Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Kepastian


__ADS_3

Suara Kokok ayam bersahutan membangunkan Laura yang masih terlena di alam mimpinya.


Ia menggeliat malas dan menarik kembali selimutnya, karena udara terasa dingin.


Namun, indera penciuman dan pendengarannya cukup tajam. Aroma harum masakan Ibu membuat perutnya bergejolak.


Lalu terdengar suara pegawai Ibu sedang cekikikan bersenda gurau dengan menggunakan bahasa Jawa di dapur


Laura membuka matanya, lalu menyibakkan tirai jendelanya. Ia terkejut mobil Radit telah terparkir di halaman rumah.


Laura mencari sandal jepitnya, lalu menuju kamar mandi. Setelah selesai urusan kamar mandi, ia menuju ruang tamu.


Ia masih menggunakan daster rumahan. Kini di ruang tamu sudah ada Radit sedang menatap layar monitor bersama Dewa.


"Selamat pagi Nona cantik." Sapa Radit.


"Kok pagi pagi sudah kemari?" Tanya Laura.


"Aku lapar." Jawab Radit dengan santai.


Di meja sudah ada aneka jajanan pasar bersama dua buah teko, berisi teh dan kopi.


"Sarapan, Mbak." Ajak Dewa pada Laura, sambil menuang kopi dalam cangkir untuk dirinya sendiri.


Laura menuju kursi dan menatap hidangan di meja. Aroma dan bentuknya sangat menggoda. Ia pun memilih dadar gulung untuk makanan pembukanya.


Radit tersenyum melihat wanitanya, yang dengan santai tengah menikmati sarapan sambil mengenakan daster. Wajah Laura terlihat lebih segar dan tanpa beban. Radit menyukai Laura saat itu.


"Kenapa liat liat? Pingin? Ambil sendiri tuh!" Ucap Laura membuyarkan lamunan Radit kala itu saat menatapnya.


Dewa tertawa melihat bos nya yang bisa bisanya terpesona melihat kakaknya yang hanya memakai baju daster rumahan.


"Mas Radit terpesona itu Mbak!" Ledek Dewa.


"Iya, aku jarang melihat kamu pakai baju daster." Ucap Radit sambil beranjak mendekati Laura dan duduk di sisinya, dan mencomot arem arem.


"Ada apa ini rame rame?" Tanya Ibu dari arah ruang tengah, dan ikut duduk bergabung di ruang tamu.


"Ga ada apa apa, Bu. Cuma guyonan saja. Ibu mau teh?" Jawab Laura sambil menawarkan teh pada Ibunya.


Ibu menganguk, lalu Laura menuang teh dalam gelas yang telah disediakan di meja, lalu menaruh di meja tepat depan Ibunya.


"Apa kabar Oma?" Tanya Ibu.

__ADS_1


"Oma sehat. Sekarang dia momong cicitnya di Jakarta. Cucunya Om Dimas." Jawab Radit.


"Loh, sepertinya anaknya tinggal di Surabaya?" Tanya Ibu sambil mengerutkan keningnya.


"Sudah pindah ke Jakarta." Jawab Radit.


"Loh, kok Ibu bisa tau keluarganya Radit?" Laura ganti tanya pada Ibunya.


"Omanya Radit itu langganan Ibu. Dimas itu temannya Bude Ning. Mantan pacar, tepatnya. Belum jodoh, tapi mereka tetap berteman menjalin silahturahmi. Buktinya waktu anaknya dulu mantu kita sekeluarga diundang. Acaranya kan di rumah Oma. Kalo sama Mamanya Radit, kita kenal semua. Siapa sih yang ga kenal Mamamu, gadis cantik idola satu sekolahan. Jaraknya kan cuma selang setahunan ya sama Dimas." Cerita Ibu tentang keluarga Radit.


"Salah satu yang membuatku ingin sekolah di Yogya adalah cerita masa masa sekolah dari Om dan Mamaku. Makanya aku memutuskan untuk kuliah di Yogya." Ungkap Radit.


"Tapi, Ibu masih ga percaya kalian yang selama ini terpisah, akhirnya bisa ketemu lagi. Ibu selalu berdoa yang terbaik untuk anak anak Ibu." Ucapan Ibu terasa menggantung. Laura melirik pada Ibunya.


"Doakan saya juga ya Bu." Pinta Radit. Ibu tersenyum sambil menepuk nepuk pundak Radit.


Mereka menghabiskan waktu sarapan sambil mengobrol panjang lebar. Banyak hal yang terungkap dari obrolan pagi itu.


Radit dan Dewa berpamitan untuk berangkat ke kantor sekitar pukul sembilan.


Kini tinggal Ibu dan Laura yang duduk berdua di ruang tamu.


"Jadi, kamu bersama Radit saat ini?" Tanya Ibu seolah menanyakan keputusan Laura.


"Beberapa hari yang lalu Eyang nya Dirga kemari menanyakan kesiapanmu. Mereka ingin segera melamarnya untuk Dirga. Itulah mengapa kalian harus cepat cepat ke Yogya. Eyang Kakung sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Ia ingin melihat cucunya menikah sebelum meninggal." Ucap Ibu.


Laura terdiam. Ia tak menyangka ternyata sebegitu inginnya Eyang menjodohkan Dirga dengan dirinya.


"Mengapa Dirga tak pernah membicarakan ini padaku." Gumam Laura.


"Sisil cerita, Lisa si artis itu kurang memenuhi standar keluarga mereka. Entah dari segi apa penilaiannya. Tapi menurut Ibu, mereka belum begitu mengenal Lisa, sebenarnya." Lanjut Ibu.


