Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 40


__ADS_3

“Nia??!!” Pak Wijaya yang terkejut mendengar kabar dari istrinya itu serta merta masuk ke dalam kamar Nia.


Namun sebelum tangannya memegang gagang pintu, Mama Dessy sudah mencegahnya terlebih dahulu.


“Biarkan Nia istirahat dulu, pa.” pinta Mama Dessy.


“Justru mama ingin membicarakan sesuatu dengan papa. Ikut mama sebentar, pa.” ajak Mama Dessy


Pak Wijaya menurut perintah istrinya, berjalan mengekori Mama Dessy.


“Ada apa ma?” tanya Pak Wijaya yang sudah duduk di tepi ranjangnya.


“Ini soal Nia, pa.” jawab Mama Dessy hati – hati.


“Nia? ada apa dengan Nia, ma?” tanyanya khawatir.


“Satya yang mengantar Nia pulang tadi.” Kata Mama Dessy.


“Satya?” Pak Wijaya mengerutkan alisnya.


“Anaknya jeng Wike, yang beberapa waktu lalu datang ke acara makan malam kita. Ingat??”


“Istri Pak Dika??” tanya Pak Wijaya mempertegas.


Mama Dessy mengangguk cepat.


Pak Wijaya menyunggingkan senyumnya.


“Jadi itu alasan dia sebenarnya?”  Pak Wijaya seperti sudah menemukan jawaban yang tepat dari pertanyaannya selama ini.


“Maksud papa?” Mama Dessy masih belum paham apa yang di maksud suaminya.


“Mama inget proyek hotel papa di Surabaya? Proyek yang ditangani Nia. Proyek itu adalah bentuk kerjasama perusahaan papa dengan perusahaan Pak Dika. Dan proyek itu sekarang di tangani oleh anaknya, Satya.” Terang Pak Wijaya panjang lebar.


Mama Dessy mendengarkan dengan cermat.


“Mama ingat ekspresi Nia waktu papa suruh dia survey ke Surabaya??”


“Itu juga dengan Satya??? Pantas saja!”


Mama Dessy dan Pak Wijaya saling melempar senyum mengingat bagaimana sikap Nia waktu itu.


Namun senyum di wajah Mama Dessy tiba – tiba menghilang, berubah menjadi khawatir dan cemas.


“Lalu bagaimana selanjutnya pa??” tanya Mama Dessy ambigu.


“Maksud mama??”


“Bagaimana dengan perjodohannya??? Sudah jelas anak kita menyukai orang lain pa, jika perjodohan ini diteruskan bukan hanya anak kita yang terluka tapi kita semua.”


“Tapi ma, mama tahu sendiri bagaimana posisi papa. Niko sudah menyetujui perjodohan ini. Bagaimana bisa papa menolak keinginan Pak Andrian? Lagipula kita juga tidak tahu apakah Satya juga menyukai anak kita atau tidak.”

__ADS_1


Mama Dessy mendengus kesal.


“Sudahlah ma, Niko juga anak yang baik. Lambat laun Nia pasti juga bisa menerimanya. Kita tidak usah ikut campur lagi.”


“Bagaimana bisa kita tidak ikut campur?? Papa yang sudah menyarankan perjodohan ini. Kita sebagai orang tua yang sudah mengatur hidup anak kita,pa. Lalu bagaimana bisa mama diam saja jika anak mama tidak bahagia?? Sebelum semuanya terlambat pa.”  ujar Mama Dessy menggebu - gebu


“Oke, oke. Baiklah ma, Papa akan mencari jalan keluarnya nanti. Sekarang kita tidur dulu, papa sudah mengantuk.”


“Papa, selalu saja seperti itu jika diajak diskusi.” Ucap Mama Dessy kesal yang melihat suaminya itu langsung merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


Sudah 3hari ini Nia hanya berdiam diri di kamarnya. Bengkak di kakinya sudah mulai mengempis, walau memarnya masih terlihat cukup jelas.


Sudah 3 hari ini pun Nia merasa sangat bosan karena yang ia lihat hanya kamar, kamar dan kamarnya saja.


Dengan tertatih – tatih Nia berjalan memutari taman belakang rumah. Sesekali duduk istirahat di gazebo dekat kolam renang. Mama Dessy dengan sabar dan telaten selalu mendampingi Nia.


“Ma, Nia istirahat disini dulu ya. Anginnya segar banget.” Pinta Nia lalu merebahkan tubuhnya diatas gazebo yang di kelilingi oleh pepohonan rindang.


“Iya sayang. Mama tinggal ke dapur ya, mau bantuin bik Tini. Nanti kalau kamu butuh apa – apa panggil mama ya!”


