Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Pertemuan dengan Nora


__ADS_3

Laura membantu di dapur panti, sore itu. Ia membuat bakwan dan pisang goreng untuk kudapan sore. Laura bersama beberapa anak penghuni panti sibuk di dapur.


Di ruang tamu, terdengar ada tamu dari Jakarta.


"Iya, Ibu yang kemarin, yang pesan tas rajut, dan kalung itu." Ucap seorang anak panti.


"Oh, yang cantik itu ya? Wah, akhirnya produk kita bisa keluar negeri." Jawab yang lain.


Laura hanya menghentikan kegiatannya sejenak dan menoleh pada dua gadis yang sedang berbincang itu.


"Siapa sih?" Tanya Laura penasaran.


"Itu kak, ada seorang Ibu, beberapa bulan yang lalu datang kemari untuk mencari anaknya, katanya. Lalu sering datang untuk memberi sumbangan, dan tertarik dengan kerajinan buatan kami. Lalu dia memborong semuanya. Sebulan yang lalu dia datang, memesan 100 pcs tas rajut dan kalung. Mintanya sih 50 pcs, tapi jika lebih akan dibelinya semua juga. Hari ini akan diambilnya. Katanya mau dijual ke luar negeri." Terang seorang gadis itu.


Laura hanya mengangguk, dia penasaran dengan Ibu yang diceritakan gadis itu.


Selesai membuat kudapan, dua gadis itu menyusun di piring dan menaruh di ruang makan. Mereka menyiapkan minuman untuk semua anak dan penghuni panti yang lain.


Sore itu semua menikmati kudapan sore bersama, dan Ibu yang yang memborong kerajinan tadi juga bergabung bersama mereka.


"Kenalkan ini Kak Laura, dia sering datang kemari dan bergabung bersama anak anak di panti asuhan. Dia juga salah satu kepercayaan Madam Lulu dalam pembangunan sekolah gratis." Suster kepala mengenalkan Ibu itu pada Laura.


"Saya Nora." Ucapnya mengenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


Laura dan Nora saling berjabat tangan. Senyum tersungging di bibir keduanya. Mereka duduk satu meja, sambil menikmati bakwan dan pisang goreng, ditemani secangkir teh hangat.


"Teh nya sangat harum. Entah kenapa setiap disuguhi teh di sini selalu nikmat, namun saat membuat teh sendiri di rumah rasanya tidak senikmat ini." Keluh Laura.


"Karena teh di sini pemberian Ibu Nora. Langsung dari petaninya, belum masuk pabrik. Pengolahannya masih alami." Terang Suster kepala. Nora hanya tersenyum mendengarnya.


"Benarkah?" Laura terkejut, lalu menatap Nora, untuk memastikan.


"Iya, jika kamu mau. Kapan kapan saya bawakan. Teh dari pabrik, kebetulan suami saya memiliki kebun teh di puncak. Atau jika kamu ada waktu, main main ke sana sambil refreshing." Nora menawari.

__ADS_1


"Bolehkan?"


"Tentu saja boleh."


Sore itu mereka menikmati kudapan sambil mengobrol, terlihat beberapa anak juga mengobrol bersama mereka dan bersenda gurau.


Malam itu Nora meminta ijin untuk menginap di sana, karena takut jika harus perjalanan malam sendiri. Begitu juga Laura, seakan ia masih butuh sedikit waktu untuk menenangkan pikiran dan hatinya.


Selesai makan malam, Laura duduk di kursi teras halaman belakang, sambil menikmati suara jangkrik dan tokek. Laura mencharger ponselnya, yang mati kehabisan batere kemarin. Seharian ia belum menyentuh ponselnya.


Nora duduk menemaninya.


"Jadi apa pekerjaanmu?" Tanyanya.


"Aku bekerja di Anugrah Grup, sambil membantu Madam Lulu memeriksa keuangan badan amalnya, supaya tidak disalahkan gunakan, dan tepat guna penerimanya." Jawab Laura.


"Apa yang membawamu kemari? Kamu seperti baik baik saja." Tanyanya, terlihat penasaran.


Nora tersenyum.


"Ya, dua puluh lima tahun silam, aku pernah kemari. Namun, aku melakukan hal bodoh yang membuatku menyesal seumur hidup. Aku meninggalkan putriku, di depan pintu panti ini." Ucapnya sambil menerawang.


"Maksudmu?" Tanya Laura.


