Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Lampu Hijau


__ADS_3

"Kenapa ga kasih tau kalau mau ke mari?" Tanya Laura.


"Biar kita bisa bersiap siap. Kami juga baru bangun, tau tau lihat ada artis bertamu, disambutnya di dapur pula." Protes Dewa sambil melirik ke arah Laura.


"Iya." Laura menegaskan jawaban adiknya itu.


"Tuh, kan. Masa orang mau main harus pakai ngabarin sih? Aku kan pingin lihat kalo pagi kalian itu ngapain kalo di rumah. Aku juga pingin kenalan sama Ibu dan ibu ibu yang lain di sini, yang katanya penggemar aku." Jawab Lisa dengan santai sambil menggandeng lengan Ibu.


"Sudah sudah, kok kalian yang pada protes. Lisa ini pingin sarapan sambil ngobrol sama kita kita ini di dapur. Katanya Mamanya dulu juga suka bikin bikin makanan terus dijual. Tapi sekarang, Mamanya sudah meninggal ya, Nduk." Ucap Ibu melerai keributan kecil pagi itu, ia juga membelai rambut panjang Lisa dengan lembut, membuat Lisa tersenyum bahagia.


"Mama sudah bahagia di surga. Tapi, aku punya teman yang sangat baik, sudah seperti kakak sendiri rasanya. Terus ketemu Ibu, yang ramah dan mau menerima aku di rumah ini." Ucap Lisa sambil menunjuk Laura yang sedang menikmati kopinya.


"Ibu juga senang sekali kamu mau mampir kemari. Masa Ibu cuma dengar dari si Samin saja cerita tentang kamu. Kalo Dewa, pelit sekali kalo disuruh cerita tentang kamu." Sahut Ibu.


Lalu ibu kembali meracik bumbu dan mengolah beberapa masakan untuk pesanan katering hari itu. Suara riuh Ibu dan pegawai memasaknya dalam bahasa Jawa terdengar.


Laura mengajak Lisa untuk masuk ke ruang tengah untuk mengobrol. Dewa masih menikmati sarapannya di meja makan dapur.


"Jadi, dalam rangka apa Lo ke rumah pagi pagi buta?" Tanya Laura.


"Jangan lebay Nek, gue datang gak pagi buta, matahari sudah muncul kok. Gue cuma.." Lisa terdiam tak melanjutkan ucapannya, dan menatap Laura.


Laura mengerutkan keningnya.


"Lo putus?" Tebak Laura.


"Ya." Jawab Lisa menggaguk dan tertunduk.


"Siapa yang memutuskan, Lo atau Dirga?"


"Dia."


"Hah..?"


"Iya, Nek. Dia yang mengakhiri semua. Katanya dia kasihan padaku, ga ingin memaksa diriku untuk menuruti keluarganya."


"Kami pernah bertemu keluarga besar Dirga?" Tanya Laura penasaran.

__ADS_1


"Pernah. Di Jakarta sekali dan di sini juga sekali. Kemarin, Dirga sempat mengenalkan pada Eyang dan keluarganya. Banyak sekali aturan yang harus dituruti untuk masuk dalam keluarga mereka. Gue ngomong aja terus terang, gue ga bisa jika secara langsung. Gue harus belajar lagi tata Krama menjadi keluarga kerajaan. Belajar silsilah keluarga. Dan menuliskan silsilah keluarga gue, yang nyatanya Mama adalah istri kedua. Dalam keluarga mereka, gue sudah ga masuk. Lalu menyuruh gue untuk berhenti di dunia hiburan, dan aktif ikut kegiatan sosial yang dikelola oleh keluarga keraton.


Bisa gila gue lama lama kalo masuk ke dalam keluarga Dirga. Apalagi harus menuruti segala ***** bengkelnya.


Gue akhirnya ngomong jujur ke Dirga. Gue ga bisa kalo harus mengikuti semua peraturan dalam keluarganya. Padahal sat itu gue sudah senang. Dirga masih berjuang untuk gue, meski kami sedang masa break. Nyatanya dia tetap memilih keluarganya.


Semalam dia datang, dan mengambil keputusan yang terbaik untuk kami berdua." Ungkap Lisa sambil menghela napas dalam-dalam.


"Lo sedih atau senang sekarang?"


