Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 31


__ADS_3

Matahari sudah lama terbenam saat Nia keluar dari kelasnya, berjalan sendirian di koridor kampus yang mulai sepi.


Sudah selama hampir 3 minggu magang ini, mau tidak mau ia harus mengambil beberapa kelas malam untuk menuntaskan beberapa mata kuliahnya.


Nia berjalan dengan langkah cepat. Perasaannya sudah was – was sejak tadi.


Penerangan yang temaram, ditambah koridor yang sepi dari orang lalu lalang semakin membuat suasana kampus terasa menyeramkan. Nia celingukan ke kanan dan ke kiri waspada, bulu kuduknya terasa berdiri.


Nia mempercepat langkahnya, lebih tepatnya kini Nia berlari!!!


Brukk!!!


“Setan!!!!” pekik Nia terjatuh dengan menutupi wajahnya dengan tangan. Meringkuk di lantai kampus.


“Mana ada setan setampan saya.” suara bariton yang familiar di telinga Nia membuatnya mengangkat wajahnya.


“Pak Satya???!!!" ujarnya terkaget sekaligus malu.


“Ma.. ma.. maaf Pak. Saya kira tadi...” Nia tidak meneruskan kalimatnya, semakin tertunduk karena malu.


Pak Satya tersenyum menggelengkan kepalanya, dirinya dibuat terkesima untuk kesekian kali oleh tingkah laku gadis itu.


“Kamu baru selesai kelas??” tanyanya seraya mengulurkan tangan membantu Nia berdiri.


“Iya pak, mana anak-anak pada cepet banget ngilangnya, persis setan.” Umpatnya kesal.


“Pulang naik apa??” tanya Satya.


“Kenapa pak?? Mau anterin saya pulang?? tadi pagi ke kantor bareng papa terus langsung ke kampus diantar sopir kantor.”


“Boleh?? Ayo!!!” tukasnya berjalan mendahului Nia ke arah parkiran.


Nia terperangah mendengar ajakan dosennya. Niat hati hanya ingin menggoda justru disambut baik oleh dosennya itu.


“Pak.. tungguin!!!” Jerit Nia yang menyadari Satya sudah jauh di depan meninggalkannya sendirian di koridor horor itu.


Nia segera berlari  menyusul Satya yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam mobil.


“Pak Satya ihh.. jalannya cepet banget. Itu jalan apa terbang sih, Pak” ucap Nia yang berhasil menyusul Satya masuk ke dalam mobilnya.


Kembali lagi Satya hanya mengulum senyum melihat raut wajah Nia yang benar – benar ketakutan.


“Benar – benar menggemaskan.” Batin Satya.

__ADS_1


Satya pun menjalankan mobilnya keluar gerbang kampus memecah jalanan malam.


“Kita mampir makan dulu.” Ajak Satya memecah keheningan.


“Tidak usah pak, saya tidak lapar.”


Krucuk... krucuk..


 Penolakan Nia berbanding terbalik dengan kondisi cacing di perutnya yang minta diberi jatah.


"Tadi memang belum sempat makan siang Pak, hehehe"


Nia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kesekian kalinya menahan malu di depan dosennya itu.


Satya tertawa kecil melihat ekspresi Nia menahan malu.


Baru beberapa menit bertemu gadis ini, Satya sudah dibuat terkesima berkali –kali olehnya.


Tak lama mobil yang mereka naiki berbelok memasuki sebuah rumah makan. Keduanya turun dan segera memesan makanan.


“Ini bukan pertama kalinya Bapak mengajak saya makan bersama. apakah nanti tidak ada yang marah atau merasa tersakiti dengan sikap Bapak pada saya??” tanya Nia hati-hati saat sudah berada di mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang setelah selesai makan malam.


Satya menoleh sejenak menatap Nia yang duduk disampingnya.


Nia mengkerutkan alisnya,” Bapak tahu tentang hubungan saya dengan Niko...??”


