
Sepanjang perjalanan pulang, Laura lebih banyak diam setelah mendengar cerita tentang keluarga Radit. Dia seakan ikut merasakan kepedihan yang tertoreh pada diri Radit.
Semula Laura merasa dirinya yang menyedihkan, mengetahui kenyataan dirinya telah meninggal saat sebagai Gwen, lalu masuk ke tubuh Laura, yang aneh dan kuno. Lalu mengetahui kenyataan Madam Lulu bukan orang tua kandungnya, lalu yang lebih menyedihkan lagi, Ben, calon suaminya, ternyata telah mempunyai anak dengan mantan kekasihnya semasa SMA.
Kini, ia mendengar kisah Radit, yang harus kehilangan orang tuanya saat masih remaja, keharusan untuk mengurus usaha keluarga.
Lalu Nora, yang diduga ibu kandung Gwen, kisahnya juga memilukan, tak bisa dihilangkan seumur hidup. Laura seolah dapat merasakan.
Tak terasa air mata mengalir di pelukan matanya. Radit melirik Laura yang terisak.
"Kenapa La?" Tanya Radit heran.
"Tak apa. Aku hanya merasa sedih mendengar ceritamu, lalu Nora." Ucap Laura sambil menyeka air matanya.
Radit menggenggam jemari tangan Laura, kini ia merasa lebih tenang.
Radit mengentikan mobilnya di depan rumah Laura, tampak Dirga sedang duduk di teras.
Radit ikut turun mengantar Laura ke rumahnya.
"Terima kasih, telah mengantar Laura pulang." Ucap Dirga.
Radit tersenyum. "Sudah kewajiban, membawanya, lalu mengembalikan dengan selamat ke rumah." Ucapnya.
Laura masuk ke dalam, meletakkan tasnya di kamar, lalu menyiapkan minuman dan kudapan untuk dibawa pada tamu.
"Masuklah kalian ke ruang tamu. Di luar dingin!" Ajak Laura pada Radit dan Dirga.
Mereka masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Kalian mau makan malam di sini?" Tanya Lisa.
"Jika kalian tak keberatan." Jawab Dirga.
"Kami senang bisa makan malam bersama kalian. Laura sudah memasak nasi, tinggal tunggu saja. Kini dia sedang mandi." Ujar Lisa.
"Lis, apa Laura pernah bercerita tentang kejadian kemari?" Tanya Radit dengan suara pelan.
"Tidak secara detail, tapi, aku tau dia saat itu benar benar ingin sendiri." Jawab Lisa, Radit merasa ada sesuatu yang Lisa tau, namun, disembunyikan.
__ADS_1
Setelah Laura selesai mandi, ia menghangatkan gudeg siap saji beserta ayam bakar, ia panaskan lewat microwave. Ternyata memiliki Ibu pemilik katering, membuat Laura dimudahkan soal menu makanan siap saji yang tersimpan di lemari beku.
Aroma masakan mulai terasa, Laura dan Lisa menyiapkannya di meja makan. Lalu memanggil kedua pria tadi untuk bergabung di meja makan.
"Wah, pasti ini dari Ibumu?" Ucap Radit.
"Iya, seminggu yang lalu, ibu mengirimiku sekotak besar makanan siap saji seperti ini. Dewa, bercerita lebih enak jika ada makanan siap saji yang biasa dijual oleh Ibu." Jawab Laura.
"Tante Tinuk, memang enak masakannya. Keluargaku di Yogya, langganannya." Cerita Dirga.
Mereka tertawa saat membahas tentang makanan dan keluarga Laura, hanya Lisa yang baru mengenal Dewa.
Tiba tiba ia teringat kejadian malam itu, saat Dewa mengajak jalan keliling mengendarai sepeda motor, mengajak makan di angkringan, menghiburnya, saat Bu Sisil menegurnya untuk menjauhi Dirga.
Lisa tak pernah bercerita pada Laura tentang malam itu, mungkin Dewa pun tak bercerita pada kakaknya, karena Laura seolah biasa saja.
