
Alena dan Sisil melanjutkan acara untuk mereka berdua, dua wanita yang sudah tidak muda lagi itu menuju sebuah pusat pembelanjaan ibu kota.
Lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama untuk jalan dan shopping bersama.
Sedangkan Gavin dan Kania juga pergi berdua untuk mencari cincin pertunangan mereka menuju sebuah jawellery store langganan Alena biasa membeli perhiasan.
Mereka langsung menuju pusat penjualan perhiasan yang mahal dan berkualitas, Gavin berjalan sambil menggenggam tangan Kania.
Sampai di depan pintu store mereka bertemu dengan Kevin dan Aurel yang ingin keluar dari store tersebut.
"Pak Kevin?" sapa Gavin.
"Pak Gavin? sedang apa di sini?" tanya Kevin.
"Lagi mau mencari cincin pertunangan kami," jawab Gavin.
"Selamat buat kalian semoga lancar sampai hari H nanti, saya permisi dulu." Ucap Kevin sambil berlalu pergi.
Kevin dan Aurel segera berlalu dari hadapan Gavin untuk menghindari pertanyaan selanjutnya dari pria itu.
Kevin dan Aurel sedang merencanakan pernikahan diam-diam mereka untuk menghindari pemberitaan miring untuk mereka berdua.
Aurel sendiri tidak banyak bicara di depan Kevin sekalipun hatinya sangat muak bertemu kedua orang tadi.
Sedangkan Gavin sedikit terheran menatap kepergian dua orang yang ia kenal, bagaimana mungkin Aurel bisa dekat dengan Kevin?
Apa tujuan dua orang tersebut mendatangi tokoh perhiasan? Atau jangan-jangan? Pikiran jahatnya mulai menebak-nebak seperti kebanyakan affair pengusaha dan selebritis? Bodo amat lagian bukan urusan dirinya saat ini, hanya sayang saja gadis itu rusak karena profesinya, pikir Gavin.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Kania.
"Gak ada, ayo kita cari cincin," jawab Gavin.
"Jangan sampai nanti lupa bawa cincinnya lagi di hari pertunangan kita." ucap Kania sambil mendengus.
Gavin hanya tertawa mendengar sindiran Kania kepadanya.
Mereka berdua memilih cincin yang cocok untuk di kenakan di jari manisnya dan Kania.
"Yang ini bagus gak menurut kamu sayang?" tanya Kania.
"Bagus, apapun yang kamu pilih aku pasti setuju," jawab Gavin.
"Pilihannya bisa sama dengan yang barusan pesan untuk pernikahan mereka," kata pelayan store.
__ADS_1
"Siapa? Model dan pengusaha barusan?" tanya Kania.
"Iya, mereka pesan cincin pernikahan," jawab pelayan store.
Gavin dan Kania saling menatap satu dengan yang lain atas keterkejutan mereka.
"Aurel akan menikah?" Ucap Gavin dan Kania bersamaan sambil menutup mulut mereka masing-masing.
"Kalau begitu kita enggak jadi pilih itu, kita pilih yang lain aja sayang!" Pinta Gavin diiringi anggukan setuju dari Kania.
Mereka memilih model yang lain yang berbeda dari apa yang di pesan oleh Kevin dan Aurel.
Akhirnya sampai mereka berdua menentukan satu buah pilihan cincin yang bermata berlian, dan ketika di tanya harganya sangat fantastis membuat mata Kania membelalak tidak percaya.
"Kami pilih yang ini saja dan ini kartu untuk membayarnya." Kata Gavin sambil menyodorkan sebuah kartu black card.
"Apa itu tidak kemahalan sayang?" tanya Kania.
"Enggak, buat kamu tidak ada kata kemahalan apalagi ini buat hari special kita," kata Gavin.
Setelah membayar semuanya mereka segera pergi dari store tersebut.
*****
Kebetulan hari ini Dave memang pergi ke kantor, karena itu Alena bisa menghabiskan waktu bersama sahabat sekaligus calon besannya.
Setelah sampai di rumah ia segera masuk di dalam kamar mereka untuk segera membersihkan diri dan setelah itu bersiap memasak untuk makan malam mereka.
