Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Season 2-76


__ADS_3

Karena fokus memikirkan langkah ke depan untuk pengobatan Siska membuat Kevin melupakan untuk menghubungi Tina kembali.


Bukan tidak ingin mengetahui kabar Aurel namun ia benar-benar lupa untuk menghubungi Tina kembali.


Sedangkan Aurel yang menunggu telepon balik dari Kevin dibuat kecewa karena kenyataannya sampai malam pria itu tidak menghubunginya kembali, jangankan untuk ada di sampingnya seharian Kevin tidak menanyakan keadaannya.


"Tin lu jangan kemana-mana temani aku di sini, nanti kalau aku sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit kita langsung balik ke apartemen aku aja," ucap Aurel.


"Kamu gak balik ke apartemen Kevin lagi?" tanya Tina.


"Gak Tina, kita kembali ke apartemen aku aja. Nanti kamu cari tiket ke London aku ingin istirahat di sana sampai nanti melahirkan. Aku tidak ingin orang membicarakan aku di sini hamil dan masuk acara infotainment," jawab Aurel sedih.


"Sebaiknya kamu bicarakan ini dengan Kevin dulu jangan mengambil keputusan sendiri," sahut Tina.


"Bagiamana aku mau bicara Tina, sedangkan Kevin saja tidak menghubungi kita, mau cari dia kemana?" tanya Aurel.


"Sabar aja dulu mungkin dia masih sibuk nanti pasti menghubungi kita kembali, dia yang menitip pesan untuk aku menghubungi dia jika kamu sudah siuman" jawab Tina sambil menghibur Aurel yang sedang sedih.


"Kalau Kevin sayang sama aku dan anak ini pasti sekarang dia ada di sini Tina, kenyataannya apa sekarang? Dia entah kemana tanpa kabar," ucap Aurel sambil mencibirkan bibirnya.


Ketika Siska sudah tertidur, Kevin memperhatikan tubuh Siska baru beberapa hari saja di rawat di rumah sakit sudah kelihatan semakin lemah dan pucat. Ia mengecup kening Siska hal yang jarang sekali ia lakukan selama ini lalu berjalan menuju sofa.


Kevin mengeluarkan benda pipi yang ada di kantong sakunya, melihat setiap pesan yang masuk dan beberapa panggilan tidak terjawab karena sejak tadi sengaja dia menekan tombol silent pada teleponnya supaya tidak berisik.


Salah satu dari panggilan tak terjawab itu dari nomor Tina, kabar apa yang ingin di sampaikan kepada dirinya membuat ia penasaran.


Lalu ia melihat beberapa pesan masuk berharap di sana Tina mengirimkan pesan untuknya namun Kevin tidak melihat ada pesan dari Tina.


Kevin keluar dari ruangan perawatan Siska dan mencoba menelepon Tina kembali karena rasa penasarannya kabar apa yang ingin Tina sampaikan kepadanya.


*Tut ... Tut ... Tut telepon tersambung*


"Halo pak Kevin" sapa Tina.


"Ada kabar apa mengenai Aurel? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Kevin.


"Aurel sudah siuman pak, dari tadi dia menunggu kedatangan bapak, dia kelihatanya kecewa ketika bapak tidak datang dan memberi kabar seharian ini," jawab Tina.


"Dimana Aurel sekarang biar aku bicara, aku sedang ada urusan penting seharian ini," kata Kevin.


"Ada di dalam ruang perawatan, kebetulan saya masih di luar. Tunggu sebentar lagi saya sampai ruangan Aurel," ucap Tina.


Tina mempercepat langkah supaya ia bisa segera bertemu Aurel, dan memberikan teleponnya kepada Aurel supaya Kevin bisa berbicara langsung dengan wanita itu.


"Aurel bangun sebentar, Kevin ingin bicara sama kamu," kata Tina sambil menggoyang-goyangkan tubuh Aurel yang sempat tertidur.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Aurel masih setengah sadar.


"Kevin," bisik Tina.


"Halo," ucap Aurel dengan suara serak.


"Sayang kamu sudah sadar? Kamu buat aku kuatir beberapa hari ini, kamu gak bangun-bangun," ucap Kevin dari balik telepon.


