
Hari ini dua keluarga besar sibuk dengan persiapannya masing – masing. Baik Pak Wijaya maupun Pak Dika sibuk mempersiapkan acara lamaran hari ini.
“Apakah semua sudah siap, Bunda?” tanya Pak Dika kepada istrinya.
“Sebentar ayah. Bunda harus mengeceknya sekali lagi. Bunda tidak ingin ada kesalahan.” Ucap Bunda Wike.
Bunda Wike tampak memastikan kembali semua seserahan serta bingkisan yang akan mereka pada ke kediaman Pak Wijaya.
Bahkan Bunda Wike sendiri yang memasrahkan sendiri barang – barang itu pada kerabat – kerabatnya.
“Satya, cincinnya sudah siap bukan?” tanya Bunda Wike.
“Sudah Bun.” Jawab Satya mantap.
Setelah memastikan semuanya, akhirnya keluarga Pak Dik pun segera bertolak menuju kediaman Pak Wijaya.
Rumah kediaman Pak Wijaya pun tidak kalah sibuknya. Semua para pelayan sibuk wira – wiri menata dan mempersiapkan semuanya. Bahkan Mama Dessy mengecek sendiri hidangan yang akan disajikan kepada keluarga calon menantunya itu.
Tak lama kemudian Satya dan keluarga serta beberapa kerabatnya tiba di kediaman Pak Wijaya.
Acara pertemuan kedua keluarga besar itupun berlangsung dengan lancar tanpa hambatan berarti. Walaupun bukan acara yang megah dan mewah, namun acara lamaran ini berlangsung cukup meriah.
Nia duduk di sofa ruang tamu, menemani beberapa kerabatnya yang memang sengaja datang ke rumahnya. Netranya masih tertuju pada cincin yang melingkar di jari manisnya.
“Berhentilah memelototinya… Lama – lama bola matamu bisa copot.” Goda Satya.
“Eh, Pak Satya!”
Sedangkan Mama Dessy dan calon besannya, duduk santai di sofa ruang tengah.
“Maafkan anak saya jeng Dessy. Saya yakin keinginannya untuk segera mempersunting Nia membuat Jeng Dessy sedikit terkejut.” Ucap Bunda Wike.
“Tidak apa – apa Jeng. Tetapi memang benar, saya sedikit kelabakan! Waktu saya hanya 1 minggu mempersiapkan semuanya.” Ujar Mama Dessy.
“Itu mungkin karena traumanya di masa lalu, Jeng Dessy.”
“Trauma…??” Mama Dessy membeo.
Bunda Wike menghembuskan nafasnya.
“Dulu waktu Satya masih kuliah, ia hampir menikahi seorang gadis. Dari awal hubungan mereka saya sudah tidak merestuinya. Entah mengapa hati saya berkata bahwa gadis itu tidak baik untuk anak saya. Namun Satya tetap bersikukuh ingin menikahinya. Akhirnya kami tidak punya pilihan selain menuruti kemauannya. Tetapi Tuhan menunjukkan kebesaranNya kepada kami, satu bulan sebelum pernikahan gadis itu menghilang. Lebih tepatnya melarikan diri bersama pasangannya yang lain.”
Mama Dessy terkejut mendengar cerita tentang calon menantunya itu.
“Satya terpukul dengan kejadian itu. Gadis itu benar – benar telah menipunya sejak awal. Mungkin karena itu juga, setelah ia merasa yakin dengan Nia, ia ingin segera mempercepat rencana pernikahannya.”
“Saya sangat bahagia saat pertama kali mendengar Satya ingin mempersunting seorang gadis. Dan saya kebahagiaan saya bertambah saat mengetahui siapa gadis itu. Saya sangat bersyukur kita akan segera menjadi satu keluarga besar, jeng Dessy.”
Mama Dessy merangkul erat calon besannya itu. Wanita yang akan menjadi ibu kedua bagi putrinya.
“Saya selalu berdoa semoga anak – anak kita selalu bahagia, jeng.” Ucap Mama Dessy.
