
Laura dengan mudahnya mengatur dan mencari perlengkapan untuk acara pesta untuk Alina. Jane juga dengan mudah dan cepat mentransfer sejumlah uang untuk biayanya.
Meskipun sedikit heran, bagaimana Laura mengenal sejumlah vendor penjual perlengkapan pesta dan memesan sejumlah menu di resto Persada tempatnya bekerja untuk hidangan di pesta.
Hari itu selepas jam kantor ia telah berada dalam ruangan Dirga, yang telah berjanji akan membantunya.
Laura menunggu di sofa yang ada dalam ruang kerja Dirga, sedang Rey, asisten Dirga sibuk mencatat dan merapikan surat surat laporan yang sedang diperiksa oleh atasannya itu.
"Akhirnya, selesai semua!" Ucap Dirga sambil menutup map terakhir yang ia periksa.
"Iya, Pak. Nanti saya email juga surat penawaran untuk perusahaan Prancis yang kemarin." Lapor Rey.
"Good! Aku pergi dulu. Jika Mama tanya, bilang saja aku pergi dengan Laura ke rumah Radit." Pesan Dirga sambil mematikan laptopnya dan merapikan pakaiannya.
"Baik, Pak." Jawab Rey dengan sopan sambil tersenyum ke arah Laura.
Laura membalas senyum Rey. Ia beberapa kali memergoki Rey berada di ruang kerjanya menemui staf barunya, yang katanya teman saat sekolah dulu. Namun, Laura tau mereka bukan sekedar teman biasa saja.
***
Mereka tiba di rumah Radit dengan mobil masing masing. Disambut oleh Omanya Radit.
"Hai, Oma!" Sapa Laura sambil bercipika cipiki, lalu diikuti oleh Dirga yang menyalami Omanya Radit itu.
Laura dan Dirga membawa masuk perlengkapan pesta ulang tahun. Mereka menata dan mendekorasi teras belakang untuk acara besok. Laura dan Dirga dibantu oleh dua orang pembantu di rumah itu.
Dirga meniup balon balon dengan pompa, lalu dibantu seorang pemuda, yang bekerja di rumah Radit memasang di setiap sudut, dan di teras.
Laura memasang banner pada dinding, lalu merentangkan tulisan HAPPY BIRTHDAY ALINA KE-10 pada dinding itu. Balon sebentuk tulisan nama Alina pasang di dekatnya.
Setelah menata tempat itu, selama sekitar dua setelah jam, akhirnya selesai sudah. Tinggal besok urusan makanan dan kue untuk acara. Untuk souvernir, Laura telah menyiapkannya, dan di simpan di ruang tengah.
Mereka tersenyum puas sambil menatap hasil karya mereka sendiri.
__ADS_1
"Astaga, untung saja ada Mbak Laura dan Mas Dirga, jika tidak, Mbak Jane pasti hanya akan mengomel sepanjang hari." Ucap salah seorang pembantu.
"Iya, yang pasti Mbak Jane, dan Mas Radit akan saling salah salahan. Terus kita yang kena omel juga." Timpal yang seorang.
"Loh, kenapa ga diadakan di rumah Orang tuanya Jane saja?" Tanya Laura pada dua orang pembantu itu.
"Walah, Mbak, malah lebih parah lagi mungkin. Kemarin saja acara ulang tahun Mas Rendy kan di sana, Mas Radit sudah bawa Oma ke sana juga untuk merayakan, tapi malah lupa. Bapak dan Ibu malah pergi kondangan ke Bogor. Sedangkan Mbak Jane juga sibuk dengan usahanya. Mas Rendy ngambek sengambek ngambeknya, akhirnya sama Oma, anak anak dibawa ke mari, dan kita buatkan acara kecil kecilan besok paginya. Sejak itu, Mbak Jane gak mau bikin acara di sana. Maunya di sini saja. Anak anak juga maunya di sini, mereka lebih suka ngumpul di rumah ini." Ungkap salah satu pembantu.
Dirga menganguk mengerti lalu ia menatap Laura.
"Gue lapar." Bisik Dirga pada Laura.
"Oh, bentar, saya buatkan minuman dulu ya Mas dan Mbak." Pembantu tadi rupanya mendengar ucapan Dirga, dan dua pembantu itu buru buru ke dapur dan meninggalkan mereka berdua.
"Ya Tuhan, bagus sekali tempat ini!" Puji Oma saat keluar menuju teras belakang rumah. Laura mengambilkan kursi supaya Oma bisa duduk bersama mereka di sana.
Oma menatap halaman belakangnya yang telah disulap oleh Laura dan Dirga menjadi sangat indah, dengan nuansa pink dan biru di sana sini sesuai kesukaan Alina, cicitnya Oma.