"Aku membuang putriku sendiri. Jahat sekali rasanya. Tapi semua itu ada alasannya. Saat itu usiaku masih 15 tahun saat melahirkan. Dalam kondisi yang labil, aku meninggalkan bayi mungil itu di depan pintu, aku masih ingat tempatnya. Aku berharap kelak aku dapat menemukan dia kembali di sini dan bertemu dengan putriku lagi. Namun, kenyataannya, bayiku telah diadopsi keluarga lain, dan hidup bahagia. Suster kepala tidak mau membuka pasangan atau orang yang mengadopsi putriku." Ucap Nora.


"Tanggal berapa putrimu lahir?" Tanya Laura.


"11 Februari dua puluh lima tahun silam." Jawab Nora. Sesaat Laura terdiam. Itu ulang tahun Gwen.


Usia Gwen tahun ini genap 25 tahun. Laura menatap Nora. Saat itu Laura seperti seolah merasa itu Ibu kandungnya.


"Lalu bagaimana mengenal Madam Lulu?" Tanya Laura menyelidik.

__ADS_1


"Aku lama berada di Itali. Saat itu aku sedang berbelanja, lalu bertemu dengan Madam Lulu, kami berkenalan, ya sesama orang Indonesia yang sedang di luar negeri, senang lah, bisa mengobrol dalam bahasa Indonesia saat itu.


Ternyata dia sedang menemani putrinya yang menjadi model, sambil merayakan ulang tahunnya ke-15. Tepat di tanggal 11 Februari. Saat itu aku tak terlalu memikirkan keluarga Madam Lulu." Ucap Nora.


"Lalu aku pulang ke Indonesia, membantu bisnis orang tuaku. Aku juga belajar bela diri selama di luar negeri. Karena trauma masa lalu. Enam bulan kemudian seorang petani teh melamarku, dia sangat baik. Aku pun menerimanya, dan kami menikah hingga sekarang. Dia selalu mendukung apapun usaha dan kegiatanku." Sambung Nora.


"Kamu sangat beruntung sekali." Puji Laura.


"Ya, kita harus bersyukur untuk semua yang telah kita alami." Nora menghela napas panjang.


"Selama menikah, aku telah tiga kali hamil, dan keguguran. Sampai akhirnya harus kuret. Saat keguguran yang ketiga kemarin, seolah Tuhan menghukumku, karena telah membuang bayiku di panti ini. Lalu aku mencoba mencari tau keberadaan putriku. Aku ingin meminta maaf padanya. Meskipun aku punya 1001 alasan, namun meninggalkannya di sini adalah salahku. Aku seperti sedang dihukum oleh Tuhan." Ucapnya sambil terisak.


Laura terdiam, lalu ia memeluk tubuh Nora, terasa hangat sekali.


"Kamu tahu, suatu hari kami bertemu saat acara amal, kami mengobrol. Ternyata saat itu dia tengah kehilangan putri cantiknya itu. Dia minum sangat banyak sambil menceritakan semuanya. Dia mengatakan, jika dia masih ingat saat menggendong bayi mungil yang masih merah itu. Bayi itu menangis terus, namun saat dalam dekapannya langsung tertidur pulas. Dia mengatakan jika bayi malang itu ditinggalkan di depan pintu panti asuhan ini, pada tanggal 11 Februari. Saat itu bisa kamu bayangkan perasaanku? Aku bahagia bisa mengetahui putriku, namun di saat yang sama mengetahui, jika dia telah tiada. Gwen artis itu putriku!" Ucap Nora sambil menangis dalam pelukan Laura.


"Suster kepala tak menjawab apapun, namun Madam Lulu yang mengatakan padaku semuanya." Sambung Nora.


Laura tersentak, tiba tiba air mata mengalir di pelupuk matanya. Ingin rasanya ia memanggil wanita dalam pelukannya ini "Mama", tapi apakah dia akan percaya. Dia hanya diam menyimpan semua rahasianya itu.


Nora melepas pelukannya pada Laura, lalu menatap Laura dengan heran, karena ia juga menangis.


"Aku hanya terharu." Ucap Laura sambil tersenyum, lalu mereka tertawa bersama.


"Maaf telah membuatmu ikut sedih. Terima kasih telah mau mendengarkan ceritaku ini." Ucap Nora yang telah dapat menguasai diri.


"Tidak apa apa, aku juga senang ada yang percaya menceritakan kisahnya padaku." Jawab Laura.


Mereka melanjutkan mengobrol hingga larut malam, menghabiskan malam bersama, hingga tubuh mereka terasa lelah.


Laura berjanji akan datang ke rumah Nora selanjutnya. Malam itu Laura menghidupkan kembali ponselnya yang mati, dan ada ratusan panggilan tak terjawab dari orang orang terkasihnya.


Laura memutuskan untuk pulang esok hari.

__ADS_1


__ADS_2