**
Keesokan harinya, Nia berangkat ke kampus seperti biasa. Setelah sekian lama, akhirnya Nia mengemudikan mobilnya sendiri.
“Hai Nia, loe bawa mobil sendiri? Kaki loe sudah sembuh?” sapa Nindya saat mereka berpapasan di parkiran kampus.
“Sudah. Kaki gue udah membaik. Ayo masuk yuk!” ajak Nia
“Nia!!! Nindya!!!” seru Kevin dari sudut parkiran kampus
Nia dan Nindya kompak menghentikan langkahnya.
Setengah berlari Kevin menyusul mereka berdua.
“Hai gaes!! Tumbenan nih awal banget datangnya..”
“Yeeee, gue mah datang awal mulu tahu! Nia tuh yang seringnya telat!!” ucap Nindya yang diiringi gelak tawa mereka berdua.
“Nia, gimana kondisi kaki loe?? Loe bawa mobil sendiri tadi?? Kenapa gak minta gue jemput sih??” Kevin memberondong dengan sejuta pertanyaannya.
“Apa sih, Vin?? Bawel banget deh ah!” celetuk Nindya.
“Bodo amat!!” Kevin justru sengaja menjulurkan lidahnya, tidak menggubris Nindya.
“sudah.. sudah.. ayo masuk yuk!!! Buruan..” ajak Nia.
__ADS_1
“Ayo Nia!!” ucap Kevin seraya merangkul bahu Nia.
Dan dalam waktu yang bersamaan mobil Satya tepat melintas di depan mereka.
Sontak ketiganya menghentikan langkah mereka.
“Nia, Nia!! Dosen pujaan hati loe tuh!” ucap Nindya.
Nia tersenyum merekah hanya dengan melihat mobil Satya melintas.
“Apa sih, ganteng gue kemana – mana!!” ucap Kevin kemudian melanjutkan langkahnya dengan tetap meletakkan tangannya di bahu Nia.
Kelas pagi ini sudah cukup ramai. Mahasiswa yang lain juga sudah mulai memenuhi isi kelas. Kali ini mereka sependapat, untuk jangan pernah terlambat mengikuti kelas Pak Satya sang dosen killer.
Nia, Nindya dan Kevin pun segera mengambil kursinya.
“Eh, Ayu kok belum datang?? Bentar lagi kelas mau mulai nih! Masa’ dia telat sih?” ucap Nindya.
“Bentar gue telepon.” Ujar Nia.
Belum sempat Nia menekan benda pipihnya, langkah suara kaki yang khas terdengar mendekati ruangan.
Satya, sang dosen killer muncul dari balik pintu.
Suasana berubah menjadi dingin dan mencekam. Tidak ada suara sedikitpun yang terdengar dari dalam kelas. Semua mahasiswa fokus menatap ke depan.
“Pagi semuanya! Hari ini kita open book’s test.” Ucap Satya to the point.
Semua mahasiswa terkejut hingga membelalakkan mata mereka. Namun tetap tidak ada satu mahasiswa pun yang berani mengeluh.
Hanya namanya saja yang open book. Tapi semua jawaban tidak akan ada di dalam buku. Mereka tetap harus mencari dan merangkum sendiri kalimat per kalimat jawaban yang benar.
“Oke. Waktu sudah habis. Selesai tidak selesai kumpulkan! PJ, bawa lembar jawaban ke ruangan saya.” Ucap Satya seraya meninggalkan kelas.
Semua mahasiswa pun akhirnya bisa bernafas lega setelah ke;as usai.
“Nia, hari ini Pak Satya kenapa ya?? Aura nya beda banget!! Tambah killer gak sih?? Gue ampe sulit bernafas lho!” keluh Nindya.
“Masa’ sih? Gue biasa aja.” Kilah Nia.
Nia hanya tersenyum lebar, lalu meninggalkan kelas. Berlalu menuju ruangan Satya.
Tok.. tok.. tok..
“Masuk!”
