
Dua Minggu kemudian....
Laura mengemasi pakaiannya masuk ke dalam tas, ditemani Ibu yang duduk di ranjangnya.
"Jadi, kamu dan Radit kapan?" Tanya Ibu sambil melipat pakaian Laura.
"Radit adalah lelaki yang sangat baik selama ini, perhatian, dan bertanggung jawab. Itu yang aku tau. Tapi, hati Laura mengatakan ada hal lain yang membuat aku bimbang. Aku takut mengecewakan dan dikecewakan, Bu." Jawab Laura sambil menatap Ibu.
"Apa yang membuatmu takut? Ibu rasa, ada hal yang selama ini kamu tutupi, sehingga membuat hatimu tidak sepenuhnya tertuju kepada Radit." Tebak Ibu, namun membuat dada Laura bergemuruh.
"Ada hal yang kamu tutupi? Ya, selama ini aku menutupi kenyataan bahwa selama ini aku bukanlah Laura, tapi Gwen. Dan dalam hatiku masih ada nama Ben. Nama itu yang selalu membuatku bimbang dalam menjalani hubungan." Ucap Laura dalam hatinya.
Ibu ikut duduk di lantai mendekati Laura, ia membelai lembut rambut putrinya. Laura sangat bahagia sekali merasakan kelembutan dan kasih sayang Ibu selama ini. Terutama selama hampir satu bulan ia berada di Yogya, Ibu selalu memperhatikan dan menyediakan segala keperluannya meskipun sedang sibuk melayani pesanan katering.
"Terima kasih, Bu. Selama aku di rumah Ibu selalu berusaha menemaniku, membantuku, bahkan aku merasa sangat nyaman di rumah. Waktu sebulan terasa hanya sebentar saja, rasanya. Terima kasih, Ibu mau bersabar untukku memilih pasangan." Laura menatap Ibunya.
"Ibu selalu berdoa untukmu. Semoga kamu selalu diberi kelancaran untuk pekerjaan dan jodohmu. Ibu percaya, kamu pasti akan mendapat yang terbaik sebagai pendampingmu. Ibu melihat baik Dirga atau Radit sama sama baik bagimu. Ibu tau kamu selalu memikirkan keduanya dari dulu. Setelah Pras membatalkan rencana pernikahan kalian, Radit selalu menemanimu.
Ibu masih ingat, dia bahkan sempat ingin melamarmu, namun Ibu bilang, dia harus bicara langsung padamu. Lalu akhirnya ibu mendengar kalian bersama. Lalu tiba-tiba usai kamu dari Amerika, kamu terlihat dekat dengan Dirga, yang membuat Eyangnya langsung meminta kamu untuk jadi calon istri untuk Dirga.
Saya kamu menyelamatkan Dirga dari penculikannya dulu, Eyang selalu berharap, kamulah yang akan mendampingi Dirga. Tapi Ibu dan Bapak tidak berani menerimanya, karena kalian masih kecil saat itu.
Sekarang jelas sekali hanya ada kamu dan Radit, tapi Ibu lihat kamu terlihat seperti ada yang kamu tutupi darinya. Ada apa? Apa ada orang lain di antara kalian selama ini?"
"Iya Bu. Memang ada hal yang sedikit mengganjal di hatiku selama ini. Bukan Radit, tapi dari sisiku. Ada hal yang belum aku selesaikan pada seseorang." Laura mengungkap rahasianya pada Ibu.
"Kami tidak boleh seperti itu? Kamu harus menentukan pilihanmu. Jika kamu bingung, berdoalah! Minta petunjuk pada Tuhan. Ibu yakin, kamu pasti akan mendapat yang terbaik. Siapa pun dia, Ibu akan menerima dan menyambut dengan gembira." Ibu menepuk nepuk bahu Laura.
Laura terdiam dan merenungkan semua ucapan Ibu.
Ibu membantu menyusun barang barang Laura, setelah selesai ia menaruh di dekat tembok.
"Beristirahatlah. Besok pagi kamu akan melakukan perjalanan jauh." Ibu mengingatkan.
__ADS_1
Ibu meninggalkan Laura sendiri di kamar untuk istirahat.
Lisa sudah pulang ke Jakarta beberapa hari yang lalu, yang sebenarnya, ia sengaja ingin tinggal lebih lama di Yogya dan menghabiskan waktu liburnya bersama Dewa.
Lisa tinggal di rumah Laura selama beberapa hari setelah selesai syuting, dan Mas Andre bersama kru film telah meninggalkan Yogya seminggu yang lalu.
