Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 70


__ADS_3

Mentari kian meninggi, memancarkan kemilau pertanda dimulainya hari.


Satya tampak terlihat segar dengan rambutnya yang setengah basah, yang hanya berbalut handuk di pinggangnya.


"Sayang... kamu gak bangun...??? bukankah hari ini ada kelas pagi...??" tanya Satya yang berdiri di sisi tempat tidur.


Dengan wajah yang tampak lesu Nia membuka matanya.


"Hari ini boleh ijin gak masuk kelas gak, Pak Dosen....??" tanya Nia dengan suara khas bangun tidur.


Seketika raut wajah Satya berubah cemas dan khawatir.


"Kamu sakit sayang...?? tidak enak badan...???" tanya Satya yang langsung memegang dahi Nia, mengecek suhu tubuhnya.


"Gak sih mas...." jawab Nia.


"Syukurlah.... suhu badanmu juga sepertinya normal." ucap Satya.


"Lalu ada apa sayang...??" tanyanya kembali.


"Aku cuma merasa badanku...entahlah mas... susah jelasinnya. Pengennya tiduran aja, kalau berdiri kepala juga rasanya pusing.... serasa muter-muter... perutku juga rasanya kembung gitu mas.... Apa mungkin masuk angin ya...???" jelas Nia panjang lebar.


"Ayo kita periksa ke dokter kalau begitu...!" ajak Satya.


" Tidak perlu mas.. aku hanya perlu tiduran aja.. istirahat sebentar. Nanti juga mendingan."


"Benarkah...?? kalau begitu biar mas telpon Bunda untuk menemanimu disini ya...??"


"Gak usah mas.. nanti malah ngerepotin Bunda..."


" Tapi mas gak mungkin membiarkan mu sendirian dengan kondisi seperti ini....!!"


" Oke..oke.. baiklah... kita minta tolong bunda untuk kesini saja..." kata Nia yang tidak ingin berdebat dengan suaminya.


Satya tersenyum senang mendengar Nia yang menuruti kemauannya. Satu kecupan singkat mendarat di kening Nia.


"Cepetan pake baju gih mas...!!"


"Kenapa memangnya...?? kamu ingin aku membukanya lagi...??" goda Satya yang justru semakin membungkukkan badannya.


"Mas Satya ihh... udah deh... Pak Dosen keburu telat lho...." ucap Nia yang mendorong tubuh Satya.


"Iya... iya... hahahahahhaa..." ucap Satya sambil berlalu menuju walking closet.


"Kamu mau kemana, sayang...??" tanya Satya yang melihat Nia berusaha beranjak dari ranjangnya.


"Ke dapur... aku harus menyiapkan sarapan untukmu..." jawab Nia.


Satya menghela berat nafasnya. Lalu melangkah mendekati sisi ranjang.


"Istirahatlah saja sayang... aku bisa sarapan di kampus. Kamu tidak perlu mencemaskan hal itu." ucap Satya sembari menidurkan Nia kembali.


Nia pun mengangguk patuh dan kembali merebahkan tubuhnya.


Setelah menunggu beberapa saat, Bunda Wike pun tiba di apartemen Satya. Baru kemudian Satya berangkat ke kampus.


"Tenang saja Satya, Bunda akan menjaga Nia. Berangkatlah mengajar..." ucap Bunda Wike.


"Terimakasih Bunda... kalau ada apa-apa nanti segera kabari Satya ya bun....?!" pinta Satya.


"Tentu saja, Satya..."

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan Nia dan Bundanya, Satya segera berangkat ke kampus, memacu mobilnya lebih kencang untuk mengejar waktu.


Di tengah jam mengajar, ponsel Satya terus saja berdering. Tentu saja ia sudah bisa menebak nomor siapa yang menghubunginya itu.


Berkali-kali pula Satya menolak panggilan itu, hingga akhirnya Satya mengubah ponselnya ke mode hening.


Siang harinya setelah kelas mengajarnya selesai, Satya menyempatkan diri untuk pulang sejenak ke apartemen untuk melihat keadaan Nia.


"Bagaimana keadaanmu, sayang...??" tanya Satya pada Nia yang kini duduk di ruang tengah.


"Sudah lebih baik mas... Mana pesenanku mas..??"


Satya pun langsung menyodorkan Jus strawberry pesanan Nia. Itulah alasan sebenarnya ia pulang sejenak ke apartemen.


Selain untuk melihat keadaan Nia, juga karena Nia mendadak memintanya untuk membelikan jus strawberry di tempat langganannya.


Bunda Wike yang semenjak tadi melihat sikap Nia pun merasa sedikit aneh dengan perilaku menantunya itu. Namun ia masih memilih diam dan mengamati.


Satya pun tak berlama-lama karena harus ke kantor. Setelah memastikan Nia meminum jus yang dibelinya, Satya pun berangkat ke kantor.


Di kantor, ia sudah di tunggu oleh Jihan beserta seabrek berkas - berkas di tangannya.


"Langsung bawa masuk saja...!" perintah Satya saat melewati meja kerja Jihan.


Satya pun masuk ke ruangannya diikuti Jihan di belakangnya.


