Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Balas Dendam


__ADS_3

Suasana di ruang rapat ricuh. Wakil dari perusahaan milik Willy tidak terima dengan keputusan Yoga. Yoga meninggalkan mereka begitu saja diaku ruang rapat.


"Pak Yoga, saya mohon. Kenapa Pak Yoga tiba-tiba mengubah keputusan?" ucap Willy sambil mengejarnya dari belakang.


"Perusahaanmu penuh dengan kecurangan. Mana bisa aku melanjutkan perjanjian kita." jawab Yoga.


"Tolonglah Pak, satu kali ini. Kalau tidak saya akan bangkrut."


"Tenang saja, bila kamu butuh bantuan, aku bisa meminjamkan dana."


"Saya butuh kerja sama ini, Pak." ucap Willy memelas.


Yoga merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Ia meninggalkan Willy yang tengah terdiam dalam kekalutan.


***


Hari ini Yoga pulang dari kantor lebih awal. Dengan antusias kusambut dia di pintu gerbang.


"Istriku sudah tidak sabar menungguku, ya." godanya sambil membuka pintu mobil.


Kuraih tas kerjanya dan merangkul lehernya.


"Sepertinya ada kabar baik." ucapku penasaran.


"Cium aku, baru kuberi tau." Yoga berkata sambil menunjuk bibirnya.


"Sekarang? Di sini?" tanyaku tak percaya.


Dia tak menjawab pertanyaanku.


Oh suamiku, ini halaman rumah. Bagaimana kalau ada orang yang melihat?


"Cup." Kukecup bibirnya dengan cepat.


Alisnya mengerut, "apakah ini ciuman?" protesnya.


"Kita masuk dulu, sayang." bujukku.


"Kalau gak mau, ya sudah."


Suamiku akting merajuk, sungguh menggemaskan.


Kucium bibirnya dengan lembut. Yoga membalasnya. Dia menarik pinggangku merapat di tubuhnya.


"Bantu aku mandi." ucapnya setelah mengakhiri ciuman.


"Cerita dulu." protesku.


Yoga tertawa, "baiklah, sayang."


Kami memasuki rumah. Yoga bercerita semua kejadian di kantor hari ini.


Selama ini perusahaan Willy, yang merupakan salah satu anak cabang Wijaya Group, sering melakukan tindakan curang pada perusahaan yang lebih kecil.


Meski demikian, dulu Yoga tidak berniat melakukan apa pun. Perusahaan yang dikelola keluarga Yoga lebih besar dan kuat daripada Wijaya Group, tentu saja Willy tidak bisa mencuranginya.


Namun kali ini, Yoga tidak akan tinggal diam. Segala kecurangan Willy pada perusahaan lain telah ia dapatkan. Dengan mudah ia bisa menghancurkannya.


"Willy benar-benar serakah. Sudah merebut perusahaan dengan curang, masih juga menipu perusahaan lain. Dia mencoreng nama baik Wijaya Group milik almarhum papa."

__ADS_1


"Dia akan segera menerima ganjarannya." ucap Yoga.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku penasaran.


"Kamu duduk manis saja di rumah. Aku akan mengurus semuanya." ucap Yoga lembut.


Aku ingin menghancurkan mereka. Bagaimana bisa aku hanya menonton.


"Jangan berpikir macam-macam. Aku tak mau kamu terluka."


Kupandangi matanya yang serius.


"Berjanjilah padaku, jangan ikut campur. Kamu tau mereka bisa menjadi kejam."


Ya, mereka sangat kejam. Mereka tega membunuh Bella demi menduduki perusahaan.


"Berjanjilah, sayang."


"Baiklah, aku berjanji."


"Istriku, aku mencintaimu." ucapnya sambil mengecup keningku.


"Ayo, katanya kita mau mandi bersama."


What, kapan aku mengatakannya?


"Bantu aku melepasnya." Yoga menarik-narik dasinya.


Kubantu dia melepaskan dasi. Lalu satu persatu melepas kancing baju. Belum cukup juga, dia mengisyaratkanku untuk melepaskan celananya.


Owh, tidak! Meskipun kami sudah pernah melihat tubuh masing-masing tanpa sehelai baju pun, aku masih belum terbiasa.


"Sudah tidak sabar, ya sayang?" godanya.


Pipiku bersemu merah.


