Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 64


__ADS_3

Satya tengah disibukkan dengan rutinitasnya sebagai pengusaha dan juga dosen. Pagi hari ia akan menjadi dosen killer pujaan mahasiswi, dan siang harinya ia akan segera ke kantor untuk membantu mengurus bisnis ayahnya.


Seperti siang ini, Satya sudah berkutat di depan laptop dan sejumlah berkas – berkas di mejanya. Ia harus segera menyelesaikan beberapa proyek penting termasuk proyek hotelnya bersama mertuanya sebelum acara resepsinya di gelar.


Karena jika sesuai rencana, setelah acara resepsi selesai Satya akan langsung berbulan madu dengan Nia ke tempat impian Nia.


Tok… tok.. tok..


“Permisi pak…” ucap Jihan, sekretaris Satya dari ujung pintu.


“Ya….”


“Ehm…. Di luar ada seorang wanita yang ingin bertemu bapak…” ucap Jihan.


“Siapa…?? Aku tidak mempunyai janji temu hari ini, bukan…??”


“Iya pak… saya sudah memberitahukan untuk membuat janji terlebih dahulu, tapi ia terus memaksa ingin bertemu.”


“Wanita…?? Bilang saja aku sedang ada meeting penting.” Ucap Satya.


Tiba – tiba saja seorang wanita yang berpakaian cukup sexy dan ketat menyeruak masuk ke ruangan Satya.


“Apa kabar Satya…” Sapa Marsya.


Dengan terpaksa Satya pun menyuruh Jihan untuk kembali ke ruangannya dan membiarkan Marsya duduk di sofanya.


“Ada perlu apa datang kemari…??” tanya Satya tanpa basa – basi.


“Tidak ada perlu apa – apa… aku hanya ingin bertemu denganmu. Aku merindukanmu Satya...” Jawab Marsya enteng.


“Kalau begitu segeralah pergi dari sini. Bukankah kamu sudah sepakat bahwa kita tidak akan bertemu lagi…?!” ujar Satya tidak menggubris perkataan Marsya.


“Benarkah..?? Sepertinya aku tidak ingat pernah mengatakan hal seperti itu...” kata Marsya.


Satya berjalan menuju ke arah pintu dan membukakan pintu untuk Marsya, menyuruhnya pergi secara halus.


“Satya…. Aku hanya ingin memberimu selamat… Tidak aku sangka kamu akan menikah… Bagaimana caranya kamu bisa move on dariku…?? Bukankah selama ini kamu sangat mencintaiku..?? kamu bahkan sangat terpuruk saat aku meninggalkanmu….” Ucap Marsya yang berjalan mendekati Satya dan menutup kembali pintu yang berada di belakang Satya.


Satya mengangkat tipis sudut bibirnya, tersenyum sinis melihat Marya.


“Dan kamu dengan tidak tahu diri dan tanpa rasa malu masih muncul di depan mataku…??” kata Satya.


Marsya maju satu langkah semakin dekat dengan Satya. Membuat Satya mundur ke belakang, lebih menjaga jarak dengan masa lalunya itu.


“Bukankah aku sudah berkali – kali meminta maaf padamu, Satya…. Saat itu aku benar – benar khilaf… Kini aku sudah berada di sini, akan selalu berada di sampingmu Satya… Aku yakin masih ada cinta di hatimu untukku…”ujar Marsya memasang wajah melasnya.


“Bagiku, kau adalah masalalu yang tidak ingin kuingat.. dan berkat dirimu pula semua perasaan dan kenangan masa lalu sudah mati dan terkubur dalam. Jadi sekarang, berhenti bersandiwara.. jangan pernah lagi muncul di kehidupanku, dan pergilah dari sini…!!” ucap Satya tegas seraya membuka pintu ruangannya.


"Oh ayolah Satya.... apakah kamu benar - benar mencintai istrimu itu..?? kamu yakin...??? aku tahu kamu masih mencintaiku, Satya..." ucap Marsya.


"Pergi dari hadapanku sekarang juga sebelum aku menyeretmu keluar...!!!"


Marsya mendengus kesal tidak punya pilihan lain selain pergi dari hadapan Satya.

__ADS_1


Namun sebelum Marsya melangkah keluar, ia membisikkan sesuatu tepat di telinga Satya.


“Aku akan pergi dari ruangan ini, tapi aku akan selalu datang di kehidupanmu bahkan di kehidupan istrimu… sampai kau menjadi milikku lagi…” bisik Marsya seraya keluar ruangan.


Seketika emosi Satya memuncak. Tangannya sudah mengepal keras. Namun ia mencoba menahan amarahnya dan membiarkan Marsya pergi daripada harus berlama – lama berurusan dengannya.


“Jihan…..!!!!”


