Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Saling Mencintai


__ADS_3

"Hai guys.. Dateng ya ke pesta pernikahan gue! Mohon doa restunya ya." Ucap Winda seusai meeting rutin kantor. Ia membagi teman temannya undangan pesta pernikahannya.


"Wah, selamat ya Win, semoga lancar." Ucap Bu Sisil menerima undangan Winda.


"Terima kasih, Bu." Jawab Winda, sambil berkeliling membagikan kembali undangan ke yang lain.


"Lancar lancar ya Winda. Banyak doa menjelang pernikahan." Pesan teman temannya.


"Iya, kita datang besok." Jawab Laura dan Alan dengan kompak.


Winda tersenyum terharu.


****


Sabtu malam acara resepsi pernikahan Winda dilaksanakan di sebuah hotel berbintang. Calon suami Winda rupanya bekerja di perusahaan Radit.


Kali ini Laura tak usah meminta Radit untuk menemaninya, namun mereka berdua menjadi tamu di acara itu.


Laura mengenakan dress berwarna salem, dengan sedikit corak batik. Ia mencatok curly rambutnya, lalu memberi hiasan jepit bermotif daun berwarna hijau. Memadukan dengan wedges berwarna abu.


Ia mematut diri di depan cermin, sambil tersenyum.


"Duh yang mau kondangan!" Celetuk Lisa, yang juga sudah siap.


Setelah kejadian peringatan Bu Sisil pada Lisa, ia menjauhi Dirga, namun lelaki itu kekeh ingin bersama Lisa. Selalu datang menjemput ke lokasi syuting, bahkan menemani Lisa saat kontrol Papa ke rumah sakit. Membuat perasaan Lisa terharu dan bahagia.


Pesta kali ini Dirga khusus mengajaknya.


Tak lama mobil Dirga tiba untuk menjemput Lisa. Lalu disusul Radit, mereka menuju hotel tempat resepsi pernikahan Winda.


"Kamu tampak cantik." Puji Radit.


"Makasih." Jawab Laura.


Mereka tiba di hotel, lalu menuju aula tempat acara berlangsung.


Laura menggamit lengan Radit dengan mesra, mereka masuk lift bersama beberapa tamu undangan lain.


Mereka masuk ke aula, berjalan menyapa teman teman yang dikenal.


Terlihat Bu Sisil memperhatikan Lisa dan Dirga, lalu melihat ke arah Laura dan Radit.


Laura melihat saat Bu Sisil memperhatikan dirinya dan Radit.

__ADS_1


Laura menangkap sosok Mas Wisnu di sana, ternyata ia bersama Katrin.


"Wah, ternyata ini kekasihmu ya Kata?" Sapa Laura mendekati Katrin dan Wisnu.


"Iya, kenalin ini Wisnu." Jawab Katrin, namun Wisnu dan Laura tertawa bersamaan.


"Udah kenal, dia kakak Lisa." Jawab Laura. Wisnu pun mengangguk membenarkan.


Merekapun saling mengobrol sejenak, lalu Radit mendekat ke arah mereka dan ikut bergabung.


Saat melihat Laura, Radit, Wisnu, dan Katrin mengobrol, Lisa dan Dirga pun mendekati mereka. Tawa bahagia dan Senda gurau terlihat saat itu.


Setelah sesi makan makan dan foto bersama pengantin, Dirga dan Lisa pun berpamitan. Mereka berdua menuju dua lantai di bawahnya. Lalu Dirga mengambil sebuah kartu di sakunya, dan membuka pintu kamar itu. Lisa terkejut.


"Bagaimana bisa?" Tanyanya.


"Ini hotel milik Papaku, aku punya kamar di setiap hotel milik Papa." Jawab Dirga sambil tersenyum.


Ia menutup pintu, lalu mendekati Lisa. Tubuh Lisa yang bersandar di tembok kamar membalas tatapan Dirga.


Lalu Dirga menaruh tangannya di tembok mengunci Lisa, mata beradu dengan mata.


Mereka semakin dekat dan dekat, lalu bibir mereka saling menyatu. Keadaan semakin panas, Lisa membuka jas Dirga, lalu membuka setiap kancing kemeja Dirga. Lalu dalam satu gerakan dress Lisa telah terlepas dan jatuh di lantai.


"Hhmm... Ya.."


"Apa kamu yakin?"


"Aku mencintaimu Lisa.." Tatap Dirga meyakinkan Lisa.


Dirga mengangkat tubuh Lisa, dan Lisa mengunci kakinya di punggung Dirga, menahan tubuhnya. Mereka saling beradu menyesap kenikmatan duniawi melampiaskan cinta dan nafsu mereka.