"Sini kubantu melepas bajumu." ucapannya membuatku kikuk.


Tanpa menunggu, Yoga melepaskan dress yang kupakai dengan mudahnya. Yoga menciumku dengan penuh hasrat. Ciuman yang membuat seluruh tubuhku ikut memanas. Tangannya dengan cekatan membuka bra yang masih kupakai.


Bibir Yoga turun mencium leherku. Tangannya bergerak liar meremas buah dadaku.


Aku mendesah nikmat.


Tubuh kami menyatu dan mencapai puncaknya.


"Sayang, kamu luar biasa." pujinya.


Kami berendam di bathtub melepas lelah tanpa suara. Aku bersandar di dadanya. Aku tak mau dia melihat pipiku yang masih saja memerah mengingat apa yang baru saja kami lakukan.


***


Mendengar kami yang membatalkan bulan madu, pagi-pagi sekali mama sudah datang ke rumah.


"Maaf Ma, ada urusan di kantor yang gak bisa diwakilkan." ucap Yoga.


"Kamu ini kerja terus." protes mama.


"Ma, bulan madu kan bisa kapan saja. Lagian kita juga tiap hari bulan madu."

__ADS_1


Ucapan Yoga membuat pipiku bersemu merah. Tentu saja aku malu.


Melihatku yang salah tingkah, mama pun tersenyum, "baiklah, kali ini mama mengalah." ucapnya.


"Kamu pergi ngantor hari ini?" tanya mama.


"Iya, ma." jawab Yoga.


"Pergilah. Mama mau ajak Tania keluar." ucap mama.


"Mau ke mana, Ma?"


"Mama mau beli bunga. Tania mau kan menemani mama?" tanya mama padaku.


"Iya, Ma." jawabku.


"Baiklah, aku berangkat dulu."


Sepeninggal Yoga, aku dan mama pergi menuju sebuah kios bunga. Rupanya mama menyukai anggrek. Ada begitu banyak jenis anggrek di sini dengan harga bervariasi.


"Mama suka anggrek, ya?" tanyaku.


"Iya, suka. Kamu belum pernah lihat kebun mama di belakang rumah, ya?"


Ah, aku merasa bersalah. Sudah beberapa minggu menjadi menantunya, tapi aku belum pernah mengunjungi rumah mertuaku.


"Maaf Ma, Tania belum sempat mengunjungi mama. Nanti kalau Yoga libur, kita main ke sana."


"Melihat kalian begitu mesra saja mama sudah bahagia. Dulu mama takut kalau Yoga tidak mau menikah. Sudah banyak gadis yang kukenalkan padanya, tapi dia selalu menolak. Saat Yoga mengatakan ingin melamar seorang gadis, tanpa pikir panjang mama menyetujuinya. Ternyata Yoga sangat beruntung. Menantu mama benar-benar baik hati dan cantik."


"Mama, aku yang beruntung memiliki suami Yoga." ucapku.


Mama memelukku. Rasa ini sudah lama tak kurasakan. Pelukan hangat dari seorang ibu.


"Tante." sapa seseorang.


"Hai, Clara. Sama siapa?" Mama menyapa ramah.


"Sendiri, tante. Clara kangen banget sama tante." Clara menghambur memeluk mama.


"Ini Tania, istri Yoga. Kalian sudah kenal kan?"


"Iya , Tante. Tentu saja kami sudah kenal." jawabnya.


Secara resmi aku tak pernah berkenalan dengan Clara. Sekarang dia sok kenal denganku.


"Tania tunggu ya, mama mau ke toilet sebentar. Mumpung ada Clara di sini, biar kamu gak sendirian." ucap mama lalu pergi meninggalkan kami.


"Kalian tidak bulan madu, ya?" tanya Clara.


"Yoga masih sibuk." jawabku sekenanya. Aku tidak begitu suka melihatnya di sini.


"Ya tentu saja, kemarin dia bercerita banyak."


"Kemarin?" tanyaku.


"Oh, Yoga gak cerita, ya? Kemarin kita makan siang bareng. Kami hanya makan, gak ngapa-ngapain, kok." ucapnya.


Apa maksudnya mengatakan hal ini? Mencoba membuatku cemburu? Lalu kenapa Yoga tidak mencitakan hal ini?

__ADS_1


__ADS_2