Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 45


__ADS_3

“Minggu depan?? Satu minggu lagi??” bunda Wike terkejut mendengar perkataan Satya.


“Apa itu tidak terlalu terburu – buru, Satya?” tanya Pak Dika.


“Satya tidak ingin menunda niat baik terlalu lama.” Jawab Satya.


“Iya sayang, bunda mengerti. Tapi satu minggu?? Bagaimana bunda bisa menyiapkan semuanya dalam satu minggu sayang?”


“Satya hanya akan akad nikah dulu, Bunda. Sedangkan acara resepsinya harus menunggu Satya dan Nia sama – sama mempunyai waktu luang. Belakangan Satya sibuk dengan kampus dan proyek kantor, bunda. Nia pun sebentar lagi akan ujian semester.” jelas Satya.


“Apakah keluarga Pak Wijaya sudah setuju mengenai hal itu?” tanya Pak Dika.


Satya mengangguk, “Sudah, mereka berniat melaksanakan akad nikah di kediaman mereka.”


“Baiklah kalau begitu. Ayah pun tidak keberatan dengan keputusanmu.” Ucap Pak Dika dengan bijaksana.


“Oke, sepertinya Bunda hari ini akan sibuk berbelanja seserahanmu besok. Tunggu dulu, bunda juga harus menelpon saudara – saudara kita.. Aaargh, sepertinya aku akan sibuk sekali hari ini!”


Satya memeluk Bunda wike dengan lembut.


“Terimakasih bunda.” Ucap Satya tulus.


“Bunda sangat bahagia sayang, bunda juga merestui hubungan kalian.” Bunda Wike pun membalas memeluk putra semata wayangnya itu.


Pak Dika tersenyum simpul melihat istri dan anaknya.


“Sepertinya hotel kita yang di Surabaya akan menjadi proyek keluarga, Satya.” Ujar Pak Dika.


“Sepertinya begitu Ayah. jika tidak dengan anaknya, Satya akan mengurus hotel itu dengan ayah mertua Satya, benarkan Ayah?” ucap Satya


“Iya, kau benar” Pak Dika tersenyum lebar.


“Ayah ikut berbahagia untukmu,Nak. Ayah juga senang karena calon menantu ayah adalah putri dari keluarga Wijaya. Ayah yakin kamu tidak salah mencari calon istri.”


“Terimakasih Ayah.” Ucap Satya tulus.


“Lalu sekarang, apa jadwalmu hari ini?” Tanya Pak Dika.


“Satya akan ke kampus dan akan mampir ke kantor sebentar nanti. Untuk seserahan besok Satya percayakan kepada Bunda, iyakan Bun?”


“Iya sayang, iya… serahkan semua kepada Bunda! Oh, tapi kamu harus membeli cincin pertunangan Satya. Kamu harus membelinya sendiri. Lagipula Bunda tidak tahu ukuran jarimu dan Nia.”


Satya tampak berpikir sejenak.” Baik Bunda.”


Di sisi lain, Nia yang hari ini memutuskan untuk tetap masuk kuliah pun harus mengalami pagi yang benar – benar sibuk. Lebih tepatnya pagi yang kacau! Karena lagi dan lagi ia harus bangun kesiangan.


Kejadian kemarin malam membuatnya tidak bisa tidur dan baru memejamkan matanya saat menjelang dini hari.


“Sorry, sorry gaes…awas.. awas..!!” teriak Nia di sepanjang koridor kampus.


“Duh, mampus kalau gue harus telat lagi di jam Pak Satya nih! Mama kenapa gak bangunin Nia sih?!” gerutu Nia dalam hati sambil terus berlari menuju kelasnya.


BRUKKK!!!


“Awww…!!! Duh, kalau jalan lihat – lihat donk!!” seru Nia sambal mengelus pantatnya yang mencium lantai.


“Kamu bahkan berlari dengan kondisi kaki seperti itu??” tanya seseorang yang ditabraknya.


Nia pun mendongakkan wajahnya. Ia kaget sekaligus tertegun melihat seseorang yang kini tengah berdiri di hadapannya.


Dan entah untuk keberapa kalinya ia kembali jatuh cinta pada seseorang di hadapannya itu.


“Gue kok ngerasa de javu gini sih?” batin Nia.


“Eh.. ma..maaf Pak, saya terburu – buru. Saya tidak melihat Bapak.” Ujar Nia dengan wajah merah merona menahan malu.


“Saya bertanya, kamu masih bisa berlari dengan kondisi kaki seperti itu?? Kamu seharusnya lebih berhati – hati Nia.” Ucap Satya yang hanya bisa geleng – geleng kepala melihat kecerobohan Nia.

__ADS_1


“ Maaf pak.” Ucap Nia lirih.


Satya pun mengulurkan tangannya. Hendak membantu Nia untuk berdiri.


Nia justru  tercenung menatap Satya dan menatap tangan Satya yang terulur tepat dihadapannya.


“Kamu masih ingin terduduk disini?” ucap Satya yang melihat Nia terdiam tanpa reaksi.


 Nia pun meraih tangan Satya yang masih terulur kepadanya.


Satya pun berjalan menuju kelas dengan Nia yang mengekor di belakangnya.


Satya sengaja memperlambat langkahnya, agar Nia juga bisa berjalan dengan perlahan.


“Dasar…. Bagaimana bisa dia berlari seperti itu dengan kaki yang baru saja sembuh.” Batin Satya yang terus melangkah ke depan.


