
Radit telah menunggu Laura sebelum jam kerjanya berakhir. Ia duduk di lobi kantor Anugrah Grup sambil memainkan ponselnya.
Ben terlihat sedang berjalan menuju gedung kantor itu, ia masuk ke dalam dan menatap Radit dengan tatapan terkejut.
"Kamu?" Sapa Ben.
"Ya, aku menunggu Laura." Jawabnya.
Ben menganguk mengerti, lalu ia hendak berlalu, sesaat kemudian ia menoleh kembali ke arah Radit.
"Jane sepupumu?" Tanya Ben.
"Ya. Ada apa?" Radit balik tanya.
"Tidak. Hanya memastikan saja." Jawab Ben.
"Aku tak akan mencampuri urusan kalian. Selesaikan sendiri. Lagian dia juga telah sah berpisah dengan suaminya." Ucap Radit.
Ben hanya tersenyum. "Aku naik dulu!" Ia pergi meninggalkan Radit yang masih setia menunggu Laura.
Laura turun menggunakan tangga biasa, sambil olahraga alasannya. Saat ia sedang menikmati menuruni anak tangga, ia berpapasan dengan Ben.
Mereka berhenti sejenak dan saling berpandangan.
Lalu Laura meneruskan turunnya, meninggalkan Ben yang masih menatapnya, hingga punggungnya tak tampak lagi.
Laura melihat Radit duduk di sofa lobi.
"Maaf lama!"
"Ga apa apa, yuk!" Ajak Radit.
Laura berjalan sambil menggandeng lengan Radit, lalu mereka berjalan sambil bercanda ke arah mobil Radit.
Dari jendela lantai 3, sepasang mata tengah mengawasi Laura dan Radit. Ben menatap mereka yang masih di parkiran dari ruangan Dirga.
Dirga mengikuti pandangan mata Ben, lalu terlihat Laura sedang bercanda dengan Radit sebelum masuk ke mobil. Terlihat Radit sedikit melakukan flitring dengan Laura, Ben menatap keduanya dengan tatapan cemburu.
"Woi...!" Dirga menyadarkan Ben dengan menggerakkan tangannya tepat di depan mata Ben.
"Ah.. A-ada apa?" Ucap Ben tersadar.
__ADS_1
"Kenapa liat orang lagi pacaran? Kayak ga pernah pacaran saja!" Ledek Dirga.
"Pacaran itu tau tempat, bukan di tempat umum gitu!" Keluh Ben.
"Kok Lo yang sewot Ben? Woi, jangan bilang Lo suka ma Laura!"
Ben menggeleng kepalanya cepat.
Lalu mereka fokus membicarakan tentang pekerjaan kembali.
**
"Mau kopi?" Tawar Radit.
"Boleh." Jawab Laura.
Mereka menuju kedai kopi yang sering mereka kunjungi.
Sore itu tampak ramai, meskipun kecil, namun mereka selalu melayani dengan baik. Hasilnya, yang sudah pernah beli, selalu balik lagi untuk mencoba menu baru, atau beli kopi favorit, dan menjadi langganan di kedai itu.
Saat mengantre, Laura memperhatikan logo kedai itu. Ia tampak teringat akan sesuatu, ia membuka tasnya, mengaduk aduk mencari sesuatu dalam tas, lalu mengambilnya.
"Nah, ini! Ternyata ini miliknya." Gumam Laura sambil tersenyum, ditangannya ada sebuah kartu nama yang diberikan oleh Nora.
"Dari mana dapat kartu nama ini?" Tanya Radit penuh selidik.
Laura mengernyitkan keningnya heran.
"Dari seorang teman." Jawab Laura.
Radit mengangukkan kepalanya, lalu mengembalikan kartu nama itu pada Laura. Dengan wajah datarnya, ia kembali mengantre bersama Laura.
Tiba giliran mereka, seperti biasa Radit memesan espreso, dan Laura memesan teh andalan kedai.
Keduanya membawa minuman ke mobil, untuk dinikmati bersama.
"Tumben memesan teh?" Tanya Radit.
"Bosen minum kopi terus." Jawab Laura sambil meminum tehnya
"Kamu mengenal Nora?" Tanya Radit.
__ADS_1
"Kebetulan. Lalu kamu mengenalnya juga?" Laura balik bertanya.
"Nora dulu adalah kekasih kakakku. Dia punya kisah sedih tersendiri. Kopi ini berasal dari perkebunan kopi milik keluargaku. Sebenarnya kedai ini hanya usaha isengnya Nora, tapi sepertinya berkembang sangat pesat. Lalu teh yang kamu minum dari perkebunan milik suaminya." Terang Radit.
