
Kania masih cemberut aja karena dari tadi diisengin Gavin hanya karena panggilan sayang.
"Jangan marah aja dong sayang, dari tadi pasang muka cemberut aja entar cantik kamu hilang," ucap Gavin.
"Basi rayuannya," sahut Kania.
"Ok ... aku gak akan meledek kamu lagi, tapi kalau kamu salah memanggil kakak maka aku harus memberi hukuman, kamu harus cium aku, deal?" kata Gavin.
"Kalau kamu yang salah gimana?" tanya Kania.
"Aku yang cium kamu dong," jawab Gavin sambil tertawa.
"Curang, semuanya aku yang rugi. Aku enggak mau punya pacar yang suka menghukum terus," cibir Kania.
"Awas tuh bibir jatuh, bibir ranum gitu sayang belum di apa-apain nanti udah jatuh duluan," goda Gavin.
"Gak lucu," balas Kania.
"Aduh judes banget sayang," sahut Gavin terkekeh.
"Biarin wek," balas Kania sambil menjulurkan lidahnya.
Gavin hanya tersenyum melihat sikap Kania, ia tidak mau tertawa takut nanti wanita di sampingnya marah lagi.
"Kita makan dulu aja baru nanti aku antar kamu pulang ya sayang, tenang aku udah izin sama om Rio tadi mau jemput kamu di kampus," ucap Gavin.
"Kamu ngomong sama papa aku, kalau mau jemput aku sayang?" tanya Kania.
"Ngomong dong, bawa anak gadis orang harus permisi," jawab Gavin.
Tidak berapa lama akhirnya Kania dan Gavin masuk ke sebuah tempat makan untuk makan malam sebelum ia mengantar Kania untuk kembali.
Mereka berdua langsung memesan menu makanan dan langsung melanjutkan pembicaraan.
"Kapan rencananya wisuda kamu sayang?," tanya Gavin.
"Sekitar tiga bulan ke depan aku sudah sidang skripsi, kenapa kamu bertanya begitu sayang," sahut Kania.
"Aku ingin melamar kamu," balas Gavin cepat.
Kania langsung terkejut mendengar pernyataan Gavin.
__ADS_1
"Apa?? Kakak mau melamar aku secepat itu? Apa tidak kecepetan? kita baru saja pacaran udah mau lamaran?" Kata Kania sambil membulatkan mulutnya kaget
"Sekarang kamu harus cium aku, barusan kamu panggil aku kakak," ancam Gavin.
Kania hanya mendelik, barusan ia lupa salah mengucap "Kenapa harus pake salah ngomong sih" gerutunya dalam hati.
"Nanti, aku malu di sini sayang," ucap Kania malu-malu.
"Janji ya nanti cium aku sampai mobil," kata Gavin sambil terkekeh.
"Iya bawel, sedikit-sedikit hukuman, lagian aku kaget abis ngomongin lamaran segala.
Apa gak terlalu cepat? Kita baru saling kenal dan aku masih kecil," sahut Kania.
"Buat apa pacaran lama-lama nanti putus, mending kalau udah cocok langsung nikah aja sambil pacaran.
Kamu kecil-kecil juga udah bisa bikin adek kecil tau," balas Gavin sambil terkekeh.
"Aku pengen kerja dulu sayang, masa abis kuliah langsung nikah," ucap Kania.
"Kamu bisa kerja di kantor bareng aku kalau kamu mau, gimana setuju gak?" balas Gavin.
"Kok nolak sih, terus kamu maunya gimana?" tanya Gavin bingung.
"Aku ingin seperti di film-film punya pacar romantis, tapi kamu gak romantis banget terkesan kejam suka menghukum.
Mau melamar aku aja ngomongnya cuma begini doang ngajak makan malam bukan romantic dinner," jawab Kania sambil kesel.
Gavin ketawa mendengar ucapan Kania, jujur sebenarnya ia bukan orang yang romantis kayak begitu.
Bagi Gavin sebenarnya yang lebih penting adalah sikap sayang yang ia tunjukan lebih penting dari hal yang romantis lainnya.
"Kamu butuh romantic dinner baiklah aku akan menyiapkan untuk kamu sayang," ucap Gavin.
"Aku udah keburu kesel, abis kamu gak peka banget jadi cowok," balas Kania.
"Maaf aku gak ngertiin kamu, bagi aku rasa sayang itu aku tunjukkan lewat sikap bagaimana aku memperlakukan kamu selama ini.
Cinta dan sayang tidak selalu harus dengan bunga, yang nampak indah sebentar setelah itu layu.
Kania sayang, aku bukan seorang lelaki yang suka mengeluarkan kata-kata manis, tapi aku punya cinta untuk kamu dan jujur aku tuh sayang dan cinta banget sama kamu.
__ADS_1
Maaf ya kalau aku kurang romantis," kata Gavin berakhir dengan sebuah ciuman di kening Kania.
"Maaf sayang mungkin aku banyak menuntut, tapi wanita butuh semua itu sebagai bentuk penghargaan cinta," sahut Kania
"Iya ... iya wanita emang sulit di pahami," balas Gavin sambil terkekeh.
"Ayo kita makan dulu, Kania lapar banget," kata Kania sambil mengambil makanan yang sudah ada di atas meja.
"Kasihan pacar aku sampe kelaparan" ucap Gavin sambil tertawa.
Setelah selesai makan malam Gavin siap untuk mengantar Kania pulang.
Sampai di parkiran ia membuka pintu buat Kania dan mempersilahkan wanita itu masuk duluan.
Setelah Gavin masuk duduk di kursi sopir menyalakan mobilnya tetapi dia enggan melajukan mobil tersebut.
"Kenapa gak langsung jalan, kamu nungguin apa sayang?" tanya Kania.
"Nunggu di cium dulu baru aku jalan," jawab Gavin.
Jantung Kania mau loncat keluar saat ini dan kalau boleh memilih ia ingin pulang naik taksi aja, bagaimana mungkin ia harus mencium lelaki di sebelahnya saat ini.
"Kenapa diam aja, mobil ini gak akan jalan kalau belum cium," ucap Gavin.
"Aku pulang sendiri aja ya," balas Kania sambil memegang gagang pintu mobil.
"Mau kemana?" dengan sergap Gavin menarik Kania dalam pelukannya.
"Aku malu cium kamu," kata Kania sambil menunduk malu.
"Udah aku gak akan memaksa kalau kamu gak mau, jangan pergi aku akan mengantar kamu pulang," ucap Gavin.
"Kamu gak marah kan?" tanya Kania malu-malu.
"Gak kalau aku cium kamu," jawab Gavin sambil menarik gadis itu dalam pelukannya dan "cup" sebuah kecupan mendarat di kening Kania.
Setelah itu mobil Gavin meninggalkan parkiran dan menuju rumah Kania.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Happy reading dan jangan lupa jejaknya kasih like, komen dan bantu vote ya.
__ADS_1