
Dave dan Alena mereka pergi dinner berdua di tempat yang berbeda dari Gavin dan Kania.
Tetapi apa yang Dave lakukan tidak kalah romantis dari apa yang dilakukan anak sulungnya itu.
Walaupun tidak memesan tempat khusus untuk di hiasi seperti dengan lilin tetapi Dave menyempatkan singgah ke toko bunga untuk membeli bunga untuk istrinya.
Keromantisan Dave terhadap Alena semakin tua semakin bertambah karena cinta perlu di pupuk supaya terus bertumbuh subur dalam rumah tangga mereka.
"Buat apa beli bunga lagi sayang, tanpa bunga juga aku tau kamu cinta sampai mati sama aku," ucap Alena.
"Tapi aku ingin membelikannya untuk kamu, setiap kali memberi bunga untuk kamu mengingatkan aku perjuangan cinta kita," sahut Dave.
"Terima kasih sayang, kamu semakin tua semakin romantis," balas Alena.
"Harus begitu karena membangun cinta perlu perjuangan dan pengorbanan, apalagi cinta usia senja harus di bangun lebih kuat dan kokoh supaya tidak rapuh dan roboh," sahut Dave sambil mengecup kening istrinya.
Mereka menghabiskan makan malam berdua dan menikmati malam di tengah kota negara tetangga yang ramai di malam weekend seperti ini.
"Kalau kita menjalani rumah tangga dengan kebahagiaan walaupun rumah tangga sudah puluhan tahun rasanya seperti baru kemarin kita menikah," kata Alena.
Dave hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya, setelah selesai makan mereka menikmati pemandangan kota dengan lampu malam dan gedung pencakar langit di balik kaca restoran sambil memeluk erat Alena dalam pelukannya.
"Itu bukannya Aurel? Mantan pacar Gavin sang model itu?" Tanya Alena ketika melihat sosok Aurel sedang asik makan malam bersama seorang laki-laki dengan mesra.
"Lelaki itu Kevin pengusaha property yang bekerja sama beberapa proyek dengan perusahaan kita," jawab Dave.
"Bagaimana mereka bisa bersama?" tanya Alena lagi.
"I don't know, setahu aku Kevin sudah berkeluarga beberapa tahun yang lalu." Jawab Dave sambil mengerutkan dahinya.
"Untung saja Tuhan itu baik wanita itu tidak sampai menjadi menantu kita sayang, kalau tidak nama baik kita bisa di pertaruhkan," ucap Alena.
"Ayo kita pulang sudah malam, nanti kita berdosa membahas tentang Aurel.
Biarlah itu semua menjadi urusannya sendiri tidak ada urusannya dengan kita," ajak Dave untuk mereka kembali ke apartemen.
__ADS_1
"Ayo kita kembali sekarang, aku juga jadi malas kalau harus melihat wanita itu," sahut Alena cepat.
"Kamu kenapa sih sepertinya sangat tidak menyukai dia," kata Dave.
"Aku tidak menyukai sifatnya sayang," ucap Alena sambil menarik tangan Dave meninggalkan tempat itu.
"Mereka sampai di apartemen duluan, Gavin dan Kania belum kembali.
Alena meletakkan bunga yang di berikan Dave di atas meja di sofa depan ruang menonton televisi.
Tidak lama Gavin dan Kania pun sampai kembali ke apartemen, kedua orang tuanya lagi duduk santai berdua sambil menonton televisi.
"Baru pulang kalian berdua? Gimana dinner bersama Gavin berkesan buat kamu Kania?" Tanya Dave ketika melihat anak mereka masuk apartemen.
"Iya dad berkesan banget," jawab Kania.
"Di tangan kamu itu bunga mawar dari Gavin?" tanya Alena melihat Kania membawa setangkai bunga mawar di tangannya.
"Iya mom, Gavin yang memberikannya," jawab Kania sambil tersipu malu.
"Bagusan bunga dari daddy buat mommy," ledek Dave sambil tertawa.
"Maknanya dong dad , aku gak sembarang kasih bunga" jawab Gavin membela diri.
"Udah gak usah pakai alasan bilang aja kamu pelit beli bunga kok setangkai doang," balas Dave sambil di iringi gelak tawa dari mereka berempat.
*****
Di satu sisi Aurel yang sedang menikmati makan malam dengan Kevin di kejutkan dengan sebuah pesan dari managernya.
Managernya mengirimkan sebuah foto kemesraan Aurel dan Kevin yang sedang menikmati belanja tadi siang.
Semua ini ia dapatkan dari nomor seseorang yang tidak di kenal, sang pengirim tidak menyebutkan identitas diri hanya mengirimkan foto kepada Tina.
Mendapat pesan tersebut Aurel tersenyum menyeringai nakal.
__ADS_1
"Semakin terbongkar cepat semakin baik hubunganku dengan Kevin, jadi aku tidak perlu lagi bersandiwara dengan pernikahan ini. Biarkan di saat itu aku yang meminta Kevin untuk memilih aku atau keluarganya? Asal yang membongkar masalah ini bukan aku, tetapi jika orang lain yang membongkarnya Kevin bisa apa?" kata Aurel dalam hatinya.
Setelah membaca dan melihat gambar tersebut ia bersikap seperti biasa, seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
"Pesan dari siapa sayang?" tanya Kevin.
"Pesan dari Tina untuk memberitahukan jadwal untuk hari Senin?" jawab Aurel.
"Oh" sahut Kevin sambil membulatkan bibirnya tanpa rasa sedikit pun curiga.
"Lanjut lagi aja, gak usah di pikirin si Tina memang selalu mengganggu kesenangan orang," balas Aurel sambil tersenyum dan kemudian di balas juga dengan senyuman manis Kevin.
"Kamu senang kita di sini sayang?" tanya Kevin.
"Sangat senang kalau bisa memilih aku ingin setiap hari seperti ini denganmu, namun apa daya tidak mungkin hal ini terjadi.
Aku sangat mengerti posisi aku saat ini, aku bukan orang yang berarti dan patut di perjuangkan," jawab Aurel dengan mimik sedih.
"Jangan bicara seperti itu, kita pikirkan sama-sama cara untuk menghadapinya. Biarkan waktu nanti yang membawa hubungan kita ini sampai di mana?" kata Kevin.
"Aku ingin bertanya sesuatu boleh sayang?" tanya Aurel.
"Tentu, aku akan menjawab selama aku bisa menjawabnya," jawab Kevin cepat.
"Kamu harus bisa menjawabnya, jika suatu hari tanpa di sengaja hubungan kita terbongkar apa yang harus kamu lakukan? Membela aku atau membuang aku? Namanya bangkai di simpan pasti suatu hari akan tercium juga." tanya Aurel sambil menatap wajah Kevin, ia sedang menanti apa jawaban dari mulut Kevin untuknya.
Sebuah pertanyaan yang sangat sulit untuk di jawab oleh seorang Kevin, ia menyadari hal ini bakal terjadi di kemudian hari karena dirinya sudah bermain api.
Namun ia berat untuk menjawab, Kevin menunduk dan menarik napas panjang dan dirinya mengerti wanita di depannya sedang menanti sebuah jawaban dari dirinya.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Jangan lupa untuk komen dan like setelah membaca.
Kalau suka kamu bisa bantu untuk memberi vote ... selamat membaca.
__ADS_1