"Oh, lalu kakakmu?"
"Kakakku menikah dengan orang lain, setelah Nora berulang kali menolak untuk menikah dengan Kakakku. Kakakku belum pernah ke Indonesia, sejak kejadian buruk menimpa orang tua kami."
"Kejadian buruk apa?"
Radit terdiam sejenak, mencoba untuk tetap tenang saat bercerita.
"Aku dan kakakku selisih sekitar 7 tahun. Kakak dan Nora adalah teman dari kecil. Keluargaku memiliki kebun kopi di Lampung dan Jawa tengah, Papa dan Mama yang mengurus perkebunan itu. Keluarga Nora memiliki kebun sayur dan buah di daerah puncak. Kedua orang tua kami bersahabat. Sejak kecil kami semua sering bertemu setiap Minggu, saling berkunjung satu sama lain, bergantian. Kadang mereka ke Jakarta, atau kami ke puncak.
Saat SMP Nora, bersekolah yang sama dengan Kakakku, namun ia tinggal di asrama, karena di Jakarta. Tak jarang ia bermain ke rumahku. Orang tuanya juga masih berkunjung ke tempat kami.
Suatu hari, Nora dan Kakak libur sekolah, mereka ingin berlibur di rumah Nora. Saat itu, Papa sedang berada di Semarang, Mama masih sibuk. Akhirnya mereka dijemput sopir utusan Papa Nora. Namun mereka tak kunjung sampai.
Papanya mengabari bahwa Kakak dan Nora belum sampai, akhirnya Papa langsung pulang ke Jakarta, lalu mencari ke puncak. Tiga hari Kakak dan Nora belum ketemu, Polisi saat itu juga membantu mencari. Ternyata mereka diculik oleh penjahat, mereka menginginkan uang tebusan, sopir keluarga Nora juga terlibat. Setelah hari ke 4, Kakak berhasil kabur, namun ia tak tahu Nora. Papa menyusuri kembali lokasi penculikan bersama orang tua Nora dan Polisi.
Mama dan Papaku yang menemukan Nora saat kabur dari para penjahat itu. Nora menunjukkan tempatnya, lalu penjahat itu langsung di grebek.
Ternyata Nora dirudapaksa selama masa penculikan itu. Kejadian buruk membuatnya trauma untuk menikah. Kakakku mau menikahinya, namun ia tak mau.
Setelah kejadian itu, Nora keluar dari sekolah, dan bersekolah di rumah. Kabarnya ia hamil, namun ia tak pernah cerita. Lalu setelah lulus sekolah ia pergi ke Eropa, melanjutkan sekolah dan kuliah di sana. Sejak itu kami tak pernah bertemu lagi.
Suatu ketika kami ingin berlibur ke puncak, Papa mengabari keluarga Nora, kami ingin berkunjung. Mereka sangat senang dan menerima kami dengan baik. Namun, Nora tidak ada, ia tidak pernah pulang ke Indonesia sejak kejadian buruk menimpanya.
Lalu kakakku yang masih mencintainya, mencari kabar tentang Nora terus.
Suatu hari, Mama Papa ada urusan bisnis di daerah Jawa Barat, tiba tiba terjadi kecelakaan. Mobil Papa dan Mama tertabrak truk buah. Kamu tau siapa pengemudinya?" Tanya Radit.
Laura menggeleng.
"Sopir yang menculik Kakak dan Nora waktu dulu." Geram Radit.
"Aku tak pernah percaya itu semua kecelakaan!" Ucap Radit.
"Setelah orang tuaku meninggal, Kakak yang mengurus usaha perkebunan. Nora mengetahui hal itu, ia kembali ke Indonesia, dan menemui kami untuk berbelasungkawa.
Saat itu kakak melamar Nora kembali, lagi lagi ditolak olehnya, lalu mereka benar-benar berpisah sejak saat itu.
__ADS_1
Kakakku fokus mengurus usaha, lalu aku mulai belajar membantu Kakak mengurus perkebunan. Aku sering pergi ke Lampung untuk mengecek kebun di sana. Aku menikmati semuanya. Lalu aku memilih berkuliah di Yogya, sambil membantu mengurus kebun di Jawa tengah, dekat daerah Semarang.
Kebetulan Oma, punya kost di Yogya dan Semarang. Oma, adalah Mamanya Papaku. Sedang Keluarga Mama, mereka di Jakarta. Papanya Jane adalah Kakak Mamaku." Cerita Radit panjang lebar mengenai keluarganya.