Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Season 2-16


__ADS_3

Setelah memberikan bunga kepada Kania, Gavin mengantar wanita itu kembali ke rumah.


Kania melenggang memasuki rumah dengan bunga di tangan kanannya, sedangkan Rio dan Sisil sedang berada di ruang tengah sedang menonton televisi.


"Dari mana kamu sama Gavin jalan seharian sayang? Bunga dari siapa itu di tangan kamu Kania? Perasaan mama dari dulu sampai sekarang papa kamu gak pernah ngasih bunga ke mama," tanya Sisil sambil menoleh melihat kedatangan Kania.


"Jalan-jalan dong mama, masa jalan di tempat," jawab Kania ngasal.


"Hey Kania ... jawab pertanyaan mama tentang bunga dari siapa di tangan kamu itu?" kata Rio.


"Harus di jawab ya pa, gak boleh skip aja," sahut Kania sambil mengambil posisi duduk di antara Rio dan Sisil.


"Ini anak susah banget cuma menjawab begitu aja" balas Rio.


"Bunga dari kak Gavin, tadi Kania kalah Challenge," sahut Kania sambil terkekeh.


"Challenge apaan pake bunga-bungaan segala," cibir Rio.


"Iiih papa pengen tau aja urusan anak muda, papa sama juga pernah muda kan?" balas Kania sambil tertawa.


"Mama muda gak pernah di kasih bunga sama papa," ledek Sisil sambil terkekeh.


"Jangan bilang kamu udah jadian sama Gavin, papa jadi gak enak sama om Dave nanti, kamu tau kan papa cuma kerja sebagai karyawan mereka," ucap Rio.


Kania kaget mendengar perkataan papanya soal perbedaan status keluarga mereka, tadi ia lupa membahas hal ini dengan Gavin.


Walaupun saat ini hubungan keduanya adalah sekedar pacar dari hasil pemaksaan tapi pria itu sudah mendeklarasikan Kania sebagai kekasihnya.


"Masalah jodoh kita sudah Tuhan atur, lagian Kania tidak pernah berharap lebih dari kak Gavin. Dia aja pake acara maksa Kania jadi pacarnya," balas Kania.


Rio sama Sisil yang mendengar jadi saling melempar pandang.


"Tuh hukum karma buat kamu dulu maksa aku jadi pacar kamu gara-gara baju kamu ketumpahan minuman aku, sekarang anak kamu dipaksa menjadi pacar Gavin karena kalah Challenge," sungut Sisil.


"Ya ampun sayang kamu masih ingat aja peristiwa itu, sangat berarti sekali moment itu bagi kamu," ledek Rio sambil terkekeh.

__ADS_1


"Ckckck ... Jadi mama sama papa jadian juga karena jebakan Batman," balas Kania sambil tertawa.


"Berarti Kania adalah tumbal karena dosa papa maksain mama jadi pacar," lanjut Kania sambil tertawa.


"Hush ... papa dan mama menikah karena percintaan terakhir dengan perjodohan," balas Rio.


Obrolan antara anak dan orang tua ini harus berakhir dengan dering telepon Kania yang berbunyi cukup nyaring.


Setelah melihat nama seseorang di layar teleponnya Kania langsung memilih meninggalkan Rio dan Sisil, lalu masuk ke dalam kamarnya.


Dari siapa lagi kalau bukan dari pacarnya si tukang pemaksa. Gavin yang menelepon Kania entah apa lagi akan akan ia bicarakan padahal baru saja mereka berdua berpisah.


Kania menggeser tombol hijau pada layar teleponnya.


"Halo," sapa Kania


"Halo sayang, kakak baru nyampe rumah," jawab Gavin.


"Gak ada yang tanya kak," balas Kania.


Mendadak Kania diam sambil tersenyum lupa akan statusnya saat ini adalah pacar hasil pemaksaan, apakah mesti begini kalau orang pacaran semua harus pake laporan.


"Kok diam aja sih sayang," lanjut Gavin di telepon.


"Mau ngomong apa lagi kak, kita abis ketemuan dan semua sudah kita bicarakan dan aku dah kehabisan kata-kata," balas Kania.


"Sayang om Rio dan tante Sisil tanya gak kalau bunga di tangan kamu itu dari siapa?" tanya Gavin.


"Menurut kakak kira-kira orang tua aku bakalan tanya gak?" tanya balik Kania sambil terkekeh.


"Seratus persen tanya, lihat anak gadis pulang bawa bunga seindah itu pasti bakalan tanya," jawab Gavin yakin.


"Betul kak, mama aku tanya tadi," balas Kania.


"Terus kamu jawab apa? Kakak gak sabaran nih pengen dengar jawaban kamu," ucap Gavin.

__ADS_1


"Aku jawab kakak paksa aku jadi pacar karena aku kalah challenge," sahut Kania.


"OMG ... serius kamu jawab begitu? Kamu kok polos amat Kania, kakak nanti malu kalau ketemu papa kamu," kata Gavin sambil ngakak.


"Kenapa mesti bohong, kalau kakak gak suka bisa putusin aku sekarang," tantang Kania.


"Kakak tambah suka sama kamu, tambah cinta sayang, gak bakalan ada kata putus sampai kita menikah.


Putus status pacar ganti status istri," jawab Gavin.


"Kata papa kita berdua gak cocok, status keluarga kita beda, kakak anak orang kaya aku cuma anak seorang pegawai biasa," ucap Kania sedih.


"Masalah itu gak usah di pikirin, nanti itu jadi urusan kakak sayang, sekarang kamu istirahat aja dan jangan lupa mandi," balas Gavin.


"Kakak juga istirahat, mandi dan jangan lupa minum obat anti pemaksaan," ucap Kania sambil terkekeh.


"Udah dulu ya ... bye," tutup Gavin.


Baru Kania menutup telepon dari Gavin dan meletakkan benda pipi itu di atas kasur, ia hendak melangkah ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri setelah seharian keluar rumah.


Kembali bunyi dering teleponnya menghentikan langkahnya, hampir saja Kania akan memaki disangkanya Gavin yang kembali menghubunginya.


Pas matanya melihat layar telepon ternyata bukan nama Gavin melainkan Andre yang menghubunginya.


Biasanya Kania langsung mengangkat telepon dari Andre, tapi sekarang ada sedikit canggung untuk ia mengangkat telepon dari pria itu.


Takut Gavin tau dan bakalan pasti akan marah karena ia sudah berpesan agar menjaga jarak dengan Andre.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Hi ... aku menyapa para pembaca setia, maaf kalau hari ini sepertinya aku hanya satu kali up karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan.


Aku usahakan besok untuk double up lagi ya dan happy reading.


Jangan lupa buat tinggalkan jejak dengan tekan tombol like, komen, dan tetap favorit ya.

__ADS_1


Maaf kalau banyak typo ngetiknya sambil tiduran dan ngantuk ...hehehe.


__ADS_2