Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 46


__ADS_3

“Tolong perlihatkan semua cincin pasangan yang terbagus!” perintah Satya pada pramuniaga yang melayaninya.


Pramuniaga itupun mengangguk kemudian berlalu dari hadapan mereka.


Nia masih termenung. Seperti mimpi baginya bahwa ia akan benar – benar bertunangan dengan Satya.


“Kita perlu cincin untuk pertunangan kita besok. Pilihlah yang kamu sukai.” Ucap Satya.


Pramuniaga datang dengan beberapa koleksi cincin terbaik mereka. Nia tertegun melihat semua cincin nan indah bertabur permata.


“Semuanya cantik pak! Entahlah saya bingung. Ini semua tampak tidak nyata, terasa seperti mimpi.” Ucap Nia


Satya tersenyum mendengar pengakuan Nia.


Satya pun melihat – lihat koleksi cincin di hadapannya. Setelah melihatnya satu – persatu, pilihannya jatuh pada cincin manis berhiaskan ruby diatasnya.


“Bagaimana kalau yang ini?” ucap Satya seraya memasukkan ke jari Nia.


“Ukurannya juga pas.” Imbuhnya.


Nia mengangguk setuju. Apapun pilihan Satya tampak cantik di matanya.


“Baiklah kalau begitu, kita ambil yang ini.” Ucap Satya.


“Karena kita sudah berada disini, bagaimana kalau kita sekalian makan siang?” ajak Satya.


Nia kembali mengangguk setuju.


Setelah melakukan pembayaran, mereka lantas beranjak pergi mencari restoran di dalam pusat perbelanjaan itu.


Tidak sedetik pun tangan Nia lepas dari genggaman Satya.


“Kamu ingin makan siang apa?” tanya Satya yang juga kebingungan menentukanrestoran saat mereka sudah  di area foodcourt.


“Bagaimana kalau restoran jepang?” ucap Nia yang menunjuk resto di depannya.


“Oke.”


Setelah memesan berbagai menu, Satya mengambil snack sembari menanti makanan mereka datang.


Sikap Satya benar - benar berbeda saat berada di kampus dan di luar kampus. Di kampus dia bisa sedingin kutub selatan, dan sekarang ia erlihat sangat santai dan hangat.


“Kenapa hari ini kamu pendiam sekali, Nia?” tanya Satya sembari memakan snacknya.


Nia tersenyum manis,” Entahlah pak. Saya masih belum terbiasa dengan ini semua.”


“Maksudmu?”


“Seperti yang saya bilang tadi, saya merasa ini seperti mimpi. Benar –  benar mimpi. Bagaimana bisa bapak pada akhirnya akan bertunangan dengan saya.”


“Memangnya ada yang salah jika saya akhirnya memilih kamu?”


“Bukan! Tentu saja tidak pak! Justru jika memang ini adalah mimpi, saya tidak ingin terbangun. Selama ini, saya bertahan dengan cinta sepihak saya, bertahan menapaki mimpi yang saya karang sendiri. Lalu sekarang, semuanya perlahan seakan berubah menjadi nyata. Hingga saya sulit membedakan ini memanglah hanya mimpi atau nyata adanya. Ada rasa bahagia yang tidak bisa saya ungkapkan, rasa bahagia yang justru membuat saya takut.”

__ADS_1


“Takut?” Satya membeo.


“Takut jika ini adalah ilusi. Jika ini akan membuat saya terbang tinggi namun seketika terhempas ke bumi.” Ucap Nia.


Satya meraih tangan Nia, lalu mengenggamnya di atas meja.


“Terimakasih karena bertahan dengan cinta itu. Terimakasih telah membuat saya begitu berharga. Tunggulah sebentar lagi, saya akan membuat semua mimpimu menjadi nyata. Satu minggu! Satu minggu lagi, kita akan berbahagia bersama, menjalani hidup bersama, menua bersama. Oke?” ucap Satya.


Nia mengangguk, wajahnya menyiratkan kebahagiaan yang terpancar tulus dari lubuk hatinya.


Betapa indah cinta yang telah ia jaga selama ini yang telah ia perjuangkan walau dengan kekonyolan dan mempertaruhkan rasa malu kini berbuah manis.


Setelah selesai makan siang, Satya segera mengantar Nia kembali ke rumahnya.


“Istirahatlah! Besok acara kita akan padat.” Ucap Satya yang masih berada di balik kemudinya.


Nia mengangguk.


“Apakah kamu juga akan mengundang teman – temanmu besok?” tanya Satya.


“Ah, itu dia!” seru Nia tiba – tiba.


Satya menautkan kedua alisnya.


“Pak Satya, untuk saat ini sebaiknya kita merahasiakan dulu hubungan kita.” Ucap Nia hati – hati


“Kenapa? Kamu malu?” tanya Satya.


