Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Cerita Pagi Hari


__ADS_3

Laura membuka matanya perlahan, ia terkejut di sampingnya ada Radit tersenyum menatapnya.


"Astaga..! Kamu mengejutkanku.." Seru Laura sambil memukul manja lengan Radit.


"Kamu cantik sekali." Puji Radit sambil membelai rambut Laura.


"Gombal..!"


"Beneran kok. Kamu masih tetap cantik seperti dulu." Ucap Radit sambil menatap Laura.


"Maksudmu?" Tanya Laura sambil menatap Radit, dan mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.


"Kita pernah seperti ini, apa kamu lupa?"


"Maksudmu kita pernah berduaan seperti ini dulu..?!" Laura mengerutkan keningnya heran.


Radit balas menatap Laura yang bingung, "Kamu benar-benar telah lupa?"


Laura menganguk pasrah. Radit menggeleng kepalanya.


"Apakah kamu juga lupa, pernah mengirimkan sebuah buku diary padaku?" Tanya Radit.


Laura terdiam, ia mengingat kembali, semua buku diary Laura telah dibacanya, namun, bagian cerita mengenai Radit seakan menghilang. Padahal kenyataannya Laura pernah mempunyai kenangan bersamanya.


"La, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Radit dengan nada khawatir karena Laura hanya diam membisu.


"Dit, sebenarnya ada sesuatu terjadi pada diriku..." Ucap Laura perlahan, Radit masih menatapnya sambil menunggu jawaban dari Laura.


"Sejak penembakan setahun yang lalu, ada sebagian dari kenanganku yang menghilang." Jawab Laura sambil menghela napas panjang, lalu menatap Radit.


"Maksudmu, amnesia?"


"Bisa dibilang seperti itu."


Laura merebahkan kepalanya di dada Radit, lalu tangan kekar Radit memeluk sambil membelai lembut rambut kekasihnya itu.


"Kita pernah terjebak hujan badai setelah selesai mengajar anak anak di desa, waktu itu. Ketika semua anak anak sudah pulang, kita berdua masih di balai desa. Hari mulai gelap, penerangan minim, dan tidak ada seorangpun di sana, cuma kita." Radit mulai bercerita.


"Kita terus menunggu hujan reda, baterai ponselku habis, dan punyamu ketinggalan di rumah. Kita hanya memakai kamera digital untuk dokumentasi. Makin malam, hujan bukan reda, malah makin deras. Akhirnya kita menunggu saja, hingga tertidur. Kamu bersandar di bahuku semalaman, terlihat cantik, sama seperti tadi." Lanjutnya sambil tersenyum.


"Tapi kita tidak melakukan apa apa kan?" Desak Laura.


Radit terkekeh mendengarnya, "Kalo iya, kenapa?"

__ADS_1


"Serius Radit?"


"Nggak. Meskipun saat itu kamu sedang kecewa dengan Pras, tapi kamu perempuan yang sangat bisa menjaga diri. Setelah itu kita melakukan kegiatan seperti biasa lagi."


"Lalu, isi buku itu?"


Radit mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya.


"Setelah kita selesai KKN dan kita sudah kembali ke aktivitas semula, kita jarang bertemu, karena beda fakultas. Kita bertemu lagi di perpustakaan saat kamu mencari bahan skripsi. Saat itu kamu sedang bersama Pras.


Aku sering melihat Pras mengantar Dina pulang ke kost. Ya, Oma punya kost kostan di Yogya. Dina kost di salah satu milik Oma. Aku pernah bertemu dengannya, saat membayar Kost denganku." Ucapnya


"Lalu saat itu, aku masih tetap percaya pada Pras." Laura menutup wajahnya dengan tangan.


"Aku sering melihatmu bersama Dina, lalu Kamu bersama Pras, malamnya Pras bersama Dina. Aku pernah sekali memergoki Pras keluar dari kamar Dina pada pagi hari. Kebetulan hari itu kita tak sengaja bertemu untuk bimbingan skripsi di kantor dosen."


"Tunggu, kamu tinggal di kost yang sama dengan Dina?" Tanya Laura mencoba merangkai cerita Radit.


"Ya, aku tinggal di rumah depan, bersama pembantu yang jaga dan bersih bersih untuk kost." Jawab Radit.


"Jadi selama itu Pras telah membohongiku." Gumam Laura.


"Aku juga baru tau, jika saat itu kamu juga bekerja. Aku pernah ke rumahmu, sengaja datang dan pura pura pesan makanan dengan Ibumu. Tapi, ternyata Oma malah ketagihan, dan sering memesan brongkos dan jenang buatan Ibumu." Lanjutnya sambil tertawa.


