
“Iya, besok lusa gue mau nikah… sama Pak Satya…” ucap Nia tenang.
“Whaaaaaaaatt???!!!!! Hahahahahahahaha….” Ayu dan Nindya tertawa terbahak – bahak.
“Ngehalu mulu nih anak,Ay…”
“Gue serius Anindya kusuma wardani…… besok sabtu gue nikah sama Pak Satya dan loe berdua, gue undang ke acara akad nikah private gue.” Kata Nia
“Loe serius Nia?” tanya Ayu yang bahkan tidak bisa membedakan kehaluan Nia.
Nia mengangguk dengan yakin dan mantap.
“Gue serius, demi apapun, dan yang pasti gue gak ngehalu. Besok sabtu, gue akan akad nikah sama Pak Satya. Dan loe berdua gue undang secara khusus di acara private gue.”
Sudah bisa di pastikan Nindya dan Ayu terkejut mendengar perkataan Nia barusan.
“Tunggu dulu Nia, bukannya loe di jodohin ama Niko?? Kok nikah ama Pak Satya??”
“Panjang ceritanya gaes…” ujar Nia menerawang kembali perjalanan ceritanya dengan Satya.
“Gue free kok… kita punya banya waktu buat dengerin cerita loe.” Timpal Nindya.
“Tapi waktu gue yang gak free.. gue harus pulang sekarang. Nyokap gue bakal ceramah panjang kali lebar kalau gue gak cepetan pulang.” Kata Nia
“Halaaah… loe bohongan kan Nia?? Kemarin aja loe galau abis, masak sekarang tahu – tahu mau nikah aja ama Pak Satya.” Kata Ayu.
Nia tersenyum, dalam hati ia membenarkan semua perkataan Ayu. Memang jika dipikir ini seperti hal yang mustahil. Ia yang dijodohkan dengan Niko tiba – tiba saja menikah dengan Satya, dosen pujaan hatinya.
Nia menunjukkan cincin berhiaskan permata yang melingkar di jari manisnya.
“Gue bahkan sudah dilamar. Intinya, kalau kalian masih gak percaya, besok kalian harus datang sendiri ke rumah gue, jam 9 jangan telat!” kata Nia.
Tidak berselang lama ponsel Nia berdering, ia langsung mengangkatnya.
“Nah kan, gue bilang apa, gue emang harus pulang. Oke gaes?? Besok gue tunggu di rumah gue, eh iya ajak Kevin juga.” Kata Nia seraya beranjak dari kursinya lalu keluar dari café.
Meninggalkan Nindya dan Ayu yang masih terbengong – bengong dengan apa yang baru saja terjadi.
**
Nia memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya.
“Assalamu’alaikum ma…” salam Nia yang menyapa Mama Dessy
“Walaikumsalam.. nah ini dia calon manten sudah datang. Cepetan ganti baju terus makan, habis itu mama tunggu di kamar bawah sini ya!” perintah Mama Dessy.
“Memangnya ada apa ma?” tanya Nia
“Mama uda pesen perawatan pranikah buat kamu. Biar besok kamu manglingi, tubuh kamu segar dan wangi.”
“Oke ma, siap!” Nia segera berlalu menuju kamarnya, berganti baju kemudian makan siang seperti perintah Mamanya.
Setelah makan siang, Nia mulai menikmati perawatan tubuh yang sengaja disiapkan oleh mamanya. Dari ujung kaki hingga ujung kepala semua mendapatkan haknya. Nia menikmatinya hingga tertidur pulas.
Malam hari pun tiba, tinggal menunggu beberapa jam lagi Nia akan segera menjadi istri dari seorang Satya Aryadika, hal yang selama ini sangat mustahil baginya.
Cinta yang selama ini bertepuk sebelah tangan, bahkan sempat terganjal oleh perjodohan keluarga kini perlahan menjadi nyata.
__ADS_1
Hingga pukul 10 malam mata Nia belum juga terpejam bahkan semakin terbuka lebar. Tiba – tiba saja ponselnya berdering.
“Halo…”
“Kamu belum tidur…??” taya suara seseorang di seberang sana.
“Belum pak…” jawab Nia dengan wajah yang berseri – seri.
“Saya justru tidak bisa tidur pak…” imbuh Nia.
“Kenapa? Kamu merindukanku..??” goda Satya.
“Saya gugup… menghadapi hari esok.” Kata Nia.
“Seharusnya saya yang gugup, saya yang akan mengucapkan ijab kabul besok….”
Dan begitulah seterusnya, Nia dan Satya terlibat dalam percakapan panjang menjelang hari bahagia mereka.
