
POV Yoga
Mama terus saja memaksaku untuk menikah dengan alasan ingin segera menimang cucu. Entah sudah berapa gadis yang mama coba jodohkan untukku, tapi kutolak. Bukannya aku pemilih, hanya belum ingin. Tak ada alasan kusus. Usiaku juga masih 31 tahun, belum tua kan!
Hari ini mama memaksaku mengantar Clara ke salah satu butik kami untuk memberinya sebuah gaun. Karena nanti malam akan ada pesta jamuan, mama mau Clara memakai salah satu gaun koleksi butik. Clara adalah anak perempuan Tante Ivon, teman mama. Setelah gagal menjodohkanku dengan banyak wanita, kini Clara yang akah dijodohkan denganku.
Kalau bukan karena mama yang memaksa, aku tak akan mau menemani Clara. Sudah satu jam aku menunggunya di mini bar butik, tapi dia belum mendapatkan gaun yang cocok. Ribet sekali wanita itu.
Kulihat dari balik kaca butik, seorang gadis turun dari mobil phanter tua.
Kuperhatikan terus hingga dia masuk ke dalam butik dan melihat sebuah gaun berwana pink. Sepertinya dia tertarik dengan gaun itu. Tapi kemudian Clara mendekatinya dan sepertinya Clara menginginkan gaun itu.
Kupikir akan terjadi sedikit pertengkaran, namun gadis itu malah pergi dan hey... dia menuju kemari.
Dia duduk di kursi dan meneguk habis segelas minuman yang baru dipesannya.
"Haus, ya?" tanyaku menggoda.
"Bukan urusan kamu." jawabku ketus.
"Eh, cantik-cantik ternyata galak." Wajahnya menggemaskan sekali saat cemberut.
"Boleh duduk di sini?" tanpa menunggu jawabannya, kugeser tempat dudukku.
"Sendirian, ya?"
"Sama cowokku, lah. Ngapain kamu duduk deket-deket gini." protesnya masih dengan wajah yang menggemaskan.
"Cowok yang mana? Kamu kan baru masuk, aku liat sendirian turun dari mobil."
Hahaha wajahnya merah padam, ingin sekali kucubit pipinya.
"Boleh kenalan? Aku Yoga." ucapku sambil menulurkan tangan. Dia malah terpaku menatapku.
"Hai, mau sampai kapan ngeliatin wajah gantengku?"
Dia tergagap dan menjabat tanganku dengan cepat, "Tania."
Jadi namamu Tania. Imut sekali.
"Ehm Tania, baru datang kok langsung minum? Gak liat-liat baju dulu?"
"Gak papa, belum ada yang cocok." jawabnya.
"Suka gaun pink tadi ya?" Sepertinya dia menyukai gaun yang telah diambil Clara.
"Udah dibeli orang. Nanti mau liat yang lain, siapa tau ada yang cocok."
"Sini ikut aku."
"Kemana?" tanyanya heran.
"Udah, ayo!"
Kami masuk ke ruang kusus gaun yang baru datang. Kusuru Tania memilih gaun dan mencobanya. Tak butuh waktu lama ia telah mencoba sebuah gaun di ruang ganti. Kutunggu-tunggu Tania keluar untuk melihatnya mengenakan gaun tersebut, tapi ternyata dia tidak memakainya keluar.
"Loh, kok gak diliatin ke aku?" tanyaku sedikit kecewa.
"Emang kamu siapa?" jawabnya santai.
Hahaha dia menggemaskan sekali.
__ADS_1
"Aku mau bayar dulu, ya." kata Tania kemudian.
"Aku aja yang bayar, buat hadiah perkenalan kita."
"Eh, gak bisa gitu! Gaun ini ha-"
Kuambil saja gaun dari tangannya, "Kamu duduk dulu di sini, tunggu ya!" perintahku sambil mendorongnya pelan duduk di sofa.
Lalu aku pergi ke ruangan sebelah untuk menyuruh seorang pegawai mengemas cantik gaun tersebut. Tak butuh waktu lama, aku segera kembali menemui Tania.
"Kamu suka melamun ya?" Kulihat Tania sedang termenung.
"Ini hadiah buat kamu." kuulurkan sebuah paper bag berisi gaun yang telah dikemas.
"Beneran kamu yang bayarin? Trus aku jadi ngutang, nih?" tanyanya dengan mimik serius.
"Biar ga ngutang, boleh aku pinjam ponsel kamu?"
"Boleh." jawab Tania sambil mengulurkan gawai.
Kutekan beberapa angka di gawainya lalu gawaiku berbunyi.
"Nomerku udah kusimpan di ponsel kamu. Sekarang kita impas ya."