"Aku sering ke rumahmu, bertemu dengan Dewa juga. Pernah bertemu dengan Pras, dan dia sepertinya terkejut. Tapi, karena aku datang untuk ambil pesanan Oma, jadi mungkin dia merasa aman."


"Rumahnya hanya selang beberapa rumah saja dari tempatku."


"Ya, aku tau. Kamu selalu menolak saat aku ajak jalan atau aku jemput. Kamu benar-benar keras kepala." Ucap Radit sambil menjawil hidung Laura.


"Sebelum kamu pergi ke Jakarta untuk training dari kantor, kamu memberikan buku diary untukku. Isinya sangat bagus, aku pikir bisa dijadikan lirik lagu."


"Maksudnya..?"


"Kamu memberiku buku berisi puisi atau curhatanmu. Jangan bilang kamu tidak ingat juga." Radit mulai khawatir.


"Sejujurnya iya." Jawab Laura nyengir.


"Lalu di mana orang tuamu?" Tanya Laura mengalihkan pembicaraan.


"Papa Mama sudah meninggal waktu aku SMP. Aku punya kakak, Dia tinggal melanjutkan sekolah di Amerika, dan saat ini menetap di sana, dialah yang meneruskan bisnis Papa di sana. Sedangkan aku, menemani Oma tinggal di Indonesia. Bisnis digital milikku, merupakan perluasan dari bisnis Kakakku dari sana."


"Aku turut berdukacita." Ucap Laura penuh simpati.

__ADS_1


"Terima kasih. Aku pun telah terbiasa dengan semuanya. Pelampiasanku kala itu adalah bermain di jalanan, sambil belajar bela diri. Aku belajar karate setelah itu, lalu berteman dengan beberapa anak jalanan dari tempat kumuh. Makanya kenapa aku ada di sana malam saat mobilmu mogok."


" Kamu tidak takut dengan mereka."


"Tidak." Jawab Radit singkat.


"Mengapa?"


"Karena mereka telah terbiasa keras. Namun, saat kita baik dan memperlakukan mereka dengan baik, mereka akan baik pada kita. Itu yang pernah aku alami saat ini."


"Oma tidak pernah melarangmu bergaul bersama mereka?"


"Oma hanya mengingatkan. Namun setelah selama ini baik baik saja, Oma hanya membiarkanku saja bergaul bersama mereka, namun selalu mengingatkan supaya menjauhi narkoba dan alkohol."


"Oma sangat hebat." Puji Laura.


"Kamu harus bertemu dengannya! Aku hanya bingung mengapa kamu bisa bersama Ben?"


Laura terkejut saat Radit menanyakan tentang Ben. Tidak mungkin dia menceritakan tentang dirinya adalah Gwen, yang masuk ke dalam tubuh Laura, dan kini sesungguhnya Laura telah meninggal.


"La..Laura..!" Radit menyadarkan Laura yang melamun.


"Ada apa?" Tanya Radit.


"Tidak. Saat itu mungkin Ben sedang mencari pelarian saja dan aku terpikat dengan keromantisan yang diberikan padaku." Ucap Laura dengan getir. Radit seakan menyadari ada sesuatu yang tengah disembunyikan dari Laura selama ini, tapi dia tidak tau.


"Aku kenal Ben sejak sekolah. Ben adalah lelaki tampan idola gadis gadis saat SMA. Tapi, hanya Jane yang bisa menaklukkannya. Aku tau selera Ben, setelah Jane menikah, Ben pernah berpacaran dengan teman kampusnya. Lalu sepertinya mereka putus. Tiba tiba aku melihat berita dia tengah dekat dengan Gwen, si artis muda itu. Aku tak percaya Ben memacari gadis belia itu, apalagi mereka hampir setiap hari menghiasi kolom infotainment." Cerocos Radit.


"Seandainya Ben benar benar menikah dengan Gwen, memangnya kenapa?" Tanya Laura penasaran.


"Kenapa kamu sangat tertarik dengan kehidupan mereka?"


"Aku salah satu penggemar Gwen." Jawab Laura berbohong.


"Kamu ada waktu?" Tanya Radit.


"Hari ini aku libur."


"Mau ke rumahku? Supaya kamu dapat lebih mengenal Oma dan keluargaku." Ajak Radit.


"Beneran?" Laura tak percaya.


"Iya. Oma pasti akan senang bertemu denganmu." Radit meyakinkan.

__ADS_1


__ADS_2