Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 52


__ADS_3

“Aku mencintaimu Nia…” ucapnya lembut lalu menyambar bibir ranum Nia yang terpampang di depan wajahnya.


Nia terkejut hingga membelalakkan matanya.,”Apakah ini saatnya..??”


Namun sedetik kemudian ia mulai menikmati perlakuan lembut Satya.Nia turut memejamkan matanya dan  perlahan tangannya kini melingkar di leher suaminya itu.


Tanpa tergesa - gesa, begitu perlahan dan penuh kelembutan Satya membuai Nia seakan terbang melayang ke nirwana.


Nia yang bahkan ini adalah ciuman pertamanya hanya bisa pasrah mengikuti setiap alur yang Satya tawarkan.


Satya mencecapi, menyesap, menciumi keindahan ranum nan lembut yang disuguhkan kepadanya. Bahkan dalam sekejap bibir Nia seakan menjadi candu baginya.


Semakin lama kecupan berganti menjadi semakin menuntut, berubah menjadi semakin dalam yang mengeksplor setiap sudut keindahan. Nia pun menjadi lebih berani membalas setiap kenikmatan yang Satya berikan.


Keduanya tengah tenggelam dalam kenikmatan duniawi yang begitu nyata. Sesuatu hal yang menjadi pertama kali bagi mereka berdua.


Satya menggendong Nia dan mendudukkannya di atas meja. kecupan demi kecupan pun semakin menjadi memanas diiringi dengan deru nafas yang tersengal – sengal.


Satya melepaskan pagutannya saat Nia benar – benar akan kehabisan nafas.


Nia menatap netra Satya yang seakan telah berkabut. Raut wajah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, yang kini menuntutnya lebih membuat diri Nia pun ikut bergejolak.


Serta merta Nia menyuguhkan leher jenjangnya untuk di jelajah lebih dalam. Mempersilakan Satya untuk membuatnya terbang lebih tinggi ke nirwana. Hasrat Satya pun semakin menggebu. Menyesap, menggigit, menandai kepemilikannya disana.


Semakin lama, semakin turun dan turun hingga entah sejak kapan Satya sudah menjelajahi tubuh bagian atas Nia yang bahkan seluruh kancing piyamanya sudah terlepas.


Suara indah nan syahdu lolos dari bibir Nia, pertanda ia pun semakin bergejolak.


Tangannya dengan kuat mencengkeram rambut Satya, menekannya untuk lebih membenamkan kepalanya di tubuh Nia.


Satya bermain dengan sungguh elok. Memainkan dengan lembut sisi kanan tanpa melupakan sisi kiri. Tanpa menyisakan sedikit ruang di tubuh atas Nia, Satya menandai merah semuanya tanpa terlewatkan sedikit pun.


Tanpa melepaskan pagutannya, Satya menggendong Nia menuju ranjang. Nia pasrah tanpa perlawanan saat Satya sudah menghimpitnya.


Satya kembali bergerilya di atas tubuh Nia, perlahan tapi pasti piyama Nia sudah lepas dengan sempurna dari tubuhnya, menyisakan sehelai kain terakhir yang menutupi area intinya.


Satya terus mencecapi seluruh tubuh Nia tanpa terkecuali.


Nia spontan menutup mulutnya, mengigit bibirnya agar suara itu tidak kembali lolos.


“Jangan di tahan. Aku suka mendengarnya” ucap Satya.


"Saya malu pak..." kata Nia.


Satya pun melepaskan kedua tangan Nia yang menutup rapat bibirnya. menelangkupkannya dan memegangnya erat.


Satya perlahan turun menelusuri tubuh bagian bawah Nia. Namun ada sesuatu yang menganggu pikiran dan pandangannya.


“Nia, apakah kamu sakit??”


“Maksud bapak??” tanya Nia dengan nafas yang tersengal – sengal.


“Kamu berdarah.” Kata Satya sambil menunjuk area sensitif Nia.


“Hah??!! Apa??” kesadaran Nia langsung kembali.


Tanpa basa – basi Nia langsung mendorong Satya ke tepi dan melompat dari ranjang berlari menuju kamar mandi.


Satya hanya terbengong melihat tingkah Nia karena belum memahami apa yang terjadi.


Ia pun menyusul Nia yang berlari ke kamar mandi.


“Nia, kamu tidak apa – apa?? Nia, buka pintunya. Ada apa??” kata Satya dari pintu.


“Nggak kenapa- kenapa pak…!!!” seru Nia dari balik pintu.


“Kalau tidak ada apa – apa keluarlah…” kata Satya yang tetap menunggu dari balik pintu.

__ADS_1


Nia pun membuka sedikit pintu kamar mandinya.


“Pak… boleh minta tolong tidak??” tanya Nia lirih.


“Kenapa? Ada apa?”


Nia mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Satya.


“Apa!!?? Kamuuuuu….??” Satya tidak sanggup meneruskan kata – katanya


Nia mengangguk lemah.


Satya pun berbalik badan dan melangkahkan kakinya dengan lemas, menuju laci yang dimaksud Nia.


“Sekalian baju saya juga pak…” imbuh Nia.


Satya mengangguk lemas sambil tetap berjalan.