“Bukan begitu, Pak! Saya justru bangga bisa menjadi pasangan seorang Satya, dosen idola kampus yang keren dan tampan. Tapi justru karena itu, saya….” Ucap Nia terhenti.


“Saya malas berurusan dengan fans fanatik bapak. Mereka pasti akan heboh mendengar kabar pernikahan bapak, apalagi jika mereka tahu bahwa saya calon istrinya. Duh, pak…. Bisa – bisa saya di bully, dikerjain, direcokin sepanjang tahun! akan timbul banyak masalah nantinya!” keluh Nia.


“Fans fanatik?? Saya sebegitu terkenalnya kah?” ujar Satya menahan tawa.


“Huhft… bapak tidak tahu atau pura – pura tidak tahu? Pokoknya pak, kita rahasiakan ini dulu, oke? Saya hanya ingin menjalani kuliah dan lulus dengan damai pak.” Pinta Nia.


“ Oke, baiklah kalau itu keinginanmu. Lalu Niko? Kamu juga ingin merahasiakan hubungan kita dari dia?” tanya Satya.


Nia terdiam beberapa saat.


“Saya bermaksud mengundang sahabat – sahabat saya saat pernikahan kita nanti. Ayu, Nindya dan juga Niko. Apakah bapak tidak keberatan?”


“Tentu saja tidak! Saya justru senang dan bangga dikenal sebagai suami dari Nia prameswari. Undanglah sahabat – sahabatmu.” Ucap Satya.


“Terimakasih pak. Kalau begitu saya masuk dulu.” Pamit Nia seraya melepas seattbeltnya.


Namun ternyata sealtbelt Nia sedikit macet sehingga susah dilepas.


“Ada apa Nia?” tanya Satya yang melihat Nia tidak kunjung turun dari mobilnya.


“Ini pak, seatbeltnya agak susah.” Ucap Nia


“Benarkah?”

__ADS_1


Satya pun mendekatkan diri, membantu Nia melepaskan seatbeltnya.


“Iya kamu benar, sepertinya aku harus segera menggantinya.” Ucap Satya yang juga kesusahan melepas seatbelt yang dipakai Nia.


Satya kembali mencoba melepasnya. Kali ini dengan lebih kuat. Dan dalam satu tarikan akhirnya seatbelt pun terlepas.


Namun justru keadaan itu membuat posisi wajah Satya hanya berjarak 1cm dari wajah Nia.


Bahkan Nia bisa merasakan deru nafas Satya yang sedikit terengah – engah karena menarik seatbelt tadi.


Mereka saling terdiam dan bersitatap satu sama lain. Pandangan mata Satya menusuk jauh kedalam mata Nia. Bibir Nia yang ranum pun tak luput dari tatapannya


Kini bahkan Nia bisa mendengar degup jantungnya sendiri yang berdetak sangat kencang.


Cukup lama mereka terdiam dalam posisi seperti itu, hingga akhirnya Nia pun tersadar.


“Sa.. sa… saya pamit dulu pak!” ucap Nia dengan canggung.


Satya pun akhirnya juga terjaga dan segera kembali ke posisinya.


“He’em.. Masuklah! Sampai bertemu besok.” Ucap Satya mencoba untuk santai.


Nia pun akhirnya turun dari mobil Satya dan masuk ke dalam rumahnya.


“Huhft…!!! Kenapa jantungku berdebar – debar seperti ini? Come on, kamu bahkan belum menyentuhnya, Satya. Bagaimana dengan malam pertamamu nanti jika begini saja kamu sudah berdebar – debar?” ucap Satya merutuki dirinya sendiri.


Satya pun segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Nia.


Nia melangkahkan kakinya dengan cepat melewati ruang tengah, hingga tidak menyadari mamanya yang sedang sibuk memberi arahan pada para pelayan untuk mempersiapkan acara esok hari.


“Nia, kamu sudah pulang sayang? Makanlah dulu, mama sudah menyiapkannya untukmu!” seru Mama Dessy yang melihat Nia tidak menghentikan langkahnya.


“Nia gerah ma! Mau mandi dulu!” jawab Nia setengah berteriak.


“Gerah? Bukannya di luar mendung gelap seperti mau turun hujan?” ucap Mama Dessy lirih kemudian melanjutkan arahannya pada para pelayan.


.


.


.


.


.


.


Ehem.. Ehem.. ada yang duhun - dugun tuh...!!! ada yang ikutan dugun - dugun juga gak niy??


buat readers tercinta terimakasih sudah selalu setia menunggu kelanjutan kisah Nia dan Satya ya..!!


Like dan komentar dari readers tercinta sangat berarti bagi Author. TERIMAKASIH SEMUANYAAAAA

__ADS_1


.


.


__ADS_2