
“Malam ini kamu bisa tidur dengan nyenyak, bukan?” tanya Satya.
“Justru sepertinya saya tidak akan bisa tidur malam ini, pak.” Jawab Nia tersipu malu.
Satya kembali tersenyum.
“Terimakasih Nia.”
“Untuk?”
“Untuk semuanya. Dan saya juga minta maaf karena sudah membuatmu bingung selama ini.”
Nia tersenyum manis.
“Kamu tahu Nia, senyuman itu salah satu alasan yang membuat saya jatuh cinta kepadamu.” Ucap Satya.
Nia kembali tersenyum dan semakin tersipu malu.
“Saya baru tahu kalau bapak pintar menggoda juga.” Kata Nia.
“Nanti malam jangan lupa kirim pesan kepada saya.” Ucap Satya.
“Hah?”
“Bukankah dulu setiap malam kamu sangat rajin mengirim pesan kepada saya? Saya merindukan hal itu.” Ucap Satya.
Dan lagi – lagi Nia tersipu malu dibuatnya.
“Cepatlah masuk ke dalam kalau begitu.” Ucap Satya berpamitan.
Nia mengangguk,” hati – hati di jalan pak.”
Satya pun masuk ke dalam mobil dan melaju pergi meninggalkan rumah Nia.
Nia kembali masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Satya pun akhirnya sampai di rumah orangtuanya. Untuk malam ini ia berencana akan menginap di rumah orangtuanya dan memberitahukan tentang lamarannya.
Sudah cukup larut malam saat Satya tiba di rumah lamanya itu. Semua penghuninya sudah terlelap tidur. Satya pun langsung masuk ke kamarnya.
Setelah selesai membersihkan badannya, satya merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Ponselnya pun berbunyi pertanda ada sebuah pesan masuk.
Seulas senyum tersungging di wajahnya. Tak menunggu waktu lama, Satya langsung menelpon pengirim pesan itu.
“Halo..”
“Ha..halo pak..”
“Kenapa kamu gugup sekali?”
“Tidak, saya hanya tidak menyangka bapak akan menelpon saya.”
Dan begitulah, Satya melewati malamnya dengan bertukar suara dengan Nia melalui telepon. Persisi seperti remaja yang sedang kasmaran. Ya, mereka memang sedang kasmaran.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1