
Hari Sabtu pagi, Lisa mengantar Laura menuju kantornya untuk berkumpul dan berangkat menuju ke lokasi gathering seluruh karyawan kantor. Ada juga beberapa karyawan dari kantor cabang yang diundang menghadiri acara tersebut. Bus yang di sewa untuk membawa mereka ke puncak telah berada di halaman perusahaan Bu Sisil.
Dirga menjemput Mamanya di rumah. Sesampainya dalam rumah, Bu Sisil masih sibuk mempersiapkan perlengkapan yang akan dibawanya.
Sambil menunggu, Dirga masuk ke kamarnya, yang hampir setahun ini tak pernah benar benar ia tempati.
Kamar terlihat lebih rapi dari saat terakhir ia tempati. Sepertinya, pembantunya yang sering membersihkan dan merapikan kamarnya.
Kamar Dirga terletak di lantai dua, ia menatap teras luar melalui jendela kamarnya. Ia menyibakkan tirai penutup, dan cahaya matahari pun masuk perlahan menerangi ruangan itu.
Ia menatap meja belajarnya, sebuah foto keluarga terletak di meja. Tampaknya diambil saat kakaknya wisuda. Ia duduk di kursinya, lalu membuka lacinya.
Ia mengambil tumpuk album foto yang tersimpan dalam laci meja. Perlahan ia membukanya. Tampak foto foto saat SMA, terlihat ia dan Ben berpose bersama. Lalu bertiga bersama Radit. Foto foto bersama Mona dan Jane, lalu bersama teman teman dan guru saat sekolah dulu. Dirga tersenyum saat melihat foto foto itu, ingatan tentang kenangan saat SMA membuatnya tertawa kecil.
Lalu ia mengambil sebuah album foto yang terlihat lebih usang. Dibuka album foto itu, terlihat foto masa kecilnya, terlihat ia bersama Eyang di Yogya.
Lalu ia bersama Mbak Ayu, kakaknya memakai pakaian adat Jawa, saat mengikuti acara keluarga di keraton. Dirga berhenti saat menatap sebuah foto saat ia kecil bersama seorang gadis kecil bertubuh gemuk dengan rambut dikuncir ekor kuda.
"Apakah ini Laura?" Gumam Dirga.
Ia membuka lembar berikutnya. Tampak foto fotonya saat merayakan ulang tahun bersama teman temannya di sekolah. Lagi lagi ia foto bersama gadis gemuk itu. Lalu kepala Dirga terasa pusing saat mencoba mengingat sesuatu. Ia menutup album foto itu, dan meletakkan kembali di laci, lalu menutup lacinya.
Ia keluar dari kamarnya, dan turun menuju sofa ruang tengah, lalu menghempas tubuhnya di sana.
Tak lama Bu Sisil keluar dari kamarnya dengan menenteng sebuah tak koper berlogo brand Branded.
__ADS_1
"Duh, Mama, lama sekali, aku sampai mengantuk menunggu!" Keluh Dirga.
"Maaf, Dirga. Ini Pak Mino, mengantar Papamu ke bandara. Papa mau ke Yogya, jadi ga bisa mengantarkan Mama ke kantor. Makanya Mama minta kamu mampir, jemput Mama."
"Papa mendadak ke Yogya?" Tanya Dirga heran.
"Proyek Mbak Ayu dan suaminya dapat investor gede. Jadi, minta tolong Papa bantu mengurus proyek di Yogya. Udah yuk, kita jalan!" Jawab Mamanya, sambil berjalan menenteng tas kopernya.
Dirga membantu memasukkan koper mamanya ke bangku belakang, di samping ranselnya. Lalu ia masuk ke bangku kemudinya, dan menghidupkan mobilnya, lalu mereka menuju ke kantor.
Dirga menghampiri Lisa yang tengah berfoto bersama karyawan perusahaan di sana. Laura membantu mengambil gambar mereka.
Saat melihat Dirga berjalan ke arah mereka satu persatu karyawan berlalu sambil mengucapkan terima kasih. Laura pun ikut berlalu dari tempat itu juga, ia memberi waktu untuk Lisa dan Dirga.
"Maafkan aku, tidak pernah membalas kabar darimu." Ucap Dirga sambil menatap Lisa dalam dalam.
Mereka saling bertatapan untuk sesaat. Lama tak berjumpa seakan membuat mereka seolah ada jarak kembali.
Laura melirik ke arah Lisa dan Dirga sambil senyum-senyum sendiri. Lalu ia membalas wa dari Dewa adiknya yang mengabarkan, bahwa bude sedang sakit.
Laura membalas wa dari Radit juga, yang mengabarkan ia juga sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta kembali dari Lampung. Laura pesan oleh oleh juga pada Radit, dan mengancam tak mau bertemu jika tak dibawakan buah tangan dari sana, namun, sambil bercanda.
Berulang kali Radit membalas dengan emoticon tertawa pada Wa nya. Laura selalu merasa senang saat bercanda dengan Radit.
Dari kejauhan Dirga melirik ke arah Laura yang sibuk dengan ponselnya sambil mendengarkan Lisa bercerita tentang rencana pembuatan film yang dibintanginya di Yogya. Sesekali Dirga menimpali, atau hanya tersenyum saja.
__ADS_1
Lisa pun merasa ada yang aneh pada diri Dirga saat itu. Ia merasa Dirga tak sepenuhnya memperhatikan ceritanya, pikiran Dirga entah ada dimana saat itu. Akhirnya, ia pun berpamitan, beralasan akan menuju ke lokasi syuting, padahal sebenarnya ia ijin ke lokasi agak siang, karena ingin sedikit lebih lama bersama Dirga. Namun, Dirga yang seperti itu, membuatnya ingin segera berlalu meninggalkan tempat itu.
Saat Lisa pergi, Laura segera mengejarnya.
"Heh, kok sudah balik? Kita kan masih sekitar satu jam lagi." Tanya Laura.
"Dirga sepertinya sedang banyak pikiran. Akhir akhir ini seolah kami berjarak, dia tidak seperti dulu lagi." Lisa berkeluh kesah.
Laura mendengarkan sahabatnya dengan sabar, lalu ia menepuk pundaknya.
"Dapat salam dari Dewa." Ucapnya. Lisa hanya tersenyum menanggapinya.
"Kalian sering berkomunikasi?" Tanya Laura sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, ga sengaja." Jawab Lisa.
"Jangan buat Dewa sebagai pelarian Lo . Gue ga mau dia terluka karenanya." Pesan Laura.
"Iya, gue janji, La. Ah, entahlah, gue cabut aja dulu ya. Have nice day, sukses buat acara gatheringnya." Ucap Lisa, sambil memeluk sahabatnya sebelum berpisah.
"Hati hati di jalan." Ucap Laura, sambil mengurai pelukan sahabatnya itu.
Laura melambaikan tangan ke arah Lisa, dan menatap sahabatnya itu hingga masuk ke dalam mobil dan menghilang di keramaian kota Jakarta.
Dirga menyaksikan keduanya tanpa ekspresi. Sakit kepalanya sering tiba tiba kambuh dan membuatnya kehilangan fokus. Kelebatan bayangan ingatan tentang Laura yang melambaikan tangan padanya terus terbayang, dan membuat kepalanya sakit.
__ADS_1
Ia ingin menanyakan pada Mamanya, namun ia takut mengetahui yang sebenarnya. Dirga merasa menjadi sangat pengecut sekali saat ini. Ia ingin menyendiri saja sambil menikmati sebatang rokoknya sambil duduk menatap hiruk pikuk karyawan kantor dan teman temannya yang akan pergi berwisata.