"Keduanya. Gue lega akhirnya ada kejelasan di antara kami. Tapi gue juga sedih, harus berakhir lagi. Setelah berkali-kali kandas hubungan percintaan gue. Jadi agak trauma untuk menjalin hubungan." Curhat Lisa.


Tepat saat Lisa mengatakan itu, Dewa tak sengaja mendengar dari balik pintu ketika hendak menuju kamarnya.


"Lalu Lo sama Dewa?" Tanya Laura.


"Gue tau Lo khawatir gue hanya mempermainkan perasaannya. Untuk saat ini gue belum bisa memutuskan perbedaan gue. Tapi yang pasti, Gue ga pernah menganggap Dewa itu sebagai pelarian. Semua yang gue rasa selama bersama Dewa, itu murni dari dalam hati gue. Gue menikmati saat saat bersama dia. Namun, gue masih takut untuk menjalin hubungan, apalagi yang mengarah ke serius." Sambung Lisa sambil menatap Laura.


Laura memeluk sahabatnya itu memberi dukungan dan menghiburnya.


Terbayang kenangan kenangan selama ini bersama Lisa. Tawa gadis itu, senyuman, saat ia menangis, bahkan pelukan dan ciuman Lisa masih terbayang di ingatan Dewa. Ia menyukai gadis itu saat pertama kali bertemu. Sekarang, dia mendengar sendiri belum ingin menjalin hubungan.


Tapi Dewa teringat akan Radit, yang akhirnya bersama kakaknya. Dulu Radit sering datang ke rumah untuk menemui Laura, dengan alasan membeli makanan untuk Oma. Lalu mereka berhubungan, lalu putus dan tak berkabar lagi. Hingga setahun belakangan ini, Radit akhirnya benar benar mendapatkan Kakaknya.


Ibu sebenarnya lebih suka pada Radit daripada Dirga, tapi karena permintaan Eyangnya Dirga, Ibu tidak enak jika harus langsung menolaknya. Nanti kualat, katanya kalo melawan orang tua.


Dewa memutuskan untuk terus mengejar Lisa, menunggunya pun tak apa, ia akan terus mendekati gadis pujaan hatinya itu.


"Aku akan meminta tolong pada Mbak Laura saja untuk melancarkan jalanku mendekati Lisa." Gumam Dewa sambil tersenyum penuh makna.


***


Dewa mengantar Lisa menuju villa tempat ia menginap bersama para kru dan pemain film. Karena malam hari ia ada jadwal syuting.


Sepanjang perjalanan Lisa memeluk erat pinggang Dewa, mereka tak banyak bicara, mereka hanya ingin menikmati masa masa bersama saat itu.


"Terima kasih ya Dewa." Ucapnya sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Sama sama." Jawab Dewa.


Lisa berlalu meninggalkan Dewa yang masih menunggunya.


"Lisa!" Panggil Dewa, Lisa menoleh ke arahnya.


"Apa aku masih punya kesempatan?" Tanya Dewa.


Lisa terdiam, ia tak tau harus menjawab apa saat itu.


Lisa menghampiri Dewa kembali.


"Kami selalu punya kesempatan dalam hatiku." Jawabnya berbisik tepat pada telinga Dewa.


Lalu ia buru buru meninggalkan Dewa, yang masih merenungi ucapan Lisa.


Setelah ia paham, ia tersenyum lebar. Dari teras rumah Lisa tersenyum pada Dewa.


Malam itu Dewa pulang ke rumah dengan perasaan berbunga-bunga, bak pasangan anak muda sedang dilanda cinta.


Laura heran melihat tingkah adik semata wayangnya itu.


"Kesambet apa kamu Wa?"


"Kesambet cupid Mbak." Jawab Dewa sambil melantunkan lagu cinta di hadapan kakaknya itu.


"Kamu nembak Lisa?"


"Belum, tapi dia sudah memberikan lampu hijau padaku. Aku ingin menikmati perasaan ini dulu ya, Mbak. Kalo sudah sama sama yakin, aku ga ingin pacaran sama dia, tapi langsung aku lamar saja." Cerocos Dewa.


Sontak langsung Laura memukul punggung adiknya itu.


"Heh, aku aja belum nikah, kok mau kamu langkahi!" Laura pura pura marah pada Dewa.


"Ye, minta sendiri sama Mas Radit!" Sahut Dewa.


"Dasar adik tak berperasaan, gimana coba caranya?"

__ADS_1


__ADS_2