"Betul itu, Bu. Mereka belum mengenal baik Lisa, sebenarnya. Lisa itu anak yang baik. Hanya saja, kebetulan Mamanya adalah istri kedua, dan itu bukan pilihannya dia dilahirkan oleh siapa. Lagian istri pertama kabur saat tau Papanya sakit stroke. Meninggalkan dua anaknya." Ceplos Laura menceritakan keluarga Lisa.


Sontak mata Ibu membulat ingin tau kisah sebenarnya.


Laura menceritakan kisah hidup keluarga Lisa pada Ibu. Berkali-kali Ibu menepuk punggung tangan Laura, dan terlihat sesekali menyeka matanya yang berkaca-kaca.


"Samin beberapa kali memergoki Dewa terlihat akrab dengan Lisa, pas ikut ngantar makanan ke lokasi syuting. Katanya bukan sekedar teman kelihatannya. Seperti orang pacaran. Kata si Samin." Ucap Ibu.


"Nanti aku tanya ke Lisa langsung ya, Bu. Hari ini aku mau ke kantor Yogya. Ada beberapa pekerja yang harus diselesaikan. Jika sempat, nanti aku mampir ke tempat Lisa buat ngobrol langsung." Ucap Laura.


"Kapan kapan ajak Lisa main ke sini. Ibu kok pingin kenalan sama anaknya." Ibu menatap Laura seolah sebuah permintaan.

__ADS_1


"Baik. Dengan senang hati." Laura menjawab permintaan Ibunya.


Ibu melanjutkan kembali pekerjaannya di dapur bersama beberapa pegawainya untuk menyelesaikan pesanan katering untuk makan siang dan beberapa untuk acara.


Laura bersiap siap untuk pergi ke kantor untuk bekerja karena Dirga telah mengirimkan pesan untuk berangkat bersamanya.


Selang tak berapa lama mobil Dirga datang untuk menjemputnya. Lalu Laura pergi bersama saat dengan Dirga.


****


Selama beberapa hari Laura disibukkan dengan pekerjaan di kantor barunya. Sebenarnya, banyak yang mengenalnya, karena dulu Laura pernah bekerja di sana, namun karena saat ini Laura adalah Gwen, jadi ia sama sekali tidak mengenal orang orang di sana. Ia harus berakting untuk berusaha terlihat senatural mungkin seolah kenal dengan karyawan di sana yang masih mengenalnya.


Selama itu Dirga juga tak pernah membahas tentang Lisa sedikit pun pada Laura. Ia terlihat fokus untuk menyelesaikan hingga pembukaan toko Persada dan cafe cabang Yogya. Mereka bekerjasama dengan UMKM di Yogya untuk bergabung mengisi tempat itu. Beberapa pembeli dari luar negeri pun telah tertarik dengan produk yang mereka tawarkan.


Setelah hampir seminggu mereka mempersiapkan semua, Dirga dan Laura akhirnya dapat duduk di sudut cafe milik Dirga yang belum buka itu. Seorang pramusaji menyuguhkan kopi untuk keduanya dengan menggunakan gelas blirik dengan model kuno.


"Aku puas dengan hasil kerja kita." Dirga membuka percakapan.


Laura hanya mengangguk sambil tersenyum lebar.


"Lalu bagaimana kini kamu dengan Lisa?" Tanya Laura.


Dirga tak segera menjawab. Ia menghirup aroma kopi dari gelas bliriknya, lalu menyesapnya sedikit.


Ia meletakkan perlahan gelas itu ke meja lalu menatap Laura.


"Sepertinya aku akan mengakhiri hubungan kami secara baik-baik. Dan tak peduli lagi dengan perintah Eyang. Mereka telah menyusun acara pernikahan kita secara diam diam tanpa berbicara dulu pada kita. Aku kecewa, La." Dirga menumpahkan kekesalannya ke keluarganya pada Laura.


"Aku sudah ga mau lagi. Kehidupanku, kesenanganku, bahkan kisah cintaku. Aku ingin menikmati hidupku sesuai pilihanku. Seandainya aku tak diberi kepercayaan mengurus perusahaan pun, aku telah siap." Lanjutnya sambil menatap ke luar cafe melalui jendela.


Laura menghela napas panjang, lalu menepuk punggung tangan Dirga untuk memberi dukungan.


"Aku juga tau, saat ini Lisa dekat dengan Dewa. Sepertinya Lisa terlihat lebih bahagia bersama Dewa. Sebenarnya, aku pernah beberapa kali melihat Lisa bersama Dewa sewaktu di Jakarta kemarin, namun tak pernah kupedulikan. Namun, semakin dipikirkan, dan dilihat, Lisa terlihat lebih senang saat bersama adikmu itu." Dirga tersenyum kecut saat menceritakan Lisa dan Dewa.


Laura hanya diam, ia tak menyangka Dirga akan pasrah menerima itu semua.


"Lalu, bagaimana kamu dan Alma?" Tanya Laura.


"Alma?" Dirga hanya tersenyum menyebut nama itu.


"Aku ga yakin keluargaku akan bisa menerima dengan baik. Dia janda, pernah menikah. Mantannya melakukan kekerasan padanya, sehingga ia harus dirawat di rumah sakit. Dia masih trauma untuk menjalin hubungan dengan serius." Ucap Dirga.


"Jika kamu benar-benar serius dengan Alma, Aku dan Radit akan membantumu."

__ADS_1


Dirga membulatkan matanya ke arah Laura. Sekali lagi ia sungguh tak percaya, Laura benar benar teman yang baik untuknya.


__ADS_2