
Setelah siuman Nia segera menjalani pemeriksaan secara menyeluruh. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Satya tidak ingin berprasangka buruk, namun dari tanda – tanda yang di tunjukkan Nia, ia meyakini ada sesuatu yang tidak beres dengan istrinya itu.
Dan benar saja, apa yang ia khawatirkan pun terjadi.
“Kami sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh kepada Ibu Nia, dan yang seperti yang kita ketah, Ibu Nia mengalami fraktur tibia karena kecelakaan itu. Namun tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena operasi kemarin berjalan dengan lancar, sehingga mungkin di butuhkan waktu sekitar 4 hingga 6 bulan untuk kembali ke kondisi semula.” Ucap Dokter yang duduk berhadapan dengan Satya di ikuti dengan anggota keluarga yang lain berdiri di belakangnya.
“Namun dari pemeriksaan MRI, kami juga menemukan adanya cedera di dinding otak Ibu Nia. Sepertinya sebelum kejadian kecelakaan Ini, kepala Ibu Nia pernah terbentur. Gegar otak yang dialami Ibu Nia menjadi salah satu penyebab kondisi Ibu Nia seperti saat ini.” Imbuh dokter menjelaskan.
“Seperti ini…?? Maksud dokter, istri saya….”
“Ya… Ibu Nia mengalami amnesia…” ucap Dokter dengan jelas.
Sontak penjelasan dokter itu mengagetkan semua orang yang berada di ruangan Itu. Mereka tidak pernah menyangka hal itu akan terjadi pada Nia.
“Tapi Dok… kenapa istri saya bisa mengingat semua orang kecuali saya, dok…??” tanya Satya.
“Untuk pertanyaan itu saya memang tidak mempunyai jawaban yang pasti. Bisa saja ingatan Ibu Nia mundur beberapa tahun sebelum mengenal Pak Satya. Atau bisa saja Ibu Nia sempat syok atau mengalami suatu kejadian yang besar yang menyangkut anda.” Jelas Dokter itu.
Satya terdiam, rasa sesal menghinggapi dirinya. Satya meyakini bahwa ini semua adalah salahnya. Satya membuat Nia sangat syok hingga Nia tidak ingin mengingatnya lagi.
“Untuk lebih lanjutnya, kita masih akan melakukan pemeriksaan lanjutan dan terapi. Namun satu hal yang ingin saya ingatkan, kita tidak bisa memaksakan Ibu Nia untuk mengingat suatu hal. Sedikit demi sedikit, dengan perlahan, Ibu Nia akan kembali ke kondisi semula.” Terang Dokter.
“Tapi anaksaya bisa disembuhkan kan, Dok…??” tanya Mama Dessy.
“Untungnya Ibu Nia hanya mengalami cedera di dinding otaknya saja, bukan di bagian inti otaknya. Jadi kesempatan untuk sembuh pun masih besar. Namun seperti yang saya bilang tadi, kita masih harus melihat perkembangannya.” Ujar dokter itu.
Setelah cukup mendapatkan penjelasan dari dokter yang menangani Nia, semua anggota keluarga termasuk Satya kembali ke kamar perawatan, dimana Nia sudah berada di sana dengan Niko yang kini menemaninya.
“Gimana Ma, Nia sudah boleh pulang kan…??” tanya Nia tanpa basa – basi.
“Belum donk sayang, kamu masih harus menjalani beberapa perawatan di sini.” Jawab Mama Dessy.
“Tapi Nia udah sehat kok, Ma…. Masak iya, baru masuk kuliah, anak baru udah ijin aja…” ujar Nia yang mendapat tatapan nanar dari orang sekitar.
“Kamu masih harus menunggu luka di kakimu sembuh dulu, sayang…. Masak kamu mau ngampus pake kursi roda…??”
Nia mendengus kesal.
“Nik, loe harus pinjamin gue semua catatan kuliah loe ya..??!!” ucap Nia pada Niko yang berdiri di sampingnya.
Niko pun beralih menatap satu persatu semua orang yang ada di ruangan, termasuk Satya yang berdiri di sudut pojok.
“Gimana mau minjemin, kan kita beda jurusan…” ucap Niko.
“Ah… iya, loe bener juga..!!” kata Nia.
Selama hampir satu minggu mendapatkan perawatan di rumah sakit, Nia akhirnya di perbolehkan pulang dan hanya menjalani rawat jalan saja.
Selama satu minggu terakhir ini pula Mama Dessy yang merawat dan menemani Nia. Sedangkan Satya hanya berani duduk di depan kamar mengawasi Nia dari jauh.
__ADS_1
“Satya…. Siangini sudah Nia sudah boleh pulang…” ucap Mama Dessy yang turut duduk di sebelah Satya.
“Iya ma…” ucap Satya.
“Laluuu…”
“Maksudnya Nia harus tinggal dimana…??” tanya Satya yang seolah mengerti arah pembicaraan mertuanya.
“Bukan maksud Mama untuk memisahkan kalian, tapi apakah tidak terlalu sulit bagi Nia jika ia harus tinggal di apartemen untuk saat ini..??” ucap Mama Dessy dengan hati – hati.
Satya kembali menundukkan kepalanya. Jujur saja dia sangat ingin selalu dekat dengan istrinya. Namun ia juga sadar kali ini ia harus mengalah demi kesembuhan istrinya.
“Satya minta tolong untuk sementara waktu biar Nia tinggal di rumah Mama ya…??” ucap Satya kemudian.
“Maafkan Mama ya Satya… ini semua kita lakukan untuk Nia..” ucap Mama Dessy.
