Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Lamaran


__ADS_3

Bab 3 Lamaran


Aku baru mengenalnya kemarin, dan semalam dia langsung mengajakku menikah. Dasar playboy!


Kulempar bantal ke lantai, gemas sekali mengingat wajah Yoga. Tiba-tiba bayangan saat dia menciumku di balkon muncul di kepalaku. Oh tidak, ciuman pertamaku.


"Tok-tok-tok." Pintu kamar diketuk.


"Non, Bapak bilang nanti siang ada tamu. Non diminta ikut menemui." ucap Bi Siti di balik pintu kamar.


"Tamu siapa, Bi?" tanyaku setelah membuka pintu.


"Gak tau, Non. Bapak gak bilang apa-apa."


"Ya uda, Bi. Makasi, ya..." ucapku.


Tamu siapa, ya? Tumben sekali papa menyuruhku menemui tamu. Sebaiknya aku mandi dulu.


***


Rupanya tamu yang dimaksud papa sudah datang. Aku bersiap turun untuk menemui mereka. Penasaran juga, siapakah tamunya.


"Tania, kemari nak." perintah papaku lembut.


Aku melangkah mendekat dan duduk di sebelah papa.


"Tania kenalkan... Ini Om dan Tante Pras." ucap papa.


"Hallo Om.. Tante.. Saya Tania." Ucapku sambil tersenyum. Tapi kemudian senyumku memudar saat melihat seseorang yang duduk di sebelah Tante Pras. Jantungku serasa berhenti sejenak. Oh, my God.. itu Yoga, Yoga yang menciumku semalam. Apa mungkin aku hanya berhalusinasi?


"Gadis yang cantik." puji Tante Pras yang seketika membuyarkan pikiranku.


"Ini Prayoga anak Tante, biasa dipanggil Yoga." sambungnya.


Duarrr berasa kesamber petir! Itu benar Yoga, aku tidak sedang berhalusinasi. Secepat ini kami bertemu lagi. Entah kebetulan atau bukan.


"Biasanya kita kalau ketemu kan ngomongin urusan bisnis. Jadi, maksud kedatangan kami kesini untuk melamar Tania, supaya bersedia menikah dan menjadi istri Yoga." kata Om Pras.


Belum reda bekas sambaran petir, kini rasanya bagai disambar petir sekali lagi. Kupandang Yoga yang sedari tadi hanya diam. Ada mimik wajah serius yang menunjukkan permohonan supaya lamarannya kuterima. Yoga, ini terlalu terburu-buru.


"Masalah seperti ini tentu saja harus ditanyakan ke Tania langsung. Kita tidak bisa memaksanya, iya kan Tania sayang?” tanya mama.


Mama tiriku ini memang pintar sekali. Selama ini Tania selalu ditindas olehnya. Sepertinya ia tidak suka bila aku sampai menikah dengan Yoga, kenapa? Aku harus menyelidikinya nanti.


"Kalau itu, Tania ikut kata Papa saja." jawabku malu-malu.


"Hahaha.. tentu saja Papa setuju." ucap papa bahagia.


Kulirik Yoga yang tersenyum padaku, wajahnya mengisyaratkan ucapan terimakasih. Kubalas dengan mengerucutkan bibirku. Apa dia tidak tahu kalau aku tidak punya pilihan lain kecuali menerima lamaran ini.


"Baiklah, karena Tania sudah setuju, alangkah baiknya bila pernikahan diadakan secepatnya." jelas Om Pras.

__ADS_1


"Tentu saja, niat baik harus segera dilaksanakan." Papa menyambutnya dengan antusias.


"Mungkin Tania mau ngobrol dulu sama Yoga? Biar kami saja yang membicarakan acara pernikahan kalian." ucap Tante Pras.


"Om, Yoga dan Tania permisi ke luar ya." pamit Yoga tanpa menunggu persetujuanku.


"Ngobrollah kalian, biar makin akrab." jawab papa sambil mengerlingkan mata padaku.


Kami berjalan duduk di taman. Sayup-sayup terdengar tawa bahagia mereka di dalam rumah.


"Tau rumahku dari mana?" tanyaku menyelidik.


Yoga hanya tersenyum.


"Cewek yang kemarin mana? Kok, gak nikah sama dia?"