Malam itu, kenangan manis untuk Lisa pada Dewa. Saat Laura dapat berita tidak benar tentangnya saat Pras menabraknya, Dewa melakukan video call, mengkonfirmasi sambil mengenalkan Lisa pada seluruh keluarganya.
Betapa senangnya Lisa saat itu. Mendengar mereka memujinya, pingin ketemu, meski tak begitu paham dengan bahasa Jawa, tapi ia tau pasti hal positif tentang dirinya.
Dewa selalu menyenangkan dan baik padanya. Kadang ia teringat akan saat kejadian pertama kali bertemu dengan Dewa, rasanya ingin tertawa geli.
***
Keesokan harinya, Laura berangkat ke kantor lebih pagi, ia ingin mengunjungi makan Gwen.
Ia sengaja membawa bunga pemberian Ben dahulu, bunga anggrek hitam dan ungu kesukaannya.
Sesampainya di sana ia meletakkan bunga itu di dekat makam, beberapa potong bunga anggrek yang ia pernah bawa ada yang mulai berbunga, sangat cantik sekali.
Bunga lavender yang ia tanam di sudut juga mulai berbunga. Laura berlutut menatap makam Gwen, tubuhnya di dalam sana, namun jiwanya masih di atas bumi, sedang menatap pusaranya.
Entahlah kali ini iapun bingung akan berdoa apa untuk dirinya sendiri. Kali ini Laura cukup bersyukur dikelilingi oleh banyak orang yang baik dan menyayanginya.
"Wah, akhirnya bertemu dengan pengunjung misterius makam ini juga!" Tiba tiba Ben telah berdiri di belakang Laura.
Laura terkejut, menatap Ben sambil melotot dan menepuk nepuk dadanya.
"Astaga, Ben! Kamu membuatku terkejut!"
__ADS_1
"Bunga bunga itu kamu yang bawa kan?"
"Ya, sepertinya ini cocok menjadi sebuah taman, dari pada makam." Jawab Laura.
Ben tertawa kecil mendengar jawaban Laura.
"Supaya orang tidak takut berkunjung kemari." Balasnya.
Laura menganguk.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Ben menatap Laura.
"Baik. Lebih baik dari sebelumnya."
"Sebelumnya?" Tanya Ben tak mengerti.
Laura hanya menaikkan kedua bahunya, enggan menjawab.
"Ben, seandainya, Gwen masih hidup dan Jane menceritakan semuanya padamu, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Laura sambil berdiri menatap Ben.
Ben tersentak dengan pertanyaan Laura yang sangat pribadi itu.
"Aku tak tau. Jujur, kenyataan ini, membuatku syok. Aku mempunyai anak dengan Jane." Ucap Ben sambil mengusap usap wajahnya.
Laura masih menatap Ben, menunggu jawabannya. Ben hanya menggelengkan kepalanya.
"Jika saat ini kamu telah menikah dengan Gwen, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Laura.
Ben, mengambil napas dalam-dalam, sejenak diam berpikir.
"Jika aku telah menikah dengan Gwen, aku tetap akan bersama Gwen apapun yang terjadi. Kejadian di masa laluku, tak bisa aku rubah, seandainya Jane tidak menuntut, aku tak masalah. Cukup tau, aku memiliki seorang anak.
Gwen mungkin yang akan sulit untuk menerima semuanya. Bisa saja dia akan pergi menenangkan diri ke suatu tempat, entah untuk berapa lama. Ya seperti itulah kebiasaannya, saat sedang down...." Ben menghentikan ucapannya, tampak menemukan sebuah jawaban akan sesuatu, lalu ia menatap tajam pada Laura.
"Kamu...?" Ucapnya, sambil menatap Laura.
Laura hanya diam, lalu ia tampak menyadari kecurigaan Ben.
"Bukan... Aku tidak seperti itu Ben." Laura berkata dengan tegas.
__ADS_1
Lalu ia berlalu meninggalkan Ben yang masih terpaku.