Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 48


__ADS_3

Tok.. tok.. tok..


Nia menoleh ke sumber suara.


“Hari ini kamu masih masuk kuliah, sayang??” tanya Mama Dessy yang melihat Nia masih memasukkan sejumlah modul ke dalam tas nya.


“Iya ma…”


“Tapi kamu besok lusa sudah acara akad nikahmu lho Nia..”


“Iya ma.. besok Nia akan ambil libur. Lagipula hari ini Nia masih ada sedikit urusan ma..”


“Oke, baiklah. Ya sudah ayo sarapan dulu!”


“Makasih ma, Nia langsung berangkat aja. Sudah terlambat.” Ucap Nia seraya mencium punggung tangan mamanya berlari keluar dari kamarnya.


Mama Desyy hanya menggeleng pelan.


“Tingkahnya masih seperti anak kecil dan kini dia akan menikah….”


Nia duduk sendiri di sudut taman kampusnya. Sesekali ia melirik arloji di pergelangan tangannya. Wajahnya nampak cemas seperti sedang menunggu seseorang.


“Sudah lama menunggu??” sapa Niko mendekat.


“It’s oke Nik..” jawab Nia.


Niko pun duduk bersebelahan dengan Nia.


“Ada apa?” tanya Niko kembali.


Nia menghela nafasnya.


“Gue bingung harus mulai darimana… besok lusa…..” Nia tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.


“Kenapa besok lusa?” tanya Niko


“Emmmm… emmm… itu…”


“Its oke Nia, gue udah mempersiapkan hati gue.” Ucap Niko seakan mengerti kemana arah pembicaraan Nia.


“Sorry Nik, besok lusa gue nikah. Jika loe berkenan, gue ingin loe datang di hari bahagia gue.”


“Dan gue yang bersedih?” timpal Niko.


“Sorry Nik, bukan begitu maksud gue. Bagaimana pun gue masih menganggap loe sahabat gue. Gue ingin berbagi kebahagiaan gue sama sahabat – sahabat gue. Jadi gue berharap loe bisa datang di hari bahagia gue.” Ucap Nia tulus.


Niko terdiam, memandangi paras ayu Nia, yang selama belasan tahun terakhir selalu menjadi sahabatnya. Selalu mengisi hari – harinya, tidak hanya dengan tawa canda namun juga dengan derai airmata bahkan pertengkaran ego yang seketika itu juga bisa berubah menjadi pelukan hangat.


Kini sepertinya ia harus benar – benar melepas cinta pertamanya itu. Merelakannya pergi untuk meraih kebahagiaannya sendiri. Menggapai cinta yang memang sudah seharusnya.


“Oke liat nanti aja ya.” Ucap Niko seraya berdiri meninggalkan Nia.


Nia menatap kepergian Niko dengan hati yang sedih. Jauh di dalam lubuk hatinya ia ingin tetap bersahabat dengan Niko, tidak ingin kehilangan seorang sahabat seperti Niko.


Namun ia berpikir untuk tidak egois. Ia memahami jika hati Niko saat ini pasti terluka dan ia justru menaburkan garam diatasnya.


“Biarkanlah, setidaknya aku sudah memberitahunya jika tanganku masih terbuka untuknya, sebagai seorang sahabat.” Ucapnya seraya beranjak dari tempat itu.


Nia berjalan melalui koridor kampusnya. Dan untuk kesekian kalinya ponselnya kembali berdering. Tadi saat sedang berbincang dengan Niko ponselnya juga berdering, namun Nia sudah mengubahnya ke mode silent.


Kini saat Nia akan mereset kembali mode deringnya, ponselnya kembali berbunyi.


“Halo..”


“…”


“Sudah.”


“…”


“Iya…”


Nia pun melangkah ke salah satu sudut gedung kampusnya. Senyum kembali merekah di wajahnya. Suasana hati Nia begitu cepat berubah.

__ADS_1


“ Tumben Pak Satya telpon melulu… “ batin Nia sembari mempercepat langkahnya.


ToK.. tok.. tok…


Satya yang sedang duduk di ruangannya segera bangkir dan berjalan menuju pintu.


Satya membuka sendiri pintu ruangannya. Hal yang sangat jarang dilakukannya. Bahkan Nia sendiri terkejut hingga mematung di depan pintu.


“Kenapa berdiam saja disitu? Masuklah!” ucap Satya.


Nia hanya mengangguk patuh dan melangkah masuk.


Satya menutup pintu.


Tanpa basa – basi Satya memeluk Nia dari belakang.


“Pak Satya!” seru Nia terkejut.


“1 menit saja. Tolong diamlah seperti ini, jangan bergerak.” Ucap Satya masih memeluk Nia dari belakang.


“Entah mengapa aku begitu merindukanmu hari ini.” Imbuhnya.


Nia terdiam tidak bergerak sama sekali. Membiarkan Satya memeluk dirinya. Hatinya berbunga – bunga mendengar pengakuan Satya yang begitu merindukannya hari ini.