“Permisi pak.” Ucap Nia lalu menutup pintu ruangan Satya.
“Taruh saja di meja.” Ucap Satya tanpa memandang Nia.
Nia pun menurut apa yang di perintah dosennya.
“Ih! Dinginnya kumat!!! Nindya bener, Pak Satya kenapa kesannya beda gini?? Gue di cuekkin!! Apa karena di area kampus?” batin Nia
“Masih ada keperluan lain?” tanya Satya yang melihat Nia tidak beranjak dari ruangannya.
“Eh… tidak pak. Saya permisi.” Ucap Nia.
Sebelum Nia membuka pintu, Satya memanggilnya kembali.
“Tunggu dulu!”
“Iya pak?” ucap Nia membalikkan badan.
“Duduk di situ sebentar.” Ucap Satya menunjuk sofa ruangannya.
Nia menautkan kedua alisnya. Namun ia tidak membantah perintah Satya.
Nia duduk di sofa panjang, lalu Satya menyusul dengan duduk tepat di sampingnya.
“Kamu memang seperti itu dengan semua lelaki?” tanya Satya
“ Maksud bapak?” Nia tidak mengerti dengan arah pembicaraan Satya.
“Kamu memang sedekat itu dengan Kevin?” tanyanya lagi.
“Maksud bapak bagaimana? Iya, saya memang dekat dengan Kevin. Saya, Ayu,Nindya, Kevin dan Niko sering berkumpul bersama.” Jawab Nia.
__ADS_1
“Tapi meskipun kalian dekat, bukan berarti dia dengan seenaknya merangkul kamu kan…”
“Merangkul?” Nia membeo.
Nia menautkan alisnya, tampak berpikir.
“Ah! Yang tadi di parkiran?? Itu bukan apa – apa pak.” Jawab Nia santai.
“Bukan apa – apa?? Bagaimana bisa bukan apa – apa??” ucap Satya penuh
penekanan.
Nia tertunduk,” Maaf pak. Saya salah.”
“Memangnya kamu tahu apa kesalahan kamu?”
Nia mengangguk.
“Bapak gak suka kan saya dekat – dekat sama cowok lain?’ batin Nia.
“Tunggu dulu.” Ucap Nia mengangkat wajahnya.
“Bapak cemburu ya?” bapak cemburu kan?” goda Nia.
“Tidak!” jawab Satya sedikit gelagapan.
“Beneran bapak tidak sedang cemburu?” goda Nia perlahan mendekat ke wajah Satya.
Satya perlahan seperti terdesak memundurkan tubuhnya hingga batas lengan sofa.
“Ok, kalau tidak cemburu berarti tidak apa – apa donk Kevin merangkulsaya seperti tadi?” ucap Nia kembali ke posisinya.
“Tidak boleh!!” ucap Satya cepat.
“Tidak boleh ada yang menyentuhmu sedikitpun, kecuali aku nantinya.” Lanjutnya lirih.
Nia tersenyum manis melihat Satya yang menjadi salah tingkah.
“Duh… manisnya!” ucap Nia semakin menggoda Satya.
“Oke pak. Laksanakan perintah!” ucap Nia seraya berdiri dan berjalan keluar ruangan.
Baru 5 langkah, Nia kembali mendekati Satya yang masih duduk di sofa.
Dan….
Cup!!!
Satu ciuman singkat mendarat di pipi Satya.
“Daah pak…” ucap Nia melambaikan tangah dengan setengah berlari keluar dari ruangan Satya.
“Nia!!” Satya terkejut mendapatkan serangan yang tiba – tiba dari Nia.
“Awas saja kamu nanti, tunggu pembalasan saya.” Ucapnya.
.
.
.
.
.
.
.
Ih .... bakalan serem gak sih pembalasan dari Satya???? dukung terus Author ya .. supaya Author lebih bersemangat lagi nge halu..
Terimaksih untuk pembaca setiaku yang sudah menemani Author dari awal hingga kini, apalah arti Author tanpa pembaca setiaku..
.
.Terimakasih
__ADS_1