“Iya Ma… Satya mengerti… tapi Satya masih bisa mengunjungi Nia di rumah kan, Ma…??”
“Tentu saja Satya, justru kamu harus datang setiap hari. Agar ingatan Nia sedikit demi sedikit segera pulih.” Ucap Mama Dessy.
“Baik ma… terimakasih…” ucap Satya dengan senyum simpul di bibirnya.
“Ya sudah, Mama masuk lagi ya…!! Mama harus membereskan semua barang – barang Nia.”
“Iya ma… Satya akan menunggu disini. Nanti Satya yagn akan mengantar Nia pulang.” Ucap Satya.
Mama Dessy mengangguk lalu kembali masuk ke dalam kamar.
Satya kembali duduk merenungi malam – malamnya yang akan sunyi tanpa kehadiran Nia. Merenungi pagi harinya yang kelabu tanpa keceriaan Nia.
Satya Satya masih menunggu Nia dan Mama Dessy mengemasi barang – barangnya, seseorang melangkah mendekat ke kamar Nia.
“Apa yang kamu lakukan disini…??” tanya Satya pada Niko yang berjalan mendekat ke arahnya.
“Menjenguk Nia, tentu saja..” ucap Niko tanpa basa – basi.
“Jangan mencoba mencari kesempatan dalam kesempitan. Berhentilah mendekati istriku…!!” ucap Satya dengan penuh penekanan.
“Kenapa..?? Pak Satya takut Nia akan memilihku dan meninggalkanmu..??” Ucap Niko sinis.
“Berhenti berkhayal…” ucap Satya yang mulai naik pitam.
“Lagipula, Pak Satya pasti ingat dengan janji waktu itu,kan…?? Bukan hanya menangis bahkan Pak Satya membuatnya syok hingga Nia sendiri bahkan tidak ingin mengingat bapak…!!” ucap Niko tegas.
Satya terdiam dan mencoba untuk tidak terlihat lemah dihadapan Niko. Walau ia tahu semua yang dikatakan Niko semuanya benar.
“Amnesia ini ternyata membawa keuntungan untukku. Karena bukan aku yang harus merebut Nia, tapi dia sendiri yang akan mendatangiku, benarkan Pak Satya…??”
Satya berusaha mengontrol emosinya walau sebenarnya dia sangat ingin menghajar Niko saat itu juga.
Tangannya mengepal erat dan sempurnat siap untuk memberi pelajaran pada Niko. Namun semua itu ia urungkan demi kenyamanan dan kesehatan mental Nia sat ini. Ia pun tidak ingin Nia mengenalnya sebagai lelaki asing yang memukuli sahabatnya.
__ADS_1
“Niko… loe udah disini…??” sapa Nia yang tiba – tiba saja sudah keluar kamar dengan Mama Dessy yang mendorong kursi rodanya.
“Eh Nia, loe mau kemana…??” tanya Niko yang tampak kaget dengan kedatangan Nia.
Begitu pula dengan Satya yang kaget denga kehadiran Nia yang tiba – tiba.
“Ya pulanglah…! Gue udah dibolehin pulang siang ini. Loe mau nganterin gue pulang kan…??” tanya Nia.
Mama Dessy terkesiap mendengar perkataan Nia.
“Jangan suka ngerepotin Niko dong sayang… lagi pula Mama Tadi sudah minta tolong Pak Satya untuk nganterin kita pulang… gak enak donk sama Pak Satya.” Ucap Mama Dessy.
“Oh begitu…ya sudah…” ucap Nia sinis.
“Lagian gue kesini Cuma mampir doank… gue harus jengukin saudara gue di bangsal sebelah.” Ucap Niko.
“Oh.. gitu… ya sudah sono gih…!! Besok – besok main ke rumah ya, Nik..??!!” ucap Nia.
“Rumah...???" tanya Niko yang sedikit bingung.
"Iya... rumah... rumah gue, loe gimana sih..??!!!" ucap Nia.
"Oh... oke..!!!" ucap Niko yang tersenyum dengan penuh maksud seraya berpamitan.
Akhirnya, Satya pun mengantar Nia pulang ke kediaman orang tuanya.
“Ma… mama kenal ya sama Pak dosen itu…?? Kok Mama sampai minta tolong dia untuk nganterin kita pulang sih ma…??” tanya Nia setengah berbisik saat berada di mobil Satya.
“Nanti ya…?? Mama jelasin di rumah…” ujar Mama Dessy.
Nia pun mengangguk meskipun ada sedikit perasaan aneh yang menyelimuti hatinya.
Tak lama kemudian Nia pun sampai di rumahnya, kediaman orang tuanya.
“Terimakasih Satya, sudah mengantarkan kami sampai di rumah.” Ucap Mama Dessy.
Satya tersenyum,
“Sama – sama… saya pamit dulu.” Ucap Satya.
“Hati – hati di jalan…” ucap Mama Dessy.
Dengan bergantian Satya mengangguk pamit kepada Mama Dessy dan juga Nia. Nia merasa tatapan Satya ada yang aneh, serasa menusuk tajam ke dalam hatinya. Tatapan yang begitu berat, sedih namun juga terselip perasaan lega dan bahagia.
Satya pun kembali ke dalam mobilnya dan berlalu dari kediaman mertuanya itu.
Dan entah mengapa, dengan kepergian Satya, Nia pun turut merasa kehampaan di hatinya. Rasa yang tidak pernah ia rasakan dalam seminggu terakhir, walaupun ia jarang melihat Satya selama itu pula ia jarang melihat dosennya itu
.
.
__ADS_1
.
.