Kalau sudah menyimpan nomornya aman. Aku bisa menghubunginya kapan saja.
"However makasi ya. Aku harus pulang dulu."
Sepertinya Tania buru-buru. "Mau aku antar?" tanyaku
"Terus mobilku ditarik di belakang?" candanya.
"Yoga, aku mencarimu kemana-mana." Clara menarik lenganku manja.
Aku sudah tak tahan dengan gadis ini. Kenapa mama bisa menjodohkanku dengannya?!
"Sudah mendapatkan gaunnya?" tanyaku.
"Sudah, gaunnya cantik sekali. Mau lihat aku mencobanya?" tanyanya manja.
"Ayo kuantar pulang. Aku banyak kerjaan di kantor."
Clara memeluk lenganku dengan erat. Kalau bukan karena mama, gadis ini pasti sudah kumarahi. Kulihat mobil Tania masih belum meninggalkan parkiran. Tania, aku ingin segera jumpa lagi.
***
Mama mengajakku untuk menemaninya ke acara makan malam. Itu hanya salah satu cara untuk mendekatkanku dengan Clara. Tapi seperti biasa, aku enggan menolak kemauan mama.
"Yoga, besok pergilah dengan Clara ke toko bunga. Belikan mama beberapa tanaman anggrek." kata mama saat kami bertiga di mobil menuju ke acara makan malam.
"Mama saja yang pergi dengan Clara. Yoga gak tau bunga, ma. Nanti salah pilih."
Setiap hari mama memaksaku keluar bersama Clara. Aku sudah mulai bosan.
"Kita saja yang pergi. Tante nanti capek kalo keluar-keluar." rajuk Clara.
"Memangnya mamaku sudah tua? Pergi ke toko bunga saja capek?"
"Sudah-sudah. Besok mama pergi sendiri saja."
Kulihat raut kecewa di wajah mama.
__ADS_1
Mama, kamu memilih gadis yang salah. Clara tidak sebaik yang kamu pikirkan. Dia egois.
Kami sudah sampai di tempat tujuan, sudah banyak undangan yang telah hadir. Mataku menangkap sesosok gadis cantik dengan gaunnya yang berwarna peach.
Dengan mudahnya aku menyelinap di kerumunan dan untuk mendekati gadis itu. Dia Tania! Secepat ini kita akan bertemu lagi.
"Wow, kamu cantik sekali." sapaku.
"Yoga." sepertinya Tania terkejut melihatku.
"Hai, ketemu lagi. Apakah kita berjodoh?" godaku.
"Pria sepertimu sangat mudah mendapatkan wanita cantik. Aku bukan tipemu."
"Apa maksudmu?"
Aku benar-benar tak mengerti apa maksutnya.
"Dasar playboy." ucapnya ketus.
"Hahaha... Aku playboy?"
Aku tak percaya dia menyebutku seorang playboy.
"Yoga, kucari-cari ternyata kamu di sini." Clara tiba-tiba datang lalu menarik lenganku. "Tante ngajak pulang, katanya ada perlu mendesak." sambungnya lagi dengan manja.
Apa ini yang dimaksud playboy? Dia pikir Clara adalah pacarku.
"Aku pergi dulu, ya." pamitku sambil melemparkan senyum nakal. Tania, kamu cemburu.
Aku dan Clara pergi mencari mama. Tak butuh waktu lama, aku bisa mencari alasan dan meninggalkan mereka. Tentu saja untuk kembali menemui Tania. Otakku dipenuhi Tania.
Kulihat Tania bersandar di balkon melihat langit. Pasti dia sedang memikirkanku.
"Patah hati, ya?!" tanyaku mengagetkannya.
"Hah, kenapa patah hati?" tanyanya balik.
"Kita gak ada hubungan seperti yang kamu bayangkan. Dia cuma teman." ucapku.
"Benarkah begitu? Lalu apa peduliku? Kenapa kamu jelaskan padaku?" dengan nada sedikit emosi.
"Lalu kenapa kamu marah?" Aku semakin senang melihatnya marah, dia begitu menggemaskan.
"Aku? Marah? Enggaklah!"
"Kamu cemburu."
"Eng-"
Aku tak tahan melihat bibirnya yang menggoda. Apa yang terjadi padaku? Aku tak pernah seperti ini. Bibir kami telah menempel satu sama lain.
Tania mendorongku, kudorong pelan hingga menyentuh pagar balkon.
"Kamu mau ngapain?!" protesnya dengan terengah-engah.
"Tania... sungguh aku jatuh cinta sejak pertama melihatmu."
Aku harus mendapatkanmu. Belum pernah kualami hal seperti ini. Aku begitu menginginkanmu.
Menikahlah denganku.
__ADS_1