Radit juga telah pulang ke Jakarta seminggu yang lalu. Sebelum pulang ia mengutarakan keinginannya untuk menikahi Laura, namun Laura masih meminta sedikit waktu untuk memikirkan kembali.
Meski ada kekecewaan dalam diri Radit, namun ia berusaha tetap cool dan tenang menerimanya. Laura tau Radit kecewa, ia berjanji setelah kembali ke Jakarta, akan segera memberikan jawabannya.
Laura dan Radit tetap saling menghubungi selama seminggu ini, bahkan selalu mengobrol dengan Ibu melalui video call. Oma juga sempat mengobrol bersama Ibu, dan memesan gudeg dan brongkos buatan Ibu untuk dibawa bersama Laura saat kembali ke Jakarta.
***
Pagi hari, Laura sudah bangun dan segera bersiap siap. Dirga menjemput Laura di rumahnya.
Bu Sisil telah pulang kemarin naik pesawat, dan Dirga membawa kembali mobilnya untuk pulang ke Jakarta.
Bu Sisil juga memesan banyak sekali makanan pada Ibu Laura. Pagi itu Ibu telah menyiapkan semua pesanan dan oleh oleh untuk Laura di Jakarta.
"Astaga, sepenuh ini mobilnya?" Gumam Dirga sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya, aku juga tidak menyangka akan sebanyak ini bawaan kita." Sahut Laura sambil berkacak pinggang menatap isi mobil Dirga.
"Kamu juga, malah buka jastip anak anak kantor. Makin banyak bawaannya!" Ucap Dirga.
"Iyo, aku juga ga nyangka bakal sebanyak ini jadinya. Tapi tak apalah, lumayan dapat cuan." Laura terkekeh, Dirga hanya tersenyum kecut sambil menatap isi mobilnya.
Setelah mereka berpamitan, Dirga dan Laura masuk ke dalam mobil, dan Dirga langsung mengemudikan dengan santai.
Mereka menikmati perjalanan mereka dengan santai, beberapa mengobrol mengenai masa lalu.
Dirga juga menceritakan saat ke Semarang kemarin bersama Radit.
__ADS_1
"Jadi, kamu serius dengan Alma?" Tanya Laura.
"Aku merasa cocok dengannya. Eyang sudah mengetahuinya, dan memintaku untuk mengajaknya berkenalan dengan keluargaku."
"Alma mau?"
"Kami akan bertemu besok lusa. Dia akan ke Jakarta dan menginap di rumah Radit." Jawab Dirga.
"Semoga lancar dan sukses untuk hubungan kali ini." Laura memberi dukungan.
"Lalu kamu dan Radit?"
"Aku harus menyelesaikan satu hal, tapi sudahlah. Kami akan baik baik saja. Oya, apa kabar Ben. Lama tak mendengar kabarnya?" Laura mengalihkan pembicaraan dan menanyakan Ben.
"Sejak kehilangan Gwen, dia tak punya kisah cinta yang serius lagi. Dia terlihat lebih fokus bekerja. Karirnya sedang menanjak kali ini.
Aku juga berencana untuk tinggal kembali di rumah Mama, mungkin besok atau lusa aku akan ke rumah Ben untuk mengemasi barang-barangku yang ada di rumahnya."
Dirga bercerita sambil fokus mengemudikan mobilnya.
Dirga menyetir dengan santai selama perjalanan. Mereka sekali berhenti di rest area Heritage, selain untuk beristirahat, Laura ingin berfoto di sana.
Lalu mereka meneruskan perjalanan kembali menuju Jakarta.
Tak terasa setelah sekitar sepuluh jam perjalanan, mereka masuk area Jakarta, dan disambut hujan lebat. Hari mulai gelap kala itu.
Dirga menurunkan Laura beserta semua barang bawaannya, yang setengah lebih isi mobil itu.
Lisa membantu mereka menurunkan barang bawaan Laura. Setelah selesai, Dirga langsung pulang menuju rumahnya.
Selesai mandi, Laura menata semua barang bawaannya. Pesanan temannya dan oleh oleh.
Lisa telah menanak nasi, lalu kemudian mereka menikmati gudeg buatan Ibu dan wedang uwuh untuk menghangatkan tubuh mereka karena cuaca hujan.
__ADS_1
Selesai makan mereka masih saling berbagi cerita. Hingga larut malam.
Hujan deras mengguyur kota Jakarta malam itu. Laura akhirnya dapat tidur lagi di ranjang kamarnya kembali. Ia berencana untuk menemui Ben besok pagi, entah mengapa perasaannya mengatakan ia harus ke sana. Hingga akhirnya ia tertidur.