
Jimmy merasa senang bisa mendekati Aurel dia berharap gadis itu seperti gadis-gadis yang selama ini pernah ia kenal.
Gadis yang mudah di taklukkan olehnya, di ajak untuk sesekali ke tempat party dan mudah menyerahkan dirinya kepada Jimmy.
Pikir Jimmy dalam dunia yang mereka tekuni sekarang masalah seperti itu bukan hal yang tabu, banyak rekan selebritis dan model yang suka melakukannya.
Apalagi Jimmy berpikir Aurel lama di London, kehidupan di sana bebas bukan seperti kita yang masih menjaga adat ketimuran.
"Aurel, habis dari sini kamu masih ada acara?" tanya Jimmy.
"Enggak, aku ingin cepat sampai apartemen dan istirahat. Gila dari pagi kerja rasanya badan gue lelah banget," jawab Aurel.
"Aku baru mau ngajak kamu cari hiburan buat menghilangkan lelah," kata Jimmy.
"Aduh Jim, gue mau pulang buat tidur. Besok harus ke lokasi shooting lagi, aku ingin istirahat," balas Aurel.
Jimmy semakin tertantang untuk mendekati Aurel, kenapa gadis itu berbeda dari kebanyakan pekerja entertainment yang lain kalau di ajak party jarang ada penolakan.
Sebenernya Jimmy punya maksud yang lain untuk mendekati Aurel, sifat playboy dalam dirinya ingin menjadikan Aurel kekasih setelah bosan ia akan berpetualang lagi kepada wanita yang lain, makanya selalu ada berita miring tentang dirinya yang dekat dengan banyak wanita.
"Habis ini antar aku langsung ke apartemen ya Jim," pinta Aurel.
"Beres cantik." Jawab Jimmy sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Terima kasih buat makan malamnya dan udah mau antar aku pulang," sahut Aurel.
"Aku senang kok bisa dekat sama kamu apalagi kalau setiap hari bisa dekat terus," ucap Jimmy sambil terkekeh.
"Ternyata benar juga image playboy yang selama ini di sematkan buat kamu Jim, dari cara kamu menggoda aku bisa melihat kamu memang playboy sejati," sahut Aurel sambil tertawa.
"Aurel aku lagi bicara serius sama kamu, aku suka pertama kali melihat kamu. Senyum kamu manis seperti gulali," puji Jimmy.
"Rayuan kamu basi Jim, sama seperti para buaya darat yang ada di luar sana," balas Aurel sampai terkekeh.
"Berarti kamu pernah jadi korban buaya darat dong sampai kamu hafal rayuannya," ledek Jimmy.
"Kamu bisa saja membalikkan perkataan aku," sahut Aurel sambil tertawa.
__ADS_1
Jimmy sosok yang asik buat di ajak ngobrol dan malam itu setelah mereka selesai makan malam, lelaki itu menepati janjinya untuk mengantar Aurel pulang ke apartemen.
*****
Hari ini Gavin ada pekerjaan di luar kantor, ia harus meninjau proyek yang sedang di kerjakannya.
Sungguh luar biasanya perusahaannya bisa di percayakan sebagai kontraktor untuk membangun sebuah perumahan elite dari investor besar selaku sebagai pihak pengembang.
Proyek ini sudah berjalan lama dan sekarang sudah hampir finish, mungkin tidak lama akan ada sebuah acara akbar yang akan di selenggarakan pihak pengembang sebagai peresmian simbolis penyerahan kunci pertama kepada konsumen mereka.
Tidak mungkin sebuah perusahaan property besar menyelenggarakan acara sederhana untuk memasarkan produk mereka, pasti sebuah acara yang bergengsi tentukan akan ada peliputan dari berita sana-sini.
Gavin berangkat bersama Rio untuk ke lapangan meninjau proyek mereka, lelaki paruh baya itu masih nampak aktif di dalam melaksanakan tugasnya.
Dari zaman kepemimpinan Dave sampai sekarang turun ke Gavin, Rio adalah orang yang selalu menemani ketika mereka ada tugas luar kantor.
Kali ini Gavin dan Rio menggunakan jasa sopir perusahaan untuk mengantar mereka ke lokasi proyek yang tidak terlalu jauh.