“Belum rejeki… hmmmm…” ucap Satya lirih.


“Ini.” Ucap Satya sambil memberikan barang permintaan Nia serta baju yang sudah berhasil di copotnya tadi.


“Terimakasih….”


Nia kembali masuk ke kamar mandi. Sedangkan Satya merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.


Setelah memakai bajunya kembali Nia menyusul Satya. Nia berdiri tepat di sisi ranjang.


“Sini… kenapa diam saja disitu.” Ucap Satya menepuk ranjangnya.


Nia pun berbaring di sisi Satya.


Satya merengkuh Nia untuk tidur dalam pelukannya.


“Maaf ya pak…” kata Nia.


“Biasanya berapa hari..??” tanya Satya.


“Semingguan pak…”


“Dan ini sudah berapa hari??” imbuhnya.


“Belum ada 1 hari pak…kan baru saja keluar ini tadi…”


“Huhft… aku masih harus menunggu 7 hari lagi…”


“Maaf ya pak…”


Satya tersenyum memandangi Nia. Lalu mengecup mesra dahinya.


“Tentu saja sayang…”


Nia tersenyum dan membenamkan kepalanya ke dalam pelukan Satya.


“Lalu… sampai kapan kamu akan terus memanggilku bapak?? Orang – orang akan salah mengira kalau aku ini bapakmu, bukan suamimu.” Kata Satya.


Nia menengadahkan wajahnya menatap Satya.


“Lalu aku harus memanggil apa?? Bapak kan pak dosen saya.. jadi saya panggil bapak donk..”


"Kalau di area kampus aku masih bisa memakluminya, tapi kalau di luar kampus kan suamimu, Nia.."


“Lalu aku harus memanggil apa??”


“Senyamanmu aja, asal jangan bapak. Aku merasa sangat tua. Padahal umur kita hanya berjarak 5 tahun.”


“Baiklah, akan ku pikirkan memanggil bapak apa..” kata Nia.

__ADS_1


“Ya sudah, ayo kita tidur. Masih banyak pekerjaan yang menunggu kita esok hari.” Ucap Satya.


Satya kembali merengkuh Nia dalam pelukannya. Nia pun dengan nyaman tidur berbantal lengan Satya.


Namun tidak berselang lama Satya bangkit dari tidurnya, membuat Nia yang setengah tertidur kembali terjaga.


“Mau kemana, Pak…??” tanya Nia melihat Satya yang berjalan menjauhi ranjang.


“Mandi sebentar, gerah…” Kata Satya sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


“Gerah..?? pendingin ruangan sudah mode on gini juga…” ucap Nia lirih.


Satya pun kembali berbaring tidur di sisi Nia setelah menyelesaikan ritual mandinya yang cukup lama.


Kembali merengkuh Nia yang sudah tertidur dalam pelukannya dan mengarungi malam panjang bersama dalam pelukan hangat nan damai.


Keesokan paginya Nia dibantu dengan Satya kembali meneruskan kegiatan mereka yang tertunda tadi malam. Eeeh,kegiatan yang tertunda maksudnya adalah packing barang – barang yang akan mereka bawa ke apartemen Satya ya, bukan yang lain.


Nia memasukkan baju – bajunya kedalam koper, sedangkan Satya membantu Nia memilah buku yang akan dibawa ke apartemennya.


Setelah memasukkan semuanya ke dalam koper dan kardus, mereka berdua turun ke bawah dan memasukkannya ke dalam mobil.


“Kalian jadi pindah pagi ini..??” tanya Mama Dessy setelah mereka berdua bergabung untuk sarapan bersama.


“Iya ma.. biar ada waktu juga beres – beres juga di apartemen. Karena besok Nia dan Pak Satya juga sudah harus ngampus.” Kata Nia.


“Ya sudah kalau begitu.”


Selesai sarapan bersama, Satya dan Nia pun berpamitan untuk pindah ke apartemen Satya.


“Ini sudah mama siapkan lauk untuk kalian makan siang nanti, sama beberapa bahan makanan.” Kata Mama Dessy.


“Terimakasih ya ma…”ucap Satya.


“Sering – seringlah main kesini, Satya… mamamu sering merasa bosan di rumah.” Kata Pak Wijaya.


“Baik pa.. tentu saja.”


Setelah berpelukan dan berpamitan satu sama lain, Nia masuk ke dalam mobil dan di susul Satya. Mobil mereka pun melesat keluar dari rumah Pak Wijaya menuju apartemen yang akan mereka tinggali bersama.


.


.


.


.


.


.


.


.Hai reader setiaku... yang menunggu part unboxing, mohon maaf ya, unboxing ditunda dulu... Nia lagi berhalangan, wkwkwkwk...


Dan juga Author imnta maaf karena lama upload. untuk part ini Author sudah 3x upload dan 3x ditolak juga... huhuhu jadi sediiih..


Author masih bingung bagaimana harus menuliskan adegan itu..  ditunggu dulunya, sembari Author mencari mas Ilham..


Terimakasih readerku yang sudah selalu setia mengikuti kehaluan author ini. like dan komentar dari kalian adalah penyemangat bagi author.


Terimakasih..dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman - teman yang menjalankan..


.


.

__ADS_1


__ADS_2