Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 26


__ADS_3

Tiara berdiri di depan gerbang rumahnya dengan hati dongkol. Bagaimana tidak, jika dirinya sudah siap untuk berangkat ke sekolah justru si pingky, motor matic kesayangannya ngambek.


Lagi dan lagi.


Entah mengapa Tiara sangat sayang dengan motor maticnya yang sering ngambek itu. Padahal sudah seringkali ayahnya menawari untuk membelikan motor yang baru, tapi Tiara selalu menolaknya dan berkata Si Pingky baik – baik saja.


Dasar gadis aneh!


Ttin.. tiin..


Sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Seorang pria turun dari sisi kemudi.


“Tiara, ngapain pagi-pagi mukanya udah di tekuk gitu...??  cantiknya ilang lho.”


“Eh, kak... si pinky ngambek kak, ini aku mau pesen ojek online. Kakak mau jemput Kak Nia...??”


Pria itu yang tak lain adalah Niko, mengangguk.


“Lhah..Kak Nia udah berangkat ama papa. Katanya mulai magang di kantor papa  hari ini. Kak Niko gak dikasih tahu..??”


Niko menggeleng, tersenyum kecut. Lalu kembali masuk ke dalam mobilnya.


“Ayo kakak anterin!” ajak Niko melangkah memutar ke mobilnya.


“Gak ngerepotin nih kak??” Tiara tentu sangat senang bisa berduaan bersama Niko.


“Ya enggaklah Tiara, kita searah juga. Lagian nanggung juga, kakak udah terlanjur kesini, kursi kosong Nia bisa kamu tempati.” Niko mengedipkan matanya.


“Jangankan kursi, hati kakak yang kosong pun Tiara juga mau menempatinya kak.” Batin Tiara.


Tiara menyusul Niko yang sudah masuk kedalam mobil terlebih dahulu.


Mobil Niko pun segera meluncur memecah jalanan, menuju sekolah Tiara.


 “Kamu bentar lagi lulus donk Tiara...??” tanya Niko dengan sesekali melirik Tiara.


“Iya kak, beberapa bulan lagi UN..” jawab Tiara datar.


“Kamu rencana mau ngelanjutin kuliah dimana..?”


“Mungkin barengan ama Kak Nia aja, kak.”


“Bareng ama kampusnya Kak Niko juga donk..! wah, seger nih, kalau ada maba cewek cantik nan imut kayak kamu,Tiara!” goda Niko.


Tiara tersenyum tersipu malu mendengar pengakuan Niko.


“Nanti kalau kamu lulusndengan nilai baik dan bisa masuk di kampusnya kakak, kakak janji akan memberimu hadiah.” Imbuh Niko.


“Hadiah..?? hadiah apa kak?” Tiara membeo


“Kamu yang pilih sendiri, kamu boleh minta apa aja sama kakak.” Ucap Niko tanpa keraguan.


Tiara tersenyum bahagia,”Beneran boleh minta apa aja kak..??”

__ADS_1


Niko mengangguk, masih fokus menyetir.


“Janji..??”


“Iya, janji.” Niko mengelus puncak kepala Tiara.


“Awas ya, jangan sampe ingkar. Tiara bakalan tagih ya!!.”


 Niko tersenyum simpul, mengacak pelan rambut Tiara.


Hati Tiara menghangat ia akan lebih bersemangat belajar agar bisa lulus dengan nilai cemerlang dan bisa masuk ke kampus yang sama dengan Niko. Selangkah lebih dekat dengan cinta pertamanya.


Sementara itu, mulai hari ini Nia magang di kantor papanya. Perusahaan yang pada akhirnya akan menjadi miliknya dan Tiara.


Nia yang selama ini tidak pernah ikut papanya ke kantor, sontak menjadi pusat perhatian karyawan lain sejak menginjakkan kakinya di perusahaan tersebut.


Banyak karyawan yang berbisik - bisik ingin tahu apa hubungan gadis cantik yang berjalan di samping pemilik perusahaan tersebut. Pun tidak sedikit yang mengagumi kecantikan dan aura ketegasan di wajahnya.


Ayah dan anak itu menaiki lift yang khusus diperuntukkan untuk para eksekutif, menuju ruangan papanya di lantai 10.


“Selamat pagi, Clara.” Sapa Pak Wijaya pada sekretarisnya. “Ke ruangan saya sebentar.”


“Selamat pagi, pak”


Wanita cantik dengan tinggi semampai itu membungkukkan badannya hormat. Seraya mengikuti perintah atasannya memasuki ruang kerja yang luas itu.


