
"Aaarrrhhh.....!!" Teriak Nova bersama dengan suara derasnya hujan yang mengguyur ibu kota malam itu. Tubuhnya bergetar, dada membusung, peluh bercucuran membasahi tubuhnya.
"Ah.. Nov.. Va...! Sempit sekali... Ah....!" Teriak Ben saat melepaskan seluruh hasratnya pada Nova.
"A.. sakittt... Aaahhh....!!" Teriak Nova sambil menggigit bibir bawahnya.
Ben terus memompa miliknya dan mempercepat gerakannya sambil membelai rambut Gadis itu, Nova menggenggam sprei sambil menggelengkan kepalanya antara sakit dan nikmat. Napas mereka menderu dan peluh yang bercucuran telah menyatu.
Tubuh mereka saling bergetar saat saling bergelut di atas ranjang. Kamar menjadi saksi bisu kisah mereka malam itu.
Ben menatap Nova yang menitikkan air mata, ia menyekanya, dan menarik tubuh Nova dalam pelukannya.
"Aku akan bertanggung jawab." Ucapnya sambil mencium kening gadis itu.
"A... Nova takut." Sahut gadis itu lirih sambil menyeka air matanya.
Ben menggenggam jemari gadis itu. Lalu mencium punggung tangannya.
Nova merebahkan kepalanya di dada Ben. Tubuhnya terasa letih, dan akhirnya ia tertidur dalam dekapan Ben.
Ben menghela napas dalam-dalam dan memejamkan matanya. Merutuki dirinya sendiri terlalu bodoh melakukan perbuatan itu. Namun, ia juga perlu melampiaskan hasratnya, bela sisi lain dalam dirinya.
Pikirannya berkecamuk, saat menatap wajah tak berdosa yang sedang tertidur lelap dalam pelukannya itu.
"Astaga, apa yang telah aku perbuat ini?!" Makinya pada dirinya sendiri, kepalanya penuh dengan bayangan wajah Gwen. Entah mengapa ia merasa seolah Gwen masih hidup dan dekat dengannya. Tapi dia tak bisa melihatnya.
Ben menaruh kepala Nova perlahan ke atas bantal dan perlahan beranjak dari tempat tidurnya.
Ia membasuh wajahnya dan menatap pada cermin wastafel. Ia merasa sangat menyesal telah melakukan perbuatan bodoh itu. Napsu telah membutakan akal sehatnya. Kini apapun yang terjadi ia berjanji akan bertanggung jawab pada Nova.
"Mungkin ini adalah jodohku." Ucapnya sambil tersenyum kecut.
Ia mengenakan pakaiannya kembali dan duduk di sofa sambil menyulut rokoknya. Di luar masih hujan, namun tak sederas tadi.
Ben menatap fotonya dan Gwen yang terpajang di ruang tengah itu. Tatapan Gwen seolah menatap tajam dan marah padanya. Ia sangat merasa berdosa sekali. Berkali-kali ia merutuki dan memaki dirinya sendiri.
Ia ke dapur dan menyeduh secangkir kopi untuk dirinya, sambil mengutak-atik ponselnya.
__ADS_1
Ia menatap foto Laura pada story whatsapp Dirga. Dengan caption 'sedang jadi tukang foto'. Ia tersenyum sendiri menatap foto Laura.
Jika boleh jujur, Ben merasa sangat nyaman berada di dekat Laura. Bahkan seolah ia sedang bersama Gwen. Namun....
"Apa aku yang kurang peka dan kurang berjuang, sehingga membuatnya memilih yang lain?" Ben menghisap rokoknya dan sesekali menyesap kopinya.
Sudah hampir sebulan ia juga tak bertemu Dirga. Apalagi setelah dia sibuk dengan pekerjaannya, perusahaan barunya itu, lalu Ben dengan kesibukannya. Mereka jarang bertemu.
Terselip rasa cemburu melihat Dirga memajang foto Laura.
Teman sekantor, teman sekolah saat masih kecil, dijodohkan, keluarga saling kenal, dan lain lain sebagainya.
Ya, dia akan bertanya tentang foto ini dan kisah mereka selama berada di Yogya. Meski Ben tau, Dirga telah memiliki Lisa.
"Bukankah, Lisa ada di Yogya untuk syuting juga ya? Lalu mengapa Dirga bersama Laura.?" Banyak pertanyaan dalam kepala Ben mengenai Laura.
Namun, kembali lagi, ia teringat akan perbuatan malam tadi, rasanya Ben ingin berteriak sekuat kuatnya dan memutar kembali waktu untuk tak terlalu menuruti napsunya.
****
Saat terbangun dari tidurnya, Laura melihat ke luar, komplek tempat tinggalnya aman, namun saat membaca berita, terjadi banjir hampir merata di Jakarta.