Hari bahagia pun tiba. Sejak subuh semua penghuni kediaman Pak Wijaya sudah sibuk dengan tugasnya masing – masing.
Walaupun hanya acara akad nikah sederhana dan hanya mengundang kerabatdekat saja, namun Mama Dessy tetap menyiapkannya semaksimal mungkin.
Mama Dessy langsung turun tangan sendiri mengecek semua persiapannya, walau sudah menyewa jasa wedding organiser.
Pukul 8 tepat, Nindya dan Ayu sudah sampai di rumah Nia. Mereka masih tertegun di depan pintu masuk rumah keluarga Nia itu.
“Ay, bener lho Ay, Nia nikah!!” kata Nindya.
Ayu menganggukkan kepalanya.
Mama Dessy yang melihat dua sahabat putrinya yang terdiam pun menyuruh mereka masuk ke dalam.
“Iya tante.” Jawab mereka kompak.
“Nia yang memberitahu kalian ya? Makasih ya sudah mau datang..” kata Mama Dessy.
“Sama – sama tante.”
“Kalian naik ke atas saja, langsung ke kamarnya Tiara. Dia lagi make up..”
“Terimakasih tante, kita langsung ke atas ya tante..” pamit Ayu.
Mama Dessy pun mengangguk.
Di dalam kamar, Nia ditemani Tiara yang juga sedang dirias.
“Kak, deg – degan gak?” tanya Tiara.
Nia hanya menganggukkan kepalanya sambil mengatur ritme nafasnya agar lebih rileks.
Tiara tersenyum bahagia melihat impian kakaknya, yang sebentar lagi menjadi kenyataan.
Dalam hati kecil juga Tiara berbahagia karena Niko tidak jadi menikah
dengan kakaknya, yang berarti ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan
cinta Niko.
__ADS_1
Tok.. tok.. tok..
Pintu kamar Tiara diketuk dari luar.
“Masuk!” ucap Tiara.
Nindya dan Ayu melangkah masuk.
“Nia….!!!! Loe beneran nikah??!” pekik Nindya yang tidak percaya melihat Nia sedang dirias layaknya seorang pengantin.
“Dan seriusan sama Pak Satya, Nia..??” tanya Ayu.
“Kan gue sudah bilang kemarin kan, gue hari ini mau nikah sama Pak Satya. Gue serius gaes….” Ucap Nia santai.
“Pak Satya mana Pak Satya..?? gue pengen ketemu nih!!” kata Nindya celingukan mencari sosok dosennya itu.
“Ya mana gue tahu Nindya… masih di rumahnya mungkin… kan dirias disana, palingan bentar lagi nyampai…Acara gue juga masih jam 9 ini…”
“Oh iya ya… hehehe” Nindya hanya tertawa kecil.
Mereka pun mengobrol santai di kamar Tiara sembari menunggu Nia selesai dirias.
Taman belakang yang menjadi tempat dilaksanakannya acara akad nikah pun sudah ditata dan dirias sedemikan cantiknya khusus pada hari ini.
Bertema Garden Wedding, tenda putih kecil yang terhias apik disertai dengan kursi dan meja untuk mempelai serta penghulu pun sudah tertata dengan rapi.
Waktu menunjukan pukul 08.30. Semua keluarga dan kerabat dekat Pak Wijaya sudah datang dan berkumpul di taman belakang.
Tak lama kemudian rombongan keluarga Pak Dika pun akhirnya sampai di rumah Pak Wijaya.
Setelah sedikit saling menyapa, penghulu pun mempersilahkan kedua belah pihak untuk segera memulai acara.
Tepat pukul 9 pagi, Satya sudah duduk berhadapan dengan Pak Wijaya, yang menikahkan sendiri putri sulungnya.
Nia yang masih berada di kamar Tiara pun menunggu dengan hati yang tak bisa terlukiskan. Antara bahagia dan juga gugup yang tidak bisa dikendalikan. Degup jantungnya berdebar dengan sangat kencang.
Ditemani oleh Nindya dan Ayu, kedua tangan Nia tampak berkeringat dingin.
.
.
.
.
.
.
Hai readers setiaku... maafkan Author untuk beberapa hari belakangan ini jarang upload.
Terimakasih untuk readers setiaku yang tidak bosen - bosen selalu menyemangati Author untuk selalu berkarya.
Dan juga untuk reader setiaku yang menjalankan ibadah puasa, Author mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan yang suci ini. Seomga selalu lancar tanpa hambatan hari Raya Kemenangan nanti.
Selalu setia dan ikuti terus Kisah Cinta Nia dan Satya ya.. Apalah arti Author tanpa Readers setiaku.... terimakasih...
__ADS_1
.
.