"Benarkah kamu mengkhawatirkan aku? Seharian ini kamu di hubungi saja sulit dan kamu tidak sedikitpun berusaha mencari kabar tentangku, jangankan untuk menemani aku di sini. Sudahlah Kevin tidak perlu basa-basi lagi aku sudah tau semuanya, aku hampir mati gara-gara hamil anak kamu tapi kamu malah tidak sedikitpun memperhatikan aku. Aku sudah lelah dengan semua ini, aku capek, dan aku ingin mengakhiri semuanya." ucap Aurel panjang dan lebar untuk mengungkapkan kekecewaannya.


"Maafkan aku Aurel semua tidak bisa aku jelaskan di sini, tunggu aku akan segera menemui kamu. Kita akan bicara, jangan marah tidak baik buat kehamilan kamu." sahut Kevin.


"Gak usah bawa-bawa soal kehamilan aku! Aku cuma mau bilang nanti jika sudah di perbolehkan pulang aku ingin kembali ke apartemen aku sendiri dan setelah itu aku akan pergi dari sini membawa anak ini. Aku sudah cukup lelah menjalani pernikahan seperti ini, kamu urus hidup kamu dan keluargamu saja," balas Aurel dengan sedikit emosi, ada rasa kecewa dan hormon kehamilan membuat dirinya sedikit sensi.


"Jangan marah sayang, kamu tidak tau apa yang terjadi. Tunggu aku akan menemui kamu sekarang juga." kata Kevin sambil menutup pembicaraan mereka secara sepihak.


"Ini Tina aku kembalikan telepon kamu," ucap Aurel dengan sedikit jengkel.


Kevin menitipkan Siska kepada perawat jaga, "nanti kalau istriku bertanya katakan padanya aku ada urusan yang harus aku selesaikan," pesannya tidak ingin membangun Siska yang sedang tertidur.


Dengan cepat Kevin melajukan kendaraannya bahkan ia menekan gas sampai full supaya dapat sampai rumah sakit dengan sesegera mungkin.


Dia tau Aurel sedang ngambek kepadanya dan wajar kalau wanita itu marah karena ia sudah menelantarkannya.


"Akhirnya kamu datang juga," ucap Aurel Kesal.


"Aku senang kamu sudah sadar sayang," sahut Kevin.


"Udah jangan basa-basi kamu mau bicara apa? Cepetan biar aku dengarkan semua mau kamu," balas Aurel.


"Maaf___" ucap Kevin.


"Maaf untuk apa? Kamu ingin menceraikan aku setelah kamu tau aku sedang hamil anak kamu," sahut Aurel yang sedikit tersulut emosi.


"Kenapa kamu jadi marah-marah seperti ini sih Aurel? Aku tau aku salah tapi dengarkan dulu alasan aku dong. Aku juga lelah jagain kamu di rumah sakit dan tiap malam harus menjaga Siska juga yang sedang di rawat. Kamu tau aku setiap malam tidak tidur untuk memantau kesehatan kalian berdua," balas Kevin yang juga tidak mau kalah karena sesungguhnya ia pun lelah beberapa hari seperti setrikaan untuk memantau kesehatan kedua istrinya.


"Siapa Siska?" tanya Aurel.


"Dia istri sah aku," jawab Kevin.


"Terus apa mau kamu selanjutnya?" tanya Aurel ketus.


"Aku mencintai kamu, sumpah beneran aku cinta sama kamu. Aku dan Siska menikah karena perjodohan, aku tidak bisa menolak permintaan mamaku yang otoriter dan diktator. Tapi aku mohon pengertian kamu sekarang, aku minta waktu untuk mendampingi Siska yang sedang sakit kanker rahim stadium akhir. Aku tidak tega melihat dia seperti itu bukan karena aku mencintai dia tapi tanggung jawab aku sebagai suami," jawab Kevin sambil memegang tangan Aurel.


"Terserah kamu Kevin, aku sudah memutuskan akan kembali ke London lagi. Aku tidak sanggup harus menghadapi pergunjingan orang di sini kalau melihat aku hamil tanpa suami. Sedangkan kamu masih menutupi pernikahan kita, jika kamu jodohku maka kamu akan kembali kepadaku dan jika kita tidak berjodoh aku rela sampai di sini," kata Aurel sambil menangis.

__ADS_1


"Bagaimana aku akan mengontrol kamu dan anak kita nanti? Jarak dari sini ke London itu jauh sayang, lebih baik kalau kamu mau tenang kamu bisa ke apartemen kita yang ada di Singapura untuk mempermudah aku untuk mengawasi kalian," jawab Kevin keberatan kalau Aurel harus ke London.


