
Terhitung sudah 5 hari Nia magang di perusahaan papanya.
Hari-hari Nia semakin sibuk. Mulai dari magang, kadang menghadiri meeting bersama papanya, ikut kuliah kelas malam, dan juga jangan lupa setumpuk laporan magang yang harus ia susun, serta tugas – tugas kuliah lainnya.
Bahkan saat weekend seperti hari ini pun, ia masih harus disibukkan dengan proyek papanya. Pak Wijaya yang notabene adalah papa sekaligus CEO di perusahaan tempatnya magang, menyuruhnya untuk menangani proyek pembangunan hotel baru di Surabaya.
“Mana ada anak magang ngurusin proyek sih, pa!” Nia melayangkan protes kepada papanya saat sarapan bersama dirumah mereka.
“Kan sekalian praktek jadi penggantinya papa.” Jawab Pak Wijaya santai.
Nia hanya tersenyum kecut mendengar alasan papanya itu. Memang tidak dapat ia pungkiri, jika masa depannya pun sudah ditentukan sejak awal. Menjadi penerus perusahaan papanya.
“Jadi kamu gak mau nih, berangkat ke Surabaya?? Ya sudah kalau begitu, papa yang berangkat.” Ucap Pak Wijaya seraya berdiri dari tempat duduknya.
“Eh, gak pa. Nia mau! siapa yang bilang gak mau sih??” Nia mendengus kesal.
Pak Wijaya tersenyum simpul, trik lama selalu berhasil.
Setelah dipikir – pikir kembali, Nia lebih memilih menerima untuk menghandle proyek itu. Alasannya karena tentu saja ia akan lebih sering bertemu dan berhubungan dengan Satya. Bukan hanya sebagai murid dan dosen tetapi juga sebagai sesama partner kerja.
Ia pikir mungkin saja ia bisa merubah keadaan, takdir kembali berpihak kepadanya. Who knows??? Tidak ada yang tidak ada yang tidak mungkin, pikirnya. Setidaknya ia akan berusaha dan berjuang hingga tidak ada rasa sesal di kemudian hari.
“Ya sudah Nia siap-siap dulu.” Ucapnya seraya naik kembali masuk ke kamarnya.
Mama Dessy menautkan kedua alisnya. Melihat kepergian anaknya dengan raut tanda tanya.
“Aneh... Bilangnya capek, ogah-ogahan gitu, tapi kok senyum-senyum terus.”
“Nah kan!!! Mama juga lihatnya begitu kan?? Papa kira cuma papa yang merasa seperti itu. Nia memang aneh sejak awal magang,Ma. Sejak papa suruh ikut meeting proyek.”
“Masak sih, Pa??” Mama Dessy semakin memasang raut wajah kepo maksimal.
Tak lama kemudian Nia turun dengan koper di tangannya. Setelah berpamitan, ia pun bersiap meluncur ke Surabaya dengan Clara yang sudah menunggu di halaman depan. Mereka berdua naik mobil ke bandara untuk selanjutnya terbang ke Surabaya.
“Hati-hati bawa mobilnya, Clara.” Pesan Mama Dessy pada sekretaris suaminya itu.
“Baik Bu.”
“Sampai disana jangan lupa kabarin Mama ya, Nia!!” perintah Mama Dessy.
“Siap,Ma... Nia berangkat Pa, Ma... Assalamualaikum..”
“Walaikumsalam.”
Mobil yang dikemudikan Clara pun beranjak keluar dari kediaman Pak Wijaya, dengan Nia yang duduk di sebelah kemudi.
__ADS_1
Clara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, masih ada cukup waktu sebelum jadwal penerbangan mereka ke Surabaya.
Setelah menempuh perjalanan udara selama 1,5 jam, Nia dan Clara sampai di bandar udara Juanda Surabaya, lalu menaiki taksi yang membawa mereka ke salah satu hotel berbintang 5 disana, tempat mereka menginap.
“Non Nia bisa istirahat dulu. Nanti jam 10 kita langsung ke tempat proyek, sekalian bertemu dengan Pak Satya.” Ucap Clara saat mereka tiba di hotel.
Nia tersenyum menatap sekretaris papanya yang masih terbilang cukup muda. Mungkin baru berumur 30tahun.
“Panggil saya Nia aja Kak Clara. Atau mau panggil saya dek??”
“Iya.. iya.. Nia.. ya sudah, masuklah ke kamarmu.”
Mereka pun berpisah di depan kamar Nia, sedangkan clara memasuki kamar yang terletak persis disebelah kamar Nia.
Pukul 10 tepat Nia dan Clara meluncur ke tempat proyek, ternyata Satya sudah lebih dahulu datang dan menunggu mereka.
“Maaf kami terlambat, Pak Satya. Bapak sudah menunggu lama??” sapa Nia berjalan mendekati Satya, tak lupa dengan rompi dan topi safety.
“Tidak, belum lama, memang saya yang datang lebih awal.” Satya mengulurkan tangannya menjabat Nia. garis bibirnya naik keatas, melihat penampilan Nia yang jauh lebih dewasa, dengan blazer warna coklat susu yang menutupi kemeja putihnya serta celana yang berwarna senada dengan blazernya, tak lupa dengan sepatu boots masa kini semakin membuat Nia seperti wanita karier yang lebih kekinian.
“Mari saya antar berkeliling.” Ucap Clara kemudian.
Mereka bertiga pun berkeliling proyek pembangunan yang nantinya akan menjadi sebuah hotel.
Setelah cukup lama meninjau lokasi proyek, mereka pun pamit pada kepala proyek dengan berbagai pesan di dalamnya.
“ Kamu menginap dimana??” tanya Satya saat mereka sudah berdiri disisi mobil masing-masing.
“Di Hotel Double Tree.” Jawab Nia singkat.
Satya mengulum senyumnya, “ Ini suatu kebetulan kan??”
Nia menautkan kedua alisnya.
“Saya juga menginap dihotel itu.”
Tiba-tiba saja senyum Nia merekah,” Benarkah?? Wah, benar-benar kebetulan”
“Bagaimana kalau kita makan siang dulu, bisa di restoran atau di hotel??” ajak Satya menatap Nia dan Clara yang berdiri di hadapannya.
“Bagaimana kalau di hotel saja pak?? pemandangan di resto rooftopnya sangat indah."
“Benarkah?? kalau begitu ayo kita kembali ke hotel."
Mereka kembali ke hotel dengan mobil masing-masing. Mobil Satya membuntuti mobil Nia dari belakang.
__ADS_1
Nia yang berada di dalam mobil bersama Clara duduk dengan jantung berdegup kencang. Terlihat jelas di raut wajahnya, Clara melirik sekilas anak atasannya itu dan tersenyum simpul.
“ Jadi kalian sudah saling mengenal???” tanya Clara.
Nia tersentak kaget.
"Hah??"
"Non Nia dengan Pak Satya, kalian berdua sebelumnya sudah saling mengenal???" tanyanya kembali.
Nia tersipu malu, sedikit senyum mengulas di bibirnya.
“Dia dosen saya di kampus, Kak.” Jawab Nia.
“Benarkah??? Wah, kebetulan sekali.”
Nia kembali tersenyum simpul.
Clara melihat ada yang aneh dari arti senyuman itu. Sudah jelas, Clara bisa melihat arti dari senyuman itu.
.
.
.
.
.
.
.
Hai Readers, ini adalah karya pertama Author. mohon maaf jika masih agak kaku ya.
Jangan lupa like dan koment, supaya Author lebih bersemangat lagi dalam berkarya.
Terimakasih
.
.
.
__ADS_1