Namun, ke arah rumah Ben sepertinya masih aman. Laura berniat memberikan oleh oleh dan membuatkan sarapan untuknya, dan menceritakan semuanya. Terserah apa pendapat Ben nantinya ia tak peduli. Jika seandainya Ben masih mengingat semua, maka ia akan memikirkan kembali antara Ben atau Radit.
Laura menaruh nasi dan gudeg lengkap pada kotak makan terpisah. Ia ingin Ben juga menikmati sarapan dengan gudeg seperti di Yogya. Laura juga membawakan bakpia dan beberapa cemilan untuk oleh oleh.
Ia berpamitan pada Lisa yang masih meringkuk di bawah selimut. Lalu ia bergegas membelah genangan air di jalanan Jakarta. Ia menuju ke rumah Ben sambil menikmati lagu di radio mobilnya.
Jalanan ada beberapa tempat yang tergenang, namun, masih dapat dilalui.
Akhirnya, Laura sampai di perumahan tempat tinggal Ben. Terlihat sepi, namun ada mobilnya terparkir di garasi, menandakan Ben ada di rumah. Laura tersenyum lebar.
Ia turun dari mobilnya, sambil membawa kantong berisi oleh oleh untuk Ben.
Ia merapikan pakaian lalu berjalan menuju pintu rumah, lalu membunyikan lonceng penanda jika ada tamu. Yang tergantung di dekat pintu.
Sekitar dua menit lebih berlalu, tak ada jawaban ataupun langkah kaki. Laura membunyikan kembali lonceng itu. Tak lama ada suara sahutan dari dalam rumah, itu suara Ben.
__ADS_1
Terdengar suara langkah kaki di seret dan suara kunci, lalu pintu terbuka.
"Oh... Hai, Laura, apa kabar?" Sapa Ben dengan suara agak gugup dan terkejut.
"Hai. Aku hanya mampir untuk memberi oleh oleh. Aku baru pulang dari Yogya, dan membawakan sarapan untukmu." Jawab Laura sambil tersenyum manis.
"Ya, terima kasih." Sahut Ben. Lama mereka berdua saling menatap dan terdiam.
"Aa.. Ada siapa di luar? Aa pesan gofood ya?" Nova keluar dari kamar sambil mengikat rambut panjangnya, dan menuju ke ruang tamu.
Ia menggaet dengan mesra lengan Ben, lalu menatap Laura sambil tersenyum polos.
Ben hanya menatap Laura dan melepaskan pegangan Nova dari lengannya.
Betapa terkejutnya Laura, seorang gadis berada di rumah Ben, tadi keluar dari kamarnya, terlebih mengenakan pakaiannya, pakaian Gwen.
Laura menatap tajam ke arah Ben.
"Oh, maaf aku mengganggu kalian. Selamat pagi!" Laura berlalu dari hadapan Ben, lalu berlari kecil menuju mobilnya, dan secepat itu, Laura telah berlalu dari tempat itu. Air matanya berlinang membasahi pipinya. Laura/Gwen sangat kecewa pada Ben.
Sementara Ben masih terdiam di ambang pintu menatap kepergian Laura. Saat melihat tatapan tajam Laura tadi, dia seolah menatap Gwen yang tengah marah padanya. Terlebih saat Laura menatap Nova yang memakai pakaian Gwen. Semua perasaannya tentang Gwen memang tak pernah dapat ia jelaskan secara logika, namun perasaannya yang mengatakan itu.
"Aa Ben, ada apa? Siapa tadi?" Pertanyaan Nova membuyarkan lamunan Ben.
"Itu tadi Laura." Sahut Ben. Ia menatap kantong yang diberi oleh Laura tadi. Lalu ia membawanya masuk diikuti oleh Nova.
****
Laura berteriak meluapkan kemarahannya pada Ben yang tanpa alasan itu. Setau Ben, Gwen telah tiada, namun memberikan pakaiannya pada perempuan lain, membuatnya sangat kecewa. Secepat itu Ben melupakan Gwen.
Ia menghentikan mobil di tepi jalan. Laura menangis sepuasnya. Sekitar setengah jam ia menangis meluapkan semuanya. Mulai dari memukul setir, marah marah sendiri. Berteriak seperti orang gila. Semua itu membuat perasaannya lebih baik dan lega.
Ia menghapus air matanya dengan tisu, yang ternyata make up nya telah luntur, karena air mata. Laura menghapus semuanya. Matanya sembab dan masih merah. Laura mengambil pouch make up-nya dalam tas, dan memoles wajahnya supaya terlihat segar kembali.
Lalu ia mengambil ponselnya.
"Radit, kamu ada di mana?"
__ADS_1
"La, aku sedang di posko korban banjir ini, ada apa?"
Laura terdiam. "Radit sedang membantu di posko banjir? Lalu aku datang hanya untuk curhat padanya?" Tanyanya dalam hati.