"Aku sudah memilih kembali ke London, tidak peduli kamu mengizinkannya atau tidak, aku tetap akan pergi. Aku mau lepas dari bayang-bayang hidup kamu, pasti semakin hari kamu semakin mengabaikan aku nanti" balas Aurel sambil menangis.


Sebenarnya bukan ini yang ia mau, tetapi Aurel merasa kesal di abaikan Kevin, ia juga wanita ingin di perhatikan terlepas ia menikah salah dengan suami orang lain.


Kevin tetap bersikeras tidak mengizinkan Aurel pergi sejauh itu karena pasti ia merindukan wanita itu apalagi di dalam rahimnya ada anak mereka.


Namun semakin ia melarang Aurel semakin kuat untuk pergi, walaupun hati kecilnya sebenarnya enggan pergi jauh dari Kevin namun rasa kecewanya lebih besar dari semua itu.


"Aurel aku mohon jangan pergi ke London, aku gak bisa jauh dari kamu. Aku minta maaf untuk urusan aku dengan Siska, aku benar-benar tidak tega. Dia meminta aku untuk menemaninya di saat-saat terakhirnya dan aku sudah berjanji untuk itu. Biarkan aku menepati janjiku kepada Siska untuk menebus kesalahanku selama ini sudah menduakan dia," Kevin terus memohon untuk Aurel tidak pergi jauh darinya.


"Kamu urus saja Siska, tidak perlu pedulikan aku. Jangan sebut ini anak kita, dia anakku, milikku dan aku akan mengurusnya seorang diri," ucap Aurel ketus.


"Aku mau tidur, aku lelah dan capek membahas hal ini kepadamu. Pergi sana kamu dan sudah tidak perlu kembali lagi untuk aku," kata Aurel kecewa.


Kevin hanya menunduk mendengar perkataan Aurel, ia sadar sebagai laki-laki sudah dua wanita yang perasaannya tersakiti karena sikapnya yang salah.


Ia bangun dari tempat duduknya, kepalanya pusing harus berdebat dengan Aurel yang baru sadar.


Memijat keningnya, menarik napas panjang dan menghembuskan dengan perlahan untuk mengatur emosinya.


Sekarang ia harus kembali ke rumah sakit untuk menjaga Siska, Kevin takut wanita itu terjaga dan melihatnya tidak ada di tempat dan menjadi kecewa.


Dokter sudah menasehati Kevin tidak ada obat yang paling ampuh untuk Siska saat ini, kecuali membuatnya senang dan tersenyum hanya itu obat yang terbaik.


"Aku pergi dulu, cepat sembuh dan aku sayang kamu. Jaga dia baik-baik untuk aku," ucap Kevin sambil mencium kening Aurel dan mengelus perutnya yang masih rata.


"Jangan marah lagi dan aku harap kamu bisa mengerti keadaanku saat ini," lanjutnya sambil berlalu pergi dari hadapan Aurel.


Sampai di depan pintu ia bertemu Tina yang sedari tadi menunggu di luar, ia sengaja membiarkan Kevin dan Aurel untuk berbicara berdua. Dirinya tidak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga artisnya.


"Tina, aku titip Aurel lagi. Jaga dia untukku, kabari aku apapun yang ia lakukan.


Bantu aku untuk menghibur dia dan tolong bujuk dia untuk tidak pergi ke London. Aku mohon bantu aku Tina, aku sudah berbicara kepadanya dari hati ke hati tapi kelihatannya Aurel masih kecewa dan marah padaku," ucap Kevin sambil berlalu meninggalkan rumah sakit dengan langkah lemas.


Tidak menyangka akhir dari punya istri dua membuat ia pusing memikirkannya, bukan karena ia mampu secara lahiriah namun ia belum bisa membuat istri-istrinya berbahagia.


Dirinya mengakui ia sudah salah jalan namun ketika ia ingin memperbaiki semuanya malah ia menemui jalan yang rumit.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Jangan lupa untuk like, komen, dan vote bagi yang sudah membaca.


Ini part khusus untuk Kevin dan Aurel, jangan marah ya mereka juga punya andil kisahnya di sini.

__ADS_1


__ADS_2