Tugas rutinitas yang sudah biasa ia lakukan selama puluhan tahun ini sebagai istri yang selalu melayani suami dan anak-anaknya.
Alena sibuk dengan peralatan masaknya di bantu oleh bi Tini tangan lincah terus berkutat di atas kompor.
Alena memasak masakan yang sederhana untuk mereka, apalagi dengan umur yang sudah tidak muda lagi ia dan Dave harus menjaga makanan yang mereka konsumsi demi menjaga kesehatan dan stamina tubuh mereka.
Tidak lama kemudian Dave sudah kembali dari kantor dengan membawa tas kerja, ia menghampiri Alena yang sedang asik memasak.
"Sore sayang, sedang masak apa?" sapa Dave sambil memberi sebuah kecupan di kening istrinya seperti yang setiap hari ia lakukan.
"Sore juga sayang, biasa aku hanya membuat tumisan sayur dan memasak ikan untuk kita.
Apakah hari ini menjadi hari yang melelahkan untuk kamu setelah seharian bekerja?" tanya Alena.
"Aku senang masih bisa bekerja dan masih bisa berkegiatan, bagaimana dengan kamu, apakah harimu menyenangkan setelah seharian jalan-jalan?" tanya Dave balik.
__ADS_1
"Ada senangnya dan ada kesalnya sayang," jawab Alena.
"Kok bisa ada kesalnya?" tanya Dave.
"Udah sana kamu mandi dulu nanti kita makan sama-sama baru aku ceritain sama kamu sayang," jawab Alena sambil mengecup singkat bibir suami tampannya.
Sekalipun sudah berumur ketampanan Dave belum memudar, keromantisan mereka tidak berkurang dan perhatian Dave terhadap istri serta anak-anaknya terus bertambah.
Pria itu tambah tua tambah bijaksana, ia langsung masuk ke kamar mereka untuk segera mandi menghilangkan keringat setelah seharian habis bekerja.
Setelah rapi dan berganti pakaian segera ia turun kembali menyusul istrinya ke dapur yang sedang sibuk menata makanan di atas meja makan, Alena baru saja selesai memasak.
Harum menyengat di hidung membuat perut Dave lapar ingin segera menyantap makanan buatan istrinya.
Alena menata piring dan peralatan makan yang lain, meletakan beberapa lilin di atas meja makan dan vas bunga dengan bunga segar yang baru ia beli supaya sekalipun makan malam di rumah sendiri tidak mengurangi keromantisan buat mereka berdua.
Alena mematikan lampu LED yang ada di atas plafon lalu menyalakan lampu hias yang ada di atas meja makan sehingga suasana ruangan makan mereka tidak terlalu terang.
Dave menarik kursi dan segera duduk, Alena masih sibuk mengambil makanan dan meletakkannya di atas piring milik Dave.
Lalu ia pun menarik kursi dan duduk tepat di sebelah suaminya mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
"Kok udah capek-capek masak kenapa makannya sedikit?" tanya Dave.
"Biar gak naik berat badan," jawab Alena sambil nyengir.
"Gendut itu seksi tanda kamu makmur," ucap Dave sambil tertawa.
"Aku nanti makan lauk sama sayurnya yang banyak dan mengurangi sedikit nasi," sahut Alena.
"Buka mulut kamu aku suapin!" Perintah Dave.
"Malu sayang kita udah tua masih bergaya seperti anak muda," kata Alena.
"Emang anak muda doang yang boleh romantis? Justru kita orang tua harus kasih contoh buat mereka yang masih muda supaya romantis sampai tua. Ayo buka mulutnya jangan ngomong terus," sahut Dave sambil terkekeh.
Alena sudah membuka mulutnya lebar-lebar siap menerima suapan dari suaminya, tetapi dasar lelaki itu iseng suka sekali mengerjai istrinya bukannya sendok yang sudah di isi makan di berikan kepada istrinya tetapi malah di masukkan ke mulutnya sendiri sambil tertawa.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Jangan lupa untuk memberi komen & like setelah selesai membaca.
Kalau suka bantu kasih vote ... happy reading.
__ADS_1