Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Cemburu


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


Pintu rumah diketuk.


"Bentar..!!" Teriak Lisa sambil bergegas membukakan pintu.


"Eh, Radit. Bentar ya, gue panggil Laura." Sapa Lisa saat membukakan pintu untuk kekasih sahabatnya itu.


Radit menunggu di teras, tak lama, Laura muncul, masih mengenakan daster motif kencana ungu.


"Sorry, nunggu lama ya?"


"Nggak kok."


"Katanya jam makan siang, ini baru jam 7, kok sudah datang?" Tanya Laura sambil duduk di kursi sebelah Radit.


"Aku laper, mau temenin cari sarapan?" Ucap Radit sambil mengelus perutnya yang kotak kotak bagai roti sobek itu.


"Ya sudah, ayo aku temenin."


Laura masuk ke rumah mengambil ponselnya, lalu keluar lagi menemui Radit.


"Cari sarapan apa ya yang enak?" Tanya Radit.


"Ke arah pasar saja, banyak yang jualan." Jawab Laura.


Radit akhirnya mengikuti Laura untuk berjalan kaki menuju ke arah pasar.


"Ada apa sih, tumben pagi pagi sudah datang?" Laura masih penasaran.


"Aku kangen kamu." Jawab Radit.


"Gombal!"


"Itu ada bubur ayam, aku mau!" Ajak Radit.


Mereka bergegas menuju gerobak bubur ayam yang mulai ramai diserbu pembeli.


Mereka memesan dua porsi bubur ayam tanpa telur.


Beruntung mereka mendapatkan kursi untuk duduk menikmati semangkuk bubur ayam.


Radit mengaduk aduk bubur ayamnya, lalu menambahkan sambal. Ia mulai menikmati bubur. Suapan demi suapan masuk dalam mulutnya. Ia melirik ke arah Laura yang juga menikmati bubur ayam itu.


"La, kamu benar benar lupa peristiwa itu?" Tanya Radit dengan wajah serius.


Laura menghentikan makannya, dan menatap Radit.


"Peristiwa apa? Tolonglah Dit, aku benar-benar ga tau maksudmu."


Radit merogoh kantong di balik jaketnya, lalu menyodorkan sebuah buku. Buku diary milik Laura.


Laura menaruh mangkok buburnya, dan menerima buku itu. Ia mulai membuka buku itu, dan membaca halaman demi halaman.


Puisi tertulis dalam buku harian itu. Ia membaca beberapa tulisan mengenai perasaan sakitnya akan penghianatan Pras dan Dina.


Dalam buku harian itu ada selembar foto dirinya dan Radit. Radit merangkul pundak Laura sambil menenteng gitar, dan Laura dengan pose manisnya sambil berdiri.


"Apa maksudnya ini?" Tanya Laura menatap Radit.


"Kita dulu sempat bersama La. Lalu kita menjalani hubungan jarak jauh, saat aku meneruskan kuliah di Amerika. Suatu hari kamu dapat hadiah dari kantor untuk wisata ke New York. Aku tau kamu berusaha keras, bekerja dengan giat, mengincar hadiah itu, untuk menemuiku.


Kamu tau alamatku, karena aku pernah pesan sambal dan mi instan untuk dikirim ke tempatku.


Kamu mencariku saat itu, niatmu ingin memberi kejutan padaku kala itu. Namun, salah paham terjadi. Malam itu, teman satu apartemenmu mengajak kekasihnya untuk menginap di tempat kami. Kamu tau, mereka tidur bersama, dan aku tetap di kamarku. Pagi itu Max, menelpon, jika istrinya pecah ketuban, hendak melahirkan, dia minta tolong padaku. Setelah aku pergi, tak lama kamu datang. Yang membukakan kekasih temanku, dan yang tidur itu temanku, bukan aku. Setelah itu kita tak berkabar lagi, hingga aku melihat video penembakanmu yang viral itu.


Aku mencarimu, ingin menjelaskan kesalahpahaman selama ini, namun ternyata, setelah terjadi peristiwa itu kamu tak ingat kejadian di New York. Yang lebih parahnya, kamu tak ingat padaku." Ungkap Radit.


Laura terdiam, ia mendengarkan dan berusaha mengingat apakah ada memori tentang itu si otak milik Laura.


Namun semua sia sia. Yang ada Laura merasa pusing saat mencoba mengingat.


Setelah membayar bubur ayam yang mereka santap, Radit mengajak pulang.

__ADS_1


Laura menyelipkan tangannya pada lengan Radit, dan menggelayut menggandeng Radit.


Mereka berjalan bak pasangan muda yang sedang berjalan jalan menikmati hari libur.


Laura mampir membeli jajanan pasar untuk dibawa pulang.


Setelah mengantar Laura kembali ke rumah, Radit berpamitan, dan berjanji akan menjemput kembali Laura sebelum jam makan siang.