“Lusa kita akan menikah Pak…”


“Maka dari itu, kenapa rasanya bisa sangat lama sekali…???!!” gerutu Satya.


Nia tersenyum gemas melihat sikap Satya yang bisa begitu berbeda dengan Satya sang dosen killer.


“Bersabarlah sedikit Pak Satya….” Ujar Nia.


“Ini sudah 1 menit pak…” ucap Nia mengingatkan.


Satya pun melepaskan pelukannya lalu menuntun Nia duduk di sofa ruangannya.


“Kelasmu sudah selesai bukan? Tunggulah disini sebentar, aku masih ada 1 kelas lagi. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang.” Ucap Satya.


Nia menggeleng.


“Selain alasan itu, hari ini Nia sudah ada janji.” Kata Nia.


“Janji?? Dimana? Dengan siapa? Laki – laki atau perempuan?”


Nia tertawa diberondong ratusan pertanyaan oleh Satya.


“Di sunset café, sama anak – anak.”


“Anak – anak?? Siapa aja? Ada Niko juga?”


“Memangnya kalau ada Niko kenapa? Pak Satya cemburu?” tanya Nia sedikit menggoda.


“Tidak!!”


“Hmmmm…. Gemesin banget deh!!” kata Nia menggoda Satya.


Nia tersenyum.


“Ada atau tidaknya Niko, tidak akan pernah mengubah perasaan saya kepada Bapak. Dari awal hati saya sudah memilih bapak. Jadi tenang saja Pak..” Ucap Nia mengedipkan satu matanya.


Satya tersenyum malu – malu mendengar pengakuan Nia untuk yang kesekian kalinya.


“Saya berangkat ya pak! Anak – anak pasti sudah menunggu.” Kata Nia seraya berdiri meninggalkan ruangan Satya


“Nia!! Kamu tidak melupakan sesuatu??” seru Satya saat Nia akan membuka pintu.


Nia menautkan alisnya. Sorot matanya menyiratkan tanda tanya.


Satya pun menunjuk pipi kirinya.


Nia pun mengerti arti “melupakan sesuatu” yang dimaksud Satya.


“Enggak Pak! Besok lusa aja!!” seru Nia seraya segera berlari keluar ruangan Satya.

__ADS_1


“Niaaaaaaaa….”


Nia semakin mempercepat langkahnya berlari meninggalkan ruangan Satya sambil tertawa terbahak – bahak.


**


Di sudut Sunset Café, Nindya dan Ayu sudah duduk manis menunggu kedatangan Nia yang sudah benar – benar terlambat dari waktu janjian mereka.


“Kebiasaan tuh Nia, dia yang ngajak nongkrong, dia juga yang telat datang!” kata Nindya.


“Sudah… tungguin aja dulu kan. Dia masih ada urusan kali.” Ucap Ayu yang duduk santuy menikmati smoothis favoritnya.


Tak lama kemudian, Nia datang dengan nafas yang terengah – engah karena berlari.


“Sorry… sorry gaes. Gue telat banget ya? Sorry banget…” ucap Nia menelungkupkan tangannya ke depan dada.


“Gak apa – apa Nia, setengah jam ini…” sindir Nindya.


“Sorry Nin… tadi gue ada sedikit urusan. Sorry ya..??”


“Ya udah lah… yang penting loe udah nyampe sini juga kan.. pesen minum dulu gih!” kata Ayu


Nia pun memanggil waitress lalu memesan minuman favoritnya.


“Gaes, kalian sabtu besok ada acara gak?” tanya Nia.


“Sabtu, besok lusa??” tanya Nindya


Nia mengangguk cepat.


“Gue nggak ada sih… secara gue juga gak punya pacar, otomatis weekend gue kelam!” jawab Nindya.


“Kalau loe Ay?” tanya Nia.


Ayu menggelengkan kepalanya.


“Nah, baguslah! Weekend besok, kalian berdua gue undang ke acara gue. Dan


gue jamin Nin, weekend loe gak bakalan kelam!” kata Nia.


“Acara makan malam relasi bisnis bokap loe lagi ya? Ah, males gue…” ucap Nindya.


Nia menggeleng.


“Besok lusa, acara yang sangat spesial buat gue.” Kata Nia.


“Eh, ultah Nia masih lama kan, Ay??” tanya Nindya pada Ayu yang duduk di sampingnya.


Ayu pun menganggukcepat.


“Gini, karena loe berdua adalah sahabat gue, secara khusus gue berbagi satu rahasia sama kalian. Tapi setelah ini, gue minta tolong kalian jaga rahasia gue dari temen -  temen kampus.” Ucap Nia serius.


“Apaan sih Nia, loe serius banget! Emang loe mau nikah?” tanya Nindya santuy.


Nia mengangguk.


“Ha??!!!!”


“Iya, besok lusa gue mau nikah… sama Pak Satya…” ucap Nia tenang.


“Whaaaaaaaatt???!!!!! Hahahahahahahaha….” Ayu dan Nindya tertawa terbahak – bahak.


“Ngehalu mulu nih anak,Ay…”


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2