Dengan cermat Satya meneliti dan menelaah sejumlah berkas yang disodorkan Jihan.


Begitu pula Jihan dengan sigap membantu atasannya sekaligus mencatat perintah - perintah Satya yang harus ia laksanakan.


Saat sedang sibuk memeriksa beberapa berkas, seseorang mengetuk pintu ruangan Satya yang tidak tertutup sepenuhnya.


"Masuklah Josh...!" perintah Satya.


Josh pun masuk ke ruangan Satya, sedangkan Jihan pamit untuk kembali ke mejanya.


"Jihan, jangan ijinkan siapapun masuk kesini.. Kecuali istri dan ibuku, tentu saja...!" perintah Satya.


"Baik pak..." jawab Jihan.


Satya pun mengajak Josh untuk duduk di sofa.


"Jadi bagaimana..??" Tanya Satya.


"Saya sudah berkoordinasi dengan kuasa hukum yang anda tunjuk, Dan sesuai dengan rencana, kita sudah melaporkan Nona Marsya kepada pihak yang berwajib." jelas Josh.


Satya dan Josh berdiskusi dengan serius dan cukup lama. Berkali-kali ponsel Satya pun berdering, dari nomor yang sama dengan menelponnya sejak kemarin.


"Masih dari nomor yang sama,Pak...??" tanya Josh yang melihat Satya tak kunjung menjawab teleponnya


"Iya benar... dan semakin sering sejak kita melaporkannya." ujar Satya.


Saat mereka masih membahas semuanya, tiba - tiba saja Jihan mengetuk pintu ruangan Satya.


"Permisi pak... ada seseorang yang mencari bapak..." ucap Jihan.


"Aku tidak ada janji temu, bukan...??" tanya Satya.


"Benar Pak... tapi beliau mendesak ingin bertemu pak..." ucap Jihan.


"Memangnya siapa tamunya...??" tanya Satya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya masuk menyeruak ke dalam ruangan Satya.


"Satya....." sapa wanita itu.


Dengan raut wajah yang tampak berpikir dan mengingat - ingat Satya mengamati wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya.


Sementara itu di kediamannya, tiba - tiba saja Nia merasakan perutnya sangat mual seperti diaduk - aduk. Kepalanya pun terasa pusing sehingga apa yang dilihatnya seperti berputar - putar mengelilinginya.


"Kamu kenapa sayang...??" tanya Bunda Wike yang melihat raut wajah Nia yang pucat.


"Entahlah Bunda... sepertinya Nia masuk angin. Rasanya begitu mual dan pusing." jawab Nia.


"Benarkah....??" seketika raut wajah Bunda Wike justru berseri - seri.


"Nia... kapan terakhir kali kami kedatangan tamu...??" tanya Bunda Wike hati - hati.


"Tamu...??"


"Maksud Bunda datang bulan.... kapan terakhir kali kamu datang bulan...??" tanya Bunda.


Sejenak Nia berpikir dan mengingat - ingat kapan terakhir kali ia datang bulan. Wajahnya nampak serius, lalu tiba-tiba berubah kaget dan akhirnya wajahnya berseri-seri setelah memahami maksud sebenarnya pertanyaan Bunda Wike.


"Maksud Bunda...." Nia tidak melanjutkan kalimatnya.


"Bisa saja kan, sayang... ini bukan karena kamu sakit." kata Bunda Wike.


" Terakhir kali Nia datang bulan memang beberapa hari setelah menikah bun, setelah itu sampai sekarang sudah tidak pernah lagi." ucap Nia.


"Bukankah itu sudah lebih dari 3 bulan lalu...??!!" tanya Bunda Wike yang juga terkejut.


"Lalu Nia harus bagaimana Bunda...??" tanya Nia yang merasa bahagia sekaligus khawatir.


"Kita ke rumah sakit dulu, lalu kita hubungi Satya. Oke...?? Sekarang bersiap - siaplah, bunda akan mengantarmu ke rumah sakit."


Nia dan Bunda Wike pun bersiap-siap menuju ke rumah sakit. Diantar Bunda Wike yang duduk di kursi kemudi, Nia berangkat ke rumah sakit dengan wajah yang bahagia.


"Bunda sebenarnya sudah merasa aneh saat melihat sikapmu kemarin sayang... kamu yang ingin meminum jus strawberry itu, perubahan bentuk tubuhmu walaupun sedikit..." kata Bunda Wike.


"Benarkah Bunda...?? Nia bahkan tidak menyadarinya Bunda..."


"Tidak apa-apa... Bunda dulu juga sepertimu saat mengandung Satya. Tidak menyadarinya hingga kandungan berumur 4 bulan." kata Bunda Wike.


Bunda Wike menelpon Satya dalam perjalanannya ke rumah sakit, namun tak kunjung diangkat.


Begitupula dengan Nia. Ia juga berusaha menghubungi suaminya namun tak juga mendapat balasan.


"Satya..." sapa wanita paruh baya itu.


"Tante Rosa...??" gumam Satya lirih yang berhasil mengenali sosok wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya.


"Benar Satya, saya Tante Rosa... kamu masih ingat dengan saya, bukan...??"


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2