“Clara, kenalkan ini anak sulung saya, Nia. Mulai hari ini dia akan magang disini, tolong kamu dampingi dia, juga jelaskan tentang bisnis dan keadaan perusahaan.”


Clara menatap sekilas seraya membungkuk pada gadis cantik yang berdiri disamping atasannya itu. Jika dilihat sekilas, usianya mungkin tidak terpaut jauh. Nia mungkin 5 atau 6 tahun lebih muda darinya.


“Baik pak.”


“Sebenarnya papa malah kepengen kamu langsung jadi wakil papa, Nia. Itu malah mencakup semua materi kuliahmu, kamu bisa langsung praktek. Toh nantinya kamu juga yang akan meneruskan semua usaha papa, itung-itung belajar dari sekarang.”


“Nia masih belum mampu pa... Kuliah aja belum lulus.sekarang ini baru magang lho pa, magang.”


“Maka dari itu, kamu belajar dulu sama Clara, biar kamu paham dan mengerti kondisi perusahaan. Nanti jika dirasa mampu, baru kamu gantiin papa.”


“Iya deh pa.. KakClara, mohon bantuannya ya!” Nia tersenyum manis kepada sekretaris papanya itu.


“Tentu saja Non Nia.” ucap Sekretaris Pak Wijaya itu.


“Clara, apa jadwal saya untuk hari ini??” tanya Pak Wijaya seraya duduk di kursi kebesarannya.


Clara mendekat ke meja atasannya itu lalu menyerahkan sejumlah berkas.


“Ini ada beberapa berkas yang butuh persetujuan Bapak. Sudah saya cek, dan semuanya tidak ada masalah, Pak.”


“Oke, nanti saya cek kembali. Ada lagi??”


“Makan siang nanti kitaada pertemuan dengan perwakilan dari perusahaan yang akan kerjasama dengan kita untuk pembangunan hotel di Surabaya,Pak.” Terang Clara seraya menyerahkan lagi berkas ke meja atasannya.


“Oke. teriakasih Clara. Nanti kamu juga ikut Nia! Ya sudah, kamu boleh keluar Clara, ajak Nia juga.”

__ADS_1


“Baik pak.” Clara pamit meninggalkan ruangan atasannya diikuti Nia dari belakang.


Selama magang, Nia di tempatkan di satu ruangan bersama Clara. Tepat disamping ruangan Papanya.


Clara dengan sabar dan telaten membimbing dan menjawab berbagai pertanyaan dari Nia.


Mungkin karena usia yang tidak terlalu jauh, Nia pintar membawa diri serta cepat memahami pekerjaan yang ditugaskan kepadanya, dalam waktu singkat saja Nia sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan kerjanya.


“Nia harus ikut juga pa??” tanya Nia saat berada di dalam mobil yang membawa mereka bertiga bertemu dengan rekan bisnis papanya.


“Harus donk, kan ini proyek kamu.”


“Proyek Nia?? Kok Nia?!”


“Iya, sekalian kamu belajar jadi penerus papa. Papa tetep awasi kamu Nia, tenang aja. Ada Clara juga yang siap bantu kamu. Benarkan Clara??”


“Benar Pak.” Ucap Clara menatap atasannya lewat kaca spion.


Tak lama berselang mobil yang mereka tumpangi memasuki salah satu restoran ternama. Pak Wijaya, Nia beserta Clara turun dari mobil tersebut.


Clara berjalan mendahului atasannya, menunjukan dimana tamu mereka duduk.


Clara menunjuk seorang pria yang duduk sendirian di sudut ruangan, membelakangi mereka.


“Silakan Pak." Tunjuk Clara mempersilahkan Pak Wijaya dan Nia berjalan mendahuluinya.


“Maaf sudah menunggu lama, Pak.” Ucap Pak Wijaya.


Pria yang dimaksud itupun berdiri membalikkan badannya, menyalami orang yang ada dihadapannya.


Nia terperangah kaget, melihat sosok yang disebut rekan bisnis papanya itu. Begitu pula dengan pria itu, dia tidak menyangka akan bertemu gadis itu disini.


.


.


.


.


.


.


.


Hai Readers, ini adalah karya pertama Author, mohon maaf jika masih agak kaku ya.


Jangan lupa like dan koment, supaya Author lebih bersemangat lagi dalam berkarya.


Terimakasih.


.

__ADS_1


.


__ADS_2