
“Sah??”
“SAAAHHH….!!!!” Jawab seluruh orang yang ada di taman belakang.
“Alhamdulilaaaaah…”
Akhirnya prosesi akad nikah pun berjalan tanpa hambatan. Satya mampu mengucapkan akad dengan lancar dan dalam satu tarikan nafas.
Mama Dessy pun menjemput Nia untuk segera turun bergabung dengan Satya yang sudah berstatus sebagai suaminya tersebut.
Nia yang berjalan diapit Mama Dessy di sisi kanan, serta Nindya dan Ayu di sisi kiri berjalan dengan perlahan menuju ke tempat acara.
Bunda Wike menyambut kedatangan anak temannya itu yang kini sudah berganti status menjadi menantunya.
Dan inilah Nia yang berjalan menuju tempat dimana suaminya itu duduk dengan diapit Mama Dessy dan Bunda Wike.
Satya pun menyodorkan tangannya menyambut Nia untuk duduk di sampingnya.
Kursi pelaminan yang sederhana namun terkesan elegan itu kini menjadi pusat seluruh tamu yang hadir.
“Hai istriku….” Kalimat pertama yang Satya ucapkan saat Nia sudah duduk di sampingnya.
“Hai…” Nia hanya tersenyum manis namun kaku, tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.
Pun, Nia juga tidak dapat menutupi kebahagiaan yang menyelimuti hatinya. Senyum bahagia selalu terpancar dari wajahnya.
“Kakak…..!!! selamat…” ucap Tiara yang langsung memeluk kakaknya itu.
“Terimakasih adikku sayang…”
“Nia… selamat ya.. akhirnya, semua kehaluan loe jadi kenyataan.” Kata Nindya yang kemudian juga memeluk Nia.
“Hussst,,, jangan keras – keras..” kata Nia yang langsung mengkode Nindya bahwa ada Satya di sampingnya..
“Oppss… !! Pak Satya, selamat ya pak..” kata Nindya.
“Terimakasih.” Ucap Satya yang tetap tidak melunturkan karismanya sebagai dosen.
“Gue tunggu cerita malam pertama loe.” Bisik Nindya di telinga Nia.
“Hush..!!” Nia langsung salah tingkah mendengar ucapan Nindya.
“Benar juga… ntar malam, gue haruuuuuss….” Batin Nia.
“Nia… selamat ya. Semoga selalu langgeng sampai maut memisahkan.” Kata Ayu.
“Thanks Ay.. thank you so much” ucap Nia yang juga memeluk sahabatnya itu.
“Selamat Pak Satya, saya ikut berdoa yang terbaik untuk bapak dan Nia.” Ucap Ayu.
“Terimakasih.” Kata Satya.
Silih berganti para kerabat memberikan ucapan selamat dan doa untuk pasangan pengantin baru tersebut.
Dari sudut taman, tampak Niko dan Kevin berjalan perlahan menuju ke tempat Nia dan Satya berada.
Dari kejauhan Niko melihat dengan jelas raut wajah Nia yang memancarkan kebahagiaan.
Hati Niko merasa ikut berbahagia sekaligus merasa teriris. Akan butuh waktu yang cukup lama baginya untuk melupakan cinta pertamanya itu.
“Selamat Nia… semoga kamu selalu berbahagia.” Ucap Niko seraya menyodorkan tangannya.
Satya pun menoleh menatap Nia.
“Terimakasih Nik.” Ucap Nia menerima uluran tangan Niko.
__ADS_1
Niko beralih berhadapan dengan Satya. Sesaat mereka berdua terdiam dan saling bertatapan satu sama lain.
“Selamat Pak… semoga bapak selalu berbahagia.” Ucap Niko seraya memeluk dosennya itu.
“Jangan pernah lupakan janji itu.” Bisik Niko tepat di telinga Satya.
“Terimakasih Niko, tentu saja kami akan selalu berbahagia.” Jawab Satya.
Kevin yang berada di belakang Niko pun tertunduk lesu saat menyalami Nia.
“Nia… sebenarnya gue gak ikhlas loe nikah sama Pak Satya.. tapi gue tetap berdoa yang terbaik buat loe. Yaaah, gue beneran patah hati donk Nia…” ucap Kevin dengan wajah sedihnya.
“Thanks ya Vin.. gue doain loe juga segera menemukan tambatan hati yang lebih daripada gue.” Kata Nia menepuk bahu Kevin.
“Selamat Pak Satya… bapak tenyata diam – diam menghanyutkan…” ucap Kevin.
“Terimakasih.” Kata Satya.
Setelah mengucapkan selamat kepada kedua pengantin dan menikmati hidangan yang tersedia, satu persatu para kerabat dan tamu berpamitan pulang.
Saat ini hanya bersisa kedua keluarga inti yang duduk santai di ruang keluarga. Mereka berbincang hangat saling mengakrabkan diri diantara kedua keluarga.
“Setelah ini kalian berencana akan tinggal dimana?” tanya Pak Wijaya.
Nia menoleh menatap suaminya yang duduk disampingnya.
“Nia ngikut Pak Satya aja.”