Satya menganggukkan kepala," Kamu akan bertunangan dengan Niko, bukan??"


“Itu memang benar pak, tapi maksud pertanyaan saya bukan itu. Tidak ada yang marah sama Bapak kalau Bapak makan malam sama saya??”


“Yah.. Niko mungkin akan marah sama saya.” Jawab Satya enteng.


“Kok Niko lagi sih pak?? maksud saya kekasih Bapak...” tutur Nia gregetan sendiri.


“Kekasih...??” Satya membeo.


“Iya, pacar bapak atau tunangan mungkin, wanita yang makan sama bapak waktu itu di restoran. Saya lihat bapak memberikan wanita itu sebuah kotak kecil, pasti itu cincin tunangan.” Jelasnya panjang lebar.


Satya menautkan kedua alisnya, wajahnya tampak berpikir keras.


Nia menarik nafas, mengumpulkan kekuatan untuk mengeluarkan isi hatinya,


“Sudah bukan rahasia lagi kalau saya memang ada perasaan lebih terhadap bapak, bapak mungkin tahu itu. Dan bapak juga sudah tahu tentang hubungan saya sama Niko,walau saya juga tidak tahu bapak dapat kabar itu dari siapa, tapi ya... itu memang benar, saya dan Niko memang di jodohkan. Dan saya juga tahu kalau Bapak sudah memiliki kekasih. Awalnya saya memberontak karena saya merasa takdir sudah mempermainkan saya, tapi pada akhirnya saya memilih berdamai, membiarkan takdir membawa kemana hidup saya.”

__ADS_1


Satya masih terdiam mendengarkan dengan seksama setiap perkataan Nia, Nia kembali membuang nafasnya kasar,


“Tapi entah benar atau tidak, saya merasa belakangan ini sikap bapak kepada saya jauh berbeda, menjadi lebih hangat dan terkesan bisa untuk saya gapai. Tentu saja saya bahagia, tapi saya takut takdir mempermainkan saya lagi,Pak. Saya takut jatuh terlalu dalam, saya takut terluka lagi pak, bahkan luka yang sekarang pun belum mengering. Maka dari itu saya mohon, berhenti membuat saya bingung, jangan membuat saya memimpikan hal yang tidak mungkin terjadi. Saya minta tolong pak...” ucap Nia tulus.


Mobil yang dikendarai Satya tiba-tiba berhenti. Membuat Nia terkaget.


Mereka terdiam cukup lama dalam posisi masing – masing.


“Baiklah kalau itu permintaanmu.”  Perlahan Satya mendekati Nia. Dekat... lebih dekat.. sangat dekat hingga hembusan nafas Satya pun terasa di pipi Nia. Nia terpejam, tidak berani membuka matanya, atau mungkin ia justru bersiap untuk sesuatu yang lebih dari itu. Tiba-tiba saja,


Ceklek..


Nia membuka matanya saat Satya melepaskan seatbelt Nia.


“Masuklah.” Satya menunjuk rumah Nia dengan dagunya.


Dengan salah tingkah Nia celingukan mendapati dirinya kini sudah berada tepat di depan rumahnya. Dan untuk yang kesekian kali ia harus menunduk malu di depan dosennya itu.


Nia pun segera turun dari mobil setelah berterimakasih dan berpamitan.


Tanpa mereka sadari, tepat di depan mobil Satya , terparkir mobil dengan  sepasang mata yang melihat dengan jelas apa yang barusan terjadi. Menatap mereka dengan tatapan.... akkh... begitu sulit di lukiskan.


.


.


.


.


.


.


Hai Readersku tercinta. Bagaimana, bagaimana, kalian tim Satya atau tim Niko nih??


Tulis komentar kalian yah! dan jangan lupa untuk like. supaya Author lebih bersemangat lagi nge halu nya.


Terimakasih.


.


.

__ADS_1


__ADS_2