Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Mengunjungi Nora


__ADS_3

Laura menatap syal dan pakaian yang ada dalam kardus. "Kenapa disimpan dalam kardus?" Gumam Laura.


Lalu ia, memeriksa kembali kardus itu. Ada sebuah buku harian lagi dalam kardus itu.


Laura membuka halaman pertama. Ia membaca dengan pelan, sambil merasakan setiap kata yang di tulis oleh Laura.


Laura menuliskan kisahnya bersama Radit selama di Yogya, setelah mengetahui Pras selingkuh dengan Dina. Laura dan Radit bersandiwara untuk membalas Pras dan Dina.


Namun, ternyata Radit benar benar jatuh cinta padanya. Sedangkan Laura hanya untuk memanas manasi Pras dan Dina.


"Bodoh sekali, Kamu La? Kenapa ga si putuskan saja Pras?" Gumam Laura.


Laura menuliskan beberapa puisi dalam buku harian itu.


Beberapa lirik lagu tertulis dalam buku diary itu.


Terselip foto hasil foto box Laura dan Radit.


Laura tersenyum menatap foto itu. Entahlah, dia merasa lebih senang menatap foto dirinya bersama Radit, daripada bersama Dirga.


Ia menutup buku harian itu kembali, dan mengembalikan dalam kotaknya. Ia membuka aplikasi musik, lalu memilih lagu Lucky Jason Mraz untuk menemaninya malam itu.


****


Hari itu Alan dan Katrin sibuk karena mempersiapkan acara ulang tahun yang di laksanakan di cafe dan resto Persada.


Pengunjung ramai datang tak hanya untuk melihat band pengisi acara, namun juga datang untuk berbelanja. Karena ada diskon juga di sana.


Laura menikmati lagu yang dibawakan oleh band pengisi acara itu. Ia tiba tiba rindu pada Radit. Namun saat itu Radit sedang ke Lampung memeriksa kebun kopi miliknya di sana. Lalu ia segera membuka wa nya, dan menulis pesan untuk kekasihnya.


Aku merindukanmu..


Begitu juga aku. Apa kabarmu?


Sedang menonton acara musik.


Pantas kamu merindukan aku. Besok jika sudah kembali aku akan temani kamu bernyanyi.


Kamu sedang apa?


Minum kopi. (Radit mengirimkan foto segelas kopi dengan pemandangan kebun kopi)


Ah, kamu hanya pamer saja 😪


Kamu ingin?


😀😀


Kapan kapan akan aku ajak kamu ke kebun kopiku, kamu pasti suka di sini.


Benarkah?


Yes..


Janji..

__ADS_1


Janji Pramuka Nona cantik ✌️😍


Asikkk... Aku lanjut kerja dulu ya... 💋💋


😘😘


Laura tersenyum, lalu mematikan ponselnya, lalu memasukkan dalam tas ranselnya.


Ia melihat Lisa datang bersama Dirga. Laura menyambut kedatangan Lisa dengan pelukan.


"Sukses ya untuk acaranya." Ucapnya.


"Terima kasih Lis. Tapi dia bos nya." Jawab Laura sambil menunjuk Dirga.


"Mana Radit?" Tanya Dirga.


"Dia ke Lampung. Menengok kebun kopinya." Jawab Laura.


"Itu Ben.!" Lisa melambaikan tangan ke arah Ben.


"Akhirnya sahabatku datang juga." Sapa Dirga sambil memeluk sahabatnya itu.


"Apa kabar Ben?" Sapa Laura.


"Baik. Selamat untuk ulang tahun untuk Persada. Kalian memang team yang hebat dan solid." Puji Ben.


"Ayo kita duduk di sana!" Ajak Dirga sambil menuju ke arah teras cafe.


Lisa duduk di samping Laura, sedang Ben di samping Dirga. Mereka memesan minuman untuk menemani mereka.


"Kemarin aku membantu pengusaha teh di daerah puncak. Kasus jual beli tanah, namun sekarang sudah beres." Cerita Ben.


"Nora?" Tanya Laura.


"Ya, istrinya bernama Nora. Bagaimana kamu mengenalnya?" Tanya Ben sambil menatap Laura.