Mata kuliah yang diampu Satya berjalan seperti biasanya. Semua mata fokus tertuju pada dosen yang sedang memberikan materi. Satya benar – benar sangat profesional. Ia menjelaskan dengan jelas dan tenang walau sesekali ia beradu tatap dengan Nia.


Begitu pula dengan Nia, ia berusaha untuk fokus walau sesekali ia tersenyum sendiri mengingat bahwa ia sudah di lamar oleh Satya, dosen yang sedang mengajarnya kini. Dosen pujaan hatinya!


“Oke, sampai disini pertemuan kali ini. PJ, kumpulkan tugas hari ini di ruangan saya secepatnya!” perintah Satya.


Satya pun meninggalkan kelas berjalan menuju ke ruangannya.


Nia pun menyusul Satya ke ruangannya setelah mengumpulkan semua tugas milik teman – temannya.


Selalu saja jantung Nia berdegup kencang saat akan memasuki ruangan Satya. Bahkan disaat kini mereka sudah menjalin hubungan.


“Haduh… jantung gue.., masih aja gini!!!” ucap Nia lirih dari balikpintu ruangan Satya.


Tokk… tok.. tok…


“Permisi pak.”


“Masuk!” ucap Satya.


Dan Nia kembali tertegun meluhat pesona Satya yang seakan tiada habisnya.


“Duduklah dahulu! Aku akan menyelesaikan ini sebentar.” Perintah Satya menunjuk sofa di depannya.


Nia pun berjalan menuju sofa yang ditunjuk dan duduk manis disana. Menunggu Satya yang masih sedikit bergelut dengan laptopnya.


Tak menunggu lama, Satya pun ikut duduk di sofa di samping Nia.


“Ini tugasnya pak.” Ucap Nia.


“Oke.” Satya menerima lembaran kertas itu lalu menaruhnya kembali di atas meja.


“Setelah ini kamu masih ada kelas?” tanya Satya.


“Masih ada satu kelas pak.”


“Selesai jam berapa?”


“Sekitar jam sebelas pak. Ada apa pak?” tanya Nia kembali.


“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kalau begitu masuklah ke kelasmu, aku akan menunggu di sini.” Ucap Satya.


Nia hanya mengangguk tanpa kata. Dalam hatinya masih menyimpan tanda tanya kemana Satya akan mengajaknya pergi.


Setelah menunggu cukup lama, Satya pun memutuskan untuk menunggu Nia di dalam mobilnya.


Aku menunggumu di parkiran mobil. Segeralah kesini jika kelasmu sudah


selesai.


Satya

__ADS_1


Nia tersenyum manis menerima pesan dari Satya tepat saat ia melangkah keluar kelasnya.


“Nia!! Loe gak ke kantin dulu??” seru Nindya setengah berlari mengejar Nia.


“Sorry gaes, gue duluan ya. Ada urusan dikit.” Ucap Nia pada Nindya dan Ayu yang berhasil mengejarnya.


“Loe sakit lagi Nia?” tanya Ayu khawatir.


Nia menggeleng seraya tersenyum manis.


“Loe aneh deh! Sejak tadi masuk kelas senyum – senyum mulu.”  Kata Nindya yang curiga melihat tingkah laku Nia.


“Sorry ya gaes, ntar kalau sudah waktunya gue pasti cerita sama kalian. Sekarang gue cabut dulu ya!” pamit Nia seraya meninggalkan dua sahabatnya itu.


Nindya dan Ayu hanya bisa melongo melihat kepergian sahabatnya itu.


“Aneh tuh anak! Kemarin sedih nangis – nangis sekarang senyum – senyum gak jelas!” celetuk Nindya.


“Udah ah! Kantin yuk!” ajak Ayu.


Sesampainya di parkiran mobil, Nia celingukan mencari keberadaan mobil Satya.


Hingga matanya menemukan Satya yang sedang berdiri bersandar pada mobilnya yang terparkir di bawah pohon rindang.


“Wah… dia memang selalu terlihat keren!” ucap Nia lirih.


Nia segera berjalan mendekat.


Parkiran itu adalah parkiran khusus dosen. Sehingga jarang ada mahasiswa yang melintas di area parkiran.


“Kelasmu sudah selesai?” sapa Satya.


Nia mengangguk.


“Ayo naik!” perintah Satya seraya membukakan pintu untuk Nia.


“Kita mau kemana pak?” tanya Nia yang kini duduk di samping Satya yang mengemudikan mobilnya memecah  jalanan kota.


"Kita harus membeli sesuatu” ucap Satya yang kemudian membelokkan mobilnya memasuki sebuah pusat perbelanjaan ternama.


Satya dan Nia turun dari mobil dan melangkah masuk. Satya tersenyum simpul yang melihat Nia kembali berjalan di belakangnya.


“Sudah ku bilang, berjalanlah di sampingku.” Ucap Satya menggenggam tangan Nia, dan mensejajarkan langkahnya.


“Mulai sekarang, selalu berjalanlah di sampingku. Kamu mengerti?” ucap Satya yang makin mempererat genggamannya.


Nia pun mengangguk dan tersenyum. Ia benar – benar bahagia saat ini. Bahkan Satya tidak merasa canggung berjalan dengannya.


“Pilihlah salah satu. Yang mana yang kamu sukai.” Ujar Satya.


Nia kembali terdiam. Dan Satya hanya bisa tersenyum melihat Nia.


“Tolong perlihatkan semua cincin pasangan yang terbagus!” perintah Satya pada pramuniaga yang melayaninya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2