Lalu Dirga duduk di bibir ranjang hotel, Lisa masih menciumi leher Dirga, lalu tangan Dirga dengan lincah melepaskan kaitan penutup dada Lisa, lalu menghisap dada kekasihnya itu, membuat Lisa mengeluarkan suara nikmat yang menggoda.


Lisa merasakan sesuatu telah mengeras, lalu ia membuka pakaian bawah Dirga, ia bermain dengan adik milik Dirga, lalu memasukkan dalam mulutnya, sensasi nikmat membuat Dirga mendehem dan menjambak lembut rambut Lisa. Lisa merasakan sesuatu seakan akan meledak dalam mulutnya, ia pun makin riang bermain dengan si adik kecil itu. Akhirnya ledakan itu terjadi.


"Aaahhhh...." Dirga melenguh seakan menumpahkan semuanya.


Lisa menelan cairan itu, dan menjilati sisanya seperti es krim.


Dirga lalu menarik pelan tubuh Lisa dan memeluknya, mencium bibirnya, dan leher.


"Diiirrgaa...aaahhh..." Bisik Lisa, lalu mereka bergulat di ranjang ukuran jumbo itu. Pakaian mereka telah berserakan, kini mereka bagai bayi saat dilahirkan, namun tidak suci.

__ADS_1


Tubuh mereka saling rengkuh dan teriakan kecil terdengar dari keduanya, lalu tubuh mereka bergetar hebat, saling menyatu, tak ada malu di antara sepasang mahluk beda jenis itu.


Lisa menyerahkan semua pada Dirga malam itu, ia seolah melupakan kata kata Bu Sisil padanya. Ia hanya ingin bersama Dirga malam itu dan seterusnya. Ia sangat mencintai lelaki yang kini tidur di sampingnya.


****


Radit mengajak Laura berkeliling Jakarta setelah acara itu.


Ia menuju kafe jalanan yang biasa mereka datangi. Dua gelas espreso telah menemani mereka saat itu.


"Kamu tau, pertama kali kita bertemu dulu, kamu tampak cuek, pendiam, dan serius. Tiga hari pertama kita di lokasi KKN, kita selalu dapat giliran bersama, baik piket membersihkan rumah, maupun saat masak. Kamu tidak pernah mengeluh saat mengerjakan semuanya. Aku masih ingat saat kita sedang ijin ke kota untuk mencari bahan untuk program KKN, kamu melihat tunanganmu dan sahabatmu berboncengan. Kita sempat mengejar mereka, namun tidak ketemu. Atau karena saat itu aku juga tidak tau yang mana orangnya kali ya." Cerita Radit sambil tertawa kecil. Laura hanya menatapnya.


"Saat itu apa yang aku lakukan setelah tidak ketemu?" Tanya Laura sambil menatap Radit, seolah ingin mengenang masa itu, namun sebenarnya, Laura sama sekali tidak ingat.


"Kamu hanya mengatakan mungkin salah orang." Jawabnya.


"Saat itu aku bodoh. Tapi, jika Dina tidak hamil, perselingkuhan mereka tidak akan pernah terbongkar." Ucap Laura.


Radit hanya menatapnya.


"Setelah semua yang terjadi, apa yang kamu lakukan?"


"Aku menghabiskan waktuku dengan bekerja keras, dan melupakan Yogyakarta. Lalu, sejak kapan kamu menyukaiku?"


"Saat kamu merawatku. Bahkan kamu meminta Ibumu membawakan makanan dan jamu tradisional untuk masuk angin. Apa itu namanya, pahiiit sekali. Lalu kamu mengerik punggungku. Itu pertama kali aku dikerik." Cerita Radit. Laura tertawa terbahak-bahak membayangkan Radit meliuk sana sini saat di kerik.


Mereka menghabiskan malam sambil mengobrol, menikmati malam itu bersama.


Lalu Radit mengantar Laura pulang.


"Mau mampir?" Tawar Laura, Radit mengangguk.


Mereka masuk ke rumah, terlihat sepi. Laura mendorong pintu kamar Lisa yang terbuka sedikit.


"Tampaknya Dirga membawa Lisa ke sebuah tempat, sehingga lupa pulang ke rumah."


Saat Laura membalikkan tubuhnya, Radit telah tepat di belakangnya.


Mata mereka saling tatap, Laura menelan salivanya saat melihat mata elang Radit.


Laura memejamkan matanya, lalu ia merasakan bibirnya telah bersentuh dengan bibir Radit.


Laura merasa nyaman bersama Radit saat itu. Entah siapa yang membimbing siapa, kini mereka telah bergumul di atas tempat tidur Laura.

__ADS_1


__ADS_2