"Jane harus membayar kalian jika hasilnya seperti ini." Sambung Oma.
"Ada apa sih rame rame di sini? Boleh ikutan ketawanya..." Radit yang baru datang, tiba tiba menimpali, namun, ia tertegun saat melihat teras dan halaman belakang telah berubah menjadi seperti di acara hotel.
"Kalian yang bikin ini?" Tanyanya tak percaya sambil menatap Laura dan Dirga bergantian.
"Hhmm... Kau ini meragukan kami saja! Kami ini team kerja yang solid." Laura memuji kinerja dirinya dan Dirga.
"Radit, aku minta maaf tentang kejadian tempo hari. Aku sedang kacau waktu itu. Dan terima kasih masih mengijinkan wanita ini bekerja dan berteman denganku." Ucap Dirga sambil mengarahkan tangannya pada Laura.
Radit menghela napas panjang, lalu ia memeluk Dirga dan menepuk punggungnya.
"Kita tetap berteman!" Bisik nya sambil melepas pelukannya.
Mereka menghabiskan waktu sambil mengobrol, hingga makan malam bersama dengan keluarga Radit.
__ADS_1
Dirga merasa sangat senang hari itu. Ia telah lama tak merasakan makan malam yang menyenangkan, mengobrol tanpa adanya intimidasi. Menceritakan banyak hal tentang pekerjaan hingga kehidupannya. Omanya Radit, juga sangat baik sekali.
Keesokan harinya Laura sengaja fokus mengurus untuk acara pesta Alina, katering dari resto juga telah menyiapkan perlengkapan untuk menaruh makanan di sana. Urusan kue ulang tahun juga telah selesai tinggal di bawa ke rumah Radit.
Sejak siang, rumah Radit telah ramai sibuk mempersiapkan, termasuk Laura dan Dirga.
Jane sangat puas sekali, dan berulang kali mengucapkan terima kasih pada Laura. Radit tersenyum bangga melihat kekasihnya dapat berbaur dengan akrab bersama keluarga besarnya. Ia menatap sebuah cincin dalam kotak, dan berharap kali ini ia dapat mengungkapkan semuanya pada Laura.
****
Acara pesta ulang tahun dimulai pukul lima sore. Orang tua Jane menatap dengan takjub jalan rumah Radit yang telah berubah menjadi tempat pesta ulang tahun untuk cucu mereka.
Jane memamerkan senyumnya sepanjang acara. Teman- teman Alina juga telah berdatangan. Oma menatap dengan bahagia kegembiraan yang diadakan di rumah Radit itu.
Radit perlahan menjauh menuju balkon rumahnya melihat dari atas kemeriahan acara itu. Ia melihat Laura yang masih terlihat sibuk mengurus di post makanan. Dirga terlihat bersama seorang perempuan, ya, sepupunya yang bernama Alma. Mereka terlihat akrab mengobrol. Radit hanya tersenyum simpul melihat mereka berdua. Dirga memang benar-benar Don Juan sejati, hilang satu, lalu dengan mudah mendapatkan kembali gantinya.
Acara pesta berjalan dengan lancar, sekitar pukul tujuh, setelah acara makan makan, sesi foto-foto berlangsung, dan setelah itu tamu tamu mulai pulang satu persatu.
Laura mengkoordinir team dan resto untuk membereskan perlengkapan makan yang mereka bawa. Sisa makanan dari pesta ditinggalkan di rumah Radit. Lalu mereka bersama sama membersihkan tempat itu.
Sekitar pukul sembilan malam, setelah mobil resto pergi dari kediaman Radit, tinggalah keluarga dan pemilik rumah, bersama Laura dan Dirga.
Laura bernapas dengan lega sambil duduk berselonjor di teras belakang sambil menikmati sisa roti ulang tahun cokelat kesukaannya.
Dirga duduk di sampingnya sambil membawa cangkir kopinya.
"Sepertinya kamu telah menemukan pengganti Lisa?" Sindir Laura.
Dirga hanya tersenyum simpul sambil menyesap kopinya.
"Aku hanya mencari alternatif, seandainya Lisa benar benar meninggalkanku." Jawabnya, yang langsung disusul pukulan keras di lengannya, membuat ia sedikit tersedak hingga terbatuk-batuk.
"Dasar play boy!!" Pekik Laura dengan kesal.
__ADS_1
"Salah ya?" Tanyanya dengan wajah dibuat lugu.
"Bodo ah... Kalian itu kebanyakan drama ya. Baik kamu, maupun Lisa. Aku ga mau tau lagi, dan ga mau lagi dengar cerita cerita kalian." Keluhnya sambil terus memasukkan potongan cake dalam mulutnya.