"Jadi, gimana perkembangan Lo dan Radit, dan Ben, semalam?" Tanya Lisa.


"Gue gak tau mengapa tiba tiba Ben datang, kebetulan gue selesai masak, ya sudah gue laper, gmya ajak makan sekalian." Jawab Laura.


"Lis, kemaren gue mampir ke rumah Madam Lulu, dan melihat Papa melamar kembali Madam." Cerita Laura.


"Serius Lo?


"Iya lah, gue liat sendiri. Papa melamar Mama di kamar gue dulu. Ya, gue seneng banget!"


"Nanti gue ada jadwal syuting bareng Madam. Kalo bener papa Lo baikan, biasanya selalu menjemput ya."


"Ya. Tapi, saya gue sudah dalam bentuk tubuh orang lain." Laura hanya menaikkan bahunya saat mengatakan itu.


Lisa pergi ke tempat syuting, dan Laura pergi bersama Radit.


Sesampainya di rumah Radit, di halaman terlihat beberapa mobil terparkir di sana. Dan satu mobil yang sangat Laura kenal ada di sana hrv merah dengan plat nomor sama milik Ben, ada di sana. Sejenak Laura terdiam, lalu Radit menggandengnya untuk masuk.


Radit mengajak Laura masuk dan berkenalan dengan keluarga yang lain.


Oma menyambut kedatangan Laura dengan pelukan. Lalu Radit mengenalkan pada Max, kakaknya dan Sara, istrinya. Sara blasteran Indonesia Amerika, dan sejak kecil tinggal di sana.


"Wow... Akhirnya kamu kembali lagi padanya!" Ucap Max sambil menunjuk Laura.


"Kamu tau, adikku ini hampir gila mencarimu, pusing aku dibuatnya!" Curhat Max. Laura hanya bengong menatap Max.


"Ya, ternyata kamu wanita yang bisa menaklukkan pria dingin ini." Ucap Sara sambil memeluk Laura.


Max dan Sara mengenalkan putra mereka, yang terlihat bule sekali wajahnya.


Mereka masuk ke ruang tengah, ternyata ada Jane dan anak anaknya, lalu terlihat orang tua Jane, dan Ben, ada di sana sedang ngobrol dengan orang tua Jane.


Makan siang sudah siap, Oma menyuruh semua tamunya untuk menuju ruang makan dan menikmati hidangan yang telah di sajikan.


Selesai makan siang, Laura membantu membereskan meja makan, dan menaruh beberapa piring ke dapur.


Ekor matanya melihat di sudut teras belakang rumah Ben dan Jane sedang berciuman. Ben tampak sangat menikmatinya, lagi lagi, dada Laura terasa sesak dan rasa cemburu makin berkobar.


Laura mengambil air mineral gelas, dan meminumnya melalui sedotan hingga habis, untuk mendinginkan pikiran dan hatinya.


"Tante Laura, kata Om Radit, Tante bisa menyanyi." Tanya Alina.


"Oh, ya, bisa sedikit." Laura menatap Radit, yang hanya tersenyum lebar melihatnya.


"Ayo, tunjukkan Tante." Bujuk Rendy.


"Oke, baiklah." Laura mendekati Radit yang sedang memainkan gitarnya.


Laura berdiskusi sejenak dengan Radit, lalu musik mengalun dari genjrengan gitar Radit.


Nice to meet you, where you been?


I could show you incredible things


Magic, madness, heaven, sin


Saw you there and I thought


"Oh, my God, look at that face


You look like my next mistake


Love's a game, wanna play?" Ay


New money, suit and tie

__ADS_1


I can read you like a magazine


Ain't it funny? Rumors fly


And I know you heard about me


So hey, let's be friends


I'm dying to see how this one ends


Grab your passport and my hand


I can make the bad guys good for a weekend


So it's gonna be forever


Or it's gonna go down in flames


You can tell me when it's over, mm


If the high was worth the pain


Got a long list of ex-lovers


They'll tell you I'm insane


'Cause you know I love the players


And you love the game


'Cause we're young, and we're reckless


We'll take this way too far


It'll leave you breathless, mm


Or with a nasty scar


Got a long list of ex-lovers


They'll tell you I'm insane


But I've got a blank space, baby


And I'll write your name


Cherry lips, crystal skies


I could show you incredible things


Stolen kisses, pretty lies


You're the King, baby, I'm your Queen


Find out what you want


Be that girl for a month


Wait, the worst is yet to come, oh, no


Screaming, crying, perfect storms


I can make all the tables turn


Rose garden filled with thorns


Keep you second guessing like


"Oh, my God, who is she?"


I get drunk on jealousy


But you'll come back each time you leave

__ADS_1


'Cause, darling, I'm a nightmare dressed like a daydream


Laura menyanyikan lagu Blank Space satu Taylor Swift, salah satu penyanyi favoritnya.


__ADS_2