Secepat kilat Jihan memasuki ruangan atasannya itu. Tangan dan kakinya sudah gemetar hanya dengan mendengar teriakan bosnya itu. Semua orang tahu bahwa Satya Aryadika adalah atasan yang dingin, namun tak semua orang tahu bagaimana menakutkannya Satya Aryadika jika sudah marah pada suatu hal.


“Iya pak….”


“Hanya 3 wanita yang boleh masuk ke ruanganku. Ibuku, istriku, dan ibu mertuaku. Selain mereka, jangan pernah ijinkan wanita siapapun masuk tanpa persetujuanku. Kamu mengerti…??!!! Ingat itu…!!!!” kata Satya dengan nada tinggi.


“Baik pak… Saya minta maaf pak…” ucap Jihan.


Satya menghempaskan tubuhnya ke sofa setelah menyuruh Jihan keluar dari ruangannya.


Sejenak memejamkan mata, meredam emosinya yang memuncak.


“Aku tidak akan pernah mengijinkanmu memporak – porandakan kehidupanku lagi, apalagi mengganggu rumah tanggaku.” Ucap Satya lirih.


Tanpa ia sadari Satya pun terlelap diatas sofa, hingga ponsel di sakunya berdering.


Ia pun segera mengangkatnya setelah melihat nama yang muncul di layarnya.


“Walaikumsalam sayang…..”


“….”


“…..”


“Hampir setiap hari kamu selalu nebeng Clara, apa dia tidak keberatan…??”


“….”


“Baiklah… kalau begitu aku akan langsung menunggu di restoran. Jus strawberry, bukan…??”


“…”


“Oke… baiklah… hati -hati di jalan sayang… bilang Clara jangan ngebut – ngebut…”


“…”


Satya segera membereskan berkasnya dan keluar dari ruangannya.


“Aku akan makan siang dengan istriku, jika ada yang mendesak kamu bisa menghubungiku…” pamit Satya pada Jihan.


“Baik pak…” ucap Jihan.


Satya pun segera meluncur ke restoran langganan Nia belakangan ini dan langsung memesan jus strawberry seperti biasanya.


“Kita berangkat sekarang kak…??” ucap Nia.

__ADS_1


“Ayo…kita berangkat..!!” ucap Clara.


Seperti biasa, Clara akan mengantar Nia bertemu dengan Satya baru kemudian dia akan makan siang atau meeting di tempat lain. Clara sudah menjadi kakak yang baik bagi Nia. Di kantor ia banyak membantu Nia dalam pekerjaannya.


Bahkan saat jam makan siang seperti ini, ia selalu menawarkan diri untuk mengantar Nia bertemu dengan suaminya, padahal ia juga sibuk dan mempunyai kepentingannya sendiri.


“Ke restoran itu lagi..??” tanya Clara.


“Iya…”


“Belakangan ini kamu suka sekali makan siang disana.. sebegitu enaknya kah masakan disana…??” tanya Clara.


“Entahlah… aku hanya sangat menikmati makan siang disana.”


“Dan jus strawberry lagi….??”


“Benar…” Nia menganggukkan kepalanya.


“Apa masih sering pusing…??” tanya Clara.


“Masih kak…. Walaupun tidak sesering sebelumnya.. tapi badanku berasa tidak enak. Seperti masuk angin... mungkin karena aku harus ke kantor dan ngampus…” ucap Nia.


Clara tersenyum simpul seperti menyiratkan sesuatu.


“Kamu sudah pernah tes…???” tanya Clara.


Disisi lain, Marsya duduk di dalam mobilnya yang terparkir di sudut jalan yang sepi.


“Sekarang…!!! Buat seperti tidak di sengaja.. Jangan sampai gagal….!!” Ucap Marsya pada seseorang dari ponselnya.


“Jika aku tidak bisa memilikimu, dia juga tidak boleh…!! Siapapun tidak boleh memilikimu…” ucap Marsya.


Marsya segera menancap gas mobilnya, beranjak dari tempat itu. Ia menuju sebuah restoran yang berada di persimpangan jalan.


Memesan minuman dan duduk di dekat jendela yang berhadapan langsung dengan jalan raya.


Sekitar 10 menit kemudian, entah darimana datangnya tampak sebuah mobil box melaju dengan kecepatan tinggi seperti kehilangan kendali. Semakin lama semakin cepat lalu menabrak sebuah mobil dari arah berlawanan.


BRAKKKKKK….!!!!!


Sebuah tabrakan besar pun terjadi layaknya adu banteng. Kedua mobil pun ringsek di bagian depan.


Orang di sekitar segera mendatangi lokasi kejadian dan memberikan pertolongan pertama.


Begitu pula Marsya, ia ikut mendatangi TKP dan melihat kondisinya.


Seulas senyum tersungging dari bibirnya.


“Hai Nia, salam kenal… karena kamu tidak mau berjabat tangan denganku, maaf jika kita harus berkenalan dengan cara seperti ini.” Ucap Marsya lirih saat melihat Nia pingsan dan mengeluarkan darah dari kepalanya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2