“Saya berencana membawa Nia untuk tinggal di apartemen saya. Jaraknya juga dekat dengan kampus dan kantor saya.” Jawab Satya.
“Ya, itu bagus. Kalian memang harus belajar hidup mandiri. Tapi Satya, Papa harap kamu bisa memaklumi Nia jika dia masih agak canggung nantinya. Dia sudah terbiasa dengan segala ketersediaan disini.” Ucap Pak Wijaya.
“Tentu saja pa… kami akan belajar bersama – sama.” Ucap Satya.
Satya tersenyum kikuk,
“Saya tidak membawa baju ganti ma…”
“Heiiii… itu masalah kecil. Mama sudah siapkan semuanya. Beres…!!”
Pak Dika dan Bunda Wike tersenyum bahagia melihat putra semata wayang mereka.
“Terimakasih Pak Wijaya sudah menerima keluarga kami dengan baik.” Kata Pak Dika.
“Kamu harus bersyukur Satya, kini kamu juga mempunyai Mama yang sayang sekali sama kamu.” Kata Bunda Wike.
Sore hari menjelang, keluarga Pak Dika berpamitan untuk kembali ke rumah mereka.
Nia dan Satya pun pamit untuk beristirahat di kamarnya.
Nia berjalan di depan Satya, menuju kamarnya di lantai 2.
Ketika membuka kamar, Nia pun terkejut melihat kamarnya yang benar- benar sudah didandani oleh mamanya itu.
Ranjang yang berhiaskan bunga – bunga mawar dan berbagai pernak – pernik menghiasi kamarnya.
Memang sejak kemarin Nia tidur di kamar Tiara. Mamanya melarang Nia untuk masuk ke kamarnya sendiri. Bahkan hanya untuk sekedar mengambil baju ganti pun, Mama Dessy yang mengambilkannya untuk Nia.
“Selera mama bagus juga.” Ucap Satya seraya duduk di ranjang Nia.
Nia masih diam terpaku di depan kamarnya.
“Kenapa masih berdiri disitu. Sini masuklah! Kamu tidak capek berdiri sejak tadi?” kata Satya.
“Eh, iya pak…”
__ADS_1
Nia pun melangkah masuk dan duduk di kursi meja riasnya. Jantung berdegup begitu kencang. Bagaimana tidak, Satya tidak melepaskan sedikit pun pandangannya kepada Nia sejak ia berdiri di ambang pintu tadi.
Perlahan Satya berdiri dan berjalan menuju meja rias. Jantung Nia semakin berdegup tidak karuan.
Satya berdiri tepat di belakang Nia.
Jantung Nia semakin tidak beraturan.
Perlahan tangan Satya merengkuh kedua pundak bahu Nia. Nia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia berusaha keras bahkan hanya untuk sekedar menelan saliva nya.
“Aku tahu kita sudah sah, tapi apa harus sekarang??” batin Nia berdebat sendiri.
“Aku akan membantumu melepas hiasan di kepalamu ini. Sepertinya ini sangat membuatmu tidak nyaman.” Kata Satya memecah keheningan.
“Eh, iya pak… terimakasih. Ini memang agak berat.” Jawab Nia gelagapan.
Satu persatu Satya membantu Nia melepas semua hiasan di kepalanya. Merapikan rambut Nia yang kaku akibat hairspray dan sasak.
Nia mematut diam di depan cermin. Membiarkan Satya membantunya. Nia hanya mencuri pandang pada pantulan sosok suaminya itu di cermin.
“Sungguh sulit dipercaya. Dia sekarang berada di belakangku, membantuku, di dalam kamarku!!!” batin Nia.
Satya menangkap basah Nia yang sedang memperhatikan dirinya dari balik cermin.
“Hayo, ngeliatin apaan??”
“Hah?? Eh, enggak pak..” ucap Nia spontan berdiri dari kursinya.
Satya mundur beberapa langkah lalu kembali duduk di ranjang dan mengamati tanpa jenuh setiap gerakan Nia. Membuat Nia semakin salah tingkah di buatnya.
Nia melangkah menuju lemari pakaiannya.
“Mama bilang sudah menyiapkan baju ganti untuk bapak. Mungkin sudah ditaruh di lemari. Saya akan mengambilkannya.” Kata Nia.
Senyum mengembang dari wajah Satya setiap melihat Nia yang salah tingkah.
“Sangat menggemaskan.” Ucap Satya lirih yang semakin sukses membuat Nia salah tingkah.
Nia membuka lemari pakaiannya dan hampir memekik karena saking terkejutnya.
Nia terdiam terpaku di depan lemarinya yang terbuka lebar.
“ Kenapa Nia?? Kenapa hanya berdiri saja??” tanya Satya yang curiga melihat Nia diam tak bergerak.
Spontan Nia langsung menutup lemarinya dan berbalik badan.
“Tidak ada apa – apa pak…” ucap Nia.
Satya yang curiga justru berjalan mendekati Nia.
Nia semakin gelagapan dan salah tingkah.
“Bajunya… baju gantinya… sepertinya mama lupa menaruhnya.” Kata Nia.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1