“Iya ma.”


Angin sepoi – sepoi berhembus mendayu, membuat mata Nia terasa berat dan semakin berat. Walaupun mentari bersinar cukup terik siang ini, namun rasa kantuk yang hebat membuat Nia tertidur di gazebo tepi kolam renang.


Entah berapa lama Nia tertidur, tiba – tiba saja ia merasakan seseorang yang duduk di sampingnya.


Nia mengerjapkan matanya beberapa kali. Mengumpulkan kesadaran karena benar – benar terlelap sebelumnya.


“Gue ganggu tidur siang loe ya??” tanya Niko dengan senyum khasnya.


Sikap Niko yang hangat dan lembut, pasti membuat wanita manapun terpesona karenanya. Sayangnya, tidak dengan Nia.


“Gak. Gue cuma ketiduran tadi. Anginnya sepoi – sepoi banget. Gue jadi ngantuk.”


“Gimana kaki loe? Udah enakan di buat jalan?”


“Masih sakit sih. Tapi udah lumayan gak bengkak lagi.” Jawab Nia datar.


Di dalam hati Niko ia merasa sedikit kecewa. Karena Nia masih saja menjaga jarak dengannya. Tidak ada lagi Nia yang selalu cerewet atau tertawa lepas hingga terbahak – bahak.


Cukup lama Niko menemani siang hari Nia. hingga tak terasa waktu hampir menjelang petang. Namun selama itu juga hanya Niko yang bercerita panjang lebar, sedangkan Nia hanya berbicara atau menjawab seperlunya.


Sejujurnya ia juga merasa menyesal menerima perjodohan dengan sahabatnya sendiri. Karena ia merasa justru kehilangan sahabatnya, dan bahkan mungkin juga tidak akan pernah mendapatkan cintanya.


“Bahkan cinta yang terlalu di genggam dengan erat pun pada akhirnya akan saling menyakiti. Apakah gue harus melepaskan loe kan, Nia?? supaya gue bisa lihat sinar kebahagiaan loe terpancar lagi.” Batin Niko.


Hari ini adalah hari minggu dan genap satu minggu sudah Nia menghabiskan waktunya di


rumah saja.


Bengkak di kakinya sudah hampir pulih total. Ia pun sudah bisa berjalan sendiri walau agak sedikit terpincang – pincang.

__ADS_1


Pak Wijaya menikmati hari minggunya hanya dengan bersantai di ruang tengah sembari mencicipi berbagai camilan yang dibuatkan oleh Mama Dessy. Bahkan Mama Dessy masih sibuk berkutat di dapur untuk membuat camilan entah ronde yang keberapa.


Sedangkan Nia melewatkan pagi minggunya di dalam perpustakaan pribadinya di dekat taman belakang.


Berbekal camilan buatan mamanya,Nia bahkan betah berlama – lama di dalam sana.


“Pa, papa sudah berbicara dengan Pak Andrian??” tanya Mama Dessy dengan sepiring bola – bola keju di tangannya.


“Papa belum sempat ma, kemarin papa sibuk sekali. Papa akan buat janji temu dengan sekretarisnya dulu, tidak enak kan kalau papa harus berbicara lewat telepon.” Ujar Pak Wijaya.


Mama Dessy mengangguk.


“Lebih cepat lebih baik, jangan menunda – nunda terlalu lama.” Ucap Mama Dessy.


“Iya ma.” Pak Wijaya menyesap kopinya.


Dengan tergopoh – gopoh Bik Tini menghampiri kedua majikannya yang sedang bersantai di ruang tengah, saat Pak Wijaya sedang menikmati camilan buatan istrinya.


“Permisi Pak, Bu, ada mas Niko di depan.” Ucap Bik Tini.


“Langsung suruh masuk aja, bik. Nia ada di taman belakang tuh!” ucap Mama Dessy santai.


“Mas Niko datang sama Papanya, bu” imbuhnya.


“Papanya?? Pak Andrian??”  Pak wijaya dan Mama Dessy bersitatap dengan sejuta tanda tanya di pikirannya masing – masing.


Dengan bergegas keduanya menemui Pak Andrian yang duduk di ruang tamu di temani oleh Niko.


“Selamat Pagi, Pak Andrian.” Sapa Pak Wijaya seraya menyalami rekan bisnisnya itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Next tunggu kelanjutan ceritanya ya Readers tercinta. Jangan lupa like dan komentarnya ya, supaya Author lebih bersemangat nge halu lagi.


Terimakasih.


.

__ADS_1


.


__ADS_2