"Dia yang memborong barang milik Gwen saat lelang kemarin. Dia juga masuk anggota penyumbang badan amal milik Madam Lulu." Jawab Laura


"Oh ya? Dia juga pemilik perkebunan sayur di area itu?" Ben meyakinkan dirinya.


"Ya. Benar. Berarti Nora yang sama aku kenal. Dia pemilik cafe kecil yang pernah kita datangi waktu itu." Terang Laura.


Ben menganguk angguk mengerti.


"Dia kemarin juga ada masalah dengan pencurian di perkebunan sayurnya. Aku membantunya juga." Lanjut Ben.


"Pencurian?" Tanya Laura terkejut.


"Lebih tepatnya, penggelapan uang. Di perkebunan, orang tua Bu Nora, sudah tua, jadi sering digelapkan hasil perkebunannya, oleh orang kepercayaannya. Sebulan lebih kami mengusut kasus ini." Cerita Ben, sambil menyesap kopi espreso miliknya.


"Oh, kasihan sekali." Ucap Laura dengan mimik wajah prihatin.


"Iya, dia juga sedang menjalani program kehamilan. Jadi kemarin sempat masuk rumah sakit karena kelelahan."


"Serius Ben?"

__ADS_1


"Ya."


"Kamu tau di mana dia tinggal?" Tanya Laura.


"Tentu."


"Kamu bisa menemaniku ke rumahnya?" Pinta Laura.


"Kapan?"


"Setelah selesai acara, bisakah?" Tanya Laura sambil menatap Ben, seolah memohon.


Tatapan Laura membuat Ben terkejut, ia seolah menatap Gwen saat menginginkan sesuatu. Ben hanya mengangguk dan tersenyum.


Dirga dan Lisa hanya memperhatikan keduanya, karena tidak mengenal Nora.


***


Ben menemani Laura membeli bingkisan untuk Nora. Sebuah buket buah dan aneka roti dia bawa untuk buah tangan ke rumah Nora.


Sudah lama ia tak bertemu dengan Nora, ia merasa tak enak jika tiba tiba bertanya, takut mengganggu Nora. Namun, ternyata banyak hal yang terjadi pada Nora dalam beberapa bulan terakhir.


Ben membawa Laura ke sebuah rumah besar, bergaya modern minimalis. Terdengar suara burung berkicau dari dalam rumah.


Ben dan Laura keluar dari mobil, dan menuju ke pintu rumah besar itu.


Ben memencet bel yang ada di dekat pintu.


Seseorang membukakan pintu.


"Oh, Pak Ben." Sapanya.


"Iya. Bu Nora ada?" Tanta Ben.


"Nyonya ada. Sebentar ya Pak. Silahkan masuk dulu. Saya panggilkan sebentar." Pembantu rumah itu mempersilahkan Ben dan Laura masuk. Mereka duduk di kursi tamu yang terbuat dari kayu jati.


Sepertinya, Ben tampak sering ke rumah Nora, terbukti asisten rumah tangga di sini mengenalnya.


Rumah terasa sangat nyaman. Ia membayangkan seandainya masih hidup sebagai Gwen, dan mengetahui Nora adalah Mamanya, dan ia tinggal di rumah ini. Rumah ini terasa sangat nyaman. Ia menyukai tempat ini.


Laura memperhatikan sekeliling rumah. Terlihat sebuah lukisan pemandangan si dinding menghiasi ruang tamu.


Laura memainkan jarinya. Ia merasa tegang. Ben memperhatikan tingkah Laura. Mirip dengan Gwen, saat tegang, yaitu memainkan jarinya sendiri.


Tak lama Nora muncul dari dalam rumah.


"Laura, astaga, kamu kemari." Ucap Nora, menghampiri Laura dan memeluknya.


"Kamu dan Ben?" Tanya Nora kemudian.


"Ya, kami berteman. Aku yang meminta Ben menemani ke mari


Mereka berbincang saling melepas rindu. Nora juga menceritakan program kehamilannya. Kejadian yang menimpanya juga. Laura mendengar dengan penuh perhatian.


Nora sangat senang Laura datang mengunjunginya. Dan Laura pun berjanji akan mengunjunginya lagi.

__ADS_1


Setelah bertamu sekitar satu jam lamanya, akhirnya Ben dan Laura pamit untuk pulang.


__ADS_2