"Hahaha.. cemburu ya sayang?" godanya. "Sudah kubilang kalo dia itu bukan siapa-siapa."


"Heh jangan sembarangan panggil sayang-sayang." gerutuku.


Tiba-tiba Yoga menggenggam tanganku. Dia menatapku. Ada rasa hangat yang tercipta.


"Tania, aku benar-benar jatuh cinta sama kamu. Aku mau nikah sama kamu. Aku gak mau menyia-nyiakan waktuku untuk selalu dekat denganmu." ucap Yoga serius.


"Apa gak terlalu terburu-buru?" tanyaku.


"Makin cepat makin baik. Aku mau kamu selalu dekat denganku."


"Kamu kerja di mana?" pertanyaan konyolku membuatnya sukses tertawa.


"Kamu jangan sampai buat aku kelaparan, ya." lanjutku.


"Aku janji akan membahagiakanmu. Aku punya bisnis restoran, kujamin kamu gak akan kelaparan." ucapnya serius.


"Ceritakan tentang dirimu." pintaku.


"Aku Yoga, umurku 31 tahun. Aku punya beberapa butik, restoran, dan toko. Aku suka makanan pedas dan kamu."


"Pinter banget kalo nggombal." Balasku.


Yoga tertawa dengan tangannya masih menggenggam jemariku.


Apakah ini yang dinamakan cinta? Belum pernah kurasakan perasaan seperti ini. Begitu hangat dan nyaman hanya dengan genggaman tangannya.


***


"Tania, kalau kamu gak mencintai Yoga tolak saja. Kamu gak harus menikahi orang yang gak kamu cintai. Kamu berhak bahagia." ucap mama selepas keluarga Yoga pulang.


Kenapa dia tidak suka dengan rencana pernikahanku dengan Yoga?


"Papa sudah menerima dan terlihat bahagia, Ma... Aku tidak bisa membatalkannya." jawabku.

__ADS_1


"Kamu begitu penurut. Seharusnya kamu menikah dengan laki-laki yang kamu cintai." sambungnya.


"Dulu aku mencintai David, tapi ternyata dia lebih memilih bersama Jasmine. Apa aku harus merebut David kembali, Ma?" tanyaku pura-pura bertanya dengan polosnya.


Lihat, dia salah tingkah. Bingung mau menjawab apa.


"Aku gak akan mencari David, Ma... Aku sudah tidak mencintainya lagi." Sambungku.


"Baguslah kalau begitu." Kemudian mama pergi.


"Heh awas saja kamu berani mendekati David!" Jasmine yang sedari tadi bersembunyi akhirnya muncul di hadapanku.


"Ambil saja, aku gak akan berebut denganmu."


Jasmine menjadi marah mendengar ucapanku. Aku bukan Tania yang biasa kamu tindas seperti dulu. Jangan harap bisa menyakitiku.


“David sangat mencintaiku dan dia sangat membencimu.” ucap Jasmine dengan emosi.


“Tentu saja. Jadi apa yang kamu khawatirkan?”


“Kamu sekarang jadi pintar bicara! Mama pasti akan menghukummu.” ancamnya.


“Apa masih ada yang ingin kamu bicarakan? Aku sedang sibuk.”


Tak ada jawaban dari Jasmine. Dia segera pergi dengan marah. Mungkin dia akan mengadu pada mamanya.


[Sayang... apa kamu merindukanku?]


Sebuah pesan WA dari Yoga membuatku terseyum.


[Baru juga tadi siang ketemu.]


[Jadi kamu tak rindu?] balasnya cepat.


[Enggak.] jawabku.


[Aku tau kamu berbohong.]


Kubiarkan pesan itu tak terbalas karena memang aku berbohong. Ada sedikit rindu, hanya sedikit.


[Apa kamu sudah tidur?] tanyanya.


[Aku lelah. Sampai jumpa besok.]


[Baiklah. Besok aku akan menjemputmu untuk mencoba gaun pengantin.]


[Hei kapan aku menyetujui untuk pergi besok?]


[:D i love you... mimpiin aku ya.]


Aku tak tahan menahan senyum. Jemariku tak sanggup mengetik pesan selanjutnya. Perasaan apa ini? Kenapa hatiku begitu berbunga-bunga? Secepat ini kah aku jatuh cinta?

__ADS_1


__ADS_2