Karena proyek mereka kali ini berada di tengah kota, karena itu proyek tersebut memiliki nilai investasi yang cukup tinggi. Mampu membuat para konsumen tidak perlu untuk berpikir dua kali untuk menginvestasikan uang mereka untuk membeli rumah di tempat ini, apalagi mereka dari kaum elite negeri ini.
Gavin cukup puas dengan kinerja di lapangan yang ia lihat dengan matanya sendiri, pengerjaan proyek yang tepat waktu dan kualitas bangunan yang terbilang bagus membuatnya dirinya merasa puas.
"Semoga mereka puas bos dan mempercayakan proyek berikutnya kepada kita lagi," sahut Rio.
"Iya om, Amin," balas Gavin.
Mereka menelusuri setiap sudut perumahan tersebut, melihat setiap sudut perumahan yang sedang mereka garap.
"Ada apa ramai-ramai di pojok sana om?" tanya Gavin.
"Sepertinya shooting iklan dari pihak pengembang untuk promosi yang nanti yang akan mereka kirim lewat media cetak dan elektronik," jawab Rio.
"Oh begitu," sahut Gavin sambil membulatkan bibirnya.
"Bos kecil mau ketemu artis?" tanya Rio sambil terkekeh.
"Ogah om, buat apaan seperti itu," jawab Gavin.
__ADS_1
"Siapa tau bos mau foto bareng artis nanti masuk infotainment," ledek Rio sambil tertawa.
"Foto bareng Kania aja dari pada bareng artis," balas Gavin sambil terkekeh.
Mereka lalu meminta sopir memarkirkan mobil tidak jauh dari lokasi shooting, karena di situ tempat peninjauan proyek terakhir bagi Gavin dan Rio.
Di saat yang sama Aurel sedang break shooting dan memilih berjalan-jalan mencari angin di sekitar lokasi saat ini ia berada.
Mata Aurel tertuju kepada satu sosok yang baru turun dari mobil, orang yang tidak asing baginya, orang yang pernah mengisi hatinya dan sosok ia rindukan sampai ia harus memilih kembali ke tanah air.
Tuhan mempertemukan mereka kembali di tempat ini, lantas untuk apakah Gavin ada di tempat seperti ini? Perumahan yang belum ada penghuninya, jangan-jangan pria itu berencana membeli sebuah rumah di sini, pikir Aurel.
Aurel langsung berjalan menghampiri Gavin, ia tidak ingin membuang kesempatan yang ada.
"Gavin, kok kamu ada di sini?" sapa Aurel sambil menepuk bahu Gavin.
Gavin yang belum sadar kehadiran Aurel segera menoleh kebelakang merasa bahunya di tepuk seseorang.
"Kamu lagi Aurel, kamu membuat aku kaget dan aku pikir kamu tidak akan berani menemui aku lagi. Belum cukup kamu membuat kekacauan kemarin waktu bertemu terakhir kali?" tanya Gavin dengan muka yang kurang suka.
"Kamu kenapa sih setiap bertemu aku selalu jutek dan seperti tidak suka?" tanya Aurel.
"Jawabannya sederhana karena kamu tidak bisa menjaga sikap, kemarin kamu berhasil membuat Kania marah padaku. Sekarang kamu mau apa lagi?" tanya Gavin.
"Aku lagi shooting di sini kebetulan saat ini sedang break dan kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Aurel.
"Aku sedang ada pekerjaan bareng calon mertua aku, kenalin papanya Kania." Gavin memperkenalkan Rio kepada Aurel sengaja menekankan kata calon mertua aku supaya Aurelia berhenti mengejarnya.
Rio memberikan tangannya untuk bersalaman dengan gadis itu, mukanya Aurel sudah nampak sedikit murung mendengar perkataan Gavin padanya.
Aurelia membalas salam Rio sekalipun hatinya sedikit sakit.
Sedangkan Rio masih ambigu tidak mengerti kenapa Gavin memperkenalkan dirinya sebagai calon mertua, sebagai bawahan diam saja lebih baik ikut saja perkataan bos.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Jangan lupa untuk selalu memberi like dan komen sehabis membaca dengan itu kamu membuat para author untuk rajin up.
__ADS_1
Bila suka dan ikhlas kamu bisa memberi vote ... happy reading.